
Wajah Megan tak berhenti tersenyum usai mendapatkan kabar bahwa ia sebentar lagi akan menjadi seorang nenek. Ia pun pergi ke rumah sakit dan saat di tengah jalan bersama sang suami Megan terkejut melihat Mahen yang tengah berdiri di luar ruangan.
Megan memastikan sekali lagi jika itu benar anaknya, Mahen. Megan pun menghampiri Mahen dan menepuk pundak sang anak.
"Mahen?" tanya Megan pada sang anak yang mengintip kemesraan Januar dan Capella di dalam.
Hengky pun sama terkejutnya melihat Mahen ada di sini bukan di penjara.
"Mahen kenapa kamu bisa di sini? Kamu mau kabur? Di mana wajah papa akan diletakkan jika kamu kabur. Papa akan telpon polisi biar jemput kamu di sini!" ujar Hengky berapi-api.
Mahen pun menoleh ke arah orangtunya. Matanya yang memerah usai menangis itu tersenyum tipis.
"Bunda! Papa! Kalian tahu jika Mahen dijebak? Tapi kenapa kalian terus menganggap aku yang sebenernya paling salah. Dan aku tidak menyangka jika Bunda menikahkan kekasihku kepada Januar."
"Karena kamu tidak mungkin menikah dengan Januar. Terpaksa bunda menggantikan orang yang akan menikah dengan Capella. Bunda ingin Capella tetap menjadi bagian keluarga kita. Lagipula bunda sudah berjanji pada ibunya Ella untuk menikahkan anaknya dengan salah satu anak bunda."
"Kan bisa nunggu Mahen keluar dulu bunda!!" marah Mahen dan menahan napas saat air mata terus mendobrak pertahanan dirinya.
"Mahen. Terima saja kenyataan ini. Mungkin ini ujian yang akan diberikan Tuhan. Kalian sudah mendapatkan semua apa yang kamu inginkan."
"Pa?" tanya Mahen dengan raut tak percaya. Dari dulu ayahnya memang paling egois dan tak pernah memikirkan anak-anaknya. "Sikap Papa yang seperti ini yang buat hati anak Papa sakit. Karena Papa dan Bunda aku terus dibenci adikku. Dari dulu kalian memujiku dan membedakan Januar, kalian sering memarahi Januar hingga dia pun menyimpan dendam kepadaku. Jadi semua ini salah kalian! Sekarang saat aku dipenjara, Januar yang kamu jadikan anak emas kalian?"
Megan menggelengkan kepala. Ia pun memeluk anaknya. Ia tak pernah berpikir seperti itu. Tapi apa yang dikatakan oleh Mahen ada benarnya.
"Maafkan Bunda."
Megan menatap Hengky yang acuh. Memang sifat Hengky adalah pria yang sangat dingin dan tak peduli. Bahkan ia tidak terlalu peduli dengan anak-anaknya.
"Hengky, apa yang dikatakan oleh Mahen ada benarnya. Kita bisa mencari keadilan untuk Mahen."
Mahen tertawa hambar. Ia pun melepaskan paksa pelukan sang bunda yang membuat Megan sakit menatap itu.
"Sudah terlambat. Kalian mengambil tindakan yang membuat rugi kalian sendiri. Kalian pikir aku akan tinggal diam ketika Capella telah menjadi istri Januar."
Megan menatap was-was Mahen. Karena seorang wanita dua saudara saling bertengkar. Ini salahnya karena mengambil jalan yang tidak pas.
"Pada saat itu pernikahan dan sebaran undangan telah dilakukan. Tidak bisa dihentikan, makanya Bunda terpaksa menikahkan adik mu dengan Capella."
"Kenapa harus Ella, Bunda? Bunda sendiri tau jika Ella adalah kekasihku. Aku mencintainya bukan hanya karena aku dijodohkan dengannya!" tegas Mahen terhadap perasaannya sendiri.
"Mahen! Ucapan mu sudah menyakitkan perasan Bunda!" marah Hengky.
__ADS_1
Mahen melirik sang ayah dengan tatapan benci. Kenapa ia bisa memiliki sosok ayah seperti Hengky.
"Papa! Apa peduli Papa? Pernah Papa peduli dengan anak mu Pa?" tanya Mahen menyindir. "Selamat kalian sudah mendapatkan cucu. Saya ikut senang. Saya rasa saya bukan lagi bagian dari Anda. Jika kalian tidak memperjuangkan saya di penjara maka saya yang akan berjuang sendiri dan akan merebut hak saya sendiri."
