Terpikat Pesona Duda Anak 1

Terpikat Pesona Duda Anak 1
BAB 43_Papa Sadar


__ADS_3

Setelah merasa tubuhnya sedikit enakan Bara pun bangun terlebih dahulu dari pada Inez yang masih saja tidur meringkuk seperti seorang bayi.


Bara berusaha melepaskan pelukan sang istri, setelah bisa lepas dia segera keluar dari kamar istirahat dan menuju ke arah mama Feby dan Faisal yang sedang berjaga di dekat ranjang papa.


"Ma, sal." sapa Bara membuat dia orang yang dipanggil pun menoleh ke arahnya.


"Bara," ucap mama.


"Kakak," bergantian Faisal yang memanggilnya.


"Udah bangun?" tanya mama Feby dan mendapat anggukan dari Bara.


"Udah ma mending mama sama Faisal tidur aja di kamar bareng Inez," sahut Bara.


"Enggak apa-apa kok nak mama di sini aja," balas mama.


"Mama, kalau gak istirahat sama sekali bisa sakit terus nanti papa pasti sedih kalau bangun tapi mamanya sakit!" bujuk Bara dan mama pun mengikuti ucapan menantunya tersebut untuk beristirahat ditemani oleh Faisal.


Sekarang hanya Bara sendirian yang menjaga papa Yohan dengan iPad yang ada ditangannya dan sesekali ia mengecek kondisi perusahaan meski pun ia tidak bisa langsung hadir.


Sudah malam gulita dan Bara tetap saja fokus menjaga papa mertuanya dan juga mengecek perusahaannya, sesekali ia menanyakan kabar Daniel kepada mama Laras.


Untung saja mama Laras bilang kalau Daniel sangat happy dan mengizinkan Bara untuk menengok kakeknya yang sedang sakit.


Saat Bara sedang fokus dengan Ipad-nya tiba-tiba terdengar suara dari ranjang rumah sakit.


"Ba....ra," ucap papa lirik.


"Papa," balas Bara namun mencoba memelankan suaranya agar tidak membangunkan semua orang.


"Papa udah sadar?" tanya Bara sembari menghampiri ke ranjang dan mengecek kondisi papanya.


"Hmm, papa udah gak papa kok nak." jawab papa Yohan dengan menganggukkan kepalanya.


"Syukur kalau begitu," sambung Bara.


"Nak kamu Kok kamu bisa di sini?" tanya papa Yohan sedikit bingung.


"Iya pa, tadi waktu mendengar papa sakit Inez langsung panik dan meminta untuk segera datang," jawab Bara.


"Makasih ya nak," ucap papa dengan serius.


"Iya pa, papa mau apa biar Bara yang ambilkan," sahut Bara.


"Enggak nak, oh ya mama, Faisal sama istri kamu mana sekarang nak?" tanya papa Yohan kepada Bara.


"Mereka sedang ada di ruang istirahat pa," jawab Bara sambil menunjuk ruangan istirahat untuk keluarga pasien.


"Ya udah gak usah di bangunin nak biar mereka istirahat pasti capek ngurusin papa yang sakit-sakitan ini," ucap papa Yohan merasa tidak enak.


"Papa gak boleh ngomong begitu, mending papa istirahat aja ya." ucap Bara.


"Iya nak."


Papa Yohan pun mulai menutup matanya untuk beristirahat dan Bara pun menjaga papa mertuanya dan keluarganya yang lain yang sedang tidur.


Karena ngerasa lelah juga tanpa sadar Bara pun tertidur di sofa dengan iPad di tangannya.


Hari sudah menjelang pagi sekitar jam 6 pagi, Inez merasa ingin ke kamar mandi pun bangun dari tidurnya.


Namun saat bangun ia melihat ada sang mama dan Faisal di sampingnya yang juga sedang tidur lelap.


Inez yakin bahwa saat ia tidur Bara yang tidur dengannya namun saat membuka mata ia tak menemukan Bara di sampingnya.


Inez pun bangun dari tidurnya dan keluar dari ruangan tersebut, saat baru saja keluar dia sudah melihat Bara yang tertidur di sofa.


Inez pun mendekatkan dirinya kepada Bara, lama ia menatap lekat wajah sang suami yang dibilang sangat tampan maka dari itu tak heran banyak wanita yang memuja mujanya.


"Udah puas ngelihat nya?" sahut Bara dengan mata masih tertutup.


Inez yang mendengar ucapan itu pun segera mengalihkan pandangannya dan menjauhkan tubuhnya dari Bara.


Bara membuka matanya dan melihat Inez yang sepertinya sedang salah tingkah sendiri.


"Ih apaan sih," sahut Inez.


