
Sore harinya, saat waktu pulang kerja Bara sudah berada di tempat biasa ia mengantar jemput Inez dengan Daniel pastinya.
Inez yang baru saja keluar dari kantor pun segera menuju tempat tersebut karena sudah janjian untuk di jemput pulang.
Saat melihat mobil tersebut Inez pun segera masuk dan di sambut oleh pekikan keras dari bocah kecil tersebut.
"Mama!"
"Iya sayang."
"Udah selesai?" tanya Bara.
"Iya kak." balas Inez.
"Udah siap?" lanjut Bara dan mendapat anggukan dari Inez dan Daniel.
Setelah itu Bara pun melajukan mobilnya membela macetnya kota karena memang sekarang jam pulang kerja.
Sesampainya di mansion, Bara dan Inez kembali ke kamarnya untuk bersih-bersih tetapi sebelum mandi Inez terlebih dahulu memandikan Daniel agar segar kemudian di susul Inez yang membersihkan dirinya sendiri.
"Udah selesai?" tanya Bara yang sudah segar habis mandi saat melihat Inez masuk ke kamar setelah memandikan sang anak.
"Iya kak," jawab Inez.
"Ya sudah sana mandi, sudah saya siapkan air hangatnya," lanjut Bara.
Inez pun tersenyum malu sambil berjalan masuk ke kamar mandi, dia merasa sangat terharu dengan perlakuan kecil yang dilakukan sang suami padanya.
Setelah selesai semuanya Inez turun ke bawah terlebih dahulu untuk memasak makanan untuk makan malam.
Tadi Daniel sudah berpesan bahwa dia ingin makan ayam kecap dan capcay sedangkan Bara hanya mengikuti keinginan sang anak.
Akhirnya Inez pun memilih untuk memasak ayam kecap dan juga capcay sesuai pesanan dari Daniel, dia sekarang sedang masak di bantu oleh mbok Ijah dan juga mbk indah karena memang keperluan Daniel sudah selesai semuanya.
Dan bocah tersebut sekarang sedang berada di kamar Inez bersama dengan Bara sehingga mbk indah tidak ada kerjaan.
Satu jam berlalu makanan sudah jadi dan sudah di siapkan di meja makan, sekarang waktunya untuk memanggil dua jagoannya.
"Daniel, kak yuk makan." ajak Inez membuyarkan keseruan mereka dalam bermain game.
"Iya, bentar ma!" sahut Daniel namun tak mengalihkan pandangannya dari game tersebut begitu pun dengan Bara.
"Bentar Nez!"
"Oh gak mau makan ya, ya udah!" ucap Inez sewot kemudian pergi meninggalkan ayah dan anak tersebut.
Sedangkan Bara dan Daniel yang merasa dirinya terancam pun segera berhenti bermain dan menyusul Inez ke bawah.
Benar saja belum sempat Inez duduk di meja makan dia sudah melihat anak dan papa tersebut sudah duduk saja di kursinya.
"Katanya gak mau makan," ucapnya sewot.
"Enggak, kata siapa gak makan. Ini mau makan kok!" jawab Bara.
Setelah itu mereka pun bertiga makan malam dengan tenang dan Daniel juga berbicara kepada Inez bahwa masakan mamanya sangat enak sekali.
Hampir saja anak dan papi tersebut dibuat tegang karena sang mama sepertinya tadi agak sedikit marah.
Setelah makan malam selesai seperti biasa Daniel kembali ke kamarnya untuk belajar sedangkan Bara kembali ke ruang kerjanya untuk kembali bekerja dan Inez juga sibuk di kamarnya untuk mengerjakan artikel yang sudah menumpuk untuk di publikasikan.
🥕🥕🥕
Keesokan harinya Bara dan Inez sedang tidur manis dengan saling berpelukan tetapi ada saja yang menganggu tidur nyenyak mereka berdua.
Inez terbangun dan melihat telepon nya yang terus saja bergetar menandakan ada telepon masuk.
Dengan malas Inez pun merenggangkan pelukan sang suami dan mengambil telepon nya yang berada di meja samping tempat tidurnya.
[Halo!] ucap Inez dengan suara parau.
__ADS_1
[Halo Nez!] teriak orang dari sebrang sana membuat Inez menjauhkan telepon nya dari telinganya.
[Ada apaan sih Net?] tanya Inez kesal.
