Terpikat Pesona Duda Anak 1

Terpikat Pesona Duda Anak 1
BAB 61_Sensitif Sekali


__ADS_3

"INEZ MASUK!" tegas Bara dengan suara beratnya membuat Inez tiba-tiba takut dan akhirnya memilih untuk masuk ke mobil sang suami.


Tanpa Inez tahu ternyata di sana rekan rekan kerjanya yang berada di halte bus tidak sengaja melihat saat Inez masuk ke dalam mobil mewah namun sayang mereka tidak tahu siapa orang di balik kemudi mobil tersebut karena gelap.


"Eh eh lihat deh, itu bukannya Inez ya?" ucap salah satu karyawan yang soalnya di sana juga ada Mala.


Mala yang melihat hal itu pun seperti setan kepanasan karena melihat Inez yang masuk ke dalam mobil mewah, bahkan gajinya saja tidak akan cukup untuk memperbaiki mobil tersebut.


"Alah itu pasti sugar daddy nya atau kalau enggak klien nya malam ini." sindir Mala membuat nama Inez semakin jelek di kantor.


"Kamu beneran Mal? Dari mana kamu tau emangnya?" tanya salah satu rekan kerjanya juga.


"Alah itu mah udah tersebar bukan kalau dia tuh punya anak haram jadi gak kaget kalau itu klien nya, sikapnya aja kayak polos tapi ternyata punya anak haram!" ucapnya dan rekan kerja lainnya pun percaya begitu saja.


🥕🥕🥕


Sedangkan Bara melajukan mobilnya menuju ke mansionnya dengan kecepatan sedang, sampai di sana Bara tak langsung membukakan pintu mobilnya sehingga Inez yang ingin keluar pun di buat susah.


"Kak buka ih!" ucap Inez dengan nada kesalnya.


"Kamu marah sama aku." tanya Bara.


"Pikir aja sendiri!" sewot Inez.


"Oh marah beneran to," ucap bara setelah itu pun membukakan pintu mobil tersebut dengan tombol di sana.


Segera Inez keluar dan masuk ke dalam mansion, baru saja masuk dia sudah melihat sang mertua duduk di ruang keluarga dengan Daniel yang sibuk memainkan banyak mainan di sana.


"Mama!" pekik bocah tersebut saat melihat mamanya yang sangat dia rindukan itu.


"Anak mama," balas Inez menciumi seluruh wajah sang anak.


Mama laras dan papa Dion pun di buat terharu dengan kedekatan anak dan ibu tersebut yang menurut mereka sangatlah kompak.


"Lihat pa, ternyata Bara tidak salah memilih ibu sambung untuk cucu kita ya." ucap mama Laras terharu.


"Iya ma, papa senang sekali melihat mereka terlihat senang. Udah ya jangan nangis terus nanti cantiknya ilang loh," ucap papa Dion.


"Ih papa mah."


"Pa, ma." sapa Inez menyalimi mertuanya.

__ADS_1


"Udah lama datang nya? Kok gak ngabarin sih kan biar Inez pulang lebih awal tadi," ucap Inez merasa bersalah karena mertuanya harus menunggu dirinya.


"Gak papa kok sayang, mama sama papa ke sini cuma mau nengokin cucu Oma yang sangat tampan ini hang sekarang nih jarang banget pulang ke rumah Oma karena ada mama nya," ucap mama laras.


"Maaf ya Oma, Niel janji bakalan sering ke rumah Oma nantinya sama mama Inez." ucap Daniel dengan sungguh-sungguh.


"Bener ya?"


"Iya Oma, janji." ucap Daniel.


"Yeyyyy!"


"Ada apa ini?" tanya Bara yang baru saja masuk ke dalam namun langsung mendengar kegaduhan.


"Mama papa! Kok gak ngabarin mau dateng?" sahut Bara.


"Mama papa kangen sama cucu sendiri emang gak boleh?!" ucap mama Laras.


"Aya boleh aja sih, oh ya udah makan malam belum? Kalau belum nih Bara bawain bakso tadi waktu jalan pulang sama Inez untuk kita beli lebih loh." ucap Bara menunjukkan plastik berisikan bakso lagi di sana.


