
Tak lama tibalah Inez di rumah sakit, dia segera menuju ke ruang pemeriksaan yaitu ruang obgyn yang sudah ada dokter yang menunggunya di sana.
"Atas nama ibu Inez," panggil suster.
Inez pun segera masuk ke dalam ruangan pemeriksaan dan di sana sudah ada dokter Nabila, dokter yang akan menjadi pendamping nya selama kehamilan ini.
"Selamat siang bu," sapa dokter Nabila yang memang belum tau tentang siapa Inez.
"Siang dok," balas Inez.
Mereka pun melakukan pemeriksaan, selama pemeriksaan Inez sangat terharu sekali karena untuk pertama kalinya dia mendengar suara detak jantung dan juga melihat sang bayi yang sangat aktif di dalam perutnya.
"Untuk kehamilan ini ibu sudah memasuki usia 8 minggu bu." ucap dokter Nabila membuat hati Inez seneng.
Setelah memberikan kiat-kiat dan pantang untuk ibu hamil dan keluh kesah Inez selama hamil ini akhirnya pemeriksaan pun selesai dia membeli vitamin yang di resep kan oleh dokter Nabila agar rasa mual nya sedikit berkurang apa lagi saat pagi hari.
.
Di sisi lain Mike pun mencari keberadaan istri bos nya itu, setelah beberapa saat anak buahnya mengabari kalau Inez sedang berada di rumah sakit, Mike pun langsung menelepon tuannya dan mengabarkan tentang Inez yang berapa di rumah sakit.
[Tuan.]
[Ada apa? katakan.]
[Sekarang nyonya berada di rumah sakit.]
[APA! Apakah dia sakit?] tanya Bara yang merasa khawatir dengan sang istri.
[Saya kurang tau tuan.]
[****!] umpat Bara dan langsung menutup telepon nya dan pergi dari mansion menuju ke rumah sakit yang kebetulan adalah rumah sakit yang menjadi anak cabang dari Wijaya hospital.
Saat sampai bara langsung mendapatkan tatapan kagum dari semua orang-orang namun dia tidak menanggapi hal tersebut dan langsung mencari keberadaan sang istri.
Saat baru saja masuk lobi bara langsung melihat Inez yang baru saja turun dari eskalator yang seperti nya selesai pemeriksaan entah ke ruangan apa bara tidak tahu.
"Inez." panggil Bara.
Sedangkan Inez setelah menebus obatnya dia segera turun dan berencana untuk segera pulang takut jika Daniel akan mencarinya, namun saat baru saja turun dari eskalator tiba-tiba saja ada yang memanggilnya.
"Inez." panggil Bara membuat Inez kalang kabut takut jika sang suami akan menghampiri nya karena di sana ramai dengan orang-orang yang sedang melihat Bara intens.
__ADS_1
Inez segera menuju ke arah depan di mana taksi yang dia pesan sudah berada di sana.
"Inez tunggu!" pekik Bara saat melihat Inez menghindarinya.
Saat Inez akan masuk ke dalam taksi Bara terlebih dahulu berhasil memegang tangan sang istri dan membayar taksi setelah itu membawa sang istri ke dalam mobilnya.
Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Inez ketakutan kalau sang suami sudah marah seperti ini, dia memegangi perutnya berharap semoga tidak terjadi apa-apa.
"Kak tolong pelan pelan," lirih Inez dengan ketakutan bahkan sudah meneteskan air matanya.
Bara yang melihat pun memelankan kendaraan nya dan menepikan mobilnya di samping jalan.
"Maaf," lirih Bara setelah emosinya cukup reda, sedangkan Inez sudah gemetar ketakutan.
"Ka.... kak aku mau pulang," gumam Inez bahkan tak melihat wajah bara dan hanya melihat ke arah jendela mobil.
Bara makin merasa bersalah namun dia tidak tau harus berbuat apa, dia pun melajukan mobilnya hingga sampai di mansionnya.
