
Keesokan harinya semuanya kembali berjalan normal seperti biasa, Inez yang harus kembali ke kantornya karena banyak sudah artikel yang harus ia urusi dan juga Bara yang juga harus kembali ke kantornya karena banyak meeting dengan klien.
Sedangkan untuk Daniel, dia memang mendapat libur dua hari dari sekolah ditambah lagi libur akhir pekan, sehingga dia akan libur empat hari berturut-turut.
Inez setelah di antar oleh Bara dia pun segera masuk dan menuju ke ruangannya yang sudah ia tinggal beberapa hari lalu.
"Akhirnya masuk juga ya nih orang!" sindir Neta dengan bercanda.
Sedangkan Inez yang disindir pun hanya tersenyum nyengir kuda.
"Ih malah senyum-senyum gak jelas, asal kamu tahu Nez saat kamu gak ada beneran kantor serasa neraka!" ucap mbk Risma.
Inez yang tidak mengerti maksud dari teman-temannya ini pun meminta mereka untuk menjelaskan kepada Inez.
"Ada apa emangnya?" tanya Inez dengan polosnya.
"Asal kamu tahu Nez saat kamu cuti beberapa hari ini pak indra sepertinya sangat kesal hingga dia membuat semua karyawan harus bekerja ekstra karena kelakuannya." lanjut Neta dan mendapat anggukan dari mbk Risma.
"Kok gara-gara aku sih?" balas Inez tak terima karena dirinya di sangkut pautkan oleh sikap bos investornya tersebut dan juga mantannya juga.
"Ya kan karyawan kantor udah tahu kalau kamu itu pernah pacaran sama pak indra dan katanya kamu mau ngerebut pak indra dari pacarnya yang sekarang ini," jawab Neta.
"Ih apaan gak jelas sama sekali tuh orang!" marah Inez dengan kabar aneh gak jelas itu.
Asal mereka tahu aja kalau Inez sekarang sudah move on dari indra dan sudah memiliki seorang suami yang jauh lebih baik dari pada indra yang mengkhianati nya.
"Udah Nez gak usah di ambil hati, mending kita fokus kerja aja." ucap mbk Risma dan mendapat anggukan dari Neta dan juga Inez dong pastinya.
"Iya bener."
Setelah itu mereka bertiga pun kembali ke tempatnya untuk bekerja namun saat sedang fokus bekerja tiba-tiba Indra datang menghampiri Inez.
"Inez sekarang kamu ke ruangan saya!" ucap indra kemudian berlalu menuju ke ruangannya.
"Baik pak." Inez menjawab kemudian berdiri dan segera mengikuti indra dari belakang.
Meski pun dia sebenarnya sangat malas sekali dengan bertemu dengan mantannya tersebut.
"Ada perlu apa ya pak?" tanya Inez sopan saat dia baru saja masuk ke ruangan tersebut.
"Duduk!" perintah indra.
Inez pun mau tak mau duduk mengikuti perintah dari atasannya karena bagaimana pun indra di sini adalah atasannya.
"Kamu ambil cuti beberapa hari kemarin?" tanya indra.
__ADS_1
Inez pun saat mendengarkan ucapan indra segera menyerengitkan dahinya.
"Empat pak." Inez membalas dengan datar.
"Kemana kamu saat cuti ini?" lanjut indra bertanya kepada Inez.
"Maaf pak, kemana pun saya pergi sepertinya tidak ada urusannya dengan bapak!" sahut Inez dengan nada sopannya.
"Saya bertanya sama kamu Inez, jika kamu ijin maka sama siapa kamu pergi?" ucap indra dengan suara lebih tinggi.
"Maaf pak sekali lagi itu bukan hak bapak untuk bertanya urusan pribadi saya dan juga status bapak dan juga saya adalah seorang karyawan dan atasan, akan lebih baik kalau kita membahas tentang tugas di perusahan saja pak!" ucap Inez jengah dengan tingkah Indra yang menyalahkan kekuasaannya.
"Kalau memeng tidak ada yang perlu di bicarakan saya izin pamit pak!" lanjut Inez kemudian pergi dari ruangan tersebut.