Kemudian Mahen pun berjalan meninggalkan orangtuanya. Megan menatap tak percaya sang anak yang sangat ia sayangi seperti itu.
Megan melirik Hengky dengan tatapan sedih. Wanita itu ingin mengejar Mahen namun ditahan oleh Hengky.
"Hengky! Dari dulu sikap mu telah membuat sakit hati anak-anak. Dulu kau berjanji akan berubah."
"Aku tidak pernah berjanji. Ini yang kamu dapatkan ketika kamu memutuskan untuk menikah dengan ku."
Hengky pun masuk ke dalam ruangan inap di mana kedua anak mereka tengah bercengkrama dan sangat romantis.
"Hay! Selamat yah buat calon ibu muda dan papa muda."
Megan pun memeluk tubuh Capella yang sangat bahagia menyambut dirinya.
"Bunda," ujar Capella dan memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat.
"Apa sayang? Bagaimana kehamilan kamu sekarang? Baik-baik saja, kan? Ada yang sakit? Kalau ada bilang bunda aja."
Megan pun ikut meletakkan tangannya di perut Capella. Memang belum terasa apapun di perut wanita itu.
"Bunda tidak sabar menunggu dia lahir ke dunia."
Capella pun memandang Megan dengan wajah sumringah. Tidak hanya Megan yang menginginkan kelahirannya dipercepat ia pun juga.
"Ella juga Bunda."
Megan pun teringat dengan ibu Capella yang merupakan sahabat dekatnya dulu.
"Jika ada mamamu sekrang, pasti dia sangat bahagia."
Capella pun teringat dengan sosok ibu yang telah melahirkannya. Ia aku yakin dengan hal itu. Capella juga berharap jika sang Ibu melihatnya dari atas.
"Ma sekarang Ella sedang mengandung cucu mu."
__________
Mahen pun menyusuri jalan dengan gontai. Suara sirene polisi membuatnya langsung waspada. Mahen berusaha untuk tidak ditangkap.
__ADS_1
Setelah berbincang dengan orangtunya rasanya ia telah dibuang oleh bunda dan papanya sendiri.
Pria itu tak lagi memiliki tujuan hidup. Jika bukan karena ia khawatir kepada Capella mungkin Mahen akan memilih di penjara selamanya. Namun demi cintanya Mahen rela melarikan diri dan tidak ingin ditangkap oleh polisi kembali.
Mahen berlari dengan sangat kencang. Ia menghindari kejaran polisi yang memburunya. Ia tahu dirinya sudah ditetapkan menjadi buronan.
Saat ia di tengah jalan tak sengaja ada sebuah mobil hitam yang berada di depannya. Mahen pikir ia akan mati ditabrak oleh mobil itu.
Namun ia terkejut saat mobil itu berhenti dan memintanya masuk ke dalam.
"Masuk!"
Mahen kaget dengan tawaran itu. Tapi demi menghindari kejaran polisi ia pun lebih memilih masuk ke dalam mobil tersebut.
Mahen melirik seorang wanita yang telah menolongnya. Ia bingung kenapa perempuan itu mau menolongnya.
"Kenapa kau menolong ku?"
"Nanti kau akan tahu semuanya."
Mahen akui skill wanita itu membawa mobil memang di atas rata-rata. Seperti ia telah terlatih. Tiba-tiba terlintas di pikiran Mahen. Dari gaya wanita ini terlihat ia seperti salah satu anggota kelompok elit yang menguasai Indonesia.
"Sebenarnya siapa kau?"
"Nanti saja. Kau pasti akan tahu semuanya."
Itulah yang terus dikatakan oleh wanita itu hingga Mahen pun memutuskan tak bertanya lagi. Ia tidak takut namun ia akan mengikuti rencana wanita itu.
"Baiklah," jawablah Mahen memandang ke belakang.
Mobil polisi sudah sangat dekat. Ia khawatir mereka akan tertangkap. Namun kali ini Mahen lebih lagi dikejutkan saat wanita itu mengeluarkan senjata dan menembakkannya ke mobil polisi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mahen kaget. Tapi si wanita hanya tersenyum miring.
"Hanya olahraga biasa." Mahen tidak habis pikir dengan keberanian wanita ini yang berbeda dengan wanita pada umumnya.
_________
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.
__ADS_1