Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 26


__ADS_3

Capella pun segera bergegas untuk memenuhi tugas terakhirnya mewawancarai kasus yang sedang viral, apalagi jika bukan mengenai hubungan antara Delisha dan Januar.


Berita itu adalah berita paling hangat di Indonesia hingga membuat heboh kalangan masyarakat. Bagaimanapun Januar dan Delisha sama-sama cukup terkenal.


Di posisi ini Capella merasa dirinya sangat tidak tenang. Ia takut suatu hari akan menghancurkan karirnya.


"Kenapa bengong? Katanya mau pergi, teman-teman di luar sudah pada nungguin semua." Capella menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya.


"Mereka udah pada kumpul semua?"


"Iya. Kamu cuman belum." Capella pun meraih tasnya dan segera bergegas menuju parkiran. Dan benar saja mereka semua tengah menunggu dirinya.


"Kenapa terlambat Ella?" tanya jurnalis yang lain.


"Gak papa, ada masalah bentar." Capella pun lantas masuk ke dalam mobil lebih dulu yang disusul oleh timnya.


Sepanjang jalan Capella merasa resah. Ia tahu ini adalah tugas terakhirnya dan Capella harus bersikap sebaik mungkin agar mendapatkan penghargaan yang sangat menarik bagi dirinya.


Para tim yang semobil dengan Capella juga merasakan keanehan pada wanita itu. Tidak biasanya Capella selalu bengong dan melamun.


"Ella, kamu sakit? Dari tadi aku liat kamu kaya lagi sedih gitu trus juga kaya gak nyaman."


Capella menggelengkan kepala. Ia baik-baik saja hanya hatinya yang tak tenang.


"Tidak apa-apa Rani, aku lagi gugup aja wawancarai mbak Delisha."


"Kenapa harus gugup, dia baik banget."


Capella menganggukkan kepala dan ia lantas memberanikan diri untuk menghadapi masalah ini. Karena tak selamanya Capella bisa kabur dalam masalah tersebut.


Sesampainya mereka di tempat Delisha berada lantas Capella segera keluar dari dalam mobil dan berlari mengejar Delisha yang baru saja keluar dari gedung agensi yang menaunginya.


Ia berusaha untuk lebih cepat dari wartawan lain agar dirinya tidak ketinggalan berita.


Ketika ia berada di paling depan dan menyorongkan mic kepada Delisha seketika itu juga matanya dan mata Delisha saling bertemu.


Delisha terdiam dan begitu juga dirinya. Delisha menghela napas panjang dan kemudian tersenyum tipis. Capella yang melihat itu langsung menundukkan kepala.


Ia takut jika Delisha akan mengatakan yang sebenernya kepada awak media. Delisha mulai menjawab pertanyaan satu-persatu yang diberikan oleh para wartawan.


"Apakah tidak ada rencana untuk balikan?" tanya wartawan tersebut pada Delisha.


"Balikan? Tidak akan. Saya adalah wnaita mahal tidak sebanding dengan selingkuhan Januar yang lebih murah dari saya." Ucapan yang baru saja dilontarkan Delisha kepada wartawan tersebut cukup menyinggung Capella yang ikut mewawancarai.


"Kira-kira apa pesan lo Delisha untuk pelakor?"


"Pelakor?" Delisha sengaja melirik dirinya dan menatap Capella dengan cukup lama. Capella hanya terdiam dan membalas tatapan itu dengan tatapan pasrah. Senyum miring terukir di wajah Delisha. "Pesan gue mungkin, jangan gatal-gatal yah. Ingat Januar bisa nyampakin gue dan lo bisa aja dicampakin sama dia. Kalau lo terlalu gatal nanti pas dicampakin Januar gak ada lagi cowok yang mau sama lo. Eh... Tapi lupa kan murahan, jadi selain diri biar laku."


Delisha merasa sangat puas setelah mengatakan itu di depan Capella. Sementara Capella terdiam dengan senyuman manis di wjahanya.


Ia tahu apa maksud Delisha. Mungkin wnaita itu tidak mengatakan yang sebenernya kepada publik tapi dia akan menyakiti dirinya dengan cara perlahan dan terus menyindir dirinya di awak media.


