
Kertas yang dipegang oleh Januar berserak di lantai saat ia tak sengaja menjatuhkan kertas tersebut ketika syok mendengar berita dari mata-matanya bahwa Mahen pergi menyusul Capella ke Turki.
Ia mendesis marah saat tempat persembunyian Capella diketahui oleh mereka. Meskipun sudah bercerai Januar tetap tidak rela jika Mahen merebut Capella. Apalagi Mahen sekarang adalah penjahat negara yang sedang diburu negara.
Ia tak akan membiarkan Mahen mendapatkan Capella dan membawa Capella ke dalam masalahnya.
Januar menatap sang mata-mata yang baru saja melaporkan kepadanya. Ia pun mengibaskan tangannya meminta agar sang mata-mata tersebut pergi terlebih dahulu.
Setelahnya Januar pun berpikir sendiri di dalam ruangan itu. Ia mencari rencana untuk menggagalkan rencana yang sudah disusun oleh Mahen.
"Mahen! Aku tidak akan membiarkan kau membuatnya tidak tenang." Januar tersenyum puas dan mengepalkan tangannya di bawah.
Ia mengambil sebuah kertas yang ia sembunyikan selama ini. Pria itu hanya tersenyum misterius menatap kertas itu. Kertas tersebut sangat berharga dan memuat banyak rahasianya.
Januar pun menyimpan kertas tersebut. Belum saatnya untuk ia menggunakan kertas tersebut.
Setelah memikirkan cara untuk menghentikan Mahen, Januar pun keluar dari dalam ruangannya.
Ia meminta sang sekretaris secepatnya menjadwalkan keberangkatannya ke Turki.
"Siapkan keberangkatan ku ke Turki sekrang juga."
"Baik Tuan."
Januar pun keluar dari dalam gedung tersebut dan menuju ke arah parkiran. Namun tiba-tiba dari dalam saku celananya sebuah dering ponsel membuat Januar mengurungkan niatnya.
Pria itu berhenti dan merogoh ponsel di saku celananya. Kemudian ia menatap sang penelepon di seberang sana. Ternyata sang ibunda.
"Halo Bunda," sapa Januar kepada ibundanya.
"Januar! Bisa sore ini kamu datang k rumah Bunda? Bantuin Bunda sebentar sore ini."
"Maaf Bunda Januar tidak bisa. Januar harus pergi ke Turki."
"Hah Turki? Mau ngapain kamu? Kenapa tiba-tiba?"
"Ada sesuatu. Aku juga ingin bertemu dengan Capella dan mencarinya di Turki." Jika Januar ingin mencari keberadaan Capella sangatlah mudah. Tapi pria itu tak pernah melakukannya agar hidup Capella tentram dan tidak terganggu karena nya.
"Kamu serius? Bunda sangat senang mendengarnya. Bunda harap kamu bisa berbaikan seperti dulu lagi dengan Capella."
__ADS_1
"Hm."
Januar pun menarik sambungan telepon tersebut. Ia menarik napas panjang dan memasukkan kembali telepon ke dalam sakunya. Setelah itu barulah ia menuju ke mobil miliknya dan membawa mobil tersebut pergi dari tempat itu.
____________
Januar pun tiba di bandara. Ia membuka kacamata hitam miliknya dan menyerahkan kepada sang sekretaris.
Pria itu berjalan dengan santai ke arah mobil yang sudah menjemputnya. Januar pun meminta agar singgah ke penginapan terlebih dahulu sebelum melakukan pencarian Capella.
Sang supir mematuhi dan membawa Januar ke hotel terdekat yang sudah mereka sewa sebelumnya. Tak berselang lama sampailah mereka di hotel yang dituju.
Selain mencari keberadaan Capella Januar akan mencari Mahen. Kali ini Januar tidak akan menyembunyikan Mahen lagi, dia akan melapor kepada negara bahwa penjahat kelas kakap yang tengah mereka cari ada di Turki.
"Kita akan bekerjasama dengan Polisi negara dan polisi Turki," ucap Januar kepada anak buahnya. "Pasti dengan mudah menemukan Mahen. Kejahatan yang dia lakukan benar-benar merugikan banyak orang. Aku harus bisa memenjarakannya kali ini."
