TERPAKSA MENIKAHI NONA MUDA

TERPAKSA MENIKAHI NONA MUDA
KEDATANGAN DIO


__ADS_3

Selepas Kenni ke kantornya, Shiren lalu membereskan meja makan.


Tokk..tokk..tokk.. terdengar suara ketukan pintu.


Shiren segera berlalu membuka pintu itu. Shiren terkejut melihat seorang lelaki yang ia kenal. Lelaki yang menjadi sahabat Kenni semasa kuliah dulu.


"Dio" ucap Shiren kepada lelaki tersebut.


"Hei" (ucapnya tersenyum)


"TERNYATA KENNI SUDAH MENJADI ORANG KAYA, DAN TELAH MENIKAHI SHIREN" pikir Dio


Shiren pun mempersilahkan Dio untuk masuk. Lalu, 2 orang pelayan menyediakan kue dan minuman untuk Dio. Setelah selesai, mereka lalu menggosip Shiren di dapur.


"Hei lihat sih Shiren. Sepertinya dia sekarang berlagak bos di rumah ini. Dia juga yang slalu menyediakan apa apa untuk kebutuhan tuan Kenni" ucap pelayan yang bernama Ica.


"Yah betul. Dan jika lagi makan bersama, dia juga ikut makan. Padahal kan dia cuma ketua pelayan di rumah ini. Saya curiga, pasti dia ingin mendekati tuan Kenni" ucap pelayan yang satunya lagi.


Di ruang tamu, Dio lagi memperhatikan isi dari rumah sahabatnya ini.


"GILA, RUMAH KENNI BENAR BENAR BESAR. PELAYANNYA BANYAK LAGI" katanya di dalam hati, sambil melihat lihat isi rumah.


"Shiren, suami lo mana" tanya Dio


Shiren gelagapan mendengar pertanyaan Dio.


"Ehh. Anu.."


"Oh ya, aku tahu. Dia kan sekarang sedang ke kantornya yah. Ya sudah, gue WA dia dulu" ujarnya memotong pembicaraan Shiren.


Ia pun mengirim pesan WA ke Kenni.


"Halo Ken, Gue sekarang ada di rumah lo. Rencana nya, gue mau bermalam 1 hari disini. Besok baru gue pulang" pesan terkirim untuk Kenni.


Cukup lama Kenni menjawab pesan dari Dio. Dia telah membaca pesan itu, namun dia terlebih dulu harus melapor kepada istrinya. Secara kan, dia pemilik rumah yang sesungguhnya.


Selang beberapa menit, pesan dari Kenni telah sampai ke Dio.


"Iya bro, nggak apa apa kok" balasan dari Kenni.


Setelah membaca pesan dari sahabatnya. Ia lalu bilang kepada Shiren, bahwa Kenni mempersilahkannya untuk menginap di rumah ini. Shiren hanya mengangguk mendengar ucapan Dio.


Sesaat kemudian, Ibu Kenni keluar dari kamarnya. Ia melihat Dio dan Shiren, yang lagi duduk di ruang tamu. Ia pun menghampiri mereka.


"Dio" ucap Wati kepada Dio.


"Eh tante (sambil menjabak tangan Wati), ternyata tante tinggal disini juga" ucap Dio.


"Iya nak. Oh ya, kamu sekarang kerja dimana"

__ADS_1


"Saya kerja di bandung tante. Saya rencananya akan tinggal disini selama 1 hari. Besok saya harus ke Bandung lagi


"Terus kenapa kamu pulang kemari nak" tanya Wati lagi.


"Saya pulang karena saya harus mengurus berkasku disini, untuk di bawah kesana. Dan semuanya telah saya selesaikan" jawab Dio


"Oh..ya sudah, Shiren tolong kamu bawa nak Dio ke kamar tamu, untuk beristirahat"


"Baik bu. Dio, mari gue antar" ucap Shiren mengantar Dio ke kamar tamu.


RUMAH SAKIT


Revi telah bersiap siap untuk melakukan cuci darah lagi. Sebelum melakukan itu, Revi bertanya kepada dokter Ayu.


"Dok, apakah cuci darah ini tidak membahayakan kesalamatan calon bayi saya"


"Ya tentu, itu akan membahayakan si bayi yang ada di kandungan nona" jawabnya.


"Terus kenapa dokter menyuruhku melakukan pencucian darah. Saya kan sudah bilang, bahwa saya tidak akan membunuh calon bayiku ini"


"Maafkan saya nona, ini semua demi kebaikan nona" ucap dokter Ayu.


