
2 hari kemudian
Malam ini adalah untuk kesekian kalinya mereka tidur berdua dan sekamar. Jantung Capella dan Januar tak berhenti berdetak saking gugupnya.
Capella memberanikan diri diam-diam mengintip Januar dari balik selimut namun ia sangat terkejut saat mengetahui bahwa pria itu sama sekali belum tertidur. Capella berusaha untuk bersikap senormal mungkin dan menenangkan dirinya.
"Januar," lirih Capella sambil mengigit bibirnya dan hal itu membuat Januar terhipnotis dengan keindahan Capella yang benar-benar memukau.
Januar lantas menyentuh wajah Capella dan mengusap pipi wanita itu. Orang di depannya ini pernah memaksanya untuk memanggil dia dengan sebutan kakak. Dan mulai sekarang mereka resmi untuk bersama-sama dan menjalin hubungan memulai dari awal.
"Bunda akan kaget tidak?" tanya Januar tiba-tiba mengingat yang ia tahu bundanya baru saja mengetahui kebenaran.
"Tidak tahu," ucap Capella sembari menahan rasa gugup yang benar-benar menghantui dirinya.
Januar yang mengetahui jika Capella terlihat sangat gugup lantas timbul niat jahilnya untuk meledek Capella. Senyum di wajah Januar benar-benar membuat Capella merasa jika pria itu tengah merencanakan sesuatu.
"Apa yang sedang kamu lihat? Januar...."
Januar menghela napas panjang dan kemudian laki-laki tersebut menopang kepalanya dengan tangannya. Kemudian memperhatikan Capella dengan seksama.
"Kamu cantik. Tapi aku baru menyadarinya."
"Kemarin kau mengatakan jika aku sangat jelek," ketus Capella namun hal itu membuat Januar makin mengakui bahwa Capella benar-benar cantik.
Wanita itu tidak tahu apa yang semua ia katakan adalah sebuah kebohongan. Ia terlalu gengsi untuk mengakui yang sebenarnya. Capella sama sekali tidak jelek, wanita itu sangat cantik dan Januar merasa tidak rela jika ada orang lain yang akan mendapatkan hati Capella selain dirinya.
"Semua yang aku katakan adalah kebohongan. Aku tidak pernah menganggap kamu jelek, Ella." Suara Januar benar-benar lembut membuat Capella termenung dan dadanya tak bisa dikontrol benar-benar sangat menyakitkan dan juga membahagiakan.
"Januar. Ini sudah larut malam, kita harus tidur."
Namun Januar tidak mendengarkan dan pria itu malah memperhatikan Capella terus menerus hingga membuat Capella benar-benar frustasi dan juga malu.
"Berjanji hanya setia padaku. Aku tahu kau masih mencintai Mahen. Aku tidak bisa kau bohongi, tapi aku akan merebut hati mu dari Mahen. Bahkan jika Mahen sendiri yang akan merebut mu kembali maka aku akan melawan Mahen apapun konsekuensinya. Cukup sudah apa yang aku inginkan didapatkan Mahen, aku bisa melepaskan semua yang aku punya tetapi tidak dengan mu."
Capella termangu dengan ucapan Januar. Ucapan yang penuh dengan nada posesif seolah tengah mendeklarasikan bahwa Capella hanyalah miliknya seorang. Capella tahu bahwa ia seorang adalah istri Januar dan tak akan bisa siapapun untuk memisahkan mereka.
"Aku tahu, dan aku akan berusaha untuk menerima semuanya dan juga melepaskan segala perasaan ku pada Mahen," ucap Capella meyakinkan Januar.
"Benar?"
"Iya."
Januar tersenyum dan menarik tengkuk Capella. Ia pun mencium Capella dengan sangat lembut hingga kemudian ia melepaskannya.
"Boleh aku mengambil hak ku?"
Capella langsung bangkit dari baringnya dan mundur beberapa langkah. Ia belum siap dan ini sangat tiba-tiba. Capella menatap Januar yang terlihat kecewa.
__ADS_1
"Maafkan aku," lirih Capella.
"Tidak masalah aku bisa memaksamu."
"Januar... Hentikan sifat mu yang seperti ini."
"Tapi aku tidak bisa mhehnetina nya Capella. Aku akan berubah tapi mungkin sifat ku yang ini agak sulit. Sudah lama aku menahannya Ella."
"Kau mabuk?" Januar menggelengkan kepala. Capella tak punya pilihan lain selain menganggukkan kepala dan kemudian tubuhnya langsung disambar oleh Januar.
"Aku kakakmu, pelan-pelan lah."
"Lihatlah orang yang kau katakan bocah akan membuat mu tak berdaya," kekeh Januar yang membuat Capella sangat malu.