Bara pun hanya tersenyum simpul melihat tingkah sang istri tersebut.


"Udah bangun?" tanya Bara dengan mendekat ke arah Inez.


"Udah, kakak kenapa kok tidur di sini?" tanya Inez.

__ADS_1


"Gak papa Nez, biar mama sama Faisal aja yang istirahat."


"Makasih ya kak."


"Iya."


Inez belum menyadari tingkah mereka berdua sedang diawasi oleh seseorang yang sudah bangun di ranjang rumah sakit.


Karena saat bangun tadi Inez langsung fokus dengan sang suami yang tertidur di sofa tanpa melihat sekeliling.


"Aduh mesranya!" sindir papa Yohan yang sedang melihat kemesraan anak dan menantunya tersebut.


Inez pun melihat ke arah ranjang dan menampakkan papanya yang sudah siuman setelah operasi kemarin.


"Papa!" pekiknya membuat mama Feby dan Faisal bangun bersamaan.


"Papa udah bangun?!" lanjut Inez yang sekarang berada di samping ranjang papanya.


"Iya sayang, papa udah baikan kok," balas papa Yohan.


Mama Feby dan Faisal keluar dari kamar dan segera menuju ke arah papanya yang sudah sadar.


"Papa! Papa udah sadar?" sahut mama Feby merasa khawatir dengan keadaan sang suami.


"Iya ma, papa udah gak papa kok," balas papa Yohan.


Akhirnya mereka semua bisa bernafas lega karena papa sudah bangun dari tidurnya setelah operasi kemarin.


"Makasih, pa." Mama Feby memeluk erat sang suami yang masih berbaring di ranjang.


"Makasih kenapa ma?" tanya papa Yohan.


"Ya karena papa masih bertahan mama dari kemarin selalu berfikir negatif tau, mama takut sekali pa!" ucap mama Feby dengan menitipkan air matanya.


"Udah mama gak usah sedih lagi ya karena papa udah gak papa kok," sahut papa Yohan mencoba menenangkan sang istri.


Beberapa hari sudah mereka di sini dan suasana mulai kondusif papa Yohan sudah di periksa oleh dokter dan dokter juga berkata bahwa penyembuhan papa sangat signifikan dari pada dengan orang-orang pada umumnya.


"Inez, Bara!" panggil papa Yohan.


Inez dan Bara pun segera menoleh ke arah papa Yohan secara bersamaan.


"Ada apa pa?" sahut Inez.


Inez dan Bara pun menghampiri papanya dan segera duduk di samping papa.


"Ada apa pa?"


"Nak, kamu kan udah beberapa hari ini di sini," ucap papa mendapat anggukan dari Inez.


"Lebih baik kalian kembali saja ke kota, Inez kamu gak mungkin izin terus sama perusahaan, terus inget Bara juga harus mengelola perusahaannya, dia gak harus terus ada di sini nak, dan jangan lupa kalian memiliki Daniel yang pasti menunggu kepulangan kalian," ujar papa Yohan.


Bara paham dengan ucapan papanya tersebut, beliau pasti mengkhawatirkan pekerjaan dia dan Inez dan juga Daniel.


"Iya pa, Inez paham maksud papa biar Inez rundingin dulu ya pa sama kak Bara," jawab Inez yang mendapat anggukan dari sang papa.


"Iya sayang."


Memang Bara dan Inez sudah hampir 4 hari berada di rumah sakit menemani papa Yohan, papa Yohan tidak tega kalau anak dan mantunya harus rela cuti gara-gara menemaninya.


"Kak kita pulangnya besok ya, boleh kan?" tanya Inez saat mereka sudah berada di luar kamar papanya dan duduk di tempat tunggu yang kebetulan sepi akan pengunjung.


"Iya Nez, boleh kok. Kapan aja kalau kamu ingin pulang aku siap!" sahut Bara.


"Makasih ya kak." Inez mengucapkan makasih dengan memeluk erat sang suami itu pun tanpa dia sadari.


"Iya sayang."


Setelah berunding akan kepulangannya Inez pun memberitahukan keluarganya bahwa ia akan pulang besok pagi, papa Yohan dan mama Feby pun mengiyakan keinginan anaknya.


.


Keesokan harinya, Inez dan Bara sudah pamit kepada keluarga mereka dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke kota.


Karena perjalanan yang sedikit panjang Inez pun memilih untuk tidur, sedangkan Bara masih fokus untuk menyetir dan sesekali memastikan kalau tidur Inez tidak terganggu.


Hampir empat jam lebih perjalanan karena kondisi jalanan yang macet sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama pula.


