
Malam harinya di saat semua orang sudah terlelap tidur Inez terbangun dari tidurnya dan bertepatan dengan adanya notifikasi dari hp nya.
Segera dia membuka notifikasi tersebut dan sebuah pemberitahuan yang membuat Inez terpaku di tempat mengingat hal yang harus dia lakukan.
Itu adalah chat dari dep kolektor yang mengingatkan bahwa Inez sudah telat satu minggu untuk membayar hutang sang ayah.
Rasanya Inez seperti di cekik setiap harinya jika mengingat bahwa ada sebuah tanggungan besar yang harus dia bayar yang semakin hari bunganya semakin saja bertambah naik.
Karena tidak bisa tidur lagi Inez pun memilih untuk ke dapur membuat mie yang sangat dia inginkan tiba-tiba.
"Tuhan, kapan aku bisa terbebas dari ini semuanya." gumam Inez saat menunggu mie nya masak.
"Pa, ma Inez ingin menyerah saja. Semakin hari hutang bukan semakin naik tapi terus saja bertambah," gumam Inez dengan air mata yang sudah keluar tanpa permisi ke pipinya.
"Apa aku harus minta tolong ke kak Bara, tapi bagaimana nanti jika aku merepotkannya?" sahut Inez takut dengan pemikirannya sendiri.
"Enggak, aku gak boleh menyangkut pautkan hal ini sama kak bara karena sebelum aku menikah hutang ini sudah tanggungan ku jadi aku gak boleh membawa-bawa kak Bara ke masalah ini."
"Lagi ngapain?" tanya Bara yang sudah berada di belakang Inez membuat Inez yang terus bergumam sendiri terkejut dengan kedatangan sang suami.
Bara tadi tidur dengan nyenyak namun saat dia merasa di sisi kasurnya ternyata sang istri tidak ada sehingga dia pun bangun dan mencari keberadaan Inez di mana.
"Kakak kok bangun?" tanya Inez balik.
"Saya tadi kebangun tapi gak lihat kamu di kamar," ucap bara.
"Bikin apa?" tanya Bara lagi.
"Mau bikin mie, kakak mau di bikinin?" rawat Inez.
"Enggak usah."
Setelah mengucapkan itu Bara pun duduk di meja makan dan tak lama Inez juga duduk dengan semangkuk mie yang baru saja dia buat.
Rasanya liur Inez sudah ingin menetes saja, segera dia memakannya dengan lahap. Awalnya Bara yang tidak tertarik pun menjadi tertarik dengan mie yang di makan sang istri yang terlihat sangat menggiurkan.
"Mau," tawar inez karena melihat sang suami yang terus melihatnya seperti itu.
Bara pun mencicipinya sebentar dan ternyata sangat enak sekali, dia tidak pernah makan mie kemasan seperti ini karena menurutnya kurang higienis namun ternyata diluar ekspektasi nya ternyata mie nya sangat enak sekali.
"Tadi katanya gak mau, sekarang malah dihabisin." sindir Inez namun dia senang melihat sang suami sangat lahap.
"Abis," ucap Bara di tetesan terakhir.
"Enak?" tanya Inez.
__ADS_1
"Biasa aja." sahut Bara singkat.
Setelah itu Inez pun mencuci piring kotor tersebut dan setelah itu dia dan Bara menuju ke kamar mereka lagi.
"Ada apa?" tanya Bara saat mereka sudah siap untuk tertidur lagi namun Bara malah melihat sang istri yang sepertinya sedang ada masalah.
"Gak ada apa-apa kok." balas Inez Kemudian tidur agar sang suami tidak curiga kepadanya.
.
Pagi harinya Inez merasa badannya kurang enak sehingga dia memutuskan untuk meminta izin sakit dan Bara juga menyuruh sang istri untuk istirahat saja dari pada harus ke kantor.
Mansion sudah sepi karena Daniel dan Bara sudah berangkat, Inez merasa kepalanya pusing dan dia merasa mual sekali.
Hoekkkkk hoekkkkk
Inez memuntahkan semua yang ada dalam perutnya namun sayang tidak ada apa pun dan hanya cairan putih saja yang keluar.
Setelah lega dia berjalan ke kasur dengan langkah lemas nya.
"Aduh aku ini kenapa sih kok lemes banget, mending nanti aku ke rumah sakit aja deh," ucap Inez dengan pelan dan tak lama suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk," ucap Inez karena dia tidak kuat hanya sekedar untuk berjalan membuka pintu.