Dengan kesal Revi berdiri dan meninggalkan dokter Ayu tanpa permisi.


"Oka, mari kita pulang ke apartemen" katanya sambil berjalan.


Sekretaris Oka mengikuti nona mudanya itu. Sampai di mobil, ia lalu membukakan pintu mobil untuk nona mudanya. Dan kemudian, Oka melaju dengan kecepatan sedan.


"Maafkan mama sayang, mama sempat saja membunuhmu. Tapi mama janji, mama akan mempertahankanmu dan kita akan hidup bahagia bersama ayahmu" gumam Revi sambil menangis.


Sesaat kemudian, sekretaris Oka datang dan membawakan obat buat nona mudanya.


"Saya tidak ingin meminum obat itu lagi, Oka" kata Revi ketika melihat obat itu.


"Lebih baik kau membuangnya ke tong sampah" ucapnya lagi.


"Ini demi untuk keselamatan nona" ucap sekretaris Oka.


"Meminum obat itu hanya akan menggugurkan calon bayiku. Lagian kemarin kamu bilang bahwa takdir tidak ada yang tahu. Hanya di ataslah yang menentukan aku hidup atau mati" ujar Revi menangis.


"Maafkan saya nona. Oh ya, kalaw nona tidak ingin lagi cuci darah, lebih baik kita pulang ke rumah saja"


"Yah, saya akan pulang, tapi tidak sekarang. Besok pagi baru kita pulang .Saya nggak mau mata saya terlihat sembab di depan suamiku" ucap Revi.


"Baiklah nona muda"


RUMAH REVI


Sore menjelang senja, Kenni baru tiba di rumahnya. Selesai mandi dan berpakaian, Ia turun dan menemui sahabatnya yang sedang merokok di halaman belakang.

__ADS_1


"Hei bro" ucap Dio ketika melihat Kenni.


Kenni pun duduk di bangku taman bersama dengan Dio.


"Lo sekarang hebat ya bro" ucap Dio membuka pembicaraan.


"Iya. Oh ya, btw lo sudah menikah atau belum"


"Belum bro" jawabnya singkat


"Ya elah, lo itu masih sama seperti dahulu ya. Suka memainkan cewek cewek dan suka ke diskotik atau ke bar" ucap Kenni.


"Yah. Seharian gue kerja, terus kalaw malam gue menghabiskan waktu bersama cewek cewek disana. Bahkan gue membayar mereka untuk tidur bersama gue"


"Astaga, lebih baik lo buru buru menikah deh. Jangan sampai lo ngehamilin anak orang"


"Nggak mungkin mereka bisa hamil, kan mereka sering berbuat begituan kepada orang berduit"


"Terserah lo deh bro, sekarang kita masuk deh, karena hari mulai malam" ucap Kenni sambil berjalan masuk ke dalam.


Malam harinya, Shiren menyiapkan makanan untuk makan malam. Lalu datang Dio dan duduk di meja makan itu.


"Wow..makanannya terlihat lezat" ucap Dio girang.


Shiren hanya tersenyum mendengar ucapan Dio.


Beberapa menit kemudian, Kenni dan ibunya datang dan duduk bergabung di meja makan.


"Bro, kita boleh makan nggak sekarang. Soalnya gue nggak tahan lagi dengan aroma masakan istrimu" ujar Dio yang slalu menyebut Shiren sebagai istri Kenni.


Kenni sedikit terkejut mendengar ucapan Dio, namun dia tak mengubris Dio, karena besok dia akan pulang.


"Yah, silahkan di makan. Shiren, mari duduk"


Shiren pun duduk di samping Kenni, sambil makan malam bersama.


Setelah makan, Dio lalu menyandarkan tubuhnya di kursi saking kenyangnya. Sementara Shiren belum berhenti makan.


"Gila bro, makanan istrimu enak banget" ujar Dio.


Mendengar itu, Shiren segera ingin berbicara bahwa dia bukanlah istri dari sahabatnya ini.


"Ehm..maaf, tapi dia..


"Husss.. kalaw lagi makan itu dilarang berbicara. Nanti keselek loh. Ya sudah, gue ke kamar dulu"


ucap Dio memotong pembicaraan Shiren, dan bergegas menuju ke kamarnya.


Kenni dan Shiren saling bertatapan ketika Dio telah pergi.

__ADS_1


BERSAMBUNG..🌹🌹


__ADS_2