
Sore harinya waktu jam pulang kantor, Bara memberitahukan Inez untuk menunggunya karena dia sendiri yang akan menjemputnya.
Sampai di kantor sang istri, Bara sudah melihat istrinya berada di tempat biasa ia menurunkan sang istri, tempat yang sedikit jauh dari lobby kantor karena permintaan dari Inez sendiri.
"Kok nunggu di sini," sahut Bara saat Inez baru saja masuk ke mobil dengan terburu-buru takut jika ada rekannya yang melihat.
"Udah gak papa," balas Inez.
"Sekarang kita jalan ya," sambung Inez lagi.
Bara pun melajukan mobilnya membelah ramainya kendaraan yang melintas karena sekarang waktunya para pegawai kantor untuk pulang dan beristirahat di rumah mereka.
Setelah sampai di mansion, Daniel sudah menunggu mama dan papa nya di taman depan dengan mbk indah.
"Loh sayang kok di sini?" tanya Inez saat baru saja keluar dari mobil.
"Mama lama banget sih," rengek Daniel dan menuju ke pelukan Inez.
"Maafin mama ya sayang, mama kan harus kerja tadi." sahutnya mencoba memberi pengertian kepada Daniel.
"Ada apa ini sayang? Kok pakek peluk mamanya segala," sahut Bara yang juga menghampiri Inez dan Daniel setelah memarkirkan mobilnya.
"Papa sama mama lama banget, Niel kan udah nunggu lama banget." sewot Daniel turun dari pelukan sang mama.
"Aduh anak papa ngambek ya?" sahut Bara kemudian mengendong sang anak dan masuk ke dalam mansion.
"Ayo mbk indah," ajak Inez karena Bara dan Daniel sudah duluan meninggalkannya.
"Iya, nyonya."
Sebenarnya Inez tidak enak dengan panggilan mbk indah tadi dan juga panggilan dari asisten rumah tangga lainnya karena Inez tidak suka jika ada yang memanggilnya seperti itu.
Tapi semuanya sangat segan dengan Inez dan tidak berani untuk memanggil nama nya seperti sebelumnya karena status Inez sekarang yang menjadi seorang istri dari Bara Nahlu Wijaya yang juga merupakan majikan mereka.
Mau tidak mau Inez pun menyerah dan membiarkan mereka memanggil seperti kemauan mereka saja.
.
Bara sekarang berada di kamarnya dengan Daniel yang asyik nonton televisi di kamar papa nya.
"Papa mandi dulu ya sayang," sahut Bara dan mendapat anggukan dari sang anak.
Segera Bara masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan badannya yang sudah lengket oleh keringat.
Saat Inez masuk dia tidak melihat sang suami berada dan hanya melihat Daniel saja yang sedang asyik degan kartun di televisi.
"Papa mana sayang?" tanya Inez duduk di samping Daniel dan mengelus rambut hitamnya.
"Lagu mandi ma," balas Daniel dengan mata tetap fokus melihat ke arah televisi namun tangannya sedang menunjuk ke arah kamar mandi seperti memberitahukan kalau papanya sedang berada di kamar mandi.
Inez pun di buat gemas oleh tingkah bocah kecil tersebut karena sangat cerdas dan menggemaskan.
Tak beberapa lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Bara keluar dari sana dengan wajah lebih segar dan fresh.
"Udah kak?" sahut Inez.
"Udah, kamu segera mandi sana."
__ADS_1
"Iya."
Setelah itu bergantian Inez yang akan menyegarkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.
Inez sudah selesai mandi dan bersiap-siap, sekarang dia berada di dapur untuk memasak buat makan malam mereka.
Di bantu oleh mbok Ijah dan mbk indah mereka bertiga sangat asyik dengan obrolan mereka tanpa tahu bahwa di meja makan sudah ada dua laki-laki yang menunggu makan malam tersaji.
"Wah ada yang udah nunggu nih," sahut Inez saat keluar dengan makanan di piring nya.
"Mama lama banget sih," sahut Daniel lagi dengan menyilangkan tangannya persis seperti Bara.
"Maafin mama ya sayang, ini loh makanannya!"
"Iya deh, Daniel maafin!" sahut Daniel saat melihat banyaknya makanan yang di siapkan oleh sang mama.
Inez memang masak banyak hari ini, dia berniat untuk membaginya kepada asisten rumah tangga juga untuk di bawa pulang buat makan dengan keluarganya.
Karena ada beberapa asisten di sini tinggal di dekat sini dengan keluarga mereka masing-masing.
Mereka bertiga pun makan dengan lahap, sampai Daniel harus nambah makanannya karena menurutnya masakan mamanya sangat enak sekali.
"Ma mau nambah," sahut Daniel dengan menyodorkan piring ke arah Inez.
