Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 41


__ADS_3

Delihsa melepaskan tangan orang itu secara paksa. Napasnya tersengal-sengal saat tahu siapa yang ada di depannya ini seolah ingin melakukan tindak kejahatan.


"Ada apa kau kemari?" tanya Delisha acuh tapi dia juga sangat syok saat tahu siapa orang itu.


"Ada apa katamu? Kau sudah berani-beraninya mengancam Capella. Kau pikir kau siapa ingin menyakiti Capella?"


Delihsa pun mengerutkan keningnya. Ia mengingat kembali ada hubungan apa Capella dengan orang ini. Ia tahu siapa pria di depannya, yaitu Mahen salah satu pembunuh dan pemerkosa yang kasusnya sempat viral di jagat Maya.


Ia ngeri sendiri saat melihat orang itu berada di depannya. Delihsa bertanya-tanya ada apa Mahen datang ke tempatnya dan ternyata hanya mengancam dirinya karena sudah berani meneror Capella. Delihsa makin lagi keheranan.


"Ada hubungan apa lo? Lo kan tahanan, kenapa biasa ada di sini? Gue telpon lo. Jangan pernah macam-macam sama gue." Wajah Mahen terlihat dingin. Ia seakan enggan menanggapi ucapan Delihsa.


Amarahnya memuncak saat mata-mata melaporkan kepada dirinya bahwa Capella telah diteror. Setelah ia cari tahu siapa yang sudah berani meneror Capella dan ternyata pelakunya adalah Delihsa.


"Delihsa! Nama mu itu? Kau wanita yang dibuang Januar? Sangat malang sekali."


Delihsa membulatkan matanya. Kenapa pria ini bisa tahu hubungannya dengan Januar. Dan dari mana dia mengetahui jika dirinya adalah orang yang sangat menyedihkan.


"Kenapa lo tau? Siapa lo sebenarnya? Mau apa lo? Jangan macam-macam atau gue bakal teriak."


Mahen tertawa sumbang. Namun setelah ia tertawa kemudian pria itu pun mendatarkan wajahnya dalam waktu cepat. Tampak Mahen sangat serius dan mencengkram dagu Delihsa dengan kuat.


"Gak perlu tau siapa saya. Yang Anda perlu ketahui keselamatan nyawa Anda berada di tangan Anda sendiri. Jika Anda berani lagi meneror Capella maka saya tidak akan segan-segan membunuh Anda dengan pisau ini."


Delihsa menggelengkan kepala dengan tubuh bergetar. Ia menatap pisau yang ada di tangan Mahen dengan perasaan takut.

__ADS_1


"Jauhkan itu! Apa hubungan mu dengan Capella, kenapa kamu membelanya."


"Tidak perlu kau tahu."


Delisha menghela napas panjang. Kenapa semua orang di dunia ini selalu membela Capella. Apa hebatnya Capella dari dirinya. Delihsa merasa jika ia jauh lebih baik.


"Cih."


"Ingat ucapan ku." Kemudian Mahen pun pergi. Sosoknya masih menjadi pertanyaan bagi Delihsa.


Delisha masih berusaha mengingat dan berpikir lebih dalam lagi apa hubungan Mahen dengan Capella. Ia pun teringat jika Mahen adalah kakak dari Januar. Ia melupakan fakta itu, selama ini dirinya tidak mengenal jauh keluarga Januar jadi tak banyak mengetahui tentang Januar dan keluarganya.


Ia pun juga ingat jika Capella adalah mantan dari Mahen yang tidak sempat menikah karena adanya kasus itu. Ia pun menghela napas gusar dan juga menyunggingkan senyum miring. Delihsa merasa menang karena berdasarkan fakta jika antara dia dan Mahen bernasib sama.


Capella dan Januar menonton tv bersama. Capella bersandar di dada Januar mencari kenyamanan di antara pria itu.


Januar mengusap surai Capella dan sesekali menciumi rambut wanita itu. Ia pun menatap ke arah tv. Capella tengah menonton beberapa berita terbaru.


"Kangen jadi wartawan lagi," ucap Capella sembari menatap sedih ke arah televisi.


Ia menatap sang jurnalis dengan harapan dirinya bisa kembali meliput seperti dulu lagi.


"Ngapain jadi wartawan, wartawan musuh terbesar aku. Tukang kepo," ucap Januar tanpa sadar. Memang selama ini ia selalu membenci wartawan yang menurutnya sangat berlebihan. Wartawan bahkan rela melakukan apapun dan menjadi sesang demi mendapatkan sejumlah pundi-pundi rupiah dari hasil kepo dengan urusan orang.


Capella memandang Januar tidak suka. Dirinya berseberangan dengan Januar.

__ADS_1


"Ngomong apa? Oh jadi gitu."


Januar pun langsung berhenti mengusap kepala Capella. Ia memandang perempuan yang tengah di dekapnya itu.


"Maaf sayang. Jangan dianggap serius. Kalau sama wartawan yang satu ini aku diwawancarai seharian juga gak papa."


Capella terkekeh melihat wajah Januar yang terlihat sangat ketakutan padahal ia hanya bercanda. Capella mengercutkan bibirnya dan menatap ke arah tv kembali.


"Pemirsa! jagat Maya dihebohkan dengan berita kaburnya salah satu narapidana dengan tingkat kejahatan yang sangat tinggi, Mahendra Trisatya seorang pemerkosa dan pembunuh yang sangat keji. Saat ini polisi sudah mengejar tersangka dan mencari keberadaan tersangka tapi belum juga bisa ditemukan. Status Mahen ditetapkan menjadi seorang buronan. Sudah tiga hari melakukan pencarian namun polisi juga belum kunjung menemukan keberadaan Mahen. Dan saat polisi melakukan pengejaran sempat terjadi adu tembak antara Mahen dan aparat kepolisian."


Berita yang ditampilkan di tv membuat kaget Januar dan Capella. Capella memandang Januar yang mengeraskan wajahnya menatap berita yang sangat membuatnya kesal itu.


"Januar," cicit Capella seraya meneguk ludahnya dengan susah payah.


"Aku tidak akan membiarkan mu Mahen.."


"Januar, kau tidak akan melakukan apapun kepada Mahen, kan?" Januar hanya melirik Capella sekilas.


Capella meringis menyadari jika ucapannya tak digubris oleh Januar. Ia mengerti kenapa Januar sangat marah tapi tidak seperti ini caranya. Januar tidak boleh menyakiti saudaranya sendiri.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

__ADS_1


__ADS_2