
Capella menghela napas panjang dan menatap suaminya yang masih cemberut karena kedatangan teman-temannya yang membuat moment mereka berdua rusak.
Wanita itu menggaruk rambutnya bingung dan menghampiri Januar. Ia menyentuh tangan Januar dan menatap pria itu dengan pandangan berharap jika Januar kembali menormalkan pandangannya.
"Sudahlah, lagipula mereka kangen sama aku. Jadi kamu tidak bisa marah jika mereka ke sini," terang Capella menjelaskan kepada Januar agar pria itu tak meneruskan acara ngambeknya.
"Gue tau." Jika sudah berkata dengan bahasa seperti itu sudah dapat dipastikan kemarahan Januar sudah memuncak.
"Januar, berpikir lebih luas lagi. Aku juga berhak berteman sama temen aku."
"Tau."
"Terus?"
Terdengar helaan panjang dari Januar. Laki-laki tersebut memandang istrinya. Sedikit menyunggingkan senyum membuat Capella yang semula sudah putus asa menghibur pria itu pun turut tersenyum lebar.
"Kamu baru pulang dan takutnya kamu kecapekan. Aku tidak ingin kamu sakit dan itu karena mereka. Kamu itu harus istirahat lebih banyak dulu," ucap Januar menjelaskan kenapa ia begitu khawatir kepada peremuan itu.
Capella menganggukkan kepala. Kini ia sudah mengerti. Wanita itu meminta Januar mengamatinya dengan lamat-lamat.
"Liat aku! Aku sekarang baik-baik saja, kan? Nah jadi kamu gak perlu khawatir. Meksipun mereka datang tapi mereka tidak akan menyakiti ku. Lagipula pada masa kehamilan ini aku membutuhkan hiburan dan itu teman aku."
"Oke, tapi jika kamu sampai sakit, awas aja teman-teman mu itu." Capella berjanji bahwa ia akan baik-baik saja. Lagipula teman-temannya adalah orang yang baik dan pasti akan menjaga dirinya dan tak akan menyakitinya.
"Iya sayang." Januar langsung menatap Capella setelah mengucapkan panggilan seperti itu. Capella hanya terkikik geli melihat wajah Januar yang sangat lucu setelah mendengar pernyataan tersebut.
Capella beranjak meninggalkan laki-laki tersebut namun Januar yang belum puas mendengarnya mengejar Capella dan menahan tangan wanita itu.
"Apa yang kamu ucapkan tadi? Katakan sekali lagi?"
"Yang mana?" tanya Capella berpura-pura tidak tahu.
"Ish yang tadi!"
"Iya, tapi yang mana?"
Cup
__ADS_1
Januar mengecup bibir Capella sangat tiba-tiba hingga membuat Capella terdiam dan menatap pria itu dengan terkejut.
"Katakan lagi. Kalau tidak aku cium."
"IYA SAYANG IYA!" ucap Capella dan menegaskan di setiap katanya.
Januar pun tersenyum dan menampakkan deretan giginya yang berjejer rapi. Capella malah terpana melihat pesona Januar yang sangat kuat jika pria itu tersenyum seperti itu.
Laki-laki tersebut saking gemasnya dengan sang istri lantas mengangkat tubuh kecil Capella dan menggendongnya menuju kamar. Wanita itu terpekik dan meminta Januar menurunkan dirinya namun Januar abai dengan teriakan Capella.
"Januar! Turunin atuh."
"Gak, kamu ke kamar aja harus digendong sama aku. Kalau gak sama aku, aku ngambek."
"Apaan kaya anak kecil," ejek Capella kepada Januar.
"Ada dulu kakak-kakak yang bilang aku masih bocah. Tapi bocah kaya aku udah berhasil buat bocah baru. Bravo, kan?" tanya Januar sembari membanggakan dirinyalah.
Di dalam kondisi seperti ini Capella pun pasrah dan membiarkan Januar menang dengan argumennya agar pria itu merasa senang.
"Terserah!"
Januar lantas menurunkan Capella tapi perempuan itu malah mengalungkan tangannya di leher Januar dan tidak ingin diturunkan.
"Ngapain turunin! Pokoknya gendong aku ke kamar. Udah telat!"
Januar menghela napas panjang. Jika berurusan dengan wanita ya maka hasilnya akan seperti ini, serba salah.
____________
Mahen termenung di depan jendela. Ia tinggal di mansion luas dan tempatnya sangat tersembunyi. Laki-laki tersebut terpaksa harus memilih jalan yang salah demi membalas dendam.
Ia akan merebut Capella nya kembali bagaimanpun caranya. Tangan Mahen bahkan sampai mengepal ketika mengingat kekasihnya yang menjadi suami orang.
Harusnya saat ini ia yang bersama Capella bukan Januar. Januar memang dari kecil sangat iri padanya, mengetahui hal itu Mahen juga berusaha untuk memberikan kebahagiaan dan keadilan untuk sang adik.
Ia sering berbagi tapi Januar yang sudah terlanjur membencinya, apapun yang ia lakukan pasti akan ditolak mentah-mentah oleh Januar.
__ADS_1
Januar memang keterlaluan menyalahkan ketidak adilan itu kepadanya. Padahal yang sangat salah besar adalah orang tua mereka terutama ayahnya. Sebuah keajaiban jika bisa akrab dengan sang ayah. Mereka anak-anaknya saja tak ada yang bisa mendekati Hengky saking sulitnya pria itu didekati.
Kecuali ibunya. Ayahnya akan sedikit lebih lunak jika Megan yang melakukan pendekatan. Tapi tidak sepenuhnya. Ia tak tahu ada masalah apa di masa lalu hingga kadang Megan pun diabaikan oleh suaminya.
"Januar, tunggu pembalasan ku."
Tangan Mahen terkepal kencang seakan tengah menggambarkan bagaimana dirinya saat ini. Penuh dengan emosi yang tak bisa diluapkan.
Tiba-tiba Ming Tian yang melihat Mahen tengah termenung dengan wajah yang sangat marah lantas mendekatinya.
"Sepertinya dendam mu sangat dalam. Kenapa kamu tidak melakukan rencana lebih cepat. Ah, aku lupa jika kamu kadang masih ragu, kan?"
Mahen memandang rekan barunya yang akan bekerjasama dengannya itu. Mahen menarik napas panjang dan meninggal tempat tersebut.
"Bahkan ini cara mu berterima kasih kepada orang yang telah menyelamatkan mu?"
Mahen pun berbalik dan Ming Tian tampak di wajahnya merasa menang. Memang Mahen sampai saat ini masih ragu untuk menjalankan bisnis ini. Ia berpikir jika apa yang ia lakukan adalah kejahatan yang sangat besar. Tidak hanya kepada orangtuanya namun juga kepada negara.
Tidak pernah terbesit di pikiran Mahen yang sangat nasionalis dan membela kebenaran untuk melakukan tindakan kriminal seperti saat ini.
"Ming Tian, aku tahu maksud dan tujuan mu sebenarnya. Tapi aku tidak akan membiarkan mu menang."
"Kau menganggap diri ku musuh?" tanya Ming Tian sembari memandang kukunya. "Hebat sekali."
"Kau yang membawa ku ke sini."
"Jika kau tidak setuju kau bisa keluar dari tempat ku. Tapi aku tak yakin kau bisa keluar. Lagipula untuk apa ragu jika kau saja dianggap begitu buruk oleh pemerintah dan juga keluarga mu. Bahkan tunangan mu direbut, tidak kah kau ingin membalaskan dendam mu dan merebut tunangan mu itu kembali? Kau ingin dia hidup dengan pria lain yang menghancurkan mu? Jika kau tidak percaya aku punya buktinya."
Mahen terkejut mendengar ucapan Ming Tian. Ia pun memandang ke depan dengan wajah yang makin masam. Ia pun pergi begitu saja sambil mengepalkan tangan.
Sementara Ming Tian merasa menang melihat kepergian Mahen.
"Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini." Ming Tian tersenyum miring dan membenarkan rambutnya sebelum ia juga ikut pergi.
_________
Tbc
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.