Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 31


__ADS_3

Januar menendang pintu apartemen yang didiami oleh Delisha. Delisha yang sedang melakukan aktivitas olahraga pun langsung berhenti dan berlari keluar. Wanita itu membawa sapu takut jika ada maling ataupun perampok yang telah menerobos rumahnya.


Namun saat ia keluar yang ditemukan oleh Delisha adalah wajah masam Januar di depan pintu dengan tangan terkepal. Delisha mengerutkan keningnya karena tidak mengerti kenapa Januar datang ke rumahnya.


"Ada apa? Sekian lama menghindari saya dan Anda datang ke rumah saya dengan cara yang tidak sopan."


"Gak usah basa-basi!!" marah Januar dan langsung mendorong tubuh Delisha ke dinding lalu menghimpitnya. Delisha terpekik ketakutan dengan sifat Januar yang sangat tiba-tiba dan penuh memaksa.


Apalagi rahangnya dicengkram dengan kasar oleh pria itu hingga membuat Delisha kesulitan bernapas. Delisha menarik tangan Januar yang menyiksanya tersebut, namun tenaga dirinya dan Januar tidak sebanding.


"Januar! Lepasin gue ban.gsa..d!!" teriak Delisha sangat marah.


Januar tertawa miring. Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Delisha lalu membisikkan sesuatu sangat pelan di telinga wanita itu hingga tubuh Delisha meremang.


"Lo tau kan selama ini gue diam? Jadi kalau gue marah lo juga bakal tau kan apa yang akan gue lakuin?" tanya Januar sembari melirik wajah Delisha yang sangat gelisah dan juga ketakutan.


"Lepasin gue!! Pokoknya lepasinnn!!! Lo gak bisa lakuin ini ke gue!!" marah Delisha dan ia menatap berani mata tajam Januar. Delisha tak bisa menunjukkan kelemahan di depan Januar, jika begitu maka dirinya akan makin ditindas oleh pria tersebut.


"DIAM!!! LO SEMAKIN GUE BIARIN SEMAKIN LO BERULAH! LO. BUAT CERITA PALSU DI DEPAN MEDIA DAN BILANG GUE YANG UDAH MUTUSIN DAN NYELINGKUHIN ELO!! GUE YANG SUDAH BUAT LO SAKIT HATI! TAPI LO GAK SADAR SAMA DIRI LO SENDIRI! LO DULU GAK PERNAH NGEHARGAIN PERASAAN GUE! DAN SEKARANG GUE SADAR KALAU LO CUMAN MAINAN GUE HAHHA! LO BISA JADI ORANG YANG PALING TERSAKITI MAKA GUE GAK AKAN SEGAN-SEGAN WUJDUIN KEINGINAN LO KALAU GUE YANG NYAKITIN LO! LO TAU APA YANG LO LAKUIN PADA ELLA DI..."


"ELLA! ELLA TERUS!! LO UDAH JATUH CINTA SAMA CAPELLA JAHANAM ITU, KAN? SEBEGITU GAMPANGNYA KAH LO NGELUPAIN GUE?"


Januar tersenyum miring. Memang masih ada sisa cinta di hati Januar kepada Delisha. Namun semua itu hanyalah sisanya dan bukan perasaan utamanya. Januar tahu memang terkesan sangat cepat baginya untuk mencinta Delisha namun rasa yang luar biasa ia rasakan ketika bersama Capella itu adalah sebuah perasaan yang sangat dalam dan juga ia yakin itu adalah tanda cinta yang sebenarnya sudah lama di hatinya.


"Kenapa? Lo peduli dengan hidup gue? Gue saranin mending lo jangan pernah peduli dengan hidup gue dan siapapun itu. Lo kaya parasit sumpah. Gaya lo yang sok ngebully orang lo pikir keren? Hari ini gue bakal balas semua yang dilakukan lo pada Capella."


Januar menarik rambut Delisha dan kemudian ia membawa Delisha ke kamar mandi.


"JANUAR!! LEPASKAN GUE! DI SINI ADA CCTV, LO GAK TAKUT KALAU PUBLIK TAU PERBUATAN LO?!!"


"Ketika lo bully Ella juga di sana ada cctv, lo pikir gue gak tau?"


