
Mahen menatap ruangan yang gelap gulita. Hanya ada cahaya lilin remang-remang yang menerangi perjalanan mereka menuju ruangan khusus. Mahen menatap wanita itu curigai dan juga berjaga-jaga takut jika si wanita itu akan melakukan sesuatu padanya.
"Ruangan apa ini?" tanya Mahen kepada wanita itu seraya melirik sekitar. Ia bergidik ngeri saat merasakan hawa mencengkam begitu intens menusuk seluruh kulitnya.
Mahen bersikap seoptimal mungkin dan menenangkan dirinya. Ia seorang pria seharusnya tidak takut dengan hal seperti ini. Mahen berhenti berjalan saat mendapati suatu raungan yang sangat luas dan ia kaget mengetahui bahwa di dalam ruangan itu banyak terdapat pasukan dan juga dipenuhi dengan perangkat IT.
"Apa ini?" tanya Mahen kembali memastikan jika ia akan baik-baik saja di dalam ruangan tersebut.
"Tidak perlu takut. Hanya beberapa hacker sedang bekerja mematahkan keamanan beberapa perusahaan dan juga pemerintahan."
"What?" kaget Mahen dan refleks mundur. Ia pun memandang semua orang yang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Jangan terkejut. Semua di sini adalah orang-orang terpilih. Banyak juga pengkhianat negara dan beberapa perusahaan yang bergabung dengan kami."
"Tujuan Anda membawa saya kemari apa?" tanya Mahen sembari memandang ruangan ini dengan perasaan tak nyaman.
"Sebenarnya tidak memiliki tujuan banyak. Tapi kami tahu dengan mu dan ingin mengajak mu untuk melakukan sebuah bisnis," ujarnya sembari menumpang senyum misterius di wajah wanita itu.
Mahen mengercutkan kening. Ia bertanya-tanya bisnis semacam apa yang ditawarkan oleh wanita itu.
"Bisnis? Bisnis apa?"
"Kau tahu tempat apa ini?" Mahen pun mengangguk ragu. Sebenarnya ia tak yakin namun ia tetap menebak jika ruangan ini sebenarnya adalah tempat khusus dan sangat rahasia.
"Bisnis gelap? Kau gila mengajak ku berbisnis seperti itu?" marah Mahen dan lantas ingin pergi.
Wanita itu hanya memandang punggung Mahen yang meninggalkan ruangan tersebut. Namun Mahen langsung berhenti berjalan saat ia melihat semua di tempat ini sangat membingungkan dan ia bahkan lupa di mana jalan ia masuk ke dalam ruangan ini.
Pria itu menghela napas panjang dan menatap wanita tadi. Sang wanita tertawa kecil seolah sedang mengejek Mahen.
"Bagaimana? Kau bisa keluar? Orang yang sudah masuk di tempat ini tidak ada yang bisa keluar tanpa terkecuali."
Mahen pun terpaksa menghampiri wanita itu. Ia menaikkan alisnya sebagai bentuk sebuah pertanyaan.
"Ah, nama saya adalah Ming Tian."
"China?"
__ADS_1
"Yes. Are you Mahen? Mantan CEO dari perusahaan Trysatia Permata Indah. Wow sebuah perusahaan yang sangat megah namun tak disangka mantan CEO dari perusahaan itu hanyalah seolah buronan? Ingat di luar sana kamu hanyalah seorang buronan dan polisi bisa saja menemukan mu kapan saja."
Apa yang dikatakan oleh Ming Tian terus berputar di benak Mahen. Ming Tian ada benarnya jika ia keluar dan tak memiliki tempat persembunyian maka ia dengan mudah akan ditemukan.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Membantu kami menyelesaikan beberapa tugas. Aku tahu kau pintar dan banyak mengetahui rahasia perusahaan besar dan juga pemerintahan. Jika kau ingin selamat maka bergabunglah dengan kami. Kami pasti akan melindungi diri mu dan akan menjadikan mu pemimpin jika kamu mampu untuk memimpin kami semua. Aku tahu kau ingin balas dendam kepada adik mu, ini saatnya untuk kamu membalaskan semua dendam mu."
Mahen pun terdiam dan mulai berpikir dua kali. Apakah jika ia mengambil jalan ini maka dirinya akan benar-benar dicap sebagai pengkhianat negara. Tapi terlintas di pikiran Mahen, untuk apa ia memikirkan itu jika namannya sudah tercoreng. Tidak ada gunanya khawatir, karena ketidak adilan menciptakan seseorang yang sangat baik berubah Bao monster tak dikenal.
