
"Sudah berapa minggu sayang?" tanya Bara yang langsung berubah saat memanggil Inez.
"Hah," Inez rasanya cengo dengan panggilan yang romantis tersebut.
🥕
"8 minggu," jawab Inez dengan pelan namun masih bisa Bara dengar.
"8 minggu? Berarti waktu aku pergi ke negara Y kamu udah hamil?" tanya Bara.
Sedangkan Inez malah dia saat mendengar sang suami memanggilnya dengan sebutan aku kamu dan juga sayang tadi, sungguh jantung Inez rasanya berpacu dengan cepat.
"Loh kok malah diam sih," sahut bara melihat diam nya sang istri.
"Ehhh enggak aku cuma ngerasa aneh aja waktu kamu sebut aku kamu tadi," ucap Inez.
"Sayang, mulai hari ini aku akan membiasakan diri untuk bersikap baik dan romantis sama kamu. Aku gak mau kesalahan yang kemarin terulang lagi, aku sadar bahwa aku sudah cinta dan sayang sama kamu sayang." sahut Bara membuat tubuh Inez belum total.
Dia tidak tau harus merespon apa yang terpenting dia sangat terkejut dengan pengakuan mendadak sang suami namun juga itu lah pengakuan yang selama ini Inez tunggu-tunggu, akhirnya cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Inez tak menjawab ucapan sang suami namun langsung memeluk erat tubuh lelaki yang sudah mendobrak pintu pertahanan hati nya yang selama ini ia jaga.
Dia bersyukur mendapatkan seorang pria tampan dan bertanggung jawab, seorang duda anak satu yang membuat hari hari kedepannya semoga lebih indah.
"Udah dong jangan nangis, aku sayang dan cinta sama kamu, kamu mau kan menemani aku sama Daniel dan anak-anak kita nantinya?" tanya Bara karena dia belum mendapat jawaban dari ungkapan penyataan dadakan nya itu.
Dengan menganggukkan kepalanya Inez pun juga menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh sang suami itu.
"Iya aku juga sayang dan cinta sama kamu kak, aku akan selalu bersama Kalina semua hingga akhir hidupku nanti." ucap Inez dengan tangis harunya.
"Kok masih panggil kak sih," ucap Bara tidak suka dengan sebutan tersebut.
"Terus aku harus panggil apa dong?"
"Terserah yang penting jangan kak, aku tuh bukan kakak kamu loh ya aku tuhan suami kamu." ucap Bara.
"Ada yang marah nih," goda Inez.
"Ya udah sayang gimana kalau kita tur aja yuk." ajak Inez membuat Bara senang dibuatnya karena sang istri sudah memanggil dirinya dengan romantis.
"Ya udah ayo!"
SKIP.....
Keesokan harinya Inez sudah rapi dengan pakaian kantornya, hari ini rencananya dia akan mengajukan pengunduran diri ke kantor.
~Flashback On~
Sekarang ini Inez dan Bara berapa di kamar setelah makan malam.
__ADS_1
"Sayang, kamu masih mau kerja?" tanya Bara pelan agar sang istri tidak salah paham.
"Kenapa emangnya?"
"Enggak aku cuma tanya aja, aku takut kalau kamu terlalu memforsir tenaga kamu terus kamu sakit. Kamu harus inget loh sekarang ada baby di perut kamu," ucap Bara.
Inez pun sudah mempertimbangkan banyak hal tentang hal tersebut, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya resign toh yang minta dia untuk berhenti suaminya sendiri.
"Iya sayang, aku sebenarnya juga udah mikirin itu tapi takut nanti malah gak dapet penghasilan aku," jawab Inez polos sekali.
"Astaga sayang, berapa kali aku harus bilang kalau aku ini kaya. Kamu mau menghabiskan uang ku untuk belanja pun tak akan habis," ucap Bara dengan sombongnya namun itu semua benar adanya.
"Ih kamu mah," sewot Inez.
"Iya deh sayang, aku besok mau resign aja biar aku bisa fokus buat jaga kamu, Daniel sama calon anak kita." sahut Inez sambil mengelus perutnya.
"Nah gitu dong," ucap Bara senang.
