Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 49


__ADS_3

Capella berjalan tak tentu arah. Pandangannya kosong hingga ia tak menyadari berjalan di tengah-tengah jalan. Tiba-tiba ada mobil yang hendak melintas dan wanita itu belum menyadari jika bahaya tengah mengincarnya.


Tanpa arah ia berjalan hingga tak disadari mobil itu semakin dekat dan beberapa detik kemudian saat mobil itu hampir menggiling dirinya barulah Capella tersadar. Ia berteriak keras dan menutupi wajahnya. Wanita itu hanya pasrah lagipula menghindar pun ia sudah tidak sempat.


Tapi untungnya pengendara mobil itu berhenti mendadak. Capella menarik napas lega sembari mengusap dadanya. Ia tersenyum sambil mengulum ludah.


Orang yang mengendari mobil itu keluar dan Capella harus menyiapkan mental untuk mendengar caci makinya.


"Punya mata?"


Capella terkejut saat ditanya seperti itu. Ia pun memohon ampun kepada orang tersebut agar dirinya dimaafkan.


Orang itu terdiam sambil memperhatikan Capella dengan seksama. Capella yang bingung kenapa diperhatikan sedemikian rupa pun melambaikan tangannya.


"Eum maaf Pak?"


Terdengar helaan panjang dari pria itu. Ia tersenyum tipis dan menatap Capella dari atas hingga bawah. Hal tersebut sangat membingungkan Capella.


"Lain kali jalan hati-hati dan pakai mata. Jangan seperti ini, membahayakan orang saja," ucapnya dan setelah itu masuk ke dalam mobil.


Capella terkejut kenapa orang itu tak memakai dirinya atau meminta ganti rugi padahal apa yang dilakukan oleh Capella benar-benar membahayakan.


Tapi Capella menepis pikiran itu. Ia harus bersyukur jika pengendara mobil tersebut tidak meminta ganti rugi kepadanya.


"Lagipula untuk apa aku memikirkan dia. Aku tak memiliki banyak uang saat ini." Capella hanya membawa beberapa peser uang dan tidak membawa ATM nya.


Capella pun berjalan dan mencari taksi. Ia harus ke tempat kerjanya menjadi seorang wartawan di perusahaan kecil.


Meskipun gajinya tidak seberapa dan Capella juga sudah memiliki penghasilan dari uang Januar tetap saja ia harus mencari pekerjaan dan menghidupi anaknya dengan hasil jerih payahnya.


"Pak Taksi Pak!" teriak Capella kepada salah satu taksi yang kebetulan melintas di sana.


Capella pun mendekati taksi tersebut yang berhenti untuknya. Ia pun membuka pintu dan masuk ke dalam taksi tersebut.


"Pak ke alamat ini yah."


"Baik Madam."


Supir taksi tersebut pun membawa Capella ke alamat tujuan. Tak membutuhkan waktu lama Capella pun sampai di tempat kerjanya.


Ia keluar dari dalam taksi dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir tersebut. Setelahnya Capella masuk ke dalam perusahannya.

__ADS_1


"Ella dari mana saja?" tanya atasannya yang hanya berbeda beberapa tahun saja darinya.


"Maaf, tadi juga sudah izin dan katanya dapat Izin."


"Saya tau. Makanya saya tanya kamu ke mana sampai meminta izin." Capella pun menarik napas lega. Ia pikir atasannya ini akan memarahinya dan memecatnya.


"Ada urusan sebentar."


"Oh seperti itu. Jangan lupa nanti ke restoran depan, soalnya saya mau traktir kamu. Apalagi kamu bekerja sangat baik, kamu memang harus diberikan apresiasi." Capella tersanjung mendengar hal tersebut namum entah kenapa ia merasa tidak nyaman. Ingin menolak bosnya juga sangat sulit karena takutnya dianggap tidak menghargai.


"Baiklah, nanti aku akan ke restoran."


"Terima kasih waktunya Ella."


"Sama-sama Pak, seharusnya saya yang berterima kasih kepada Bapak." Capella pun menuju ke meja kerjanya dan menyentuh dadanya.


Berhadapan dengan sang atasan benar-benar sport jantung. Capella hampir mati rasa saking gugupnya.


"Untung bapak atasan baik."


______________


Seusai jani yang sudah ia buat bersama atasannya. Capella pun memenuhi untuk datang ke restoran yang dimaksud.


Capella pun menghampiri Abizard dan duduk di samping pria itu. Capella pikir Abizard akan membawa rekan kerjanya yang lain dan tak ia sangka hanya mereka berdua.


"Cuman berdua Pak?"


"Kamu maunya berapa orang? Apakah kita berdua tidak cukup?"


"Eh bukan gitu Pak. Tapi kalau kita berdua suasananya akan canggung."


"Bawa santai saja. Saya baik, jangan terlalu formal di luar perusahaan." Capella mengangguk sambil meringis. Bagaimana ia untuk bersikap layaknya orang biasa kalau ia sudah terbiasa bersikap formal kepada atasannya.


Capella mengangguk dan mulai menikmati makanan yang telah dipesan oleh Abizard.


"Apa makanannya enak? Apa kamu mau pesan sendiri saja makanannya?"


Capella yang tengah menyuapkan makanan tersebut pun langsung tersedak. Ia tertawa bingung dan menggelengkan kepalanya. Jika ia memesan sesuka hatinya itu namannya ngelunjak. Ini saja sudah lebih dari cukup dan Capella tidak ingin lebih dari ini.


"Tidak Pak, saya suka ini."

__ADS_1


"Ella, panggil Abizard saja jika kita berdua sedang di luar."


"Hah?"


"Kenapa?"


Capella menggaruk dahinya dan tertawa pelan mencairkan suasana.


"Tapi Pak?"


"Kenapa Ella, hanya kita berdua. Lagipula sayang yang menyuruh kamu untuk memanggil saya dengan Abizard saja."


Capella berdahem beberapa keli menetralkan detak jantungnya. Kenapa perasaan Capella tidak enak.


"Abizard," ucap Capella masih ragu-ragu.


"Nah begitu lebih bagus."


Mereka pun hanyut dalam kesibukan masing-masing. Tanpa disadari oleh Capella, Abizard sering curi-curi pandang ke arah Capella.


Capella yang lahap menyantap makanannya pun langsung berhenti ketika ia baru menyadari jika sedang diperhatikan.


"Ada apa?"


"Ella, kau tahu jika aku dan kamu sudah lama bersama-sama dan juga berjuang bersama-sama. Dari dulu juga aku sudah mengingatkan kamu untuk tidak terlalu formal. Kita bukan orang yang kenap beberapa hari yang lalu. Kenapa kita harus secanggung ini?"


Capella menghela napas panjang. Ia merasa sangat tak pantas menganggap Abizard bak teman. Karena sudah banyak yang diperjuangkan Abizard kepadanya. Harusnya ia melayani dan menganggap pria itu statusnya lebih tinggi darinya.


"Abizard, bukan seperti itu. Hanya saja dari dulu aku merasa tidak nyaman."


"Ella, kamu bahkan tau perasaan ku kepadamu seperti apa. Apa jawabannya masih sama seperti dulu?" Capella mengangguk dengan perasaan bersalah.


"Abizard maafkan aku. Tapi aku memang belum bisa menerima orang baru. Kamu juga tahu apa yang aku alami. Tidak semudah itu untuk aku menerima orang baru lagi."


Abizard mengangguk kecewa. Ia tak bisa memaksakan Capella untuk menerima dirinya.


"Apa hari ini kamu sibuk? Boleh aku menemui Guan?"


Capella mengangguk.


__________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2