Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku

Terpaksa Menikahi Calon Adik Iparku
Part 8


__ADS_3

Januar menyergap Capella yang baru saja keluar dari sirkuit. Pria itu menarik tangan Capella ke tempat aman agar tidak ada yang mengetahui apa yang diperbuat laki-laki itu kepada Capella.


Capella pun terkejut dan memberontak tapi saat tahu jika itu adalah Januar ia terdiam sembari membiarkan pria itu membawanya ke mana.


Ia menundukkan kepala tak berani mengangkatnya saat tatapan tajam yang begitu menghunus menatapnya seolah-olah ingin melahap Capella hidup-hidup.


"Kenapa lo ada di sini?"


"Kerja," jawab Capella namun pria itu tak mengerti dengan kondisi dirinya.


"Kenapa harus lo penuhin. Tolak kek, malu gue."


"Kan mereka gak tau kalau aku istri kamu."


Januar pun menatap ke arah lain dan meludah di depan Capella. Caeplla refleks mundur dan menundukkan kepalanya. Ia sangat ketakutan melihat Januar yang dalam mode tak baik-baik saja.


"Gue tau tapi gue gak suka lo ada di sini. Kalau lo tetap di sini siap-siap aja makan hati."


Capella menarik napas panjang, baginya Januar terlalu kepedean. Ia saja tak mencintai Januar dan untuk apa ia sakit hati melihat pria itu bersama wanita lain.


"Aku biasa aja."


"Oh yakin? Btw lo pulang dah, gue gak nyaman kalau lo ada di sini. Kek parasit."


Ucapan dari Januar mampu membuat Capella tertohok. Ia pun menundukkan kepala. Sebegitu bencinya kah Januar hingga melontarkan kata-kata kejam.


"Aku udah selesai dan aku bakal pulang."


"Pulang lo dari sini."


"Jangan lupa nanti pulang. Kamu gak usah balapan liar, Bunda juga sore ini bakal ke rumah."


"Bilang gue sibuk kerja kelompok."


"Januar," cicit Capella dan mencekal tangan Januar yang hendak pergi. Januar pun menatap tangannya yang ditahan Capella, Capella cepat melepaskan tangannya. "Kamu gak boleh bohong sama Bunda."

__ADS_1


"Gak peduli. Bukan urusan kamu."


"Tapi Januar..."


"Lo diam atau gue cium lo!" Mata Capella melotot dan langsung terdiam. Januar mendesis marah dan kemudian pergi meninggalkan Capella yang masih syok dengan ancaman Januar.


Ia pun teringat saat pria tersebut merebut ciuman pertamanya dan tanpa rasa bersalah terus menghinanya.


"Jangan lupa pulang."


"Iya gue pulang bawa ***.***! Jangan lupa sediain kamar buat gue, kalau gak mau denger keluar aja dari rumah. Tidur di teras mau di mana pun terserah!!"


Capella menghela napas panjang dan menundukkan kepala. Ia meremas bajunya dan tiba-tiba merindukan Mahen yang selalu menganggapnya istimewa.


Ia tahu tidak ada artinya ia merindukan Mahen karena pria itu lebih bejat dari Januar.


"Aku harus kuat."


___________


"Cantik banget rumahnya. Kalau bunda sih suka, gimana sama kamu nyaman gak di sini?"


"Nyaman banget Bunda."


Megan pun duduk di sofa dan mengedarkan matanya ke seluruh penjuru ruangan. Ia pun celengak-celenguk seolah-olah tengah mencari sesuatu.


"Di mana Januar?"


"Lagi kerja kelompok," bohong Capella dengan wajah menunduk. Inilah yang diinginkan oleh Januar, ia mengatakan kalimat tersebut.


"Oh gitu. Gimana sama Januar, baik-baik aja, kan? Kalau Januar ngapa-ngapain kamu ngadu aja sama Bunda."


"Iya bunda."


Percakapan pun berlangsung hikmat hingga suara motor yang baru datang pun memasuki halaman rumah. Capella langsung berdiri hendak menyambut kedatangan Januar.

__ADS_1


Tetapi kondisi Januar yang penuh dengan luka lebam sontak membuatnya dan Megan terkejut bukan main.


"Januar! Apa-apaan kamu? Kenapa sampai kaya gini?"


"Berantem,"entengnya dan membuka jaket seragamnya.


"Aku ambilin obat."


Capella lekas berlari ke kamar untuk mencari obat mengobati semua luka tonjokan yang diterima Januar.


Megan dengan marah menatap Januar. Wanita itu memperhatikan Januar dengan seksama.


"Kata Capella kamu ngerajin tugas. Kamu bohong yah?"


"Kalau tau kenapa nannya? Gak liat apa Januar abis berantem."


"Kamu dibilangin jangan berantem, masih aja dilakuin. Kamu ketahuan papa kamu abis kamu, kamu udah nikah harusnya kamu hargain waktu kamu untuk istri kamu. Kamu kaya gak punya istri," marah Megan kepada anak bungsunya tersebut.


"Bunda," lirih Capella yang baru datang sambil membawa obat untuk Januar.


Januar pun berdiri dan menatap nyalang Capella. Ia memperhatikan wanita yang katanya sudah menjadi istrinya. Selama ini Januar masih tidak percaya dengan insiden diterima kakaknya hingga ia harus menikahi tunangan kakaknya.


"Hargain istri kamu."


"Gak papa Bunda. Mungkin Januar masih labil."


"Apa kata lo? Gue labil? DASAR PELACUR!!" Januar meludahi Capella di depan Megan.


"JANUARI! DIA ISTRIMU!" teriak Megan kepada anak bungsunya.


Januar melirik benci Capella, "sampai kapan pun gue gak akan pernah menganggap lo seorang istri. Ini salah lo yang gak mau kasih jatah ke Kakak gue sampai dia perkosa orang!!" Januar mendorong Capella hingga Capella pun tersungkur ke sofa. Wanita itu meneteskan air mata.


__________


Tbc

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA


__ADS_2