
"kita makan yuk," ajak Inez kepada anak dan suaminya yang sedang asyik bermain.
Inez memang tadi sempat memasak sebentar dan meninggalkan Bara dan Daniel berduaan untuk bermain.
"Iya mama," sahut Daniel kemudian berdiri dan menuju ke mamanya dan memegang tangan Inez.
"Ayo kak."
"Iya Nez."
Bara pun mengikuti Daniel dengan memegang tangan Inez di sebelahnya sehingga sekarang tangan Inez sudah penuh dengan Bara dan Daniel yang memegangnya.
Inez hanya bisa tersenyum simpul dengan kelakuan anak dan suaminya ini sungguh manja sekali jika bersama dengan Inez.
Setelah sampai di meja makan, Inez pun mengambilkan makanan untuk Bara terlebih dahulu kemudian di susul dengan mengambil makanan untuk Daniel dan dia yang terakhir.
Makan malam ini sangat tenang dan harmonis seperti biasa Daniel terkadang meminta untuk mamanya menyuapinya.
Bara yang melihat istrinya makan tidak banyak pun berinisiatif menyuapi Inez agar Inez makan banyak karena dari tadi Inez terus menyuapi sang anak.
"Aaaaaa!" ucap Bara sambil memegang sendok yang sudah penuh dengan nasi dan lauk pauk.
"Kak apaan sih?"protes Inez dengan tingkah laku suaminya.
"Kamu harus makan teratur Nez jangan terus menyuapi Daniel aja," sahut Bara.
"Aku bisa makan sendiri kak."
"Enggak, makan sekarang juga, ini aaaaa!"
Inez pun menerima suapan dari sang suami karena jika tidak maka Bara pasti tetap kekeuh untuk menyuapinya.
Makan malam yang hangat sudah selesai, sekarang waktunya Daniel untuk belajar dengan ditemani oleh Inez.
Mengerjakan tugas dari sekolah sehingga Inez menyuruh Daniel untuk belajar, memang setiap hari Inez selalu menyuruh Daniel untuk meluangkan waktu untuk belajar dan tidak memberikan bermain hp terlalu sering.
Satu jam berlalu, Daniel sudah selesai dalam belajar dan sedang bersiap-siap untuk tidur di temani oleh Inez.
Sedangkan Bara sedang berada di ruang kerjanya setelah makan malam tadi karena ada beberapa berkas yang harus ia urus karena beberapa hari ini dia harus ke negara Y mengurus masalah kemarin.
"Mama!" panggil Daniel kepada Inez saat dia sudah berbaring di kasurnya.
"Iya ada apa sayang?" sahut Inez yang sedang menepuk pelan paha Daniel.
"Mama minggu depan sekolah Niel ngadain rekreasi bareng sama orang tua masing-masing, tahun ini Niel mau ikut ya karena dari tahun-tahun kemarin gak pernah ikut." ucap Daniel dengan wajah sedihnya.
"Kenapa gak pernah ikut sayang?" tanya Inez yang juga bingung mengapa Daniel tidak pernah ikut kan ada papanya.
"Karena papa selalu saja sibuk di kantor dan tidak ada waktu untuk ikut acara seperti itu," sahut Daniel dan faktanya memang begitu.
Mendengar hal itu Inez pun ikut sedih, bagaimana bisa anak sekecil ini di perlakukan seperti itu.
Dia tahu kalau Bara pasti sibuk dengan pekerjaannya tetapi dalam masalah anak mengapa dia tidak bisa meluangkan waktunya sedikit saja, sedih rasanya Inez mendengar hal itu.
__ADS_1
"Ya udah mama bicarain dulu ya sama papa," sahut Inez membuat mata Daniel berbinar.
"Beneran ma?"
"Iya sayang, sekarang tidur ya."
Daniel pun berbaring dengan selimut yang sudah ada di atas tubuhnya, Inez melihat Daniel sangat senang dan gembira kalau bocah tersebut juga gembira.
Setelah mastikan Daniel sudah tertidur baru lah Inez pun beranjak dari kamar sang anak dan pergi ke kamarnya ternyata Bara belum juga kembali.
Inez Menganti bajunya dan bersiap-siap untuk tidur, saat baru saja membaringkan tubuhnya Bara pun masuk dengan santainya.
Tapi entah mengapa saat Bara masuk membuat Inez sangat kesal hingga dia mengabaikan suaminya.
"Kok udah tidur Nez?" ucap Bara namun tidak mendapat jawaban dari Inez.
Inez malah membalikkan tubuhnya dan membelakangi sang suami, Bara sadar bahwa istrinya sepertinya sedang marah padanya.
"Kenapa?" tanya Bara yang sudah berbaring juga dengan pakaian tidurnya.