"Lalu Delisha lo gak ada niatan mau bilang siapa pelakor nya? Soalnya netizen banyak yang ingin silaturahmi ke akun sosmed nya."


"Gimana yah? Orang yang didzolimi lebih baik diam dan memaafkan. Saya tau ini sangat sakit tapi saya juga tidak ingin dihujat oleh media dan netizen. Takutnya nanti kena mental."


"Wah Delisha cantik banget, Januar tidak tahu bersyukur memiliki kamu."

__ADS_1


"Tentu. Biasanya selingkuhan itu lebih kuat peletnya. Bahkan tai ayam pun kaya coklat."


Capella keluar dari barisan mewawancarai. Wanita itu tak sanggup mendengar olok-olokan para wartawan dan juga Delisha yang seolah sengaja membuat dirinya malu di depan umum.


Tim yang bekerja sama dengan Capella merasa heran apa yang dilakukan Capella. Wanita itu bahkan tidak memberikan pertanyaan yang sebelumnya sudah dilist.


"Capella," panggil Rani yang mengejar wnaita itu.


"Rani, kamu aja yang wawancarai mereka. Aku sudah gak sanggup." Capella berucap dengan air mata yang hendak jatuh dari sudut matanya.


"Capella, ada apa dengan mu? Tidak biasanya. Kamu kenapa juga pengen nangis gini."


"Rani, aku harus ke kamar mandi. Kamu gantiin aku dulu. Cepat." Capella menyerahkan mic kepada Rani sementara ia berlari ke kamar mandi.


Sesampainya di dalam toilet Capella menumpahkan semua perasannya. Ia adalah wanita yang lemah dan hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa bisa melawan mereka yang merendahkannya.


Air mata mengalir begitu saja. Capella menatap penampilannya yang ada di depan kaca. Capella merasa tak percaya jika ia begitu lemah dan akan merasakan penderitaan yang diakibatkan sebuah hubungan.


"Kenapa kamu tidak melawannya Ella. Kenapa?" tanya Capella yang merasa kecewa terhadap dirinya sendiri.


Capella mengusap air matanya dan ia membasuh wajahnya dengan air kran. Capella berharap setelah ini ia tak lagi memikirkan semua ucapan Delisha dengan para wartawan tadi. Capella lantas keluar dari toilet dan ia terkejut saat melihat Delisha berdiri di depan pintu toilet.


"Delisha," ucap Capella yang terkejut melihat wanita itu.


"Kenapa? Kaget?" tanya Delisha dengan senyum miring di wjahanya.


"Ada apa?" tanya Capella berusaha akrab.


"Seharusnya gue yang nanya ke lo ada apa di sini? Abis nangis? Lemah banget. Kemarin kenapa gak nangis-nangis pas jadi pelakor?"


Capella menghela napas panjang dan ia pun membenahi pakaiannya. Ia berusaha mengabaikan Delisha yang membujuknya untuk berdebat.


"Ada apa? Aku buru-buru."


"Jangan ketus kaya gitu. Aku cuman penasaran bagaimana kamu selanjutnya setelah mendengar semua percakapan tadi. Kan mau wawancara, kenapa gak tulis apa yang sebenarnya terjadi di rumah kemarin, ketimbang lo susah payah buat cari tau ke gue padahal lo tau semuanya," ucap Delisha sembari melirik dirinya dari atas hingga bawah.


"Delisha apa yang kamu katakan?"


"Sok suci najis."


Capella menghela napas panjang. "Aku tidak bermaksud untuk jadi pelakor. Aku juga tidak ada niat untuk menikah dengan Januar. Tapi bunda Megan yang maksa aku. Januar juga setia sama kamu dia gak mau nikah sama aku."


"TAPI GARA-GARA LO JUGA DIA NINGGALIN GUE!!"


"Delisha, kamu gak sadar? Kamu yang mutusin dia? Kenapa kamu berlagak kamu adalah korban di sini?" tanya Capella yang tak mau kalah.


Plakkk


"LANCANG!!"


Delisha menarik dirinya ke dalam toilet lalu memasukkan kepala Capella ke dalam wastafel dengan paksa lalu ia menyiram kepala Capella dengan air bak.


"Lo gak tau malu.... Sekarang lo berani-beraninya nuduh-nuduh gue."


Capella menangis keras diperlakukan seperti itu oleh Delisha. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari Delisha namun Delisha malah makin merundungnya.