Yap dia adalah Neta sahabatnya yang meneleponnya dari tadi namun tidak ada respon dari si empunya handphone.
[Ada apaan ada apaan, Heh Inez, dari tadi gw telepon lu tapi gak ada respon bikin kesel aja deh!] sahut Neta.
Inez yang mendengar itu pun mengecek notifikasinya ternyata banyak sudah panggilan dari Neta, mbk Risma dan juga Maya yang ia abaikan.
[Hehe maaf gak lihat.]
[Mentang-mentang tidur bareng suami sampek gak denger nih temen-temen nya telepon.]
Sedangkan Bara yang merasakan ada pergerakan dan perbincangan pun membuka matanya dan melihat sang istri sedang menerima telepon dari sahabatnya.
Bara pun memeluk erat sang Istri saat Inez masih menerima telepon dari Neta.
Inez hanya tersenyum dengan tingkah laku sang suami yang sangat menggemaskan menurutnya.
[Ada apaan sih memangnya?] tanya Inez.
[Lu coba lihat di grup kantor sekarang, nanti pasti elo bakalan ngerti kenapa!] sahut Neta kemudian mematikan teleponnya.
Inez yang merasa sangat penasaran pun melihat grup chat kantornya namun belum juga ia membuka aplikasinya tetapi notifikasi dari aplikasi tersebut sudah sangat berisik memenuhi telepon.
"Astaga banyak banget sih."
"Nez kok bunyi terus?" tanya Bara yang sepertinya memang merasa terganggu oleh notifikasi tersebut.
"Enggak tahu juga kak."
Inez mulai membuka pesan grup dan betapa terkejutnya ternyata beritanya yaitu tentang dirinya yang katanya seorang ibu dan sudah memiliki seorang anak dari hubungan gelapnya.
Entah rumor dari mana tetapi Inez membacanya saja sudah membuat dia kesal sendiri dan di sana juga ada wajah Daniel yang di anggap sebagai anak haram.
Inez melihat itu pun tak kuasa untuk tidak meneteskan air matanya apa lagi Daniel yang di anggap sebagai anak dari hubungan gelap.
"Ada apa Nez?" tanya Bara panik.
Inez juga tidak tahu kenapa dia sangat sensitif akhir-akhir ini, padahal biasanya dia sangat tegar dan tidak terlalu mempermasalahkan permasalahan yang tidak benar.
Namun Inez tak kunjung berbicara sehingga Bara pun mengambil handphone dari tangan sang istri.
Saat Bara melihat betapa terkejutnya ternyata notifikasi dari tadi berbunyi adalah berita tentang sang istri dan yang tak habis fikir sang anak Daniel juga ikut terseret dalam berita tersebut.
Memang tidak ada yang tahu kalau Daniel adalah anak dari Bara karena memang Bara ingin memberikan privasi untuk sang anak dan hanya karyawan kantornya saja yang tahu tentang Daniel.
"Kita harus tindak ini!" ucap Bara sekarang sudah duduk dan menghadap ke arah sang istri yang terus saja menangis.
"Kak aku mohon biar aku urus ini sendiri ya, aku gak mau kamu terlibat nanti kamu bakal repot kak," sahut Inez.
"Enggak, aku takut kalau kamu kenapa kenapa Nez!" ucap Bara jujur.
"Kak aku mohon!" balas Inez mencoba memohon kepada sang suami.
Bara yang merasa tak tega pun akhirnya mengizinkan untuk Inez mengurus masalah ini tetapi Bara juga tetap memantau takut jika akan ada bahaya untuk sang istri.
Setelah banyak air mata di pagi hari, sekarang Inez sudah berada di depan kantornya dan tinggal masuk.
Sebenarnya Bara meminta Inez untuk cuti beberapa hari saja untuk meredakan berita yang sudah tersebar di kantornya.
Tetapi Inez tidak mau dan memilih untuk tetap masuk kantor karena dia sudah ada tugas dan dia juga merasa sudah sering mengambil cuti.
Inez sudah menyiapkan mentalnya saat dia baru saja masuk ke dalam kantor tersebut dan benar saja hampir semua karyawan melihat Inez dengan tatapan anehnya.
Ada yang menyindirnya tipis-tipis tetapi masih bisa di dengarkan oleh Inez dan juga banyak cacian lagi lainnya.
Namun Inez lebih memilih untuk terus berjalan dan menuju ke ruangannya, saat masuk ruangannya juga tatapan semua karyawan sangat mengintimidasinya.
