
Pagi harinya Bara dan Inez masih asik tertidur lelap di kamar mereka karena ini adalah weekend sehingga tidak banyak kegiatan yang akan dilakukan.
Daniel pagi-pagi sekali tadi juga diajak oleh oma dan opanya untuk berlibur di pegunungan, Daniel sangat senang sekali.
Sebenarnya Bara dan Inez sudah diajak kemarin namun mereka lebih memilih untuk tidak ikut dan memilih berduaan saja di rumah mereka atau lebih tepatnya istirahat karena selama beberapa hari ini mereka sibuk dengan pekerjaan nya.
Bara masih asyik memeluk Inez dengan erat sedangkan Inez bersandar di dada bidang Bara.
Sungguh penampakan yang sangat menakjubkan sekali, setelah pertempuran panas kemarin hingga membuat pasangan tersebut lelah.
Bara pun membuka matanya karena pantulan sinar matahari yang menusuk ke indra pengelihatannya, sedangkan Inez masih saja tidur sepert bayi.
Bara lama memandangi wajah Inez sama seperti kemarin malam dia memandangi kekaguman dan kecantikan Inez, dia berharap akan ada cinta darinya untuk sang istri karena bagaimana pun Inez adalah cintanya Daniel jadi Bara akan berusaha untuk menjadikan Inez cinta nya juga walaupun bertahap.
Tak lama Inez juga membuka matanya dan menampakkan Bara yang sedang melihatnya dengan intens.
"Kak, ucap Inez saat baru saja membuka mata dan melihat sang suami sedang melihatnya.
"Pagi Nez," sapa Bara kemudian mencium kening Inez lama entah keinginan dari mana namun Bara melakukan itu secara tidak sengaja.
Inez di buat gugup akan hal tersebut, dia pun setelah itu mulai beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
"Kemana?" tanya Bara.
"Mandi lah," ucap Inez.
"Bareng yuk!" ajak Bara dengan muka menggodanya.
"Enggak!" pekik Inez tegas.
Dia berfikir jika mandi dengan sang suami maka akan memakan waktu lama hanya untuk di kamar mandi pasti akan ada beberapa ronde lagi.
Rasanya Inez sudah tidak ada tenaga untuk mengimbangi tenaga sang suami yang sangat besar tersebut.
Bara pun membiarkan Inez untuk mandi terlebih dahulu kemudian di susul oleh yang yang juga mandi membersihkan badan mereka.
Setelah selesai semua ritualnya mereka berdua pun turun ke bawah untuk sarapan meski pun telat ya.
"Pagi tuan, nyonya." sapa mbok Ijah saat tahu Inez dan Bara berada di meja makan.
"Iya mbok."
"Mbok, Daniel sama mbk indah udah berangkat?" tanya Inez penasaran.
"Sudah nyonya, tadi tuan muda dan indah sudah berangkat di jemput nyonya besar juga dan tuan besar." ucap mbok Ijah.
"Oh, kalau gitu terima kasih mbok."
Setelah itu mbok Ijah pun pamit kebelakang dan menyisakan Bara dan Inez saja yang sedang sarapan dengan nasi goreng dan juga telur mata sapi.
Mereka sarapan dengan khidmat, setelah itu mereka pun menuju ke ruang keluarga untuk sekedar duduk dan mengobrol banyak hal.
Inez sedang asyik nonton drama kesenangannya dengan Bara yang memegang iPad di tangannya untuk sekedar mengecek email masuk, dan tak lama berselang dering telepon Inez berbunyi.
Drreettt drreett
Menunjukkan nama sang mama yang meneleponnya membuat Inez senang karena setelah keluarganya pulang setelah pernikahan nya dia tidak sempat untuk menelepon orang tuanya.
Bara yang melihat hp sang istri berbunyi pun penasaran siapa yang menelepon nya karena melihat Inez tersenyum setelah melihat siapa yang menelepon.
[Halo, iya ma ada apa?]
