Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 37


__ADS_3

Usai dinyatakan baik-baik saja Capella lantas memutuskan untuk pulang dari rumah sakit. Keinginannya itu pun dipenuhi oleh Januar setelah melakukan rangkaian tes yang menyatakan jika Capella bisa dibawa pulang.


Sebenarnya Capella merasa jika dirinya baik-baik saja hanya Januar yang terlalu khawatir berlebihan hingga membuat pria itu selalu cerewet dan menannyakan tentang dirinya terus menerus tanpa henti hingga membuat Capella muak. Padahal jawabannya masih sama jika ia baik-baik saja.


"Januar, aku baik-baik saja. Jangan dipapah kaya gini, kaya anak kecil aja," protes Capella kepada Januar yang terlalu mengekang dirinya.


Januar menghela napas panjang dan menatap Capella yang terus menolak apa yang ia lakukan.


"Capella, kondisi mu tidak terlalu baik."


"Sudah dikatakan jika aku baik-baik saja, kamu aja yang terus mengkhawatirkan aku. Padahal tidak ada yang bahaya. Aku bukan strok yang tak bisa melakukan apapun."


"Terserah kamu. Tapi aku tidak mau jika ada apa-apa dengan anak kita."


Capella pun pasrah dengan Januar yang tak bisa dibandingi lagi posesifnya. Ia menggendong tubuh Capella hingga membuat wanita itu terpekik.


Lantas ia membawa tubuh wanita itu keluar dari dalam mobil dan masuk menuju ke pekarangan rumah. Namun Capella dan Januar yang asik saling menjahili satu sama lain tak sadar jika teman-teman Capella ada di depan rumah mereka. Mereka sangat terkejut saat melihat Januar dan Capella terlihat sangat dekat seperti telah memiliki suatu hubungan. Padahal yang mereka tahu jika Capella dam Januar hanyalah sebatas adik kakak ipar yang tidak jadi.


Rahma dan Shila saling pandang. Keduanya ternganga sambil menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan masing-masing. Sama-sama syok, Capella lantas langsung turun dari gendongan Januar dan ia menghampiri teman-temannya.


Capella meringis sembari melirik pria itu. Namun Januar tampak sangat santai tidak seperti dirinya yang setengah mati menahan rasa khawatir yang menggerogoti dirinya.


"Januar, gara-gara kamu." Saling menyalahkan pun dimulai.


"Biarkan saja mereka tau."


"Kamu!" protes Capella dan mengigit bibirnya.


"Kenapa? Malu punya suami seperti aku?" tanya Januar yang membuat Capella terdiam tak berkutik.


Sementara Rahma dan Shila tak kalah terkejutnya saat ia tahu bahwa Capella dan Januar sebenarnya sudah menikah.

__ADS_1


Ia pun menghampiri Capella sebagai bentuk introgasi.


"Kalian kenapa bisa ada di sini?" tanya Capella dengan ekspresi gelisah.


"What? Gue gak sengaja nemu alamat lo. Awalnya gue kaget rumah lo besar banget dan hampir gak percaya. Dan sekarang gue makin kaget saat liat kalian berdua dan katanya udah nikah."


"Wow kenyataan seperti apa ini? Kenapa kalian merahasiakan banyak dari kami duhai Ella! Lo gak ngundang kita. Wait, kalau bos tau kalau lo yang dianggap Delisha selingkuhannya sumpah sih lo bakal diwawancarai langsung sama bos. Oh iya Ella, kok lo bisa nikah sama dia? Bukan nya dia adiknya Mahen?"


Capella menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menatap Januar meminta bantuan pria itu untuk menjawab pertanyaan yang dicerca oleh teman-temannya.


"Kenapa kalian kepo banget dengan masalah orang. Jangan pernah nyebut Mahen, sekarang Ella istri gue."


"Woy Bambang! Bukan gitu maksud gue, lo tuh incaran banyak cewek kok mau sama Ella sih?" tanya Rahma tidak mengerti. Mendengar pertanyaan itu Shilla langsung menyikut temannya dengan sikunya, bisa-bisanya Rahma mengatakan itu padahal sudah sangat jelas jika Capella adalah wanita cantik dan siapa yang tidak ingin dengannya.


Capella tertawa kecil. Ia bingung harus menyikapi semua teman-temannya ini seperti apa.


"Pokoknya ceritanya panjang, nanti deh aku ceritakan lengkapnya. Tapi kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Capella heran kenapa bisa teman-temannya datang tanpa diundang. Yang paling mengherankan dimana mereka mendapatkan alamatnya.


"Lo nikah gak ngundang-ngundang."


"Kan sudah diundang kemarin."


"Itukan pernikahan lo sama Mahen. Tapi kan ini pernikahan lo sama adiknya. Gila dapatin berondong tampan cuy."


Capella memutar bola matanya saat mendengar celotehan teman-temannya. Januar hanya menjadi nyamuk di antara bincangan para wanita-wanita. Ia terus berada di samping Capella tak ingin pisah dari wanita itu.


"Capella! Lo dari mana?" tanya Rahma sambil mengemut makanan yang ada di meja.


"Dari rumah sakit. Cek kehamilan," jawab Januar yang mendahului Capella.


Capella memandang cepat Januar dan ia menatap ke arah kedua temannya yang bahkan tak sanggup mengunyah makanan yang ada di dalam mulut mereka setelah mendengar jawaban Januar. Mereka kompak menatap ke arah perut Capella.

__ADS_1


"Gue pengen pingsan rasanya Ma," ucap Shilla sambil menyentuh tangan Rahma. Itu adalah sebagai bentuk tanda tidak percayanya jika temannya Capella sedang berbadan dua.


"Lo pikir gue juga percaya? Gue rasanya lagi mimpi."


"Maaf kagetin kalian. Tapi diam-diam aja, jangan sampai media tau. Pernikahan kami begitu rumit dan aku belum bisa menceritakan semuanya kepada kalian."


"Tidak apa-apa. Tapi ini kita rasanya pengen mati saking kagetnya."


"Kalian kalau pengen ngealay di tempat gue mending pulang."


Capella menyentuh tangan suaminya menenangkan pria itu.


"Januar santai, mereka teman aku."


Rahma dan Shilla pun menganggukkan kepala membenarkan ucapan Capella yang membela mereka berdua.


"Nah dengerin tuh. Kok lo di media sama di aslinya beda."


Januar pun meninggalkan ruang tamu. Percakapan ini bukan tipenya, ia bagai orang bodoh yang berdiri di tengah-tengah para wanita yang menurut Januar sangat cerewet.


"Kok laki lo gitu amat yah?" tanya Rahma tak mengerti kenapa sikap Januar begitu dingin dan juga cuek.


"Aku juga tidak tahu. Nanti aku coba bicara dengan dia."


Rahma dan Shilla pun setuju dengan usulan itu. Menurut mereka berdua sikap Januar memang harus dirombak kembali agar ia terlihat tetap ramah.


___________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

__ADS_1


__ADS_2