Inez pun seketika menangis sedih, dia tidak bisa membayangkan jika dia ada di posisi Daniel, bahkan untuk memberitahukan soal rekreasi sekolah pun Daniel harus menunggu ada Inez saja tanpa adanya Bara yang notabennya papanya sendiri.
Bisa di lihat dari raut wajah Daniel yang sangat sedih saat tahun kemarin tidak bisa mengikuti rekreasi tersebut.
"Kenapa Nez?" tanya Bara panik saat melihat istrinya menangis membelakanginya karena bahu sang istri yang bergetar menandakan sang empunya sedang sedih.
Inez pun membalikkan tubuhnya dan melihat lekat mata indah suaminya yang sangat digilai oleh semua wanita ini.
"Kak, apa kakak sayang sama Daniel?" tanya Inez sangat tiba-tiba.
"Terus apa Daniel pernah meminta kakak untuk menemaninya rekreasi?" tanya Inez menyinggung rekreasi.
"Itu i... iya, menapa emangnya?"
"Astaga, terus kamu pernah ikut rekreasi tersebut?"
"Enggak, tapi itu karena aku sibuk dengan pekerjaan Nez!" asalan Bara.
"Kak, tadi Daniel memberitahukan aku kalau minggu depan di sekolahnya ada rekreasi dan Daniel sangat ingin ikut untuk tahun ini, dia ingin kita bisa ikut kak!" ujar Inez.
"Minggu depan?"
"Iya."
"Sepertinya minggu depan aku ada acara Nez untuk undangan dari rekan bisnis yang sangat penting," ucap Bara.
"Iya tebakan aku memang benar pasti kamu gak akan bisa ikut, kalau begitu biar aku aja ya kak yang ikut!" tegas Inez.
"Maaf Nez."
"Iya kak gak papa kok, ya udah tidur."
Setelah mengatakan itu Inez pun membelakangi Bara kembali dan mencoba untuk tidur meski dia sangat sedih namun dia juga tahu kesibukan seorang Presdir seperti apa.
__ADS_1
Bara pun merasa bersalah karena selalu saja tidak pernah memperdulikan Daniel dengan lebih karena dia juga harus bekerja.
.
Keesokannya paginya, Bara berangkat terlebih dahulu karena dia ada meeting dadakan di kantor, sedangkan di meja makan sekarang hanya ada Daniel dan juga Inez.
Daniel terlihat sangat murung pagi ini bahkan dia menangis saat bangun karena tidak melihat papanya.
"Makan ya sayang," ucap Inez.
"Gak mau ma, maunya makan sama papa!" teriak Daniel dengan wajah marahnya.
Inez yang di teriaki pun terkejut pasalnya dia jarang sekali melihat Daniel berteriak padanya dengan wajah marah persis seperti hari ini.
Sebenarnya Inez tidak cengeng, tetapi dia merasa sedih karena Daniel malah seperti membentaknya.
Entah beberapa hari ini memang moodnya kurang enak makanya dia sering sekali gampang tersinggung dan sedih seketika.
Padahal dia adalah salah satu tipe orang yang tidak mudah tersinggung apa lagi pekerjaannya adalah seorang wartawan, mungkin efek kedatangan tamu kali ya.
Inez beranjak dari kursinya setelah mengambilkan makanan, dia menuju ke dapur untuk sekedar menenangkan pikirannya.
Daniel yang melihat mamanya ke dapur pun segera tersadar bahwa dia baru saja meneriaki mamanya, pasti mamanya sedang sedih di sana.
Dengan langkah gontai Daniel pun menghampiri mamanya yang ternyata sudah menangis.
"Mama, maaf!" ucap Daniel.
Inez pun segera mengusap air matanya dan mencoba terlihat ceria di depan anaknya.
"Kenapa sayang, mama gak papa kok."
"Mama beneran gak papa?" tanya Daniel kembali memastikan bahwa mamanya tidak apa apa.
"Iya sayang, mama tadi cuma habis ngupas bawang terus tangannya mama gak sengaja kena mata mama ya jadi perih deh," alasan Inez dan Daniel pun percaya.
Inez dan Daniel pun kembali ke meja makan dan sarapan bersama sebelum berangkat.
"Mama gimana? Di bolehin gak sama papa? terus papa mau ikut kan!l?" tanya Daniel saat mereka baru saja selesai makan.
"Maaf sayang, kayaknya untuk minggu depan papa gak bisa ikut karena ada meeting penting tapi tenang mama pasti ikut!" sahut Inez.
"Beneran ma?" tanya Daniel memastikan ya walaupun dia sedih karena sang papa tidak bisa ikut lagi.
"Iya sayang."
"Yeay, makasih ma."
"Sama-sama sayang."
Setelah itu mereka pun pergi dan menuju ke tempat tujuan mereka semuanya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....