Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 33


__ADS_3

"Januar," ucap Mahen yang sudah lama menantikan bisa bertemu dengan adiknya kembali.


Januar mengangkat satu alisnya sebagai respon dari seruan sang kakak. Tentunya wajah mengejek Januar kepada Mahen tak pernah luput.


Mahen yang melihat hinaan dari sang adik merasa marah. Cukup sudah kesabaran yang ia tahan selama ini. Mahen selalu menyayangi Januar dan memberikan apa saja yang pria itu inginkan. Namun ia akan melarang jika Januar berbuat hal yang bisa mengkhawatirkan orangtuanya.


"Ada apa? Kenapa kau datang ke rumah ku dan memaksa istri ku seperti ini?" tanya Januar sembari melirik Capella yang panik bukan main.


Ia bingung cara menghentikan cekcok adik beradik itu. Apalagi jika itu karena dirinya.


"Mahen! Januar! Hentikan! Kalian bisa berbicara dengan baik. Masuklah kita bincangkan baik-baik jangan di sini, banyak tetangga yang akan melihat, apakah kalian tidak tahu malu?" tanya Capella dengan napas tersengal-sengal. Pasalnya jika sudah begini maka Capella tidak bisa berbuat lebih banyak.


Januar memandang Capella dengan wajah tak senang. Ia melihat sendiri bagaimana Capella hendak direbut oleh kakaknya dan tentunya Januar tidak akan membiarkan pria itu dengan mudahnya memasuki area rumahnya dan ingin membawa sang istri.


"Apa yang kamu katakan? Kamu membela dia?" Capella bertepuk jidat mengetahui jika Januar salah sangka dengannya. Bukan itu yang ia maksud.


"Januar! Jangan bersikap seperti anak-anak. Kalian sudah dewasa dan kalian bisa menyelesaikan ini baik-baik tanpa ada kekerasan!"


"Capella! Biarkan kami menyelesaikan ini dengan cara laki-laki. Dia sudah sering menghina mu dan sekarang dia ingin merebut kamu dari ku, apakah aku akan tinggal diam Capella? Aku tahu jika ada orang yang hendak menjebak ku makanya hubungan kita jadi berantakan." Mahen menatap Januar sinis, " dan bisa saja pelakunya ada di antara kita."


Deg


Jantung Capella rasanya hendak copot saat itu juga mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Mahen. Ia mengerti maksud ucapan itu dan sangat mengerti. Capella menatap Januar dengan pandangan terkejut dan sedikit mundur.


"Tidak mungkin."


"LO!! APA-APAAN MAKSUD LO! LO NUDUH GUE?!" tanya Januar marah kepada sang kakak.


Tangannya mengepal dan kemudian maju tanpa segan langsung memukul wajah Mahen. Namun Mahen menangkis serangan Januar. Capella hanya diam melihat perkelahian itu. Di mana awalnya dirinya yang berusaha menghentikan namun hanya bisa terdiam diri saking tak menyangka nya.


"Tidak mungkin," ucap Capella lirih dan ia menatap perkelahian itu dengan sendu. "Kalian bisa tidak jangan bertengkar?" tanya Capella yang kemudian wanita itu tertawa hambar karena sadar sampai kapanpun ucapannya tidak akan didengarkan oleh mereka.


Capella pun masuk ke dalam rumah. Januar dan Mahen sepakat berhenti ketika melihat kekecewaan Capella yang sangat dalam kepada mereka berdua. Lantas keduanya mengejar Capella dan menghentikan wanita itu.

__ADS_1


"Ella!" Januar dan Mahen sama-sama menahan tangan Capella hingga kedua orang itu saling pandang.


Capella menatap Mahen dan Januar bersamaan. Kemudian ia pun tersenyum tipis dan menjauhkan tangan kedua pria itu lalu masuk ke dalam rumah.


"Kalian tidak akan pernah mendengarkan ku, jadi untuk apa kalian berhenti berkelahi? Lanjutkan saja."


Capella pun tertawa sambil menitikkan air mata. Mahen tak tega melihat sang kekasih seperti itu. Meski sudah dipastikan bahwa Capella dan dirinya sudah putus namun tetap saja bagi Mahen antara dirinya dan Capella masih memiliki hubungan.


