Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 56 END


__ADS_3

Air mata Capella pun jatuh dari netra indahnya. Wanita itu tak bisa menahan tangisnya saat melihat sang ayah yang berpenampilan compang-camping di depannya.


Capella berjalan melangkah pelan ke arah pria itu. Pria tersebut juga tampak kebingungan menatap Capella yang ia lihat sangat cantik dan wajahnya juga familiar.


Ia berjalan mundur seakan ketakutan dengan Capella yang menghampirinya. Napas Capella memburu melihat sang ayah yang menatap ketakutan ke arahnya.


Ia menoleh ke arah belakang melihat Januar yang tengah meyakinkan dirinya. Di sana juga ada Guan yang masih belum mengerti dengan situasi.


Januar melemparkan senyum manis k arah Capella meyakinkan wanita itu untuk menemui sang ayah. Capella membalas senyum Januar penuh percaya diri.


Capella pun makin berjalan maju dan Kemal tampak hendak menangis. Wajah Capella terdapat bayang-bayangnya yang selalu menghantui sepanjang hidupnya.


Mata Kemal berkaca-kaca. Ia berhenti berjalan mundur. Seakan ia ingin menggapai Capella.


"K...kau si..siapa?" tanyanya ragu-ragu kepada Capella.


Capella tertawa pelan mencairkan suasana. Kemal tampak makin bingung. Kenapa Capella memiliki wajah dia. Kenapa Capella juga mirip dengannya.


"Papa!" satu kata yang diucapkan Capella memanggil Kamal membuat kemal langsung syok dan mundur beberapa langkah.


"Kau... kau siapa?"


"Aku anak mu."


Kemal tak dapat memberikan ekspresi apapun. Wajahnya terkejut dan tak percaya dengan ucapan Capella. Namun melihat kemiripan Capella membuatnya yakin jika Capella tidak berbohong.


"Kamu anak ku? Anak Sasa?" Sasa adalah panggilan kesayangan Kemal untuk ibunya. Kebetulan Capella mengetahui hal itu.


Capella mengangguk mantap membuat Kemal langsung memeluk Capella dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan Papa. Maafkan aku Nak yang sudah meninggalkan mu. Aku benar-benar merasa bersalah kepadamu dan Sasa. Maafkan aku."


Capella menggelengkan kepalanya dan melaksanakan pelukannya pada sang ayah.


"Pa, aku tahu kau pasti sangat merasa bersalah seperti ini. Tapi Pa, aku tetap mencintaimu. Aku harap kamu mau dapat berubah secara perlahan dan tidak lagi berjudi."


Kemal tertawa singkat dan menatap k arah ruangan yang ditempatinya yang sangat khas dengan nuansa judi.


"Maafkan aku, hidup ku makin tidak terarah. Apalagi saat kami bangkrut dan nenek mu meninggal. Aku ingin pulang ke Indonesia tapi aku tak memiliki banyak uang untuk ke sana dan menjenguk mu. Ah ngomong-ngomong di mana ibu mu?"


Capella terdiam dan menahan air matanya yang terus ingin tumpah.


"Mama sudah tidak ada. Dia terus memikirkan mu dalam hidupnya dan berharap jika kamu datang kepadanya."


Kemal tak bisa berbuat apa-apa. Ia langsung menarik kursi dan duduk. Apa yang barusan didengarnya membuat pria itu tak bisa mengontrol emosinya.


"Apa aku tidak salah dengar? Nama mu siapa?"


Kemal tampak terkejut. "Kau anak Hengky dan Megan? Di mana Mahen? Dulu sebelum aku pergi aku masih ingat Mahen masih kecil."


Capella dan Januar pun membisu. Kemal yang tahu jika mereka tak bisa menjawab pun tak bertanya lagi.


"Masuklah. Banyak hal yang ingin aku tanyakan." Capella mengangguk dan mengikuti sang ayah dari belakang.


__________


Beberapa bulan kemudian.


Capella menyentuh perutnya yang terasa nyeri. Ia menatap ke bawah dan melihat air ketuban yang menjalan di area kakinya.

__ADS_1


Wanita itu langsung bergerak dan Januar yang mendengar teriakan Capella langsung berlari ke dalam kamar. Ia terkejut melihat Capella yang hendak melahirkan.


Kini Capella tengah mengandung anak kedua mereka. Kebetulan lahiran kali ini akan dilaksanakan di rumah. Semuanya sudah disiapkan sebelum jauh-jauh hari. Januar membawa Capella ke dalam ruangan yang sudah disediakan untuk Capella melahirkan.


"Januar hiks sakit."


"Sayang tahan sebentar aku akan membawamu dan memanggil dokter."


"Kelamaan kalau memanggil dokter.'


"Iya-iya. Tadi sudah meminta bibi panggilkan dokter."


Setelah melewati hari yang terasa panjang akhirnya Capella pun melahirkan seorang bayi laki-laki lagi.


Setelah berjuang beberapa jam akhirnya Capella bisa melewati masa-masa sulit dan melahirkan seorang putra untuk Januar.


"Pa nama adikku siapa?" tanya Guan sembari melihat bayi merah tersebut.


"Namanya adalah Mahesa Aditya Trisatya."


Capella menatap anaknya itu dengan mata berbinar.


"Selamat datang Mahesa! Semoga kehadiran mu membawa berkah untuk keluarga kami." Capella menatap orang-orang yang sudah berkumpul di dalam ruangan. Ada ayahnya, Hengky, dan juga ada Megan.


Mereka sangat senang karena mendapatkan cucu keduanya. Semoga kebahagiaan ini terus terjalin hingga akhir hayat. Kehidupan Capella yang penuh dengan drama pun berakhir dengan rasa bangga. Akhirnya kisah nya membuatnya merasa puas dengan hidupnya.


"Tuhan terimakasih untuk semuanya. Kini aku mengerti apa itu arti cobaan. Setiap manusia pasti memilikinya."


________

__ADS_1


End


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2