Ternyata mbok Ijah yang masuk dengan sopan dan membawakan nampan berisi bubur yang di suruh bara untuk menyediakannya tadi.
"Oh iya mbok, makasih ya." ucap Inez.
"Iya nyonya, sama-sama."
Saat sedang berada di kamar utama tiba-tiba saja ada suara bel berbunyi menandakan ada tamu segera mbok Ijah pamit untuk membukakan pintu tersebut.
"Nyonya saya permisi dulu," izin mbok Ijah.
"Iya mbok."
Setelah itu mbok Ijah menuju ke pintu utama di mana dari tadi bel pintu terus saja di bunyikan sangat tidak sabaran sekali orang yang bertamu kali ini.
Mbok Ijah pun langsung membukakan pintu tersebut dan berapa terkejutnya beliau saat tahu siapa yang datang bertamu.
Tamu yang sama sekali tidak di harapkan dan di inginkan kedatangannya lagi.
"Maaf siapa ya dan ada perlu apa ke sini?" tanya mbok Ijah dengan sewot karena beliau tidak suka sekali dengan tamu kali ini.
"Mbok Bara mana?" tanya seorang wanita cantik mencari keberadaan Bara membuat mbok Ijah marah dan sangat kesal sekali.
__ADS_1
Setelah bertahun-tahun pergi meninggalkan keluarganya tetapi saat kembali malah mencari bara bukan sang anak.
Yap dia adalah Sisca Welsh ibu kandung dari Daniel Arthur Wijaya anak kecil yang dia tinggalkan begitu saja demi mengejar karier dan juga sekaligus pergi dengan selingkuhannya.
"Gak ada jadi sekarang lebih baik anda pergi sebelum saya panggil security sekarang." bentak mbok Ijah.
"Mbok jangan coba-coba bentak saya ya!" emosi Sisca meledak saat dia datang dengan baik baik mencari sang mantan suami namun malah mendapatkan perlakuan tidak baik dari pembantu di sini.
"Kamu cuma pembantu gak lebih jadi tau batasan!" bentak Sisca.
Sedangkan inez yang mendengar keributan di bawah Kun langsung turun ke bawah untuk melihat siapa tamu yang membuat keributan siapa tahu dia mencari sang suami atau dirinya.
Inez turun dengan pelan pelan karena dia masih sangat pusing untuk banyak bergerak.
"Siapa mbok?" tanya Inez saat sudah sampai di belakang mbok Ijah.
Mbok Ijah pun terkejut dan langsung mundur agar Inez bisa melihat siapa yang datang, mbok Ijah ingin sekali mengusir Sisca sekarang juga tapi sudah terlanjur beliau bingung sekali harus bagaimana ini.
Setelah itu Inez melihat wanita cantik yang berdiri di depan pintu utama dengan pakaian kurang bahannya.
"Maaf ya mbk cari siapa?" tanya Inez.
"Sayang mau ketemu sama Bara, mana dia?" tanya Sisca dengan nada tidak sopan.
"Maaf ya mbk kalau orang bertamu itu harus sopan dan juga kalau mbk mencari bara dia sedang di kantornya lah." ucap Inez tidak ingin bersikap sopan karena lawan bicaranya tidak bisa sopan kepadanya.
"Eh loh pembantu diem aja deh gue mau masuk!" bentak Sisca masuk begitu saja bahkan menabrak bahu Inez hingga Inez akan kehilangan keseimbangannya untuk saja ada mbok Ijah yang menahannya.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya mbok Ijah khawatir.
"Saya gak papa kok mbok."
Inez langsung mengikuti Sisca yang langsung duduk di sofa ruang tamu bahkan sebelum di izinkan.
"Mbok panggil pak Yanto ya," ucap Inez.
Mbok Ijah segera mengikuti perintah nyonya nya itu Sedangkan Inez duduk di kursi ruang tamu juga.
"Mbk mending pergi saja karena kedatangan mbk sama sekali tidak di harapkan di sini, dan juga mbk orang asing di sini." tegas Inez.
"Eh lu pembantu aja sok-sokan, asal lu tahu gue adalah calon nyonya besar di rumah ini!" tegas Sisca sangat percaya diri.
Sampai saat ini Inez belum tahu tentang status Sisca sebagai seorang ibu kandung dari anak sambungnya, entah bagaimana nanti reaksi Inez setelah tahu status Sisca.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....