Saat baru saja mengangkat teleponnya Inez sudah mendengarkan suara tangisan dari tempat sebrang.
[Ma, ada apa ma?] ucap Inez yang juga mulai panik karena mamanya terus saja menangis dari tadi.
__ADS_1
Bara yang melihat kegelisahan dari sang Istri pun bertanya.
"Ada apa Nez?" tanya Bara menaruh iPad nya.
"Aku juga gak tahu kak tapi ini mama telepon sambil nangis." jawab Inez.
[Halo ma, ada apa?]
[Nez, pa... pa... papa kamu masuk rumah sakit!] Ucap mama Feby dengan nada sembab membuat Inez seketika beku ditempat.
[Nez!] Panggil mamanya karena tidak mendapat respon dari Inez.
[Inez!] pekiknya.
[Eh iya ma, bagaimana kondisi papa sekarang ma?] tanya Inez dengan khawatir tanpa terasa air pun sudah menetes dari matanya.
Bara tak tega melihat istrinya yang sudah lemas dari tadi hingga Inez untuk memegang handphone saja tidak bisa.
Akhirnya Bara pun memegang hp tersebut dan mengangkatnya menggantikan Inez yang masih terdiam dengan air mata yang terus keluar.
[Halo ma.]
[Bara!]
[Ma, bagaimana kondisi papa sekarang?] tanya Bara memastikan kondisi mertuanya.
[Kondisi papa sekarang kurang stabil Bara, jantung papa semakin lemah!]
[Kata dokter bagaimana ma?]
[Kata dokter papa harus segera di operasi!] ucap mama dengan tangisannya yang mulai pecah.
[Mama yang tenang, Bara akan segera atur semuanya ya ma!] ucap Bara mencoba menenangkan mamanya.
[Makasih nak.]
"Nez!" panggil Bara.
Inez pun menoleh dan segera memeluk erat suaminya menyalurkan semua rasa kekhawatirannya kepada Bara.
"Kamu yang tenang oke, saya tadi udah suruh Mike untuk mengatur semuanya ya," sahut Bara mencoba menenangkan sang istri.
"Kak aku mau ketemu sama papa!" ucap Inez.
Bara tahu pasti berat untuk Inez mendengar kabar tadi dan akhirnya Bara pun mengiyakan keinginan Inez untuk ke rumah sakit dimana papa Yohan di rawat.
.
Sedangkan untuk Daniel, Bara sudah memberitahukan kabar tersebut kepada papa Dion dan mama Laras dan mereka berdua pun mengiyakan untuk menjaga Daniel sementara waktu saat Bara dan Inez sedang di luar kota.
Hampir 3 jam perjalanan mereka pun sampai di kota tujuan, setelah itu segera menuju ke rumah sakit di mana papa Yohan di rawat.
Saat sampai mereka segera menuju kamar yang sudah di kasih tahu oleh Faisal sebelumnya.
Saat sampai di depan ruangan kamarnya Inez pun menenangkan hatinya dan pernafasannya karena dia sudah lari-lari dari tadi begitu pun Bara yang juga berlari menyeimbangi Inez.
Dengan berani Inez pun membuka pintu dan masuk ke dalam dan di sana sudah ada mama Feby dan adiknya Faisal dan papa Yohan yang berbaring di ranjang rumah sakit.
Papa baru saja operasi, operasinya sangat lancar dan dengan waktu yang singkat hanya 3 jam padahal biasanya operasi jantung seperti ini membutuhkan setidaknya waktu panjang.
"Mama!" panggil Inez mendekati sang mama yang berada di samping ranjang papanya.
"Inez!"
Segera mereka berpelukan melepaskan semua rasa beban di pundak mereka, sangat sedih melihat papanya yang sangat kuat harus terbaring lemah.
__ADS_1
"Bara." sapa mama.
"Ma."
"Ma, bagaimana kondisi papa?" tanya Inez yang kemudian mendekati ranjang papanya.
Inez memegang tangan papanya dengan lembut dan berharap papanya akan segera bangun.