~Flashback Off~
Setelah sampai di kantor Inez pun berjalan ke ruangan pak Darto tanpa ke mejanya terlebih dahulu.
TOK TOK TOK
"Masuk," ucap pak Darto dari dalam ruangannya.
"Permisi pak," sapa Inez.
Inez pun langsung menghampiri pak Darto dan menyerahkan surat pengunduran dirinya.
"Ini pak."
"Apa ini Nez?" tanya pak Darto terkejut.
"Ini surat pengunduran diri saya pak," sahut Inez.
"Kenapa tiba-tiba sekali?" tanya pak Darto.
"Karena saya sudah menikah pak dan ingin mengabdikan diri saya kepada keluarga saya." balas Inez lagi.
"Kamu sudah menikah?!" tanya pak Darto terkejut karena setahunya Inez tidak memiliki kekasih.
"Iya pak."
"Yah kalau begitu saya tidak bisa memaksakannya, saya sedih karena telah kehilangan seorang karyawan berbakat seperti kamu, tapi kalau kamu berubah pikiran untuk bekerja lagi kamu bisa kabari saya," sahut pak Darto merasa kehilangan karyawan terbaiknya.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi." pamit Inez.
Setelah itu dia keluar dan menuju ke ruangannya, di sana sudah ada rekan rekan kerjanya.
__ADS_1
"Kamu beneran keluar Nez?" tanya mbk Risma yang terkejut setelah di Akbari pak Darto barusan.
"Iya mbk,"
"Yah kok keluar gak bilang bilang sih Nez," ucap Neta merasa kehilangan sahabat dan rekan kantornya.
"Udah ih kamu juga bisa berkunjung ke rumah juga, udah ya aku mau beres-beres soalnya pak Ilham udah nunggu di bawah." sahut Inez.
Setelah merapihkan barangnya dan berpamitan kepada rekan kerjanya Inez pun turun dan pergi dari kantor menuju kediaman nya.
🥕🥕🥕
Malam harinya Bara dan Inez sedang berbincang di ruang tamu setelah makan malam, sedangkan Daniel sedang berapa di kamar nya bersama dengan mbk indah.
"Sayang," panggil Bara.
"Iya ada apa?" tanya Inez.
"Besok aku mau ngumumin tentang pernikahan kita," ucap Bara sambil terus memeluk tubuh sang istri.
"Kenapa diam?" tanya Bara saat sang istri malah hanya diam saja setelah ucapannya tadi.
Sedangkan Inez sendiri masih tidak menyangka ternyata sebentar lagi semua orang akan tau tentang dirinya dan tentang pernikahan nya.
"Eh enggak aku cuma gak nyangka aja, pernikahan yang awalnya hanya karena anak sekarang malah seperti ini dan aku sangat senang sekali," ucap Inez dengan meneteskan air matanya.
"Udah dong jangan nangis ya."
Keesokan harinya di ballroom grand Wijaya hotel semua wartawan sudah rapih dengan barisan nya dan juga kameranya untuk mengabadikan berita yang sebentar lagi akan sangat menggemparkan dunia ini.
Semua orang sedang bertanya-tanya mengapa dan ada apa hingga grup Wijaya sendiri yang akan memberikan informasi.
Tak lama Bara keluar dari pintu dan menuju ke tempat yang sudah di sediakan di atas panggung dengan meja di sana.
Saat Bara masuk semua kamera sangat fokus kearahnya dengan kilatan lampu memenuhi ruangan.
"Selamat pagi semuanya," sapa bara.
"Mungkin banyak dari para rekan media semua di sini yang bertanya-tanya kenapa saya memanggil semua tekan media di sini dengan mendadak," jeda Bara.
Di barisan para wartawan juga ada dari EBS media yang hadir yaitu tempat kerja Inez kemarin namun sekarang sudah tidak.
"Saya di sini ingin memberitahukan sebuah hal yang sudah lama saya tunggu dimana pasti banyak rekan media yang ingin tau juga, dan saya juga ingin meluruskan semua berita-berita yang tidak benar di luaran sana." tegas Bara dan semua wartawan sangat menantikan apa itu.
"Saya ingin mengumumkan bahkan saya telah menikah," ucap bara sambil menunjukkan jari manisnya yang sudah tersemat cincin.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....