
Capella membuka pintu perlahan. Dan tampaklah Januar yang baru saja datang padahal jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Capella tidak banyak bertanya karena sikap berpura-pura tidak tahu dan seakan tengah mengintrogasi pria itu sama sekali tidak ada gunanya. Capella tak ingin berbasa-basi yang menghabiskan waktu yang cukup panjang.
Januar tersenyum kepada Capella saat disambut oleh sang istri. Capella pun membalas senyum itu tak kalah dari Januar. Hanya saja ada kehambaran di wajahnya.
Januar mengerutkan keningnya. Ia memeluk sang istri dan Capella pun membalasnya. Sikapnya masih sama tapi tidak dengan hatinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Januar sembari mengusap rambutnya dengan cara yang sangat lembut.
Capella yang merasakan itu hendak menitikkan air mata. Tetapi bagaimanapun caranya ia berusaha untuk tidak menangis. Ia tak ingin Januar curiga padanya.
"Aku baik-baik saja," ucap Capella dengan suara yang terdengar sedikit serak.
Januar tersenyum dan melepaskan pelukannya. Ia meletakkan kedua tangannya di pundak Capella.
"Maaf baru pulang. Tadi sibuk di rumah teman, ada tugas kuliah. Trus ke kantor sebentar."
"Iya gak papa," jawab Capella pelan. Tapi hatinya bak diiris-iris oleh pisau yang sangat tajam saat Januar lagi-lagi berbohong kepada-nya. Kebohongan yang sangat besar dan menghancurkan hati Capella. Begitu tega Januar menyakiti dirinya, benar-benar tak memiliki perasaan. Pantas saja ia dari kecil dibedakan dengan Mahen oleh orangtua mereka. Jika kelakuannya seperti Januar saat ini ia pun pasti akan memarahi anaknya dan membedakan anaknya.
"Kamu kenapa belum tidur?"
"Nungguin kamu."
Januar merasa sangat senang mendengar jawaban Capella. Ia berpikir jika Capella benar-benar menunggu dirinya, padahal memang Capella tidak bisa tidur.
Bagaimana mungkin ia bisa tenang hidup di dalam rumah yang berisi orang yang sangat berbahaya. Pembohong.
"Kamu baik banget sih."
Januar menatap perut Capella dan mengusap perut itu dengan penuh kasih sayang. Semakin hari janin mereka semakin tumbuh sehat.
Capella yang menatap itu tiba-tiba hatinya tersentuh dan ia merasa sangat sakit mendapatkan kenyataan yang pahit. Mungkin nanti ia tak akan lagi mendapatkan perhatian sekecil ini dari Januar.
Perempuan itu mendongak dan air matanya pun berakhir tumpah. Capella sudah tidak bisa menahannya lagi. Justru semakin ia mencoba tegar malah makin menyakiti hatinya.
Januar masih saja belum menyadarinya. Ia mengusap perut Capella dan mengajak perut itu berbicara padahal janin mereka baru terbentuk dan belum bisa merespon.
"Masuk yuk sayang, di sini dingin kamu bakal sakit."
Capella mengangguk dan berjalan di belakang Januar. Ia mengusap bekas jejak air matanya tadi. Capella tak ingin ketahuan oleh Januar jika ia sedang menangis.
Januar yang merasa jika Capella sangat lambat berjalan lantas menghampiri wanita itu dan mengangkat tubuh Capella.
"Januar!" pekik Capella.
"Kamunya lambat banget."
Januar pun membawa Capella ke dalam kamar mereka. Januar meletakkan tubuh Capella di atas ranjang dan kemudian pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak membutuhkan waktu lama Januar pun ke luar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang terlilit. Ia memakai pakaiannya di depan Capella tanpa rasa malu.
Setelah itu ia menghampiri Capella yang berada di depan meja rias dengan dandanan lengkap. Ia mengerutkan keningnya kenapa Capella berdandan seperti itu.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu berdandan seperti ini."
Capella tidak menjawab dan hanya tersenyum ke arah kaca rias. Januar yang melihat senyum itu pun seolah mengerti. Ia mencium leher Capella dan menyesapnya.
__ADS_1
Diam-diam Capella menangis. Mungkin ini adalah bakti cintanya yang terkahir kali untuk sang suami.
