
Januar menghela napas panjang dan menatap kamarnya yang dulu menjadi tempat ia dan Capella bersama-sama menikmati kebahagiaan dengan pandangan sedih. Baru saja mereka menjalin hubungan baik dan ingin memulai semuanya dengan lembaran baru, nyatanya lembaran baru lebih menyakitkan.
Januar menundukkan kepala. Nyatanya penyesalan berada di belakangan. Tapi untungnya Januar tidak terlalu menyesal jika sudah menjebak Mahen. Jika ia tidak pernah menjebak Mahen maka dirinya tidak akan pernah bertemu dengan sosok Capella dan menjadikan wanita itu pendamping hidupnya.
Itulah yang ia syukuri walau kebahagiaan itu hanya ia dapatkan setetes dan sesuatu yang pada dasarnya ia rebut secara paksa akan secepatnya hilang dari dirinya.
Capella sudah memilih jalannya sendiri. Ia akan hidup bersama anak mereka. Januar tidak tahu pasti di mana Capella akan tinggal dan Januar juga sudah berjanji kepada wanita itu agar tidak mencari tahu. Biarkan selamanya mereka berpisah dan menganggap seolah-olah semuanya tidak pernah terjadi.
Tapi kenapa sangat sulit menerapkan prinsip bahwa semuanya akan baik-baik saja. Januar tidak bisa melupakan semua yang telah ia lalui bersama Capella. Bagaimana mungkin sesuatu yang ia anggap sangat berharga mudah ia lupakan begitu saja.
Nama Capella tak akan pernah pudar di dalam hatinya. Januar lebih rela hidup tersiksa sendirian tanpa ada sosok Capella dari pada wanita itu ada tapi batin Capella tersiksa jika bersamanya. Itulah cara untuk ia menebus kesalahannya kepada Capella.
"Semoga kehidupan mu kali ini lebih bahagia. Seperti kata mu kita berpisah secara baik-baik. Dan aku tidak pernah menyimpan dendam padamu, dan ku harap juga sebaliknya. Tapi jika kau memiliki dendam kepadaku, maka maafkan aku." Januar mengusap air mata yang baru saja jatuh dari netra indahnya.
Biasanya Januar lah yang suka membuat hati anak orang sakit. Namun kali ini dia sudah mendapatkan semua karmanya. Makanya Januar tidak protes dengan takdirnya karena pria itu menganggap apa yang sudah terjadi adalah balasan dari perbuatan buruknya yang suka memainkan wanita.
Ting Tong
Suara bel di luar membuat Januar menarik napas panjang. Ia pun membenahi pakaiannya agar tidak terlalu terlihat jika ia sangat berantakan.
Pria itu kemudian keluar untuk membukakan pintu orang yang sudah bertamu tersebut. Saat membuka pintu ia terkejut melihat Shilla dan Rahma yang merupakan sahabat dekat Capella dulu.
Rahma dan Shilla pun saling pandang. Mereka tampak kebingungan sambil celengak-celenguk menatap ke dalam.
"Si Ella mana?" tanya Rahma mengintrogasi Januar.
Januar tak menjawab namun terus menatap sahabatnya Capella. Tidak ada.yang tahu masalah ini selain keluarganya.
"Tidak ada."
"What ke mana? Kerja? Lah orang hamil kok disuruh kerja."
"Kenapa?" tanya Januar yang tidak terlalu nyambung dengan pembicaraan wanita.
__ADS_1
"Yah gak berperikemanusiaan lah t.olo.l," kesal Rahma yang terlalu gemas kepada Januar.
Januar tersenyum kepada teman-temannya Capella. Ia pun berpikir untuk memberitahukan mereka saja jika Capella sudah tidak lagi tinggal di Indonesia.
"Maaf. Tapi Capella sudah tidak tinggal di sini. Kami sudah bercerai."
"What?!!" ucap shilla dan Rahma bersamaan. Jelas mereka terkejut karena terakhir kalinya mereka ke sini saat terungkapnya fakta jika Capella dan Januar sudah menikah. Dan kini ia kemari lagi sementara Capella dan Januar sudah bercerai.
"Lo gila Januar? Dia lagi hamil lo ceraiin," ucap Rahma yang tidak terima kepada Januar. "Jangan mentang-mentang lo lebih terkenal pada kita."
"Capella yang ceraiin gue. Jangan sekali-kali lo jadikan ini berita. Capella tidak bersalah dan awas lo buat berita miring."
Rahma dan Shilla memutar bola mata mereka malas. Januar pikir mereka siapa yang akan menceritakan aib temannya sendiri.
"Lo kira kita bakal setega itu sama Ella? Enggak cuy."
"Bagus."
Rahma dan Shilla tidak mengetahui apapun masalah ini. Biasanya Capella akan curhat kepada mereka semua. Namun chatan mereka beberapa hari ini tampak bahwa wanita itu baik-baik saja.
"Kok Ella setega itu sama kita sampai gak mau cerita masalah dia."
"Mungkin ada yang tidak mau dia ceritakan," ucap Shilla menenangkan Rahma yang mulai berpikiran negatif.
___________
Meskipun sudah diberikan peringatan oleh Mahen, tapi nyatanya Delihsa sama sekali tidak takut. Ia telah melapor ke polisi bahwa dirinya telah didatangi oleh Mahen.
Dengan berbekal bukti CCTV para aparat polisi langsung berpencar mencari Mahen. Ia tak takut kepada Mahen yang mengancamnya agar tidak membunuh Capella.
Tapi meksipun jejak Mahen sudah diketahui namun tetap saja sampai berbulan-bulan ini tak ditemukan keberadaan Mahen.
Delihsa pun mulai menjalankan aksinya. Setelah memulihkan diri beberapa bulan ini ia pun yakin dengan tekadnya ingin membunuh Capella.
__ADS_1
Delisha berdiri di depan rumah Capella dan Januar. Ia akan membunuh wanita itu di rumahnya sendiri. Apalagi saat mendengar kabar bahwa Capella telah mengandung anak Januar makin membuat dleihsa gelap mata dan ingin membunuh Capella.
Delihsa diam-diam masuk ke dalam rumah. Namun saat ia membalikkan tubuhnya ke belakang ternyata sudah ada Januar yang mengacungkan pistol ke dahi Dleihsa.
Delihsa tersentak dan terjatuh. Ia terkejut menatap moncong pistol yang mengarah kepadanya.
"Januar," cicit Delihsa dengan suara serak.
"Sudah gue duga dari dulu jika itu adalah lo. Lo udah ngancam pengen ngebunuh Capella. Lo pikir lo bakal selamat setelah ini?" tanya Januar dengan suara ringannya.
Delisha menghela napas dan berdiri untuk melawan Januar. "Iya itu gue. Gue pengen membunuh Capella."
"Capella sudah tidak ada. Puas lo?" Emosi Januar mulai tidak terkendalikan membuat Dleihsa ketakutan melihat kegelapan di dalam mata Januar.
"Maksud lo?"
"Gak perlu lo tau." Delihsa terus berjalan mundur sementara Januar maju secara perlahan sambil menodongkan pistol.
Delihsa sampai tak bisa bernapas saking ketakutannya.
"Januar maafin gue."
"Gue gak peduli. Gue gak bisa maafin lo." Delihsa putus asa dan terpaksa pasrah. "Lo tau sendiri kan apa yang udah gue lakuin selama ini? Gue gak pernah takut untuk membunuh dan menjebak orang."
"Januar gue bakal teriak."
"Teriak aja kalau lo berani," ancam Januar sambil maju mendekati Dleihsa.
DOR
____________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA