Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 39


__ADS_3

Delisha memandang dirinya sendiri di dalam kaca. Di sana ia melihat sosok dirinya yang sangat berantakan dan tampak tak seperti Delisha yang ia kenal.


Delisha meringis menatap itu. Ia menangis dan Delisha membenci penampilannya makin kacau. Tubuh yang ia rawat dari dulu dan kini sangat berantakan dan tampak bukan seperti dia.


Semua itu karena Januar yang hadir ke dalam hidupnya. Januar menghancurkan perasannya setelah apa yang dilakukan oleh pria itu mulai dari mengambil hal yang paling berharga dari dirinya dan juga Delisha telah memberikan seluruh hidupnya pada Januar. Tapi balasan yang ia dapatkan tak sesuai dengan apa yang diharapkan.


Apalagi saat mendengar sang kekasih sudah menikah membuat Delihsa hancur bak abu yang berterbangan, wanita mana yang tidak sakit hati? Bahkan wanita yang sangat sabar pun pasti akan merasakan sakit hati dan memiliki batas kesabaran.


Delisha merasa jika ia hidup hanyalah dijadikan mainan oleh orang-orang. Delisha adalah orang baik namun keadaan yang membuat ia terlihat jahat di mata orang.


Ia berubah karena sebuah rasa hina yang membuatnya masuk ke dalam dasar jurang yang menghancurkan hidupnya.


Wajar jika Delisha ingin balas dendam. Tangannya terkepal ketika menyadari ia mendapatkan kenyataan yang sangat pahit. Posisi Delisha ketika disiksa oleh Januar kemarin ia sebenarnya tengah mengandung anaknya bersama Januar. Namun setelah insiden itu ia pun keguguran.


Hal itu membuat stress Delisha. Rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya. Tidak ada lagi semangat yang bisa membuatnya tetap bertahan di dunia ini.


Bahkan Delisha masih tergolong baik karena ia sama sekali tidak menyebutkan kepada media siapa sebenarnya yang menjadi selingkuhan Januar meskipun media sangat bertanya-tanya kepadanya.


Entahlah masih ada hati nurani di lubuk hati Delisha. Ia.hanya tak bisa mendengar kenyataan yang ditimpanya.


Delisha mendesah kasar dan memandang dengan pandangan kosong ke arah kaca. Ia tersenyum miris dan kemudian melempar kaca dengan benda keras yang ada di sekitarnya.


Kemudian ia tertawa gelak seakan tengah mengejek dirinya sendiri. Delisha menghela napas dan memejamkan mata. Ia pun keluar dari dalam kamarnya dan berjalan ke arah dapur.


Ia merasa haus setelah banyak mengurus tenaga saat ia mengeluh tadi dan juga menangis. Apalagi kondisi Delisha juga tidak begitu terawat. Wanita itu bagaikan mayat hidup. Delisha berusaha untuk menerima kenyataan yang ia terima namun banyak bisikan yang meminta ia untuk melakukan hal keji.


"Kau adalah seorang wanita baik. Kau adalah wanita yang mahal, tidka ada yang bisa mendekatimu. Bahkan karena rasa kasihan mu kepada Januar telah membawamu ke dalam rasa sakit yang luar biasa. Kau dikhianati oleh orang yang kau kasihani karena cintanya kamu tolak. Namun sekarang dia yang menertawakan mu. Miris, tidak kah kau ingin membalas semua penghinaan ini?"


Itulah yang ada di benak Delisha setiap ia termenung. Dan karena itu nafsunya ingin membunuh Capella semakin tinggi.


___________

__ADS_1


Capella sedang membereskan rumah. Sementara Januar pergi untuk berkuliah dan ia tak dibiarkan bekerja meski Capella sudah memaksa Januar agak mengizinkan dirinya bekerja.


Capella merasa bosan di rumah besar ini. Memang sudah ada pembantu di mana sebelumnya hanya mereka berdua yang hidup di dalam rumah ini. Januar sengaja menyewa pembantu karena ia tak ingin Capella yang melakukan pekerjaan berat.


"Non, sudah biar bibi saja yang nyapu." Capella memandang pembantu itu dengan wajah enggan.


"Tidak apa-apa Bik."


"Aduh Non, nanti ketahuan Aden dia bakal marah Non."


"Ya makanya Bibi juga jangan kasih tau."


Capella kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sang asisten rumah tangga meringis melihat Capella mengerjakan yang seharusnya menjadi tugasnya itu.


Ting Tong


"Bi kayaknya ada yang datang. Coba Bibi cek keluar."


"Baik Non."


"Siapa yang datang?"


"Ini ada paket."


Capella mengerutkan keningnya. Perasannya ia tak ada memesan barang. Merasa penasaran Capella pun mengambil paket itu. Mereka membuka bersama-sama paket tersebut.


Saat melihat isi box itu baik sang pembantu dan Capella pun sangat syok dan refleks langsung membuang box tersebut.


"Yaampun Bik," ujar Capella yang masih kaget dan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia menyentuh dadanya menetralisir degupan jantungnya.


"Non, sebaiknya Bibi buang aja paketnya. Non jangan coba-coba buka paketnya lagi."

__ADS_1


Capella pun terdiam dengan tubuh masih gemetar. Bagaimana tidak ia melihat tulisan sebuah ancaman yang Capella yakini tintanya memang asli dari darah. Ancaman itu berupa sebuah ancaman pembunuhan.


"Bi, tolong Bi singkirkan ini," ucap Capella dan langsung pergi. Perasannya tak nyaman dan wanita itu masuk ke dalam kamar menenangkan dirinya.


Di dalam kamar Capella sibuk bergulat dengan pikirannya. Kira-kira siapa yang sudah mengirimkan paket tersebut dan memberikannya sebuah ancaman seperti itu. Capella merasa jika ia tak ada musuh.


Tapi mengingat saat ini statusnya adalah istri dari Januar yang banyak memiliki penggemar dan sesang pastinya hidup Capella tak aman.


"Apa mungkin Delisha?" Capella menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Delisha melakukan itu meksipun buktinya sangat kuat jika wanita itu yang telah memberikannya ancaman.


Karena hanya Delisha lah yang pernah secara langsung mengatakan jika wanita itu akan membunuhnya. Capella merasa was-was. Ia tak takut mati tapi sekarang ini ia sedang mempertahankan dua nyawa, nyawa dirinya dan juga anaknya.


"Aku mengerti apa yang dirasakan Delisha. Tapi bukan keinginan ku untuk menempati posisi ini." Capella mengepalkan tangannya dan menarik napas panjang.


Ia ketakutan di dalam rumah setelah mendapatkan teror dan ancaman seperti itu.


"Non!" teriak pembantunya itu dari luar memastikan sang majikan baik-baik saja di dalam kamar.


"Gak papa Bik, Ella baik-baik saja."


"Tapi Non. Bibi telpon aden aja."


"JANGAN BIK!" Capella langsung menuju pintu dan membukanya. Ia tak ingin Januar ikut terseret dan kepikiran dengan masalah ini.


Bibik Imah itu tak setuju dengan Capella. Ia ingin tuannya mengetahui agar keselamatan Capella makin terjamin.


"Tapi Non, jika sudah seperti ini kita tidak bisa menyembunyikannya. Ini juga menyangkut banyak nyawa. Nyawa Nona, nyawa tuan junior, dan nyawa saya."


Capella merasa jika Bik Imah juga ada benarnya. Saat ini Capella telah galau berat. Ia pun menyetujui bi Imah untuk menelpon Januar.


__________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA


__ADS_2