Tanpa rasa segan Januar terus menyeret Delisha ke kamar mandi dan memasukkan kepala wanita itu ke dalam bak mandi tersebut hingga Delisha merasakan lemas karena tak mampu bernapas di dalam air.


Januar tertawa devil. Pria itu kemudian menarik rambut Delisha dan mengangkat kepala wanita itu sambil tersenyum puas. Ia pun memandangi wajah Delisha yang terlihat sangat pucat dan tak berdaya.


"Baru segini dan lo udah pucat? Gimana dengan lo yang lakuin hal yang sama seperti dilakukan lo ke Ella? Ini gak ada apa-apanya."


Januar pun mendorong tubuh Delisha hingga tersungkur ke lantai kamar mandi. Delisha menangis sambil meraung. Ia tak percaya jika Januar akan semengerikan ini.


"Januar, di hati lo sama sekali gak ada kasih sayang buat gue? Lo bilang cinta sama gue, tapi lo..."


"Stop Delisha!! Mau seberapa kali lo ingatin gue tentang kenangan kita, yang ada gue makin benci sama lo. Bukan gue gak tau kalau lo juga punya selingkuhan di belakang gue!! Anj..ing!!" marah Januar dan menendang tembok. Perasaan sakit hati mengenai hal itu masih membekas di benak Januar.


Ia selama ini diam dan berpura-pura tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Delisha di belakangnya.


Delisha syok berat dan menggelengkan kepalanya. Demi apapun bukan keinginannya melakukan hal tersebut. Ia tak menyangka jika Januar akan mengetahui hal itu.


"Kenapa wajah lo? Kaget?" sindiran keras diberikan oleh Januar. "Jadi siapa yang lebih munafik?"


Januar mengusap wajahnya kasar dan memandang Delisha yang menangis di lantai dan berusaha mengingat kesalahan yang sudah diperbuatnya.


Kemudian Januar pergi dari kamar mandi tersebut dengan wajah penuh emosi. Ia mendorong pipi bagian dalamnya sambil mengusap bibinya dengan lidah.

__ADS_1


Laki-laki tersebut menutup pintu apartemen Delisha dengan keras hingga menimbulkan bunyi nyaring yang membuat Delisha di dalam kamar mandi tengah meratapi apa yang telah terjadi padanya itu terkejut.


Delisha mengepalkan tangannya dan menadahkan wajahnya ke atas. Air mata menjalar di sekitar pipinya.


"CAPELLA!!" geram Delisha mengingat nama yang sudah merusak segalanya. "Gue bakal bunuh lo!!" teriak Delisha sambil menangis tersedu-sedu.


Ia berdiri secara perlahan. Namun mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Januar padanya membuat Delisha kembali terjatuh sambil meraung marah.


"AAAA!!!!"


____________


Januar menepikan motornya di pinggir jalan raya. Pada saat setelah mengetahui apa yang diperbuat Delisha kepada Capella, Januar mengantar wanita itu pulang ke rumah.


Ia yang berpamitan kepada Capella untuk masuk kuliah namun laki-laki tersebut malah menuju ke rumah Delisha untuk membalaskan dendam Capella.


Januar menatap jalan raya yang dipenuhi oleh kendaraan. Jalan tersebut mengingatkan dirinya dengan masa kecil yang benar-benar kelam dan menyakitkan.


Ia tahu apa yang ia lakukan pada Mahen dan menganggap pria itu adalah masalah di hidupnya merupakan sebuah kesalahan yang sangat besar.


Januar merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan. Namun pria itu juga tidak menyesalinya.


"Gue tau jalanan ini yang paling ngebuat lo tenang." Januar melirik orang yang baru saja berbincang dengannya. Januar tersenyum tipis dan memandang pria itu intens.


"Martin? Ngapain lo di sini?"


"Ngapain? Gue barusan lewat dan gak sengaja ngeliat lo di sini." Januar ber- oh ria menanggapi ucapan Martin. "Eh btw gue dengar-dengar lo kemarin habis lamar Capella, pembantu lo itu? Serius lo? Wih gimana ya perasaan Delisha? Jangan-jangan lo putus karena ini."


"Gue gak bawa anggur."


"Hm."


