Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 19


__ADS_3

Januar membawa tubuh Capella yang kedinginan ke kamar. Pria itu lantas membantu Capella ke kamar mandi.


Kondisi keudanya dalam basah kuyup. Januar khawatir dengan kondisi Capella takutnya wanita itu semakin memburuk. Januar menghela napas panjang saat merasakan jika tubuh Capella benar-benar lemah dan juga panas.


"Aku siapkan air hangat dulu." Capella memperhatikan ketulusan Januar yang ditunjukkan oleh pria itu.


Wanita tersebut menghela napas panjang dan menundukkan kepala. Ia pun mengukir senyum di wjahanya. Capella masih tidak percaya dengan apa yang tengah ia alami. Ini bak mimpi indah untuknya.


Orang yang selalu ia hadapi dengan sabar kini menjadi orang yang sangat mempedulikan dirinya. Capella mengangkat wajahnya dan matanya membulat ternyata Januar memperhatikan ia dari pintu kamar mandi.


Januar tertawa dan Capella makin lagi terhipnotis melihat tawa pria itu yang benar-benar mengguncang dadanya. Januar sangat tampan dengan ekspresi itu.


"Kenapa?" tanya Januar seraya menghampiri Capella.


"Hah?"


Januar memperhatikan wajah Capella yang termenung dan tampak kebingungan. Ekspresi Capella sangat menggemaskan. Januar lantas menyentil kening Capella menyadarkan wanita itu.


"Kenapa? Cepat mandi. Aku sudah siapkan air hangat. Atau mau aku yang mandi, kan?"


"HAH?! TIDAK!!" Capella pun langsung ke kamar mandi dan menguncinya. Januar tertawa dan mengangkat satu alisnya.


Ia menggelengkan kepala melihat kecerobohan Capella. Lantas Januar pun menyiapkan baju ganti untuk wanita itu.


Sementara di dalam Capella yang sudah terlanjur membuka baju pun tak henti-hentinya merutuki kebodohannya. Ia memukul kepalanya dan hendak memakai kembali bajunya dan mengambil baju ganti yang tertinggal.


Saat membuka pintu Capella terkejut melihat Januar di depan pintu dan langsung berteriak.


"AAAAAA!!"

__ADS_1


"AAAAAA!" balas Januar bercanda untuk menambah suasana. Capella pun terkejut dan menyentuh dadanya.


"Ke... Kenapa?" tanya Capella melihat Januar yang ada di depan pintu.


Januar lantas menyerahkan baju ganti untuk Capella yang sudah ia pilihkan. Wajah Capella memanas saat melihat pakaian dalamnya.


Ia lantas langsung merebutnya dan menutup pintu. Wanita itu menelan ludah susah payah menahan malu.


"Apa yang sudah aku lakukan?" ucap Capella dan memukul wajahnya.


_____________


Capella ke dapur berencana ingin memasak. Namun ia dikejutkan dengan Januar yang tengah menghidangkan makanan. Capella baru tahu jika Januar bisa memasak.


"Januar!"


Capella menyentuh wajahnya dan menggelengkan kepala. Ini tidak benar, wajahnya semakin panas dan Capella yakin saat ini pipinya memerah.


"Apa-apaan sih."


Januar menarik tangan Capella dan menyuruh agar wanita itu duduk di pangkuannya.


"Januar apa yang kamu lakukan."


"Pengen peluk." Beginilah jika sifat mana Januar keluar. Capella mengehela napas dan menjauhkan lingkaran tangan Januar di perutnya. Ia menatap pria itu dengan mata yang sangat dalam.


"Aku tidak nyaman."


Januar menganggukkan kepala dan meminta agar Capella duduk di sampingnya. Barulah Capella tenang dan terutama jantungnya bisa berdetak sedikit normal.

__ADS_1


Januar mengambilkan semua lauk untuk Capella. Capella tak punya pilihan lain dan memperhatikan pria itu yang melakukan semuanya dengan sangat hati-hati dan juga penuh kasih.


Kemudian yang mengejutkan Capella adalah Januar menyuapkan makanan itu kepadanya. Wanita itu menatap Januar dengan terkejut dan menerima suapan Januar.


"Bagaimana enak?"


Capella mengangguk dengan antusias. Januar terus menyuapkan Capella hingga makanan itu tak bersisa. Kemudian Januar memperhatikan Capella dengan seksama.


"Aku benci kepada diriku sendiri yang selalu tak bisa mengendalikan diri dari gengsi mengakui jika aku bahkan sudah sangat lama jatuh cinta kepadamu?"


"Hah?" tanya Capella tak percaya mendengar penuturan laki-laki tersebut.


"Saat pertama kali Mahen membawa mu, aku sudah memiliki perasaan untuk mu dan aku tidak menyadarinya. Perasaan itu semakin terlihat saat aku mencium mu di depan Mahen dan bunda. Entah kenapa rasanya aku sangat lega dan tak menyesal. Itulah yang aku inginkan selama ini."


"Januar......" Capella tak mampu berkata-kata... "itu ciuman pertamaku."


Januar makin tersenyum lebar. Ia tak menyangka jika Capella sangat cantik dan juga menjaga dirinya untuk suaminya. Hanya ia menyentuh Capella, suaminya.


"Ella bagaimana perasaan mu?" Capella terdiam dan tak bisa mengatakannya. Ia sendiripun tak tahu bagaimana perasannya. Apakah hatinya untuk Mahen atau hatinya tidak terisi siapapun, ataukah ada Januar. "Tidak apa kamu belum bisa mengatakannya. Aku akan menunggumu Ella. Dan akan selalu menunggumu. Aku mencintaimu, maafkan jika ini sudah terlambat."


Capella menggelengkan kepalanya dan memeluk leher Januar dengan perasaan penuh kasih sayang. Keduanya pun larut dalam buaian kasih sayang.


"Aku juga akan berusaha untuk mencintaimu."


___________


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.

__ADS_1


__ADS_2