Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 48


__ADS_3

Capella menghela napas sejenak melihat kelakuan Guan yang selalu saja membuatnya menggelengkan kepala. Capella menghampiri anak itu yang belum juga memakai pakaian padahal hari semakin tinggi dan anak itu harus bersekolah.


"Guan! Pakai baju mu, kenapa kau selalu membantah ucapan Bunda mu?"


Guan menatap Capella dengan padangan tak senang. Terpaksa ia berhenti bermain air dan keluar dari bak mandi. Anak itu mengambil pakaiannya dan memakainya sendiri.


Kemudian Capella mengambil bedak dan menaburkannya ke wajah Guan. Guan paling benci memakai bedak karena anak itu menganggap jika memakai bedak mirip dengan wanita.


"Bunda, sudah Guan katakan jika Guan tidak ingin memakai bedak."


"Kau terus membantah ucapan ku Guan!"


Guan pun menarik napas panjang dan terpaksa mengalah dari sang bunda. Ia tak banyak bicara lagi dan melakukan tugasnya sebagai anak sekolahan.


Capella meminta agar Guan terlebih dahulu keluar karena masih banyak yang harus diurus Capella sebelum mengantar Guan ke sekolah.


Wanita itu mengambil bekal yang ia buatkan untuk Guan. Selain itu ia juga menyiapkan beberapa lembar uang untuk Guan.


Terbukti uang yang diberikan oleh Januar bahkan sampai saat ini masih banyak hanya 2 ATM yang habis namun ATM yang lain masih ada. Selain itu Capella mendapatkan transfer dari Januar.


Ia tak bisa menghentikannya dan menganggap itu hanyalah rezeki. Padahal Capella merasa tidak enak kepada Januar.


"Nenek!" ucap Guan yang menyapa tetangganya yang sedang menyiram bunga.


"Guan! Kau semakin besar Nak! Di mana ibu mu? Apakah kali ini ibu mu menurutimu untuk tidak mengantarkan mu lagi?" tanya nenek tersebut.


"Bukan seperti itu. Bunda masih di dalam. Lagipula bunda tidak akan pernah menuruti permintaan ku. Dia terlalu mengkhawatirkan aku."


"Wajar saja jika dia khawatir dengan mu. Kau adalah satu-satunya yang dia miliki." Guan mengangguk dan tak lama datang Capella dari dalam rumah.


Capella menghampiri mereka dan tersenyum lebar kepada sang nenek.


"Nek, apakah Guan menganggu mu lagi?" tanya Capella khawatir pasalnya sudah terjadi satu kali Guan menyusahkan sang nenek dan mengerjai tetangganya itu hingga nenek kewalahan.


"Ella, Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja, lagipula dia tidak akan berani mengerjaiku lagi."


"Bunda, kenapa kau selalu berburuk sangka dengan ku?" tanya Guan sambil mendesah panjang.


"Sudahlah, kita berangkat. Kau terlalu lama mandi hingga menghabiskan banyak waktu."


Capella mengangkat tubuh Guan yang mulai terasa berat. Padahal dulu Guan sangat ringan.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam taksi yang sudah dipesan oleh Capella tadi. Guan duduk anteng sembari menikmati keindahan kota Ankara.


Capella menatap ke samping ikut menikmati keindahan di sini yang tampak tenang dan jarang terlihat kendaraan bermotor. Hanya ada beberapa dan itu pun tidak banyak. Berbeda dengan Indonesia, jika Guan ke Indonesia maka dia akan sangat terkejut saat mengetahui bahwa Indonesia sangat berbeda dengan Turki.


"Bunda! Kenapa aku harus pergi diantarkan? Aku kan sudah besar!"


"Kata siapa kau sudah besar? Kau masih kecil. Jangan sok jagoan." Capella tahu dari mana sifat ini diturunkan. Orang yang paling sok dan percaya diri, siapa lagi kalau bukan dari ayahnya.


Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Guan adalah bahas Turki. Ia bisa berbahasa Indonesia namun tidak terlalu pasih.


"Bunda, Guan sudah sampai."


Guan bersalaman kepada sang ibunda persis dengan budaya yang ada di Indonesia. Ia mengajari beberapa budaya yang ada di Indonesia kepada anaknya yang berbeda dengan budaya yang ada di Turki agar Guan tahu identitas aslinya.