Martin menggaruk kepalanya. Tampak Januar memiliki banyak masalah. Martin ingin bertanya namun ia merasa tak enak dengan Januar.


"Lo gak mau cerita? Banyak banget masalah lo."


"Gue muak diatur Papa."


"Dari dulu gue juga tau. Apa lagi lo sekarang mimpin perusahaan Papa lo, pasti banyak aturan yang harus lo terapin, kan?"


"Right."


"Dan lo masih benci Mahen?"


"Hm, dari dulu gue selalu dipandang sebelah mata berbeda dengan Mahen. Sampai sekarang, meskipun Mahen salah tapi tetap bunda dan papa perjuangin Mahen dan masih peduli dengan Mahen. Kali ini gue pengen ambil salah satu kebahagiannya, Capella."


Martin menepuk jidatnya. Ia melupakan jika Capella adalah mantan adik ipar Januar. Ia tak menyangka jika Januar jatuh cinta dengan Capella.


"Lo serius sama Capella, kan? Lo gak mainin dia dan ngelamar dia karena pengen liat Mahen lebih menderita, kan? Tega benar lo."


"Gue cinta sama dia," potong Januar cepat membuat Martin bungkam. Ia memandang Januar dengan raut tak percaya.


"Lo cinta sama dia? Cepat banget."

__ADS_1


"Gue gak tau kapan perasaan gue muncul. Tapi ketika gue cium Capella di depan Mahen dan keluarga gue, gue ngerasa ada yang beda tapi gue belum sadar."


"What? Lo cium Capella? Yang benar lo? Di depan keluarga lo? Sumpah GG sih lo udah seberani gitu? Gimana Mahen? Pasti marah besar yekan bro? Gue juga jadi Mahen baka gitu."


"Yah sedikit tinjuan dan juga kurungan lah yang gue terima dari dia."


"Wajar kalau Mahen marah. Keknya Mahen sayang sama lo, tapi lo selalu bersikap dingin kepada dia. Kasian juga dia." Januar tak menjawab. Ia juga tahu tapi Januar tak menanggapi kasih sayang yang diberikan oleh Mahen. Di mana kasih sayang itu makin menyiksa dirinya.


"Gue tau. Tapi gue gak akan peduli. Gue dan Capella udah nikah. Jadi kalau dia mau rebut Ella dari gue, dan gue bakal benar-benar jadi musuh nyata dia."


"HAH? KENYATAAN APALAGI INI? LO UDAH NIKAH? TAPI KAPAN??!" kaget Martin bak diberikan suprise luar biasa.


"Udah dari lama. Biasa aja."


Martin menggelengkan kepalanya. Sungguh tak percaya dengan apa yang telah diucapkan Januar.


"Lo kok gak ngundang gue dan teman-teman gue?"


"Pada saat itu gue gengsi dan gue gak mau kalian semua tau dan bakal ngejek gue."


Martin tertawa. Bisa-bisanya Januar berpikir seperti itu. Mungkin dirinya akan biasa saja namun teman-teman yang lain pasti akan meledek Januar.


"Tapi gimana? Enak gak sama yang lebih tua dari lo, lebih jago gak?"


"Jagoan mantan-mantan gue. Dia perawan masih amatiran. Tapi gue suka, sumpah enak," ucap frontal Januar yang membuat penasaran Martin.


"Jadi pengen cobain juga."


"Kepala lo bakal hilang," ancam Januar pada Martin yang langsung membuat Martin ketar ketir.


"Santai dan kalem bro, gue cuman bercanda." Januar mendengus tak suka meskipun itu bercanda.


"Cari club gue pengen mabok."


"Udah punya bini lo masih aja kaya gini."


"Pulangnya baru gue senang-senang sama bini gue."


"Woy!! Lo keknya udah mabuk duluan!" Januar hanya tertawa menanggapinya.


Memang terkadang Januar sangat frontal dan mulutnya juga asal ceplas ceplos seperti laki-laki pada umumnya.


Januar memasang helm dan menghidupkan motornya lalu memandang Martin agar ikut dengannya.


"Iya-iya bentar."


Kemudian mereka pun meninggalkan trotoar dan menuju salah satu klub malam.


_____________


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2