Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 43


__ADS_3

Capella menghela napas gusar. Seharian penuh ia dikurung di tempat emas seperti ini. Ini seperti bukan dirinya. Capella adalah orang yang sangat menyukai kebebasan dan alam yang bebas. Ia adalah seorang jurnalis yang hobi ke sana kemari bukan seperti saat ini dikurung di kediamannya sendiri.


Tidak ada yang salah. Hanya dirinya yang ingin keluar sementara kondisi fisik dan di luar sana yang tidak baik-baik saja itu namun ia tetap ingin memaksakan keinginannya itulah yang salah. Tentunya Januar tidak akan membiarkan Capella keluar dari rumah setelah mendapatkan kabar yang tidak enak walaupun wanita itu terus merengek dan membujuknya.


Seseorang ingin mencelakai Capella. Dan apalagi saat ini Capella tengah hamil. Kehamilannya sudah memasuki 2 bulan. Perut Capella mulai sedikit menonjol.


Ia pikir kehamilan seperti ini masih bisa bekerja. Namun Januar mengatakan justru kehamilan paling rentan adalah masa seperti ini karena baru memasuki beberapa bulan kehamilan.


Intinya yang ada pada Januar adalah ketakutan jika Capella nanti kenapa-kenapa. Ia memang belum siap memiliki seorang anak di usianya yang masih terbilang sangat muda tapi dari caranya yang begitu melindungi Capella dan khawatir yang sangat luar biasa kepada kandungan Capella membuat Capella yakin sebenarnya ada hati Januar yang menginginkan anak itu.


Hubungannya setelah pengakuan itu semakin membaik. Memang Capella belum bisa benar-benar mengontrol emosi Januar. Dan Januar juga belum benar-benar bisa lebih terbuka kepada istrinya. Sering kali ia berbohong hanya demi bisa bolos kuliah dan balapan.


Capella tidak mengetahuinya karena wanita itu yang terlalu naif. Bagi Januar itu hanyalah masalah sepele namun bagi Capella kebohongan adalah sesuatu yang bisa menunjukkan jati diri aslinya.


Capella mendesah kasar dan berjalan gontai ke arah meja kerja Januar. Tidak tahu karena apa namun tiba-tiba Capella jadi menginginkan dekat dengan Januar. Dan di dalam ruang kerja pria ini yang bisa membuatnya merasakan kehadiran Januar.


Ia malu ingin menelpon Januar dan mengatakan jika dirinya tengah merindukan pria itu. Januar pasti akan mengejeknya.


Capella duduk di kursi kerja tersebut. Ia membuka beberapa berkas yang ditangani oleh Januar. Selama ini Januar bisa dikatakan baik dalam menangani perusahaan. Padahal berkutat dengan berkas-berkas adalah sesuatu yang tidak diinginkan oleh pria itu.


Januar lebih mengarah ke bidang seni selain itu juga ke balapan. Namun ia harus dipaksa bekerja menjadi seorang pembisnis dan untungnya Capella juga tetap membantu Januar bekerja.


Capella tersenyum menatap berkas yang ditandatangani Januar. Akhirnya Januar membuat kemajuan. Ia sendiri juga tidak menyangka jika Januar mampu memimpin meskipun di hatinya ia tidak ingin. Biasanya orang yang tidak ingin memimpin, masa kepemimpinannya akan hancur.


"Aku beruntung, kamu memang hebat." Capella mengusap perutnya. Saat ini ada bayi kecil yang belum sempurna bersemayam di perutnya. "Kamu suatu hari nanti harus bangga kepada papa mu yang memperoleh pencapaian luar biasa."


Capella pun meletakkan berkas itu dan mencari berkas lain yang belum diselesaikan oleh Januar. Saat membongkar meja kerja Januar tiba-tiba ada sebuah laporan yang terjatuh.


Ia terkejut dan mengambil laporan itu. Capella mengerutkan keningnya saat ia sendiri kebingungan sebenarnya laporan ini tentang apa.


Dari bentuknya yang sangat unik dan tampak laporan itu juga ada bekas terbakar. Seolah ingin dilenyapkan oleh Januar. Capella berpikir jika laporan itu hanyalah laporan tidak penting makanya Januar ingin membuangnya.