"Maafkan aku."


"Mahen, pulanglah ke penjara, jangan menambah masalah. Aku akan menelpon pihak penjara untuk menjemput mu ke sini."


"Capella! Tidka Capella! Aku tidak akan pergi Bagaimanapun caranya. Aku akan pergi tapi dengan mu."


"Enak aja lo!" sangkal Januar yang berapi-api.


Mahen menatap adiknya itu dan mendengus kasar.


"Januar! Semua yang kamu inginkan dari kecil sudah kamu dapatkan dan sekarang kamu pengen merebut kekasih yang hanya itu aku miliki?"


"Bunda?" ujar Mahen sungguh tak percaya dengan bundanya yang bisa-bisanya melakukan hal itu kepada dirinya.


"Bunda gak peduli lagi sama lo. Dari dulu lo yang dapat kasih sayang dan sekarang saatnya gue nikmatin semua yang pernah lo milikin."


Januar menatap Capella yang berada di tengah-tengah mereka dengan mata memerah dan terus menangis. Tidak ada yang mengerti perasannya sekarang.


"Capella! Bagaimana dengan mu? Apakah kamu masih mencintai ku Ella? Jika masih kamu mencintaiku maka aku akan berusaha untuk lepas dan membawamu pergi. Aku akan buktikan semua kesalahanku karena seseorang."


Capella menatap wajah Mahen yang sangat serius padanya. Mata wanita itu berair. Ia tersenyum tipis dan berjalan mundur.


"Maafin aku, tapi aku tidak mencintaimu!" ucapan yang sangat menohok diterima oleh Mahen.


Mahen menjatuhkan tangannya yang hendak meraih tangan Capella. Ia mundur selangkah sembari menggelengkan kepala tak menyangka. Segala daya upaya ia lakukan untuk meyakinkan hatinya bahwa itu hanyalah angin lalu.

__ADS_1


"Capella..." Mahen tertawa hambar sembari mengusap air matanya. "Tidak mungkin.... Tidak mungkin kamu seperti itu dengan aku... Aku tahu kamu sangat mencintai ku."


"Maaf Mahen. Pergilah!"


Capella masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh Januar. Mahen hanya terdiam di tempatnya dan menatap pintu rumah itu yang perlahan makin tertutup. Pria itu pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah dengan perasaan hancur sehancur-hancurnya.


Pernyataan yang timbul dari Capella membuat ia tak bisa merasakan hidup. Bahkan rintikan gerimis yang menerpa tubuhnya benar-benar tidak terasa oleh Mahen.


Capella menangis usai masuk. Ia pun mengintip dari kaca jendela melihat kepergian Mahen. Hatinya juga sangat sakit. Apa yang ia ucapkan tadi hanya terpaksa karena demi kebaikan mereka semua.


Ia ingin menjaga perasaan Januar tapi Capella tak bisa menyembunyikan perasaannya itu hingga ia menunjukkan rasa sakitnya karena pria lain terang-terangan di depan Januar.


Januar memperhatikan berapa hancurnya Capella yang melihat Mahen terluka.


Januar menghampiri Capella dan menutup tirai jendela. Ia pun menghapus air mata Capella dan memeluk tubuh wanita itu.


"Kali ini aku membiarkan mu menangis karena pria lain. Tapi lain kali jangan salahkan aku jika aku mengamuk." Januar mengangkat dagu Capella dan kemudian mencium wanita itu yang masih dalam keadaan patah hati.


Capella hanya mampu membalas ciuman tersebut menyalurkan perasaan sakitnya.


"Mahen! Maafkan aku."


"Capella! Jika kamu sakit karena memikirkan dia, maka berhentilah memikirkan Mahen."


Capella menggelengkan kepala dan tersenyum manis saat wjahanya sembab.


"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Dan aku..." Capella langsung memejamkan matanya dan tubuhnya yang lemah langsung ditangkap Januar yang masih syok di tempat.


"Bahkan di saat seperti ini yang ada di mata mu hanyalah Mahen bukan aku."


__________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2