Dia sangat tidak mengerti jalan pikiran indra, hubungan mereka sudah kandsa tetapi indra terus saja mendekatinya, lama-lama Inez merasa risih juga.
🥕🥕🥕
Sedangkan Bara setelah mengantar Inez ke kantornya dia pun beranjak menuju kantornya juga yang sudah ia tinggali beberapa hari ini.
Rencananya dia akan ada rapat dengan direksi setelah itu dia ada janji klien lainnya.
Sungguh pekerjaan yang sangat melelahkan dengan banyaknya kegiatan sungguh harus memiliki tenanga yang kuat agar bisa survive.
Saat di ruangannya, Bara mencoba untuk istirahat sebentar karena memang dia sangat lelah dan untungnya ada waktu untuk istirahat saat ini sehingga Bara tidak ingin menyia-nyiakan waktunya dan segera berbaring di ranjang yang berada di ruang istirahatnya di kantor.
Namun sekarang ada yang sedikit berbeda yaitu tatapan para karyawan lainnya yang sepertinya sedang mengawasinya entah Inez salah apa tetapi dari beberapa tatapan semua mata sepertinya tidak bersahabat dengannya.
"Eh ada apaa sih ini kok kayaknya semuanya natap aku kayak gini?" tanya Inez penasaran.
"Itu gara-gara berita yang tadi itu soal kamu sama pak indra," balas Neta.
Dan akhirnya Inez pun tahu penyebab mengapa semua orang menatapnya dengan sinis.
Namun Inez tak menghiraukannya dan segera melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.
Sungguh berita yang sangat merepotkan dan Inez juga tidak berniat untuk meluruskannya, menurutnya berita tersebut tidak ada dasar yang tepat.
Tetapi Inez harus memberitahukan berita ini kepada sang suami agar tidak menjadi masalah kedepannya dengan hubungan mereka.
Inez pun berniat untuk mengubungi Bara di jam makan siang ini karena Bara bilang akan menjemputnya saat pulang kerja.
Namun belum juga di hubungi ternyata Bara terlebih dahulu menghubungi Inez.
Drrtt drrt
__ADS_1
"Panjang umur sekali baru mau di telepon!" monolog Inez.
Segera ia mengangkat telepon dari sang suami yang sudah sangat ia nanti-nanti dari tadi.
[Halo!]
[Halo ada apa kak?] tanya Inez.
[Nanti saya jemput seperti biasanya ya.]
[Iya kak, nanti juga mampir ke supermarket bisa kan? Soalnya mbok Ijah nitip barang tadi,]
[Bisa kok, ya udah kamu yang rajin ya kerjanya. Udah makan?]
[Udah kok, kakak udah makan?]
[Iya, ini lagi makan.]
Setelah itu mereka pun berbincang-bincang sebentar kemudian mematikan teleponnya.
Berbincang-bincang sebentar seperti ini pun mood Inez langsung naik lagi yang awalnya sangat buruk langsung semangat lagi.
Sore harinya, mobil Bara sudah terparkir indah di dekat dengan kantor sang istri, tempat biasa Bara akan menjemput dan juga mengantar sang istri.
"Udah lama?" tanya Inez saat baru saja masuk ke dalam mobil.
"Enggak baru kok, udah siap?"
"Iya."
Setelah itu mereka pun melajukan mobilnya ke arah supermarket dekat dengan mansionnya mereka.
Mereka berbelanja semua kebutuhan yang diperlukan mulai dari saus, daging dan juga banyak lagi bahan yang diperlukan.
Setelah selesai dengan belanjanya mereka pun berkendar menuju ke mansionnya namun sebelum sampai tiba-tiba Inez melihat tukang bakso di pinggir jalan.
Entah mengapa dia sangat ingin sekali makan makanan tersebut rasanya laparnya sudah tidak tertahankan lagi.
"Kak kita berhenti dulu ya, aku mau beli bakso," ucap Inez.
Bara pun hanya menurutinya dan menepikan mobilnya kemudian membiarkan sang istri untuk membeli makanan yang dia inginkan.
Tak lupa Inez juga membungkus beberapa bakso untuk orang-orang di mansionnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....