
Sampai di tempat tujuan Bara segera masuk ke dalam ruangan yang sudah di pesan sebelumnya.
Saat masuk dia sudah melihat pak Darto dan juga indra yang juga ikut dalam rapat ini.
"Selamat siang tuan Bara," sapa pak Darto yang sangat sopan dan hormat kepada Bara dan indra juga bersikap demikian.
Karena siapa sih yang tidak ingin bekerja sama dengan seorang pebisnis sukses Bara Nahlu Wijaya Presdir ternama di negara ini bahkan luar negeri, yang ingin para pengusaha agar bisnisnya bisa bekerja sama dengan perusahaan Bara yaitu Wijaya grup.
"Selamat siang pak." Bara menjawab dengan ramah meskipun ia sangat enggan sebenarnya untuk berlama-lama apa lagi dengan indra yang notabennya mantan dari sang istri dan dia juga tahu kalau indra sengaja menanamkan saham di kantor sang istri karena memang ingin mendekati Inez lagi.
Karena bagaimana pun ia sangat tidak suka saat mengetahui bahwa indra harus satu kantor dengan sang istri namun karena gengsinya untuk mengucapkan itu sehingga Bara pun tidak mengatakan apapun.
Mereka pun membahas tentang kerja sama antara Wijaya Grup dan juga perusahaan EBS media.
Hampir 2 jam berlalu dengan pembahasan yang lumayan serius, akhirnya kerja sama pun berhasil di jalin dan rencana untuk tanda tangan kontrak pun akan segera di rencanakan dengan melakukan konferensi pers kepada media tentang kerja sama tersebut.
Ini akan menjadi berita hangat karena jarang sekali Wijaya Grup bekerja sama dengan perusahaan kecil seperti mereka, apa lagi ini adalah sebuah media yang notabennya tidak terlalu berkaitan dengan bisnis Wijaya grup.
Jika media tahu maka bisa di pastikan bahwa investasi di perusahaan tersebut akan meningkat.
.
Setelah melakukan perbincangan tersebut Bara pun segera meninggalkan tempat dan kembali menuju ke perusahaannya dengan gembira.
Dia akhirnya bisa menginvestasikan beberapa uangnya di tempat Inez bekerja dan bisa di bilang bahwa investasi Bara ini termasuk tinggi dan dia juga menjadi salah satu pemegang saham prioritas sehingga dari pada indra posisi Bara lebih tinggi.
Awalnya saat meeting tadi Indra sedikit tidak suka karena bara yang mengambil posisinya sebagai seorang investor prioritas tapi bagaimana jumlah yang di tawarkan bara sangat besar sehingga membuat Indra pun tak bisa berkutik lagi.
🥕🥕🥕
Sedangkan Inez tidak tahu apa-apa pun tentang kerja sama ini, hingga sekarang pak Darto pun mengadakan rapat dadakan oleh seluruh karyawan.
Semuanya tampak bingung pasalnya mereka tidak ada hal mendesak hingga harus mengadakan rapat dadakan seperti ini.
"Baik, pasti kalian pada bingung mengapa saya mengumpulkan kalian semuanya di sini." ucap pak Darto.
Sedangkan karyawan lainnya hanya bisa menganggukkan kepalanya tapi juga ada rasa kepo yang mendera.
"Saya di sini ingin menyampaikan berita penting yang harus kalian ketahui!" lanjut pak Darto.
Semua karyawan hanya diam dan menyimak berita apa yang akan di sampaikan bosnya tersebut.
"Perusahaan kita mulai hari ini akan bekerja sama dengan Wijaya Grup," ucap pak Darto sontak membuat semua karyawan apa lagi karyawati berteriak gembira, siapa yang tidak senang dengan Wijaya Grup apa lagi presdirnya yang sangat tampan.
__ADS_1
Lain halnya dengan Inez yang malah seperti orang terkejut saat mendengarkan berita tersebut.
Neta dan mbk Risma yang mengetahui raut wajah kaget sahabatnya pun mencoba untuk menyadarkan Inez dari keterkejutannya.
"Nez, hey gak usah syok gitu ngapa!" ucap Neta membuat Inez kembali fokus meskipun dia juga masih sedikit ada rasa terkejutnya.
"Dan juga saya ingin memberitahukan bahwa Wijaya Grup juga menjadi salah satu pemegang saham prioritas di sini!" sambung pak Darto.
"Itu saja yang ingin saya sampaikan, sekarang kalian kembali ke tempat masing-masing dan mulai bekerja lagi. Mari tunjukkan semangat kerja kita kepada Wijaya Grup bahwa kita memang layak untuk bekerja sama!" semangat pak Darto yang di sambut sorak sorak suara karyawan lainnya.