Laporan itu hanya terbakar setengah dan juga berbentuk gumpalan. Capella membenarkan laporan itu dan membacanya.


Tidak ada yang menarik hingga Capella ingin meremukkan kertas itu kembali. Namun ia berpikir sekali lagi. Ada yang aneh, kenapa laporan ini bertanggal sebelum Januar menjadi seorang pemimpin perusahaan. Karena penasaran Capella pun memutuskan menelaahnya.


Ia pun membukanya dan membacanya dengan teliti. Hingga Capella menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut. Ada laporan transfer uang dengan nominal sangat tinggi atas nama Januar Harisman Trisatya.


Capella berpikir untuk apa Januar memberikan uang sebanyak ini. Selain ada data transaksi juga ada data yang ditandatangani oleh Januar sendiri. Capella membacanya dengan teliti kali ini apa yang ia temukan hampir membuat Capella ingin pingsan.


Itu adalah surat perjanjian antara Januar dan orang-orang yang bekerjasama ingin menjebak Mahen. Di sana tertulis jelas jika mereka bila berhasil melakukan aksinya akan mendapatkan sebuah dana yang cukup besar.


Dan kini Capella tahu untuk apa dana yang sangat besar itu. Ia tertawa pilu tak menyangka kepada suaminya.


"Hahah, orang yang sudah membuat hidup ku seperti ini adalah kamu Januar. Januar! Kamu yang menjebak Mahen, kamu yang membuatnya seperti itu. Hisk, kamu yang membuat aku membenci kekasihku. Andai kamu tidak menjebak Mahen aku masih bersamanya dan Mahen tidak akan seperti ini." Capella sungguh tidak percaya. Ia memang sudah mencintai Januar, namun jika Januar tidak bertindak seperti itu tidak akan ada yang tersakiti.


Capella mencari bukti lain untuk memastikan jika Januar lah yang telah melakukan kejahatan tersebut. Capella mencari keseluruhan ruang kerja Januar namun tak menemukan apapun.


Ia menatap laptop Januar yang sengaja ia tinggalkan. Capella terheran kenapa Januar bisa meninggalkan laptopnya padahal laptop sangat penting untuk ia bekerja di kantor.

__ADS_1


Tak mau ambil pusing Capella memasukkan beberapa kali sandi dan hasilnya terus gagal. Ia berpikir sejenak sandi apa yang diberikan Januar kepada laptopnya.


Ia pikir Januar akan memberikan sandi yang sama seperti sandi hp. Nyatanya sandinya tetap salah dan Capella memasukkan huruf acak dan wanita itu membulatkan matanya saat mengetahui sandi itu cocok.


Capella lantas bergegas mencari tahu kebenarannya. Ia membuka beberapa file dan dugaan Capella semakin kuat jika Januar lah yang telah menjebak Mahen.


"Dasar bajingan," ucap Capella dan terus menggulir beberapa foto saat Mahen dijebak.


Di sana juga ada chat antara Januar dan para orang suruhannya. Capella mengepalkan tangannya.


Wanita itu keluar dari ruang kerja Januar. Ia menangis seperti harapan hidupnya sudah putus. Capella menyentuh perutnya penuh amarah.


"Hiks, kau tega! Kau penjahat yang sebenarnya! Kau memang penjahat!!" umpat Capella dan berjalan ke arah kamarnya.


Kenyataan yang begitu memilukan. Januar memang baik namun apa yang sudah ia lakukan benar-benar sangat mengecewakan. Terlebih lagi Capella tengah mengandung seorang anak dari hasil hubungannya dengan Januar.


Ia membuka panselnya dan menatap berita yang baru masuk. Capella membacanya dan tak sengaja ia melihat ada Januar di dalam foto berita tersebut. Barulah dia tahu jika Januar bukan pergi bekerja namun tengah melakukan balapan liar dan balapan tersebut tengah diamankan oleh polisi.


"Cih, sekali pembohong tetap pembohong." Capella pun berjalan ke dalam kamar dengan wajah masam.


Ia menajamkan matanya dan mulai berpikir langkah apa yang akan ia ambil untuk kedepannya. Tentunya tak akan membuat Capella menyesal nanti.


_______________


Januar mendesis marah sambil memukul tangki. Ia menatap Martin, Bonge, Satria, dan Pangeran yang ikut dalam balapan liar itu.


