Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 54


__ADS_3

Jantung Capella berpicu sangat cepat saat mobil itu akhirnya dapat memblok jalan taksi yang ia tumpangi hingga membuat taksi tak dapat melintas dan harus pasrah dengan keadaan.


Di saat-saat seperti ini Capella hanya bisa merapalkan Doa dan berharap jika ada keajaiban dari Tuhan yang bisa menolong dirinya.


"Capella, kamu harus tenang, kamu pasti selamat." Capella sangat cemas. Ia memikirkan bagaimana Guan di rumah.


Capella menahan napasnya saat melihat mereka keluar dari mobil dan menghampiri mobil mereka. Dan kemudian mereka memaksa sang supir untuk membuka pintu.


Capella menggeleng keras ke arah sang supir agar tidak menuruti perintah mereka untuk membuka pintu.


"Pak jangan Pak!"


"Buka pintunya! Kami bukan penjahat!"


Capella mengerutkan keningnya. Bisa-bisanya mereka menyatakan jika diri mereka bukanlah seorang penjahat sementara di tangan mereka terdapat pistol seolah mereka ingin merampok.


"Kalian pikir, kami akan percaya?" tanya Capella dan tertawa hambar.


Ternyata percuma saja tidak membukakan mereka pintu karena mereka dapat membuka pintu itu tanpa merusaknya. Capella ternganga dan langsung berancang-ancang untuk kabur.


Sang supir taksi ditarik ke luar dan Capella mering melihat supir itu. Kemudian giliran dirinya. Capella berusaha melawan dan melemparkan benda apapun yang ada di sekitarnya.


"Jangan bergerak!!" teriak Capella ke arah mereka.


Namun semuanya hanyalah sia-sia dan tangan Capella ditarik secara paksa keluar dari dalam mobil. Capella berteriak senyaring-nyaringnya meminta pertolongan.


"TOLONG! TOLONG! APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN?!!" teriak Capella histeris dan tubuhnya dimasukkan ke dalam mobil di mana sang bos sudah menunggu mereka di dalam.


____________


Tok


Tok


Tok


Suara pintu diketuk membuat Guan langsung berlari ke arah luar dan membukakan pintu. Ia bahwa yang datang adalah ibunya.


Namun Guan sama sekali tidak mendapatkan keberadaan sang ibu. Ia mengerutkan keningnya dan celengak-celenguk mencari keberadaan sang ibu. Tapi tetap saja ia tak menemukannya dan hanya menemukan seorang pria yang berdiri tegap dengan beberapa pengawal di belakangnya dan berpakaian hitam.


Bawa tanda bahaya tengah mengintainya, Guan langsung menutup pintu dengan keras. Iya ingat pesan-pesan sang ibu jika ada orang aneh atau asing di depan rumah mereka maka Guan harus menutup pintunya.


Namun orang-orang berbaju hitam dan asing tersebut menahan pintu itu. Tenaga Guan sudah pasti kalah dengan tenaga mereka.


Salah satu dari mereka yang paling memancarkan auranya mendekati Guan. Ia berjongkok di depan anak itu dan memperhatikannya dengan seksama. Menatap wajah anak itu membuat hatinya sangat sakit.


Dengan sekali lihat dia pun pasti tahu anak siapa ini. Kemudian orang itu pun tersenyum ke arah Guan. Guan tampak kebingungan karena pria ini terlihat sangat ramah.


"Siapa namamu anak tampan?"


Orang itu bertanya kepada Guan. Guan yang polos pun menjawab pertanyaan itu.


"Namaku ada Guan! Kenapa kau menanyakan nama ku?" tanyanya dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Tidak aku hanya bertanya. Di mana Ibu mu?"

__ADS_1


"Bunda? Dia belum pulang."


"Belum pulang?"


"Iya. Paman! Kau bisa berbahasa Indonesia juga? Bunda pernah mengajarkan ku menggunakan bahasa Indonesia."


"Bunda mu pernah mengajarkannya?" Laki-laki itu pun seakan tertarik dengan pembicaraan itu.


"Iya benar, Bunda mu mengajarkannya. Paman siapa namamu? Siapa tahu Bunda mengenalku?"


Pria itu tersenyum lebar. Ia mengusap kepala Guan dan memperhatikan wajah anak itu.


"Nama ku adalah Januar! Bertanya lah kepada Bunda mu apakah mengenal seseorang yang bernama Januar!"


"Sebentar! Wajah mu... nama mu... aku seperti mengenalnya." Guan berpikir keras di mana ia pernah melihat pria ini. Ia pun langsung menatap Januar saat teringat sesuatu. "Kau... Kau mirip seperti Papa ku."


Deg


_____________


Dor


Dor


Capella menatap ke arah sekelompok mobil yang datang dari arah berlawanan. Mereka langsung menodongkan pistol ke arah mereka yang tengah menangkap dirinya.