Entah kenapa Inez beberapa hari ini terus saja pingin bakso sehingga mau tak mau Bara pun membelikannya, Inez juga sudah janji bahwa ini adalah yang terakhir.


"Wah boleh juga tuh," sahut papa Dion.


Setelah itu mereka berdua pun bersih-bersih diri sebentar karena memang tubuh mereka sangat gerah dan butuh kesegaran.


Setelah ritual mandi selesai, Inez berencana untuk turun namun di cegat oleh Bara.


"Nez bentar," ucap Bara.


"Ada apa?"


"Kamu sudah tahu bukan tentang kerjasama itu," ucap Bara.


"Iya." jawabnya singkat.


"Dan kamu marah karena hal itu?" tanya Bara lagi.


"Enggak."


"Nez, kalau saya ngajak bicara maka lihat muka saya." tegas Bara.

__ADS_1


Inez pun sedikit takut dan akhirnya melihat wajah sang suami, entah dorongan dari mana dia langsung menubruk dada bidang sang suami menumpahkan semua rasa kesal dan marahnya.


Dia memang ada rasa kesal dengan sang suami karena tidak memberitahunya tentang kerjasama itu, namun yang membuatnya lebih sedih lagi adalah kabar-kabar burung tentang dirinya dan juga keluarga kecilnya membuat hatinya sakit.


"Kenapa?" tanya Bara malah membuat tangis Inez pecah.


Bara segera mengeratkan pelukannya terhadap sang istri, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh sang istri.


Setelah di rasa sang istri sudah tenang baru lah Bara sedikit demi sedikit menegakkan tubuh Inez untuk mencari tahu ada masalah apa.


"Maaf, baju kamu jadi basah." ucap Inez merasa bersalah, dia tidak tahu kenapa beberapa hari ini dia sangat sensitif sekali.


"Enggak papa kok, kamu ada masalah?" tanya Bara, Bara juga merasa perubahan sikap sang istri yang terlihat sangat sensitif sekali akan suatu hal yang menurutnya kecil menjadi sangat besar.


"Aku gak ada apa-apa kok, mungkin cuma capek aja. Besok juga udah biasa aja," ucap Inez kemudian mengajak sang suami untuk turun karena keluarga lainnya pasti sudah menunggu lama.


Bara tak banyak tanya dan hanya menurut saja, nanti malam dia akan berbicara dari hati ke hati sang sang istri.


Setelah memakan baksonya semua orang sangat senang dan bercerita banyak hal, atau yang lebih tepatnya mama Laras yang bercerita karena yang lainnya hanya mendengarkan.


Sedangkan Bara sekarang ada di ruang kerjanya bersama dengan papa Dion.


"Papa dengar kamu bekerja sama EBS media ya?" tanya papa Dion.


"Iya pa," balas Bara singkat.


"Kenapa?" tanya papa Dion menyelidik.


Sebenarnya beliau tau soal mantan dari menantunya yang menginvestasikan saham ke EBS media namun papa Dion tidak menyangka sang anak akan melakukan hal yang sama bahkan lebih besar dari nilai saham mantan menantunya itu.


"Gak kenapa-kenapa, Bara cuma pingin mengeksplor aja kan Wijaya grup juga tidak pernah ke ranah itu jadi bara cuma mau cari peluang aja." ucap Bara yang memang ada benarnya juga tapi papa Dion bukanlah orang bodoh yang bisa terperdaya dengan ucapan sang anak.


"Terserah kamu, tapi karena kamu sudah masuk ke sana jadi papa minta sama kamu untuk jaga istri kamu karena papa gak yakin dia akan baik-baik saja setelah ini." ucap papa Dion kemudian meninggalkan ruang kerja sang anak.


Bara yang mendengar itu sedikit bingung dengan ucapan sang papa namun entah dia merasa papa nya pasti tau sesuatu hal.


"Aku harus segera masuk ke dalam perusahaan itu, pasti ada yang tidak beres." tegas Bara.


Kemudian dia pun menelepon mike dan menyuruhnya untuk segera mengurus urusan nya agar Wijaya grup bisa segera masuk ke sana.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2