"Delisha.... Aku mohon, lepasin aku," ucap Capella dengan air mata yang mengalir di wajahnya dan sementara kepalanya ditekan hingga ia kekurangan oksigen.

__ADS_1


"Rasain lo jal.an..g!! Gue baru tau kalau lo adalah mantannya Mahen. Hahaha lo dan mantan lo sama aja. Tapi gue kasihan dan miris sama lo, lo gak jadi nikah, kan sama si Mahen? Trus lo godain dan maksa Tante Megan buat jadi menantunya. Dasar gatal lo," rundung Delisha dan menarik rambut Capella dengan keras hingga Capella terdongak. Capella tak bisa melawan karena antara ia dan Delisha lebih kuat wanita itu lagi.


"Akhh!!" pekik Capella lalu menarik tangan Delisha yang menjambak rambutnya.


"Rasain lo." Delisha mendorong tubuh Capella hingga terbentur ke tembok.


Sisi bibir Capella mengeluarkan darah akibat benturan itu yang sangat keras. Setelah puas merundung Capella, kemudian Delisha pun keluar dari dalam kamar mandi itu sambil mengusap tangan.


Capella berusaha berdiri dengan susah payah. Wanita itu menatap punggung Capella dengan sesak di dadanya.


___________


Capella berjalan dengan wajah datar. Seakan tidak ada harapan hidup di wajah wanita itu. Ia menundukkan kepala lalu membuka pintu dengan tangan dan tungkai yang lemah.


Saat pintu di dorong Capella langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah dirundung oleh Delisha.


Saat telah selesai membersihkan diri ia keluar dari dalam kamar dengan wajah lesu. Capella berdiri di depan jendela memperhatikan pemandangan di depan yang sangat asri dan juga indah.


Tak lama pintu terbuka dan Januar masuk. Ia melihat Capella yang termenung sembari berdiri di depan jendela. Januar menautkan dua alisnya dan mendekati Capella.


Ia memeluk Capella dari belakang. Capella tersentak dan menatap sebuah tangan yang melingkar di perutnya.


Sedetik itu pula Capella mengetahui bahwa pelaku yang memiliki tangan tersebut adalah Januar. Capella tersenyum tipis dan berbalik.


"Ada apa?"


Januar tak menjawab. Wajahnya tampak makin keheranan melihat raut wajah Aurora yang benar-benar berbeda. Januar merasa ada yang aneh dengan Capella kali ini.


Ia melihat juga ada bekas luka di sisi bibir Capella yang membuat Januar langsung terkejut. Januar menyentuh luka itu dan mengusapnya.


Capella juga sama merasa keget karena ia lupa menyamarkan luka itu hingga ketahuan oleh Januar. Padahal Capella berharap Januar tak mengetahui apa yang sudah terjadi pada hari ini.


"Ada apa dengan mu? Kenapa di sini luka?" tanya Januar seraya mengusap luka tersebut.


Capella tersenyum tipis. "Bukan apa-apa cuman kebentur dikit."


"Capella aku tidak percaya," ucap Januar. "Katakanlah Ella."


"Januar aku sudah mengatakan yang sebenarnya."


"CAPELLA!!" Tanpa sadar Januar membentak Capella hingga membuat Capella memejamkan matanya. "Maafkan aku."


"Januar, aku....." Capella tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Ella, aku tau kamu mengingkari janji kita. Kamu ke kamar Mahen kemarin. Aku tahu itu. Kamu tidak memikirkan perasaanku? Kamu janji gak bakal memikirkan dia."


Capella terkejut bahwa Januar mengetahui hal itu. Ia pikir tidak ada siapapun kemarin.


"Hiks, maafkan aku."


"Ella. Aku mencoba untuk mencintai kamu dan juga belajar menjadi orang yang setia setelah selama ini aku selalu menganggap wanita hanyalah pemuas. Ella, cobalah jujur kepadaku. Sekali saja," mohon Januar yang lantas membuat Capella merasa tertohok.


"Maafkan aku...."


"Hm." Januar membawa Capella ke dalam pelukannya dan mendekap wanita itu dengan erat. "Lain kali jangan mengulangi kesalahan yang sama."


____________

__ADS_1


Tbc


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2