"Aku setuju."
Senyum di wajah Ming Tian pun semakin luas. Ia menjabat tangan tanda persetujuan juga perjanjian telah dimulai.
"Jika begitu ikuti aku," pintanya agar Mahen mengikuti dirinya ke suatu ruangan.
Mahen pun berjalan di belakang Ming Tian sembari menatap seluruh ruangan yang penuh dengan alat-alat canggih. Mahen rasa mereka semua sudah melakukan kejahatan ini dari lama. Selain itu ia yakin setiap orangnya pasti sangat terlatih.
___________
Megan tak tenang. Usai bertemu dengan anak sulungnya pikirannya terus saja memikirkan sesuatu yang membuatnya gelisah. Ia masih ingat tatapan putra kesayangannya yang terkenal baik itu sangat kecewa.
Saat Mahen mengatakan ia dijebak ketika itu Megan tutup telinga karena terlalu kecewa dan tak mau mendengar alasan apapun. Baginya pembunuh tetaplah seorang pembunuh.
Capella yang melihat sang ibunda tengah melamun lantas menegurnya.
"Bunda!"
Megan terkejut dan memandang Capella yang masih terbaring di rumah sakit karena haru dirawat beberapa hari sebab kondisi Capella yang akhir-akhir ini sangat lemah.
"Iya sayang? Kenapa? Apa yang sakit?"
"Bunda. Ella baik-baik saja. Ella ingin bertanya ada apa dengan Bunda? Kenapa Bunda terus melamun."
Megan pun diam dan menggelengkan kepala. Lebih baik ia tak menjawab pertanyaan Capella.
"Tidak apa-apa."
__ADS_1
"Bunda! Ella tahu sesuatu telah mengganjal di hati Bunda."
"Ella semua orang memiliki masalah yang tidak bisa dia ceritakan. Bunda tidak bisa mengatakan kepada mu."
Capella menghela napas panjang dan mengangguk. Iapun berusaha untuk mengerti bagaimana Megan.
"Tidak apa-apa Bunda." Megan tersenyum dan mengusap kepala Capella dengan penuh kasih sayang.
"Nak, jika suatu hari nanti kamu punya anak lebih dari satu, perlakuan lah mereka adil. Jika Januar tidak bisa adil maka kamu harus bisa membujuk dan membimbing Januar. Jangan kaya Bunda gagal, hingga menyebabkan kedua anak Bunda saling iri dan membenci."
Capella pun mengerutkan keningnya. Ia mencoba mencernanya semua ucapan Megan.
"Maksud Bunda?"
"Bunda sudah gagal menjadi teman. Bunda juga gagal menjadi seorang ibu. Bunda banyak gagalnya. Bunda selalu hidup dalam penuh rasa bersalah. Bunda masih ingat saat ibu mu menatap benci ke arah Bunda sebelum dia menutup mata."
Capella syok dan ia memandang Megan dengan wajah tak terbaca.
"Bunda apa maksud dari semua ini?"
"Maaf sayang, belum saatnya kamu mengetahui hal ini."
Capella menarik napas panjang dan berusaha unt mencerna semua ucapan Megan. Ia tahu tak segampang itu, ada sebuah rahasia yang sengaja disembunyikan oleh Megan.
"Bunda! Kamu bisa ceritakan tentang Mama kepadaku?"
"Tentu."
"Bagaimana sebenarnya sifat Ibu."
"Pada saat itu mama mu adalah teman Bunda. Kita selalu bersama. Dia adalah wanita yang sangat cantik bahkan sampai bunda iri kepadanya. Semua orang menyukainya dan suatu hari kita memiliki masalah. Pada saat itu kamu masih kecil, hingga masalah ini tak terselesaikan sampai mama mu meninggal. Maka dari itu dengan kamu bunda menebus kesalahan bunda."
"Bunda, dari dulu Ella hidup dengan mama. Mama selalu mengatakan jika ayah Ella telah tiada. Bisa bunda ceritakan sosok ayah Ella juga?"
Megan tercekat dan tubuhnya bergetar. Wanita itu menelan ludahnya susah payah sambil berusaha untuk menghindari pertanyaan Capella yang seperti itu.
__________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.