Setelah itu semua karyawan pun kembali ke tempatnya masing-masing, tak jauh beda dengan Inez yang juga kembali ke tempatnya.
Ia masih tak percaya pasalnya sang suami tidak memberitahukan keputusannya untuk bekerja sama dan juga menjadi pemegang saham di perusahaan tempat ia bekerja ini.
Karena sangat penasaran Inez pun izin ke toilet untuk mencari tahu dari Bara dengan menelepon nya.
Drrttr drrrttt
Inez menelepon Bara saat dia sudah sampai di toilet dan mengunci salah satu pintu di dalamnya.
.
Sedangkan Bara sedang berada di ruangannya dengan berkas yang siap untuk di tanda tangani namun saat sedang fokus tiba-tiba hpnya bergetar sehingga membuat Bara mengalihkan fokusnya.
Dan yang tertera di hpnya adalah nama sang istri, membuat Bara mengembangkan senyumannya tanpa sengaja.
[Kak aku mau tanya.]
[Ada apa?]
[Kak beneran ya Wijaya Grup bekerja sama dan juga menanamkan sahamnya di perusahaan ini?] tanya Inez kepo sekali.
Bara diam sejenak sebelum berkata, dia juga sudah mengira bahwa pak Darto akan memberitahukan berita ini kepada karyawannya.
Bara memang tidak memberitahukan kepada Inez tentang hal ini sehingga Bara yakin bahwa sang istri pasti terkejut.
[Iya Nez, itu benar.] jawab Bara singkat padat jelas.
Sedangkan Inez sedikit kesal karena sang suami menutupi hal ini darinya, merasa sedikit kesal Inez pun segera menutup teleponnya saat Bara akan berbicara.
[Nez,] ucap Bara terpotong.
[Nez, inez!] panggil Bara.
__ADS_1
"Astaga marah pasti, sudah aku duga!" monolog Bara.
Sedangkan Inez di dalam toilet hanya bergumam saja karena kesal hingga ada suara orang masuk.
Inez pun memilih untuk tidak keluar terlebih dahulu karena dia masih harus memikirkan berita tentang dirinya yang masih saja beredar soal Daniel dan dia dan juga tentang kekesalan kepada sang suami.
"Eh mal, lu kan yang nyebarin berita soal Inez sama anak haramnya itu?" ucap orang di luar sana dan Inez yakin kalau orang yang di ajak berbicara adalah Mala karyawati yang sangat tidak suka dengannya.
"Iya gue."
"Kenapa emangnya?"
"Gue gak suka aja sama Inez yang sangat munafik itu, sok polos padahal jal*ng!" sahutnya.
Sedangkan Inez sudah mencoba menaham amarahnya, dia sudah kesal karena sang suami tetapi sekarang malah dibuat kesal lagi sama orang di depan sana.
"Ya udah yuk keluar!" ajak salah satu karyawan.
Mereka pun keluar dan toilet sudah kembali kosong tidak ada orang dan ini juga kesempatan Inez untuk pergi dari toilet.
Setelah sampai di ruangannya dia pun kembali bekerja namun dengan muka di teluknya.
Bara sedang gusar karena dia sudah beberapa kali menelepon sang istri namun tidak juga di angkat.
"Nez angkat dong!" ucap Bara.
Hingga menelepon beberapa kali namun tidak ada respon, Bara pun tidak lagi menelepon Inez dia pun sudah berniat untuk menjelaskannya kepada sang istri nanti saat mereka sudah berada di mansion.
Hingga sore harinya mood dari Inez tidak juga membaik, sebenarnya dia tidak terlalu marah dengan Bara karena memang itu adalah keputusan perusahaan tetapi gara-gara karyawati tadi si toilet mood dari Inez sangat buruk sekarang dan tidak ada yang berani mengajak Inez berbicara dari tadi hingga Neta dan mbk Risma pun tak berani.
Karena mereka tahu dengan tatapan wajah dan raut wajah dari Inez yang sangat tidak bersahabat itu.
Saat baru saja keluar dari kantor, Inez bisa melihat mobil sang suami yang sudah berada di tempat biasanya ia menjemput.
Namun entah mengapa Inez rasanya sedikit kesal dia pun memilih untuk berjalan melalui mobil tersebut, Bara yang melihat sang istri hanya melalui mobilnya dan tidak berniat untuk masuk pun melajukan mobilnya pelan menyamai langkah sang istri.
"Nez masuk ya," ucap Bara dengan nada memelas.
Namun Inez tidak menjawab dan memilih untuk berjalan menuju ke arah halte dan kebetulan juga ramai di sana.
(Kalau ceritanya aneh gak usah protes karena jujur ini dari pikiran author jadi kalau ada yang tidak sesuai dengan kenyataan maka maklumi lah.)
.
__ADS_1
.
Bersambung.....