"Papa baru saja di operasi, tadi kondisi sangat genting sehingga harus segera di operasi," sahut mama Feby.
"Untung aja ada Bara yang menyiapkan semuanya sehingga operasi berjalan dengan lancar, meski papa harus menunggu kondisinya nanti namun masa kritisnya sudah berlalu." ucap mama.
"Makasih nak Bara," ucapan mama Feby.
"Mama gak usah sungkan seperti itu, mama dan papa sudah Bara anggap sebagai orang tua Bara juga dan lagipula sekarang kita semua keluarga jadi saling membantu," ucap Bara.
Ucapan Bara tadi sangat membuat hati Inez bergetar, andai ada cinta di antara mereka maka Inez akan sangat senang.
Perlahan rasa ini mulai tumbuh sendirinya untuk sang suami, namun Inez berusaha untuk menyembunyikan hal tersebut karena itu hanya akan menyakiti hatinya saja.
Setelah beberapa saat mereka mengobrol banyak hal, lebih tepatnya Inez dan mama Feby yang ngobrol, sedangkan Bara dan Faisal hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah laku istri dan mama mertuanya namun Bara juga mengobrol dengan Faisal akan banyak hal.
"Nez kamu makan dulu ya." ucap bara yang baru saja masuk ke ruangan dengan membawa makanan untuk di makan oleh Inez karena dari tadi Inez tidak menyantap makanan sama sekali dan hanya duduk di samping papanya karena mama sedang pulang mengambil beberapa baju dengan Faisal.
"Iya kak."
Inez pun makan makanan yang di bawakan oleh Bara dari luar tadi, sebenarnya Inez tidak terlalu lapar namun dia menghargai suaminya yang sudah mencarikan makanan untuknya.
Setelah makan mama Feby pun datang dengan Faisal dan membawa beberapa barang.
"Sayang mending kamu istirahat aja dulu sana," ucap mama karena melihat anaknya yang tidak istirahat dari tadi.
"Iya ma."
"Bara kamu ajak Inez untuk istirahat aja dulu sana." ucap mama Feby kepada Bara.
"Iya ma."
"Nez kita istirahat dulu ya," ajak Bara dan Inez pun menurut saja dan segera berbaring di kasur yang ada di ruang istirahat keluarga.
Maklum Bara memang menyiapkan kamar VVIP yang di dalam ruangan tersebut ada ranjang untuk pasien, ada ruang untuk istirahat keluarga pasien dan ada kamar mandi dan juga ada dapur kecil di dalam.
Fasilitas yang sangat berkelas untuk ukuran rumah sakit karena keluarga Inez saat sakit mentok hanya kelas tiga di ruangan yang banyak penghuninya.
Inez segera merebahkan badannya di ikuti oleh Bara karena sejak mereka sampai tadi baik Bara dan juga Inez belum mengistirahatkan tubuhnya sama sekali.
"Kakakmu udah tidur sal?" tanya mama Feby kepada Faisal.
Faisal pun mencoba melihat di sela-sela pintu yang tidak tertutup sempurna.
"Udah ma." sahutnya.
"Ya udah biarin aja kakak sama kakak iparmu untuk istirahat, kasihan mereka pasti capek dari perjalanan jauh." ucap mama Feby.
"Iya ma."
Inez dan Bara sangat lelap sekali dalam tidurnya kali ini hingga suara mama dan faisal yang berbicara pun mereka tidak mendengarkan sama sekali.
Mama Feby yang sesekali melihat anak dan menantunya sedang tertidur dengan saling berpelukan pun dibuat terharu.
Awalnya mama Feby mengira bahwa pernikahan anaknya dan menantunya tersebut karena paksaan namun setelah melihat kedekatan dan juga hubungan mereka mama menjadi yakin bahwa pernikahan mereka berjalan dengan lancar.
Dan akhirnya mama Feby pun bisa bernafas lega mengetahui hal itu, setidaknya sang anak akan hidup lebih baik lagi.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....