Hingga terjadilah malam yang cukup panjang. Capella tak begitu menikmati. Ia menahan rasa sakit sambil menitikkan air mata. Ia berpura-pura jika dirinya terpuaskan. Padahal yang ia terima adalah rasa sakit yang luar biasa.
Ia menjadi kepikiran bagaimana hancurnya Mahen jika mengetahui sang adik lah yang telah membuatnya hidupnya hancur seperti saat ini.
Capella ingin pergi namun ia membenci dirinya yang sudah jatuh cinta sangat dalam kepada Januar hingga ia sukar untuk meninggalkan Januar.
Januar memandang Capella yang juga belum tertidur. Ia menatap air mata itu yang membuat Januar bertanya-tanya kesalahan apa yang ia perbuat tadi.
"Kenapa? Kamu belum puas?"
"Lebih dari puas," spontan Capella yang terkejut saat tahu Januar belum tertidur. Capella tersenyum tipis. "Aku ingin kita cerai."
Satu kalimat itu berhasil menghipnotis Januar. Januar sangat syok dan ia langsung mendudukkan dirinya.
"Apa yang kau katakan Capella? Berani-beraninya kamu mengucapkan itu kepadaku."
Capella memandang Januar dengan seringaian di wajahnya.
"Kenapa? Tidak terima? Aku ingin kita bercerai."
"Capella!" geram Januar dan langsung mengukung Capella. Kemudian pria itu mencium Capella dengan sangat brutal.
Capella berusaha menghindar dan menjauhkan tubuh Januar. Ia terkejut saat melihat Januar melakukan itu sambil menangis.
Capella berhenti melawan dan membiarkan Januar menikmati bibirnya. Kemudian setelah itu Januar yang sadar dengan perbuatannya menjauhkan bibirnya dan menyatukan kening mereka.
"Kenapa Ella? Kenapa?" tanya Januar tidak percaya. Ia pikir semuanya akan baik-baik saja apalagi barusan mereka telah melakukan hubungan yang bisa makin mengeratkan hubungan mereka. "Ella, kamu tidak memikirkan anak kita, dan katakan apa salah ku hingga kamu meminta permintaan yang sangat sulit ini?"
Capella yang tersulut emosi pun menampar pipi Januar hingga wajah Januar terpaling ke samping. Ia tertawa pelan dan air matanya pun semakin deras mengalir.
"Kamu jahat Januar."
"Capella katakan apa salah ku."
Capella memandang ke samping. Terlalu sakit untuk dikatakan.
"Salah mu banyak Januar. Kau sudah membuat kakak mu sendiri dipenjara. Kamu menghancurkan masa depannya selain itu kamu juga terus membohongi aku selama ini. Kamu berjanji tidak lagi balapan liar dan hanya mengikuti balapan resmi. Tapi kamu terus menerus melanggar janji mu. Bukan aku tidak tahu kamu baru saja datang dari balapan. Januar! Bisa sekali saja kamu jujur ke aku? Kamu nganggap aku apa? Kata kamu aku lebih penting, tapi kamu tidak pernah bisa melepaskan balapan liar demi aku Januar! Hiks, apa benar-benar ada aku di hati mu?" tanya Capella dengan suara serak.
Januar pun menyingkir dari atas tubuh Capella. Ia terdiam dan memandang Capella tidak percaya. Capella sudah mengetahuinya dan kini dirinya tak bisa lagi mengelak.
"Maaf." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Januar.
Capella tertawa hambar dan menatap wanita itu dengan senyum lirih.
"Jadi kamu mengakuinya?"
"Maafkan aku Capella."
"KAMU BENAR-BENAR BAJINGAN! KAMU JAHAT JANUAR! KAMU BENAR-BENAR KEJI KEPADA KAKAK MU SENDIRI! DIA TUNANGAN KU! KAU TELAH MEMBUATKU MEMBENCI TUNANGAN KU! KAMU SUDAH MEMBUAT AKU SAKIT HATI DAN HIDUP DALAM PENDERITAAN!!!"
ucapan Capella membuat Januar sangat merasa bersalah. Tidak banyak bicara ia pun hanya bisa menunduk pasrah.
Capella menghela napas panjang dan menyibak selimut. Ia pun memunguti pakaiannya dan memakainya ke tubuhnya.
"Aku minta untuk terkahir kalinya bahwa kita akan bercerai." Januar memandang Capella dengan mata yang memerah.
