
Capella masuk ke dalam ruangan atasannya setelah sang atasan itu memintanya untuk ke ruangannya. Perasannya harap-harap cemas di mana Capella paling takut jika dipanggil oleh bosnya itu. Selain terkenal garang, bosnya juga terkenal sangat tampan, Capella mengetahui hal itu namun ia sama sekali tidak seperti teman-temannya yang rata-rata terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh sang atasan.
Capella menarik napas panjang dan kemudian wanita itu pun tersenyum lebar sebelum membuka pintu. Saat gagang pintu ia dorong dan disitulah Capella merasa lebih gugup dari sebelumnya.
Wanita itu lantas berjalan ke arah sang atasan dan duduk di depan sang atasan tersebut dengan dada yang tak berhenti berdetak kencang seakan-akan mengejar dirinya. Pria sendiri.
"Ada apa Pak?"
"Berapa lama kamu sudah bekerja di sini?"
"Hah?" Capella menyentuh dadanya yang rasanya tak bisa berhenti berdetak setelah mendengar pertanyaan itu. Wanita tersebut menundukkan kepala lalu mengangkatnya lagi.
Sesekali Capella berbicara dalam hati untuk menenangkan dirinya. Ia harap pertanyaan itu tak merupakan akhir ia berada di tempat ini.
"Sudah hampir satu tahun lebih Pak!"
"Apa kamu merasa puas?" Capella tak bisa berkata-kata. Kenapa semakin ke sini pertanyaan yang diberikan atasannya malah lebih aneh-aneh.
"Saya selalu merasa puas dengan perusahaan ini."
"Bagaimana jika kamu tidak bekerja di sini lagi?"
"Maksud Bapak apa yah? Saya merasa sangat puas dan ingin selalu bekerja di sini."
"Jawaban yang bagus. Saya suka karyawan yang setia," ucapnya yang membuat Capella merasa lega dan menghembuskan napas dengan tenang, "tapi sayangnya kamu tidak bisa berada di sini terus sesuai dengan keinginan mu."
"Maksud Bapak?" tanya Capella yang merasa dihempaskan dari ketinggian. Wanita itu baru saja mendapatkan rasa lega dan kali ini ia harus kembali beradu dengan dadanya yang berdetak kencang.
"Maaf Capella. Saya ingin mempertahankan kamu, tapi ada permintaan dari perusahaan pusat untuk kamu dipindah tugaskan ke pusat."
Capella melongo mendengar ucapan sang atasan. Ini adalah sebuah berita yang sangat ia nantikan. Dari dulu Capella berharap bisa bekerja di perusahaan pusat meskipun di perusahaan cabang ini lumayan membuatnya sangat puas.
"Bapak tidak bercanda, kan? Ini nyata Pak?"
"Selamat Capella."
Atasannya itu mengulurkan tangan memberikan jabatan untuk Capella. Capella dengan semangat menjabat tangan sang atasan. Senyuman tak berhenti di wajahnya seolah menggambarkan jika wanita itu benar-benar merasa senang dengan keputusan yang diberikan oleh atasannya.
"Makasih Pak. Terima kasih banyak, saya sangat merasa terharu dan juga bangga." Capella tak bisa mencurahkan dengan kata-kata. Bahkan di sudut matanya keluar air mata kebahagiaan.
__ADS_1
"Sama-sama. Senang melihat mu yang bersemangat untuk bekerja di pusat. Ini berkas-berkas yang harus kamu penuhi."
Capella mengambil berkas tersebut dan membukanya. Ia pun mengangguk puas lalu berpamitan dengan sang atasan untuk keluar dari ruangan.
"Ya Tuhan mimpi apa aku semalam," gumam Capella sembari menyentuh dadanya yang merasa berbunga-bunga.
Tak lama setelah itu keluar lah orang yang dari tadi bersembunyi. Hendra menghela napas panjang dan kemudian ia memandang laki-laki tersebut.
"Puas?" tanyanya pada sahabatnya tersebut.