Januar menarik napas panjang dan menadahkan kepala ke atas. Ia pun berpikir sebentar sebelum akhirnya membuka laptop dan mulai bekerja melacak keberadaan Capella.
Namun semakin lama ia berkutat dengan komputer tersebut semakin membuat Januar pusing pasalnya ia tak mudah menemukan keberadaan Capella. Seketika jantung Januar berdetak sangat kencang. kekhawatiran pun mulai melanda pria itu. Apa mungkin sesuatu telah terjadi?
"Tidak mungkin. Capella pasti baik-baik saja." Data Capella tidak mudah ditemukan. Kenapa data diri Capella seolah tengah dilindungi seseorang. Apa Mahen telah menemukan Capella dan sengaja menyembunyikan tentang wanita itu.
"Baik Tuan."
Tak menunggu waktu yang lama Mark pun datang dengan langkah yang terburu-buru. Ia pun menghadap Januar dan Januar menyerahkan laptopnya.
"Bantu aku! Kenapa keberadaan Capella tidak dapat dilacak?"
"Baik Tuan." Mark pun mulai menunjukkan keahlian IT nya. Ia berusaha untuk mencari keberadaan Capella dan menembus cyber yang melindungi data milik Capella.
Namun keamanannya cukup ketat hingga beberapa kali Mark mencoba masuk terus gagal.
"Tuan! Tidak bisa. Keamanannya sangat tinggi. Sepertinya seseorang berusaha untuk melindungi data milik nyonya."
"Baiklah. Apa mungkin Mahen menemukannya lebih dulu?"
Januar bertanya-tanya dengan wajah yang cemas. Apalagi Mark tampak tak bisa menjawab pertanyaannya. Makin lagi membuat Januar sangat khawatir.
"Sepertinya kita harus bertindak sekarang juga."
__ADS_1
___________
Capella yang baru pulang bekerja pun keluar dari dalam kantor. Hari semakin gelap dan ia harus cepat siaga sampai di rumah.
Pastinya Guan sedang menunggunya di rumah. Anak itu ajan mengoceh dan tidak mau tidur jika ia belum juga pulang.
"Ella! Maafkan aku membuat mu pulang selarut ini. Jika kau ingin aku antarkan, aku akan antarkan kau lebih dulu."
Capella menatap Abizard yang menawari tumpangan untuknya. Capella menarik napas panjang dan menggeleng. Ia tak ingin merepotkan Abizard dikarenakan Abizard masih ada urusan lain, dan kebetulan ia yang tadi membantu Abizard menyiapkan semuanya untuk kepentingan meeting.
"Tidak apa. Aku bisa sendiri. Jangan mengkhawatirkan aku," tolak Capella secara halus.
"Capella kau tidak apa-apa?"
"Kenapa dengan ku? Aku tidak apa-apa. Apalagi aku sudah memesan taksi."
"Baiklah jika begitu. Kau hati-hati," cas Abizard yang harus meninggalkan Capella. Entah kenapa perasaanya tidak nyaman.
"Kau juga."
Setelah itu Abizard pun pergi dan Capella menunggu taksi yang dipesannya datang.
Menunggu beberapa menit hingga akhirnya taksi pun datang. Capella bersyukur tak harus menunggu lama. Kemudian perempuan itu masuk ke dalam taksi tersebut dan meminta agar sang supir membawa lebih cepat.
"Pak agak cepatan dikit bawanya."
"Baik Non."
Perjalanan yang awalnya tenang berubah menjadi mengenaskan saat tiba-tiba ada beberapa mobil yang mengejar mereka. Capella panik bukan main. Tubuhnya bergetar apalagi mobil itu terus berusaha menyalip.
"Pak ada apa ini!"
"Tidak tahu. Sepertinya kita sedang dikejar, apa mungkin ini perampok?"
Mendengar tanggapan sang supir benar-benar membuat Capella menahan napasnya. Ia berusaha untuk tetap tenang meskipun jantungnya berdetak sangat kencang.
__________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.