"Januar berhentilah menggoda ku."
"Hm." Januar pun melakukan hal yang sudah semestinya ia lakukan. Semua kontrak perjanjian pernikahan yang mereka buat akhirnya tak memiliki arti dan tak berguna sama sekali.
Mereka lebih mementingkan perasaan ketimbang gengsi yang akan melahap mereka ke dasar jurang yang sangat dalam.
_______________
Capella terbangun dan ia melihat jika di sampingnya tidak ada Januar. Capella langsung panik dan ia berusaha untuk mencari Januar di manapun.
Namun ia tersenyum lega melihat pria itu ada di atas kursi yang tak jauh darinya dan tengah memperhatikannya sembari tersenyum lebar. Ia pikir Januar hanyalah memanfaatkan dirinya dan juga akan meninggalkan dirinya setelah apa yang dilakukan oleh Januar.
"Kau masih ada?"
Capella membenahi dirinya dan tersenyum lebar ke arah pria itu. Begitupula sebaliknya, pagi yang sangat nikmat.
Januar mengusap pipi Capella yang dimana cahaya matahari memantul di pipi tersebut.
"Ella, kau lelah?"
Capella menggelengkan kepalanya.
"Sedikit lebih baik."
"Berhenti berbohong, aku tahu. Mandi bersama?"
"Bocah, kau masih kecil, aku bisa mandi sendiri bersama mu kita tidak akan mandi." Januar terkekeh. Ucapan Capella memang ada benarnya.
Januar menganggukkan kepala dan ia bangkit. "Baiklah, aku akan membawamu ke kamar mandi."
Tanpa aba-aba tubuh Capella diangkat oleh Januar dan dimasukkan ke dalam bath up. Capella mengira stelah itu Januar akan pergi tapi dugaannya salah dan pria itu tetap di sana.
"Apa yang kamu lakukan di sini Januar? Keluarlah..."
__ADS_1
"Hm apa yah?"
Capella menghela napas panjang dan dirinya pun tahu apa selanjutnya yang akan terjadi jika pria itu tetap ada di sana.
Setelah beberapa jam kemudian barulah mereka keluar dan Capella tampak kelelahan. Wanita itu berpakaian lengkap dan melihat Januar yang malah segar bugar.
"Tidak adil," keluh Capella kepada Januar.
Januar hanya tertawa pelan dan memeluk tubuh Capella dari belakang. Memang hal ini terlihat sangat tidak adil bagi Capella dan Januar mengerti akan hal itu.
"Maaf."
"Dasar bocah," ucap Capella dan setelahnya ia tertawa minat raut wajah Januar yang langsung berubah saat ia Katai seperti itu. "Kenapa? Tidak terima? Baru puber, kan?"
"Yeah. I know my love," ucap Januar dan mencium pipi Capella. "Bocah yang sudah menaklukkan kakak."
Entah kenapa Capella merasa jijik mendengar Januar menyebut dirinya dengan kakak seolah laki-laki tersebut tengah meledek dirinya. Mungkin dulu ia akan sangat bahagia namun sekrang posisi mereka sudah berbeda dengan yang dulu. Tak lagi sama.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar. Januar tahu jika itu adalah suara ayahnya. Ia tak masuk ke kantor sudah berhari-hari dan tak berperang dingin dengan ibunya usai kejadian hari itu.
Januar belum mengklarifikasi hubungan mereka hingga sampai saat ini orangtunya belum mengetahui hubungan mereka.
"Papa," lirih Capella.
"Kita keluar dulu."
Mereka pun membuka pintu kamar dan terlibat Megan membawa Hengky. Hengky hendak meninjau Januar setelah mendengar cerita dari Megan dan Capella langsung menghalanginya.
"Eh Papa jangan....."
"Kalian?" tanya Megan tak percaya.
"Bunda kami sudah berdamai. Tenanglah, jangan menyakiti Januar."
Megan menatap Januar dengan rasa tidak percaya jika anaknya yang ia lihat kemarin telah menghina Capella kini bisa berdamai.
"Kalian tidak membohongi ku?"
Capella tersenyum lebar dan menggelengkan kepala.
"Tenanglah, tidak akan."
Megan merasa sangat bahagia dan langsung memeluk Capella dan Januar saking bahagianya. Ia tak menyangka jika anaknya akhirnya bisa berdamai dengan takdir dan menerima apapun yang sudah digariskan.
"Lihatlah Adrisa, anak mu dan anak ku telah bersama, ini yang kau inginkan sebelum kau pergi, bukan? Aku sudah memenuhi permintaan mu. Maafkan aku, aku akan menjaga anak mu dengan baik."
______________
__ADS_1
Tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.