
Capella menatap Januar yang terus bad mood. Mendapatkan kabar seperti itu membuatnya selalu tidak tenang. Ia dari dulu menjadikan sang kakak adalah saingan. Ketika ia bisa memasukkan sang kakak ke dalam penjara adalah sesuatu yang sudah ia harapkan dari dulu.
Januar sangat dendam kepada Mahen. Ia lebih senang tatkala sang kakak jatuh dan terpuruk. Itulah hal yang mengerikan dari seorang Januar. Ia bahkan tak mengenal belas kasihan.
Apapun akan ia lakukan jika itu menurutnya benar. Dari kecil baginya Mahen sudah mendapatkan apa yang ia harapkan. Sementara berbeda dengan dirinya yang hanya diabaikan dan selalu dipandang sebelah mata.
Dan saatnya untuk Januar membalas semua rasa sakit yang ia alami itu. Meskipun itu tak sepenuhnya salah Mahen. Jika ditanya siapa orang yang telah membuat Mahen dipenjara, maka ia akan mengaku memang dirinyalah yang telah menjebak Mahen.
Terdengar sangat keji namun itulah sifat Januar yang karakternya terbentuk dari keegoisan orangtua hingga membuatnya seperti ini. Ia sangat bangga ketika mendapatkan hal itu. Dan sekarang Mahen kabur dari penjara. Ia khawatir jika Mahen akan merebut posisinya kembali, mulai dari sang istri yang merupakan orang yang dicintai Mahen yang direbutnya.
Dari awal sebenarnya Januar tidak memiliki niat untuk merebut Capella. Ia juga marah besar saat sang ibunda memutuskan untuk menjodohkan dirinya dengan Capella. Namun semakin lama ia hidup dengan wanita itu maka ia semakin sadar sebenarnya dirinya bahkan mencintai Capella sudah dari lama.
Januar beranggapan jika Mahen boleh mengambil posisinya kembali namun tidak dengan Capella. Sementara itu Mahen juga berpikir hal yang sama. Semua boleh ia berikan kepada adiknya namun tidak dengan Capella.
Hal itulah yang memicu permusuhan semakin rumit. Yang berawal dari dendam masa kecil beralih dengan merebutkan satu orang wanita. Jika Capella tahu pasti ia akan sangat sakit hati.
Januar mendesah panjang dan mencengkam kertas laporan yang ia genggam hingga menjadi tak berbentuk. Capella yang sudah dari tadi memperhatikan Januar pun hanya bisa memandangnya dengan sedih. Sejak saat terjadi perbedaan pendapat Januar dan Capella belum memulai pembicaraan.
"Anji.ng!!" umpat Januar dan mengusap rambutnya ke belakang. Ia mendesis dan mengambil rokok berserta pemetiknya.
Pria itu memasukkan batang rokok tersebut ke dalam mulut dan menghirup rokok tersebut dengan sangat dalam lalu menghembuskan nya.
Capella meringis melihat itu. Apalagi di depan matanya sendiri Januar seperti itu. Ia meminum alkohol yang pada dasarnya Capella tak terlalu menyukai orang yang meminum alkohol.
Capella terpaksa memutuskan untuk menghampiri Januar. Ia berjalan pelan ke arah pria itu. Januar yang mendengar langkah kaki pun melirik Capella dari sudut matanya.
Setelah itu ia pun mengabaikan wanita itu dan fokus dengan kegiatannya. Hal itu ia lakukan terus menerus hingga membuat Capella tak tahan lagi.
"Januar maaf." Padahal Capella tidak salah namun ia tetap harus meminta maaf agar kerumitan ini tidak semakin menjadi.
__ADS_1
Januar hanya tertawa miring. Ia menatap Capella sekilas lalu menyunggingkan senyum misterius.
"For what? Lo gak salah, gue yang salah. Gua jahat karena pengen nyakitin kakak gue sendiri. Gue tau lo cinta sama Mahen. Gue tau lo juga belum bisa lupakan Mahen, kan? Gue mah apa? Hanya orang baru yang sama seperti ngerebut tunangan kakaknya sendiri." Dari kata-kata Januar ia seolah tengah menunjukkan curahan hatinya serta sindiran untuk Capella.
Ucapan Januar begitu menusuk di hati Capella. Ia diliputi oleh rasa bersalah yang sangat kentara.