Sekarang mereka sudah sampai di depan mansion mereka, pak Yanto membukakan gerbang nan menjulang tinggi tersebut.


"Selamat siang tuan," sapa pak Yanto.

__ADS_1


"Siang pak."


Karena membutuhkan waktu yang cukup lama sekitar empat jam an sehingga saat Bara dan Inez sampai hari sudah siang hari di mansion mereka.


Saat sudah memarkirkan mobilnya, Bara pun turun dan segera menggendong Inez untuk membaringkannya ke kamarnya.


Bara menggendong Inez dengan hati-hati agar tidak membangunkannya, mungkin karena lelah hingga Inez tertidur seperti orang mati saja.


Saat sampai kamar segera Bara membaringkan Inez, setelah itu dia pun mandi untuk menyegarkan badannya.


Kemudian setelah mandi dan berganti pakaian dia turun ke bawah dan mendapati mbok Ijah sedang berada di dapur.


"Mbok," panggil Bara.


"Iya tuan."


"Nanti kalau Inez udah bangun buatin segelas susu dan makan malam ya, saya sekarang mau ke kantor sebentar untuk mengecek keadaan di sana sebentar," ucap Bara.


"Baik tuan."


Setelah itu segera Bara keluar dari mansion megahnya dan segera menuju ke kantornya.


Sedangkan Inez yang sedang tidur pun terbangun karena merasakan tidak ada orang di sampingnya.


Saat ia bangun hari sudah mulai gelap dan Inez mencari keberadaan Bara yang tidak ada di pandangan matanya.


Entah mengapa setiap kali Inez bangun tidur Bara sudah tidak terlihat lagi.


Dan Inez heran dia ingat bahwa dia terakhir kali tidur di mobil tapi bangun bangun dia sudah ada di kasur kamarnya.


"Pasti kak Bara yang gendong," gumam Inez.


Setelah itu ia pun segera mandi dan bersiap-siap, saat sudah siap dia pun turun ke bawah dan mendapati Daniel yang sedang asyiknya main dengan mbk indah.


"Mama!" pekik Daniel saat melihat mamanya berjalan menuju ke arahnya.


"Anak mama," jawab Inez mensejajarkan tubuhnya dengan Daniel.


Daniel pun memeluk erat tubuh Inez menyalurkan rasa rindunya yang sudah terpendam cukup lama karena mamanya berada di luar kota.


"Mama lama banget sih ke rumah nenek sama kakek." sahut Daniel.


"Maaf ya sayang, kakek sedang sakit jadi mama enggak tega buat ninggalin." ucap Inez.


"Kenapa gak bawa Niel juga? Kan Niel juga mau ketemu sama nenek dan kakek sama om Faisal juga!" sahutnya.


"Kan Daniel harus sekolah, ya udah kalau Daniel libur sekolah mama ajak ketemu sama nenek dan kakek sama om Faisal juga, mau?" sahut Inez.


"Mau mau ma." Daniel sangat antusias sekali mendengar bahwa ia akan bertemu dengan nenek dan kakek serta om Faisal nya.


"Nyonya," panggil mbok Ijah.


"Iya mbok."


"Ini susunya nyonya dan untuk makan malamnya sudah saya siapkan,"


"Saya enggak minta susu mbok," ucap Inez heran pasalnya dia tidak minta buatkan susu kepada mbok Ijah.


"Tadi sebelum tuan pergi, tuan berpesan agar menyiapkan susu dan makan malam untuk nyonya saat nyonya sudah bangun." balas mbok Ijah.


"Emang Bara kemana mbok?" tanya Inez penasaran.


"Tuan Bara katanya tadi sedang ke kantor sebentar nyonya untuk cek perusahaan," balas mbok Ijah.


"Oh ya udah terima kasih mbok," sahut Inez sambil mengambil susu yang sudah di buatkan oleh mbok Ijah.


Sebenarnya Inez juga bisa buat susu sendiri tanpa harus di buatkan seperti ini, dia merasa kasihan karena mbok Ijah juga sudah tua.


Setelah makan malam dan menghabiskan susunya Inez pun bermain sebentar dengan Daniel.


Daniel sangat manja sekali kepada Inez, bahkan sebelum tidur dia ingin di bacakan dongeng oleh Inez.


Setelah menidurkan Daniel, sekarang Inez pun masuk ke kamarnya untuk tidur namun sayang karena dia sudah cukup tidur akhirnya dia tidak bisa tidur dengan baik.


Inez pun menunggu saja kepulangan Bara dari kantor, padahal ini sudah malam namun Bara belum balik juga.


Ada sedikit ke kekhawatiran dari Inez karena tidak biasanya Bara balik jam segini yang sudah larut malam sekali.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2