__ADS_1
"Baiklah." Persetujuan yang dikeluarkan Januar harusnya membuat Capella senang, namun apa ini? Capella malah merasa paling tersakiti dan berharap Januar menolaknya. "Kamu ingin keluar dari rumah ini kan setelah perceraian kita? Baiklah aku akan mengantarkan mu nanti pergi ke bandara sebelum aku melihat mu untuk terakhir kali. Biarkan aku membalas semua kesalahanku. Aku akan memberikan beberapa ATM ku untuk mu dan anakku." Januar menatap sedih ke perut Capella. "Nak Maafkan Papa."
___________
Semua barang-barang Capella telah dikemas. Saat ini surat perceraian telah jadi dan berada di tangannya. Capella telah menandatangani surat tersebut hanya menunggu tanda tangan dari Januar saja yang belum.
Capella memandang surat itu sambil menahan sesak. Ia tak menyangka jika semuanya akan menjadi seperti ini.
Megan sempat mencegah perceraian itu. Apalagi Capella tengah mengandung dan kandungannya sudah memasuki bulan kelima. Perut Capella makin terlihat jelas.
Namun tak ada yang bisa menghentikan perceraian itu hingga pada akhirnya mau tidak mau perceraian itu tetap terjadi.
Januar memasuki rumah dengan wajah datar. Namun di matanya jelas terdapat kesedihan yang luar biasa.
Ia mengambil surat yang dipegang oleh Capella. Dalam sekali tarikan napas panjang Januar pun dengan tubuh bergetar menandatangani surat itu.
Dan tanda tangan Januar sudah di atas sana dan itu artinya mereka buka lagi suami istri. Baik Januar dan Capella sama-sama merasa sakit.
Capella tersenyum lebar dan mengambil surat itu. "Terima kasih," ucapnya pelan.
Januar mengangguk. Ia mengambil koper Capella dan menggerek keluar. Ia akan mengantarkan Capella ke bandara.
Capella akan pergi ke luar kota. Dimana wanita itu akan pergi ke Turki. Ia mendapat kabar jika ayahnya adalah orang Turki. Capella ingin mencari keberadaan ayahnya.
Capella mendapatkan kabar itu dari Megan. Namun rahasia hubungan Megan dan ibunya belum diketahui oleh Capella.
Januar membantu Capella masuk ke dalam mobil dan kemudian ia menjalankan mobil itu ke bandara.
Capella memandang lamat-lamat keindahan kota Jakarta yang luar biasa. Ini akan menjadi hari terakhirnya menjadi seorang WNI sebelum ia pun akan menjadi seorang warga negara Turki.
Ia memandang tubuh tegap Januar yang menjadi supirnya. Ternyata hanya dengan menatap punggung pria itu sakitnya benar-benar mematahkan hati Capella.
Mereka pun sampai ke bandara. Januar membantu membawa semua barang-barang Capella dan kebetulan beberapa menit lagi pesawat akan lepas landas.
Capella memandang Januar untuk terakhir kalinya. Ia menyentuh perutnya dan tersenyum lebar ke arah pria itu.
"Aku tidak akan melupakan mu."
"Lebih baik kamu melupakan ku. Semua perbuatan yang aku lakukan benar-benar mengecewakan mu."
"Januar! Terima kasih," ucap Capella dengan senyum lebar.
"Sama-sama."
"Kita berpisah baik-baik. Ku harap tidak ada dendam antara kita."
Kemudian Capella memeluk tubuh Januar. Tubuh ini akan ia peluk nyaman seperti ini untuk terkahir kalinya.
"Pergilah cepat. Pesawat mu akan segera berangkat. Sayang Papa tidak akan bisa menjaga Bunda mu lagi. Maka kamu jagalah Bunda untuk Papa. Kamu harus kuat dan maafkan Papa jika kamu malu memiliki Papa brengsek seperti aku."
Capella mengangguk. Ia pun pergi dan setelahnya Januar hanya bisa menatap punggung Capella saja. Kemudian ia menangis dan mencengkram dadanya yang terasa sangat sakit, tidak pernah sesakit ini sebelumnya. Januar hampir terjatuh sebelum ada orang yang membantunya.
Ia menatap orang itu dan berterima kasih. Ini adalah titik terendah Januar dalam hidupnya.
Sementara itu Capella juga sama. Ia menangis dan jika bisa berteriak sekencang-kencangnya maka Capella akan berteriak sekuat-kuatnya meluapkan semua perasannya yang retak.
____________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.