"Makasih bro." Januar menepuk pundak Hendra penuh dengan rasa terima kasih.
"Tau juga lo dengan rasa terimakasih," sindir Hendra pada Januar yang membuat Januar mendesah panjang.
"Hm."
"Ada hubungan apa lo sama Capella? Dia kan mantan calon adik ipar lo. Lo ngelakuin buat Mahen? Tumben peduli banget. Padahal gue senang banget kalau Capella kerja di sini, ngeliat wajahnya adem."
Januar melirik Hendar yang sudah berbicara seenaknya di depannya. Pria itu mengintimidasi Hendra dengan sangat tajam.
"Wow."
"Karena dia kekasih Mahen. Dan sekarang dia bukan lagi kekasih Mahen."
"Dia kakak kandung lo, gak boleh lo selamanya nyimpan dendam sama dia."
"I know dan lo jangan sok nasehatin gue," ucap Januar dan kemudian keluar dari ruangan sahabatnya tersebut.
____________
Capella berlari ke arah teman-temannya. Ia memeluk Rahma dan Meta yang tengah sibuk bekerja tersebut.
"Eh.... Ella!! Kan jadi salah ketik, kenapa sih? Bahagia banget? Gaji lo naik?"
Capella menggelengkan kepala. Ia meminta agar teman-temannya tersebut menjawab pertanyaannya dengan benar.
"Terus apaan? Jangan bilang lo dipecat dan lo bangga lagi karena dipecat."
"Bukan itu. Aku bakal kerja di perusahaan pusat!!"
__ADS_1
"Hah serius?" tanya Meta kepada Capella rasa antara senang dan juga tidak percaya.
"Iya benar."
"OMG teman gue," bangga Rahma dan memeluk Capella dengan sangat erat.
Ia tak menyangka sama seperti Capella bahwa tempat yang sama-sama mereka dambakan kini telah berhasil ditempati oleh salah satu di antara mereka.
"Gue bangga sama lo Ella."
"Me too. Aku benar-benar sangat bangga kepada ku dan juga aku harap tidak ajak mengecewakan mereka. Tapi kenapa aku bisa bekerja di pusat?" tanya Capella yang merasa sedikit mengganjal. Ia pikir kinerjanya tidak sebaik dengan karyawan lain yang lebih berbakat darinya.
Rahma dan Meta saling pandang. Bagi mereka berdua Capella selalu menganggap remeh dirinya dan tidak percaya diri. Padahal di mata kedua orang itu Capella adalah salah satu karyawan yang patut dicontoh. Ia benar-benar bekerja untuk perusahaan dan tidak memikirkan egonya sendiri.
"Ella, you very smart dan juga sangat baik bekerja, gimana pimpinan perusahaan kita tuh gak tertarik buat kerjakan kamu di sana. Tapi kira-kira jadi apa yah?" tanya Meta yang mencoba untuk menerka-nerka.
"Terima kasih semua."
Januar yang melihat interaksi antara Capella dan teman-temannya pun menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. Senyum yang jarang ia tampakkan kepada siapapun.
Kemudian pria itu lantas pergi dan memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Orang yang melihat dirinya hampir ada yang ingin berteriak namun mengingat mereka sedang berada di tempat kerja membuat mereka menahan pekikan karena takut dengan akibatnya yang akan dipecat.
"Itu Januar pembalap terkenal itu, kan?"
"Iya. Kok ada di sini."
"Mungkin nyogok atasan buat berhentikan pemberitaan kasus Januar yang putus sama Delisha, model cantik kalangan atas."
"Orang kaya bebas yah."
Percakapan mereka hanya menjadi angin lalu di otak Januar. Ia tahu banyak berita miring yang tidak sesuai dengan kenyataan yang beredar di tengah masyarakat mengenai dirinya dan juga Delisha.
Di mana Delisha yang juga menambah cerita hingga membuatnya sangat dramatis. Tapi untungnya Delisha belum pernah mengatakan jika orang yang menjadi selingkuhan Januar adalah Capella.
___________
tbc
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMAKASIH
__ADS_1