Cafe yang sangat bersyukur ketika bala bantuan datang untuknya. Semua itu tak terlepas dari rasa takut Capella saat melihat mereka melakukan adu tembak.


Orang utama dari penculikannya itu keluar dari dalam mobil ia membuka kacamatanya dan Capella sangat syok saat tahu jika itu adalah Mahen.


Mahen melirik Capella sebentar dan tersenyum miring.


"Apa sayang? Aku datang ingin menjemput mu! Tapi sialan! Siapa yang berusaha untuk menghentikan ku."


"Apa maksud mu Mahen? Kau! Aku tidak ingin ikut bersama mu!"


"Capella kita bisa hidup bersama-sama!"


"Mahen kau gila?" Capella bertanya dengan nada marah kepada pria itu.


Tanpa memikirkan protes dari Capella Mahen langsung menarik tangan wanita itu dan membawa Capella ke mobil lain. Sementara anak buahnya akan mengalihkan perhatian orang yang menyerang mereka yang tidak tahu dari mana datangnya tersebut. Sedang Mahen akan secepatnya membawa Capella pergi.


"Mahen! Lepaskan aku!!"


"Melepaskan mu? Tidak semudah itu Capella! Sudah dari lama aku mencari keberadaan mu dan aku harus melepasnya begitu saja?" Capella menangis melihat Mahen yang sangat berbeda dari Mahen yang dulu dikenalnya.


Mahen benar-benar sudah berubah. Pria itu juga menjadi pria pemaksa. Tangan Capella diborgol dan dipaksa untuk masuk ke dalam mobil.


"TOLONG! TOLONG!"


Mulut Capella langsung dibekap ketika ia meneriakkan permohonannya. Ia mengepalkan tangannya dan berharap bisa diselamatkan.


"Lepaskan aku Mahen!"


"DIAM!"

__ADS_1


Mahen mencengkram rahangnya dan memaksa ingin mencium Capella.


Dor


Tembakan dari arah belakang membuat Mahen mengerjapkan mata beberapa kali. Ia menoleh ke belakang dan menatap orang yang sudah menembak punggungnya.


Capella terkejut dan menatap ke depan. Ia membulatkan matanya dan tampak sangat syok tatkala mengetahui orang yang sudah menembak Mahen. Januar.


"Januar," lirih Capella dan Mahen menatap Januar dengan tatapan marah.


"Kau! Kenapa kau bisa di sini?"


"Memberhentikan mu! Berani-beraninya kau ingin menyakiti istri ku."


"Istri mu?" Mahen tertawa gelak dan menatap Capella. "Dia istri mu? Hahaha kau belum sadar jika kau dan dia sudah bercerai?"


Dan kali ini malah Januar yang tertawa gelak. Ia menatap Capella dengan tajam lalu mengarahkan ke arah Mahen. Ia tersenyum lebar dan mengeluarkan sebuah surat dan menatap Mahen meremehkan.


"Siapa bilang aku dan dia sudah bercerai? Surat cerai yang aku tanda tangani dan dia dulu hanyalah surat cerai palsu yang aku buat. Dan formatnya juga tidak sesuai."


Capella yang mendengar kenyataan itu terkejut dan menatap Januar dengan pandangan tidak percaya. Matanya berkaca-kaca.


"Kau! Kau pikir setelah ini kau bisa hidup?"


"MAHEN! HENTIKAN!" teriak Capella yang panik.


Mahen pun menembaki Januar brutal dan Januar dapat mengelak nya. Ia juga membalas tembakan tersebut. Januar nyatanya lebih mahir dari Mahen. Hingga salah satu kaki Mahen tertembak.


Suara sirene polisi pun datang merapat. Puluhan polisi datang dengan menodongkan pistol ke arah Mahen.


"Mau ke mana lagi kau akan pergi Kak? Kejahatan mu sudah merugikan banyak orang hingga kau pantas mendapatkan ini."


Polisi pun menangkap Mahen dan langsung memasang borgol kepada pria itu.


Capella yang masih sangat syok menatap Januar sembari berjalan mundur.


"Jangan mendekat!"


"Capella! Maafkan aku belum bisa memenuhi janji ku."


Air mata Capella jatuh melihat pria itu di depannya. Pria yang sangat ia rindukan dan Capella tak mampu menahan rasa rindu yang mendalam di dadanya. Ia pun langsung berhambur ke dalam pelukan Januar.


"Hiks, aku merindukanmu!"


Perasaan Januar membucah senang. Ia tak menyangka jika reaksi Capella akan seperti ini. Januar membalas pelukan Capella dan mencium kening pria itu.


"Aku juga. Capella! Aku sudah bertemu dengan anak kita. Dia sangat mirip denganku."


"Guan? Di mana Guan?"


"Tenanglah. Dia aman bersamaku."


___________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2