"Januar, aku minta maaf."
Capella langsung merebut gelas yang berada di tangan Januar. Pria itu baru saja ingin menyesap sempanye tersebut. Capella memeluk tubuh Januar dengan erat dan menyelusupkan kepalanya di dada pria itu.
Lingkaran tangan Capella pada tubuh Januar begitu erat hingga Januar tak bisa melepaskan lingkarkan tangan itu yang sangat kuat.
"Capella!" peringat Januar namun Capella malah makin memeluk Januar dengan sangat erat.
"Aku salah. Aku tau kamu tidak suka Mahen. Untuk menyukainya aku tidak lagi, aku mau jujur kalau sekarang aku udah mencintai kamu. Pembelaan ku pada Mahen hanyalah sebagai bentuk rasa prihatin dan khawatir ku." Capella berucap itu dengan suara serak sambil berusaha menahan tangis.
Januar menunduk dan menatap tubuh rapuh Capella yang tengah memeluknya. Ia ragu ingin membalas pelukan itu. Maka dari itu ia hanya tertawa hambar seolah tengah menertawakan dirinya sendiri.
Capella menyentuh dadanya yang berdetak sangat hebat. Ia berusaha tampak sebaik mungkin dan menampilkan senyum manis di wajahnya. Capella pun berlari dan pantang menyerah untuk memperjuangkan maaf dari Januar.
Januar terhenyak saat mendapatkan pelukan yang sangat erat dari Capella. Ia menghela napas panjang dan berbalik. Baru saja Januar ingin membentak Capella namun ia langsung terdiam saat melihat wajah Capella yang penuh dengan buaian air mata.
"Januar! Hiks, aku tahu, tapi aku benar-benar mencintai mu. Terserah kamu percaya apa tidak tapi aku sudah berusaha untuk mencintaimu dan mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Jika kamu belum bisa memaafkan aku, aku tidak masalah."
Januar menatap Capella. Tembok yang ia bangun pun runtuh. Januar membalas pelukan Capella. Ia memeluk wanita itu lebih dari erat. Januar sudah tak mampu berpura-pura tak peduli.
Capella tertawa dalam tangisnya. Januar kini menangis setelah sekian lama. Ia mengusap kepala Capella menunjukkan betapa sayangnya ia kepada wanita ini.
"Aku tidak pernah membenci mu dan aku juga sangat menyayangi mu. Aku bahagia mendengar kamu mencintai ku. Ku harap ini benar. Tapi maafkan aku jika suatu hari nanti mengecewakan cinta mu."
__ADS_1
Capella menggelengkan kepalanya. "Tidak akan pernah. Tidak akan aku mengabaikan cinta mu. Aku yakin kamu akan menjaga mu dan tidak akan pernah mengecewakan ku. Aku percaya."
Januar menghela napas panjang dan mengusap kasar air matanya. Capella begitu percaya padanya dan bagaimana jika suatu hari nanti Capella telah mengetahui bahwa ialah yang telah membuat Mahen dipenjara dan memutuskan hubungan mereka.
Akankah Capella masih mengatakan cinta seperti ini?
"Hm," tanggap Januar dengan dingin. Ia tak ingin berucap panjang lebar karena dari ucapan Capella yang sangat mempercayai dirinya seakan tengah mengskak mat dirinya.
Capella tersenyum lebar. Ia menghapus air matanya dan menatap wajah Januar yang begitu tampan. Capella mengecup sekilas pipi Januar yang membuat Januar melupakan sejenak masalahnya.
"Aku bahagia saat ini. Dan aku harap ini selamanya."
"Dan aku berharap juga ini akan selamanya."
Capella tertawa pelan. Ia mengapit pipi Januar hingga pipi laki-laki itu mengembung.
"Ganteng banget sih suami aku." Januar ternyata tidak mau kalah. Dia mengapit pipi Capella dan menggulungnya hingga membuat geram Capella.
"Nah gini kan gemas."
"Gemas apanya, yang ada pipi aku sakit." Januar terkekeh dan mencubit hidung Capella.
"Gemes. Aku jadi pengen makan."
"Jahat banget."
"Soalnya kamu gemesin. Jadi pengen." Januar mengangkat tubuh Capella dan membawanya ke dalam kamar.
____________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.