"Ada yang memposting balapan kita dan ketahuan oleh aparat kepolisian," ucap Bonge yang tidak kalah panik saat mendengar sirene mobil.


"Cabut! Cabut!" perintah Januar kepada teman-temannya semua.


Mereka pun lantas pergi dari tempat itu terbirit-birit. Januar menghela napas panjang dan menancap gas di atas rata-rata agar bisa kabur dari kejaran polisi.


Ia masuk ke dalam gang-gang kecil hingga membuat para polisi itu tidak bisa mengejarnya lagi. Januar tersenyum menang dan ia masuk ke dalam baschamp tempat mereka yang sangat rahasia.


Dan ternyata semua temannya selamat dan hanya tinggal memikirkan cara agar mereka tidak ketahuan bersembunyi di sini.


"Bagaimana jika polisi mengejar kita sampai ke sini?" tanya Satria khawatir jika Kaka tertangkap.


Pangeran menghela napas panjang dan menepuk pundak Satria untuk menenangkan pria itu.


"Lo tenang aja. Polisi gak akan sampai ke sini jika tidak ada yang memberi tahu."


Januar masih terdiam di tempatnya sambil memikirkan cara agar bisa kabur. Ia yakin di luar sana polisi telah memblokir akses mereka untuk keluar.


"Kita tunggu sampe malam baru pulang."


"Oke," jawab Bonge dan mulai merebahkan tubuhnya.


Januar menatap teman-temannya dengan napas tertahan. Ia khawatir jika Capella akan mencari dirinya ke kantor jika ia tak pulang-pulang.

__ADS_1


Martin yang menatap wajah Januar tampak sedang gusar pun mendekati pria itu. Ia menepuk pundak Januar dan mengangkat satu alisnya seakan tengah bertanya.


"Kenapa lo bro?"


Mendengar suara Martin, Pangeran pun menatap ke arah Januar. Ia duduk di samping pria itu dan mengamati wajah Januar yang tampak tidak baik-baik saja.


"Lo khawatir ketangkap polisi?"


"Gue?" tanya Januar. Ia tak akan pernah takut dengan polisi. Tapi ketakutannya kali ini adalah ia takut jika tertangkap basah oleh istrinya jika ia telah melakukan kebohongan kepada sang istri. "Bukan karena itu. Gue khawatir kalau Capella tahu perbuatan gue."


"Duh si bucin," ucap Martin seakan tengah mengejek Januar.


Januar hanya menatap temannya itu dengan pandangan tak suka. Bisa-bisanya dirinya diejek seperti itu oleh Martin.


"Kenapa lo?"


"Ada apa emang?" tanya Pangeran seolah tengah memberikan penengah antara Januar dan Martin.


"Gue khawatir kalau Capella tahu semua perbuatan gue."


"Termasuk lo yang udah buat mantan tunangannya ada di dalam penjara?"


Januar tersentak dan memandang Pangeran marah. "Jangan lo bilang sekali lagi. Kalau sampai kedengaran Capella lo abis."


Martin, Satria, dan Bonge hanya menghela napas panjang. Mereka semua di sini terlibat dalam penjebakan Mahen.


Pangeran memejamkan matanya. Ia menatap Januar sambil tersenyum.


"Kita udah janji kalau ada apa-apa lo sendiri yang nanggung semuanya."


"Hm, iya-iya gue yang nanggung semuanya."


"Jadi jangan salahkan kita."


Januar mengusap rambutnya gusar. Kenapa perasannya menjadi tidak enak. Januar mencoba membuka ponselnya untuk menghubungi Capella.


Namun chatnya tidak dibalas oleh wanita itu. Ia tahu Capela belum aktif, tapi Januar tetap merasa sangat khawatir.


"Lo baru sekarang kan ngerasa ketakutannya."


"Gue tau. Tapi gue gak bakal tau kalau gue nikah sama Capella dan semuanya akan jadi seperti ini. Gue dulu ngira siapapun yang tahu perbuatan gue, gue gak akan takut. Dan sekarang gue takut Capella tahu dan dia bakal ninggalin gue."


Pangeran pun tak peduli pada ucapan Januar. Ia menilai Januar sedikit egois hingga membuatnya sedikit berbeda pendapat dengan pria itu.


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

__ADS_1


__ADS_2