Inez masuk ke kamarnya untuk istirahat karena jujur dia sangat capek apa lagi perutnya bergejolak.
"Kamu sakit?" tanya Bara saat baru masuk dan melihat sang istri berbaring di kasur.
Namun Inez tak menjawab dan terus memejamkan matanya, Bara yang melihat itu pun memilih untuk tak mengganggu lebih baik dia berbicara nanti setelah sang istri mulai tenang.
Siang harinya Inez terbangun karena dia tadi ketiduran, saat dia bangun dia melihat sang suami yang juga sedang tidur sambil memeluk dirinya membuat hati Inez meleleh dibuatnya.
"Sudah puas melihat suami tampan mu?" tanya Bara dengan mata yang masih terpejam.
Inez yang ketahuan pun ingin beranjak dari tidurnya namun langsung di tahan bara sehingga Inez sekarang berhadapan langsung dengan mata indah sang suami.
"Kak lepasin aku mau lihat Daniel," ucap Inez.
"Sebelum melihat Daniel lebih baik kita selesaikan masalah kita terlebih dahulu," ucap Bara.
"Se.... sepertinya tidak ada yang perlu di selesaikan deh kan emang kita gak ada masalah," ucap Inez dengan gugupnya.
"Kalau memang tidak ada masalah kenapa tadi menghindar saat saya temui, dan juga kenapa ke rumah sakit? Apa kamu sakit?" tanya Bara.
"Cuma pusing aja kok." ucap Inez.
"Saya dan Sisca tidak ada hubungan apapun, entah bagaimana dia bisa ada di negara Y sana saya tidak tau, selama di sana saya hanya terus bekerja dan menyelesaikan semua pekerjaan saya." ucap Bara panjang lebar menjelaskan ke Inez.
__ADS_1
Sedangkan Inez yang mendapatkan penjelasan itu pun langsung berhampur ke pelukan sang suami menyalurkan rasa leganya dan rindunya.
"Loh kenapa nangis?" tanya Bara ikut khawatir.
"Aku kira kamu selingkuh sama mantan kamu," lirih Inez dengan masih di pelukan Bara.
Bara yang melihat kekhawatiran sang istri pun merasa menyesal karena selama di sana jarang mengabari dan tak tua bagaimana keresahan sang istri.
"Udah jangan nangis ya," sahut Bara mempererat pelukannya kepada sang suami.
Setelah lebih tenang Bara pun memegang dagu sang istri sehingga tatapan mereka bertemu, setelah itu bara langsung menyambar bibir sang istri yang sudah sangat dia rindukan itu.
Kegiatan mereka pun mulai panas, saat bara akan menyalurkan has*atnya yang selama ini dia pendam namun Inez langsung menghalanginya.
"Jangan," ucap Inez saat bara akan membuka pakaian sang istri.
"Kenapa?" tanya Bara lemas saat di tolak oleh sang istri dan mengira kalau Inez masih marah kepadanya.
"Kata dokter selama tiga bulan ini gak boleh berhubungan dulu gak baik buat baby nya," ucap Inez membuat Bara ngelag tidak paham.
"Maksudnya?" tanya Bara.
"Ih masa gak paham sih," ucap Inez rada kesal.
Inez langsung menuntun tangan Bara ke arah perutnya di sana di sana sedang tumbuh janin yang selama ini mereka nantikan.
"Baby nya rindu sama papa nya," ucap Inez dengan senyum.
Sedangkan Bara yang mendengar pun merasa senang bukan main bahkan dia tidak menyangka bahwa akan ada Bara junior lagi.
"Apa! baby?" seru Bara dengan senangnya dan langsung mensejajarkan wajahnya dengan perut sang istri.
"Anak papa yang sehat sehat ya di dalam sana, jangan bikin mama capek." ucap bara sambil mengelus perut rata sang istri.
"Sudah berapa minggu sayang?" tanya Bara yang langsung berubah saat memanggil Inez.
"Hah," Inez rasanya cengo dengan panggilan yang romantis tersebut.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....