Inez sangat gemas sekali dengan tingkah bocah kecil satu ini.
"Sini sayang."
Inez pun mengambil piring tersebut dan memberikan sedikit nasi, takutnya jika banyak dan Daniel tidak bisa menghabiskan akan sia-sia nasinya.
"Nez kok makannya dikit?" tanya Bara yang baru saja membuka mulutnya saat melihat nasi Inez yang hanya sedikit sekali.
Tadi pagi memang Inez sudah merasa tidak enak badan namun ia tidak memberitahukan kepada Bara takut dia akan khawatir atau hanya perasaan nya saja ya.
Saat makan siang tadi dia juga hanya makan sedikit, entah kenapa malam hari ini Inez merasa sangat drop dari di dapur tadi dia menguatkan untuk terlihat biasa saja namun di dekat Bara dia malah seperti tidak memiliki tenaga sama sekali.
"Kita ke rumah sakit ya," ucap Bara.
"Enggak usah kak," sahutnya kembali.
Bara pun tidak memaksa namun dia menyuruh Inez untuk minum obat agar tidak terlalu sakit lagi.
Setelah acara makan malam selesai mereka kembali ke kamar, Bara dan Inez kembali ke kamar mereka dan jangan lupa Daniel yang juga tetap ikut dan melanjutkan serial kartun favoritnya.
Sedangkan Inez berada di balkon sendirian merasakan udara malam yang sejuk dan dingin.
"Kok di luar sih," sahut Bara berdiri di samping Inez.
"Masuk yuk," ajaknya.
"Aku masih mau di sini kak," balas Inez.
Bara pun langsung memeluk sang istri dari belakang dan membuat Inez terkejut.
"Kak jangan gitu nanti Daniel lihat loh," sahut Inez sedikit malu dengan perlakuan sang suami.
"Gak akan, dia lebih fokus sama kartunnya!" ucap Bara kemudian membalikkan tubuh Inez agar berhadapan dengannya.
__ADS_1
Bara tidak membuang-buang waktu segera ia mencium bibir tipis sang istri secara lembut dan tidak membiarkan Inez untuk menolaknya.
Setelah beberapa saat Bara pun melepaskan bibirnya karena Inez yang sudah kehabisan nafas.
"Kak jangan gitu nanti Daniel lihat," gumam Inez.
"Gak akan Nez!" sahut Bara.
"Lagi ya," izin Bara sebelum memulai aksinya lagi.
"Enggak!" ucap Inez.
"Kenapa Nez?" tanya Bara karena sang istri tidak mau.
"Nih kamu lihat gara-gara kamu bibir aku jadi kayak gini!" gerutu Inez sambil menunjuk bibirnya yang bengkak karena gigitan Bara tadi.
"Astaga, bagus sekali maha karya dari Bara Nahlu Wijaya!" ucap Bara dengan bangganya.
Sedangkan Inez hanya bisa melongo saja dengan ucapan sang suami.
"Mama papa!" panggil Daniel.
"Iya, sayang." sahut Inez.
"Udah ayo masuk kak," ajak Inez.
"Ada apa?" tanya Inez saat baru saja sampai di dalam dan duduk di samping Daniel.
"Dari mana aja sih, kok lama banget!" pekiknya karena dari tadi di tinggal oleh mama dan papanya.
"Tadi ada urusan sebentar sayang," balas Bara duduk di samping Inez dan menarik pinggangnya.
"Mama kenapa bibirnya kok merah dan bengkak kayak gitu?" tanya Daniel dengan polosnya.
Sedangkan Inez yang ditanya pun bingung harus menjawab apa karena ini semua adalah perbuatan Bara.
"Ini tadi bibir mama kebentur sayang," alasan Inez.
"Oh, hati-hati ma!" peduli Daniel.
"Iya sayang, makasih ya." ucap Inez.
"Iya, ma."
Kemudian mereka pun menemani Daniel menonton serial kartun kesukaan meski tidak terlalu suka namun untuk sang anak mereka harus suka.
"Nez gak tahan nih," bisik Bara menggoda Inez.
"Ih, kak apaan sih!" sewot Inez merinding mendengar ucapan sang suami tadi, Inez baru tahu ternyata sang suami sangat lah mesum.
Inez merasa malu dengan pernyataan sang suami tersebut bagaimana bisa dia memberitahukan sesuatu hal yang sangat tidak baik jika Daniel mendengarnya bagaimana coba.
Inez bingung dengan Bara karena terkadang sikap suaminya sangat romantis tapi kadang juga sangat cuek sekali.
Andai sang suami benar-benar mencintainya maka Inez akan sangat senang dengan perlakuan yang dia dapatkan ini.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....