The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 11. Terluka


__ADS_3

"Katakan!!!!! Siapa yang mengirim kaliannn???" tanya Arumeey tidak melepaskan tangannya dari leher bandit itu.


Tanpa disadarinya sebuah serangan menghantam nya dari arah belakang.


Bug...


Arumeey terpental ke tanah.


"Baj*angan!!!!" ucap Arumeey seraya segera bangkit.


Keempat bandit itu secara bersamaan mengelilingi Arumeey dengan pedang yang sudah siaga, Arumeey yang tidak memiliki senjata segera berkonsentrasi untuk menghindari serangan lawan.


"Baiklah, Aku tidak keberatan melayani pecundang yang hanya berani keroyokan seperti kalian" ucap Arumeey dengan mata yang berapi api.


Hyaaattt


Salah satu bandit melompat menyerang Arumeey, Arumeey dengan sigap mengelakkan badannya dari serangan pedang lawan.


Haat


Haaat


Hiit..


Serangan demi serangan bertubi tubi di lontarkan pada Arumeey, Arumeey masih mampu mengelak dan juga bertarung tanpa senjata.


Hyaaatt


Salah satu bandit kembali mengayunkan senjatanya yang tidak sempat di elak oleh Arumeey, Lengan kiri bajunya robek dan nampak darah segar bercucuran dari luka itu. Arumeey dengan refleks memegangi lengannya yang terluka.


"Ha ha ha ha ha" gelak tawa keluar dari mulut para bandit.


"Sial" gerutu Arumeey.


"Kau sangat cantik nona, mungkin kami bisa bermain main dahulu sebelum membunuh mu" ucap salah satu bandit.


"Bhuahahaha ha ha" bandit bandit yang lainnya kembali tertawa.


"Tutup mulut mu baj*ngan jelek, Aku akan membuat kalian menikmati permainan ini'' jerit Arumeey sambil bersiap menyerang lawannya.


Hyaaat....


Dengan secepat kilat Arumeey melepaskan sebuah tendangan yang begitu keras tepat di wajah bandit yang berbicara tadi.


Bandit tersebut jatuh tersungkur ke atas tanah.


Arumeey secepat kilat merebut pedang bandit itu dan menusuk tubuhnya dari belakang.


Zhassssh, sirup pohon kelapa merah muncrat dari luka di badannya.


Salah satu bandit dengan cepat menyerang Arumeey.


Shingggg


Arumeey dengan cepat menangkis serangan itu dengan pedangnya.

__ADS_1


Hyaat....


Bandit yang lainnya menyerang dari arah samping, Arumeey sempat mengelak, namun pedang bandit itu menggores sedikit wajahnya, luka goresan kecil terlihat memerah di pipinya.


Arumeey tidak sempat menyeka lukanya, sebuah serangan kembali di tujukan ke arahnya.


Chingg


Arumeey menahan serangan dengan pedangnya, tubuh lawan berada tepat di depannya, dengan cepat Arumeey menendang alat vital lawannya. Bandit itu kesakitan dan terduduk di atas tanah, dengan secepat kilat Arumeey menghunuskan pedangnya hingga membuat nyawa lawannya terbang entah kemana.


Arumeey menatap ke arah dua bandit yang tersisa, mereka mengacungkan pedangnya bersiap siap melawan Arumeey.


"Katakan siapa yang mengirim kalian sebelum aku mengirim kalian ke akhirat!!!!!" ucap Arumeey geram.


Bandit bandit itu menjawabnya dengan serangan yang membabi buta.


Chang


Ching


Chang


Ching


Bunyi hantaman ketiga pedang yang sedang menari nari di tengah hutan.


Salah satu bandit menerjang ke arah Arumeey dengan kaki kekarnya, Arumeey menangkisnya dengan ayunan pedang yang langsung membuat luka besar yang menganga pada kaki kekar yang seperti pohon pinang itu. Bandit itu jatuh terperosok ke tanah yang membuat pedangnya terlepas.


Ketika bandit itu hendak mengambil pedangnya, Arumeey dengan cepat menancapkan pedangnya pada telapak tangan bandit itu.


Bandit itu meringis kesakitan, Arumeey melihat ke arah seorang bandit lainnya, dengan cepat bandit itu menaikki kudanya dan kabur dari tempat itu.