__ADS_1
"Nez!" panggil Neta.
"Lu kok masuk sih, mendingan ambil cuti aja!" lanjutnya.
"Enggak, aku gak papa kok santai aja kali." sahut Inez kemudian duduk di tempatnya.
Sedangkan Mala yang melihat Inez tetap masuk padahal berita tentangnya sudah tersebar luas pun menghampiri Inez.
"Eh lu gak malu apa tetep masuk padahal di kantor ini berita tentang lu sudah tersebar, kenapa gak keluar aja dari perusahaan dari pada nanti perusahaan malah malu karena ada karyawan nya yang punya anak haram kayak anak lu, dasar jal*ng!" ucapnya dengan sinis kemudian pergi meninggalkan Inez.
Mendengarkan itu Inez pun amarahnya memuncak dia pun segera berdiri dan menghentikan Mala yang akan duduk kembali ke kursinya.
"Eh mal, atas dasar apa elo bilang gw jal*ng!" ucap Inez mencoba mencari tahu.
"Eh anak haram elo aja udah sangat jelas jadi kalau elo itu jal*ng Nez belum nikah tapi udah punya anak," sahutnya.
"Udah Nez gak usah di lanjutin nanti malah jadi panjang," ucap Neta yang sebenarnya juga sangat kesal.
Inez pun mencoba mengontrol emosinya walaupun susah tetapi dia tidak boleh terpancing emosinya.
"Kan gak berani!" sahut Mala kemudian kembali duduk di kursinya.
Keadaan pun tenang kembali, mereka kembali ke tugas tugasnya masing masing namun saat indra datang dia segera menyuruh Inez untuk ke ruangannya.
"Inez, kamu ke ruangan saya sekarang!" perintahnya dengan wajah sedikit menaham amarah.
Inez tidak tahu apa kesalahan yang ia buat, pasalnya tidak ada komplain dari siapa pun tentang kerjanya.
Saat Inez sudah berada di ruangan indra, indra segera menghampiri Inez dan mencekal pundak Inez dengan keras sehingga Inez merasa sedikit kesakitan.
"Maaf pak ini ada apa sakit?" tanya Inez dengan sedikit menahan sakit di pundaknya.
"Apa benar kamu udah punya anak seperti yang di gosipkan sama karyawan kantor?" tanya indra menahan amarah.
Inez pun sedikit bingung harus menjawab seperti apa pasalnya dia memang punya anak tetapi bukan anak dari rahimnya sendiri melainkan anak sambung dari pernikahannya.
Tapi Inez berfikir bahwa ini adalah kesempatan untuknya agar indra tidak terus mendekatinya dan meminta balikan dengannya.
"Inez jawab!" pekik Indra seperti tidak sabar dengan jawaban dari Inez.
"Iya dia anak saya!" ucap Inez dengan lantang.
Perkataan Inez barusan membuat indra melepaskan cengkeramannya dan berganti duduk di sofa, dia merasakan seperti tersambar petir di pagi hari.
Inez yang melihat perubahan dari indra pun merasakan sedikit tidak tega tapi dia harus melakukannya.
"Maaf pak, kalau sudah tidak ada keperluan lagi saya akan kembali." pamit Inez.
"Tunggu!" ucap indra saat Inez baru saja berbalik.
"Berarti selama ini, saat kita berhubungan kamu sudah memiliki anak?" tanya indra dengan nada putus asa.
"Maaf, untuk masalah itu saya tidak ingin membahasnya." ucap Inez.
Setelah mengucapkan itu Inez pun pergi meninggalkan indra yang sudah terduduk lemas tanpa berkata apapun.
Sedangkan Bara saat berada di ruangannya juga merasa tidak tenang dia sangat mengkhawatirkan sang istri di tempat kerjanya.
Dia juga sudah menyewa mata-mata untuk mengawasi pergerakan sang istri di kantor takut jika Inez akan terluka di sana.
"Pak sebentar lagi kita akan rapat dengan pak Darto dan pak indra." sahut Mike.
Ya setelah tahu kalau indra adalah salah satu petinggi di perusahaan sang istri, Bara pun mencoba untuk masuk juga kedalam jajaran petinggi di sana.
"Oke sekarang kita berangkat," sahut Bara.
Mereka memiliki janji di restoran yang memiliki interior nuansa barat dan juga termasuk restoran mahal.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....