Capella menghela napas panjang dan meminta agar supir taksi tersebut membawanya ke sebuah tempat. Penyelidikan Capella belum selesai.


Meskipun sudah bertahun-tahun dan tak membuahkan hasil tapi Capella tak pernah berhenti untuk mencari tahu kebenaran ayahnya.


Negara Turki juga sangat luas dan anehnya kenapa ia bisa yakin jika akan menemukan sang ayah.


Mobil berhenti pada tempat yang dituju oleh Capella. Capella turun dari mobil tersebut dan menyerahkan beberapa uang sebagai balas jasa.


Capella berjalan ke sebuah rumah yang tampak sangat reot. Rumah itu adalah rumah yang diberikan beberapa informasi di google. Ia harap ia juga akan mendapat informasi mengenai ayahnya.


Capella berjalan ke arah rumah itu dengan berani. Wanita itu berusaha untuk tenang dan mengangkat tangannya mengetuk pintu.


Tak lama terdengar langkah kaki dari dalam yang menuju ke luar. Pintu itu pun terbuka dan Capella melihat ada wanita paruh baya yang keluar.


"Mau apa kamu ke sini Nak?"


Capella tersenyum ramah kepada orang itu. Ia mengintip ke dalam dan berusaha untuk mencari informasi lebih.


"Apa ini benar rumah Ibu Elena?"


"Yes i am."


"My name Ella."


"Ella?"


"Iya," jawab Capella ragu.

__ADS_1


Ia pun mengangguk beberapa kali sebelum mengangkat satu alisnya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Elena padanya.


"Ada yang ingin kau tanyakan." Capella pun mengeluarkan sebuah foto dan menyerahkan foto itu kepada Elena. "Apa kau mengenal orang di foto itu? Aku mendapatkan informasi jika dia menyewa salah satu tempat mu."


Elena pun memperhatikan dengan seksama orang di foto itu. Foto tersebut sudah sangat lama dan itu juga adalah foto ayahnya saat masih muda.


"Wajahnya tampak sangat familiar. Siapa namanya?"


"Seingat ku ayah ku bernama Kemal."


"Kemal? Hm, sebentar aku mengingatnya." Elena pun mulai mengingat orang-orang yang bernama Kemal yang tinggal di salah satu rumahnya. "Kemal? Aku tidak mengenalnya. Tapi sebentar, wajah ini sangat familiar. Ah, aku ingat dia adalah Kiyev, Kiyev adalah seorang pria tua renta yang pernah menyewa rumah ku. Dia adalah orang penjudi dan tak pernah membayar uang sewa. Saat dia tak bisa membayar dia diam-diam kabur. Aku pun mencarinya, dia benar-benar sudah menipuku. Namun ini satu tahun yang lalu dan sampai saat ini aku tidak mengetahui keberadaannya."


Capella pun terdiam dengan napas tersengal. Ia mengambil foto dan berharap apa yan dikatakan oleh Elena tidak bohong.


"Apa kau sungguh-sungguh atau dia hanya mirip saja."


"Sebentar, kau tidak prcaya? Aku ada menyimpan fotonya."


Ia pun membuka ponselnya dan menunjukkan foto Kiyev. Capella menahan napas sembari membandingkan orang itu dengan sang ayah.


Capella pun yakin jika memang mereka adalah orang yang sama.


"Berapa kerugian yang kau dapatkan? Aku akan membayarnya."


Capella pun membayar hutang sang ayah kepada Elena.


"Terima kasih. Kenapa kau membayar hutang-hutangnya? Siapa kau?"


"Aku adalah anaknya. Maaf kau tahu di mana setelah itu ayah ku pergi?"


"Aku benar-benar tidak tahu."


Capella pun menghela napas panjang. Ia menangguk dan berpamitan kepada Elena. Capella putus asa. Ia menyentuh kedua tungkainya dan menahan air mata yang mendesaknya.


"Ke mana kau Pa? Aku merindukanmu. Harus ke mana lagi aku mencari mu? Sebenarnya apa yang papa lakukan kepada Mama sampai Mama jatuh sakit."


_________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA.


__ADS_2