Dia kembali memutarkan penglihatannya pada bandit yang terluka itu. Arumeey menyingkirkan topeng yang menutupi wajah bandit itu dengan pedangnya. Wajah bandit itu meringis kesakitan.


"Jika kau ingin hidup, katakan siapa yang mengirimmu?" ancam Arumeey.


"A-aku...... " bandit itu mencoba menendang Arumeey yang lengah.


Arumeey melompat mundur menghindari tendangan lawannya.


"Sial, kau benar benar sudah bosan dengan dunia ini!!!'' Arumeey semakin dibuat kesal.


Hyaaaaattt


zhassshh


................


Arumeey berjalan ke tepi sungai, dia mengambil air dengan telapak tangannya dan meminum sedikit demi sedikit, pertempuran tadi cukup membuatnya merasakan dahaga.


Arumeey membasuh wajahnya yang terluka, setelah itu dia menyeka luka robek di tangannya.


"Aakh" pekik Arumeey merasakan sakit dan perih ketika air sungai amazin yang dingin menyentuh lukanya. Dia merobek sedikit pakaiannya dan membalut dan mengikat lukanya.


Dia berjalan kembali ke tempat kudanya berdiri. Arumeey kembali memeriksa satu persatu mayat bandit bandit itu, dia mencari kalau kalau ada petunjuk tentang siapa yang mengirim mereka.

__ADS_1


Namun pencarian Arumeey ternyata sia sia, tidak ada petunjuk sama sekali.


"Sial, tidak ada petunjuk sama sekali" gerutu Arumeey.


Dia kembali menaikki kudanya.


"Ki~i~k" Arumeey memacu kudanya kembali menuju rumah nenek Maepong.


Setelah membelah hutan tibalah Arumeey di sebuah dataran dekat dengan kaki bukit.


Dataran itu di tumbuhi oleh hamparan rumput sinaga yang mempunyai daun lembut berwarna hijau muda dan bunga kuning kecil seperti terbuat dari beludru. Aromanya khas, sangat menyengat, rumput sinaga tumbuh setinggi kurang lebih satu meter. Daun nya juga berfungsi sebagai obat luka. Arumeey mengambil beberapa genggam daun rumput sinaga dan memasukkan nya ke dalam tasnya.


Arumeey kembali menunggangi kuda nya. Membelah lautan rumput sinaga yang tumbuh subur di dataran itu. Bunga bunga kuning bertebaran saat terbentur oleh kaki kuda yang menimbulkan aroma yang sangat tajam.


Arumeey memacu pelan kudanya yang mulai memasuki jalan yang menanjak. Bukit itu di tumbuhi oleh pohon pohon yang bermacam ragam. Tanah perbukitan yang lembab dan hitam membuat Arumeey harus berhati hati. Burung burung berterbangan ketika dikejutkan oleh suara kaki kuda.


Arumeey sangat rindu dengan suasana ini. Sudah lama sekali Arumeey tidak mengunjungi neneknya. Tidak berapa lama sebuah rumah muncul di pandangan Arumeey. Sebuah rumah kayu yang berwarna hitam.


Orang orang yang belum pernah ke sana tidak akan mengira kalau di atas bukit itu ada sebuah rumah.


Setelah mendapatkan tanah yang rata, Arumeey menghentikan kudanya dan mengikatnya pada sebuah pohon. Arumeey ingin berjalan kaki sambil menikmati semua kenangan.


Rumah itu terlihat sunyi sekali, seakan tidak ada kehidupan. Nenek Maepong memang jarang merapikan rumah Jika tidak ada Arumeey.


Rumput rumput liar memadati sekeliling rumah tua itu.


Arumeey mencoba mendekati pintu depan yang berwarna hitam itu. Dia mengetuk pintu itu.


Tok


Tok


Tok


"Nenek!" "Nenek" teriak Arumeey memanggil neneknya.


Tidak ada jawaban dari dalam rumah.


Arumeey mencoba membuka pintu, dan ternyata pintu itu tidak terkunci.


"Krieeett" suara pintu terbuka.


Arumeey melangkah masuk sambil mengamati ke segala sudut ruangan.


"Nenek, Nenek!!!" panggil Arumeey lagi.


Arumeey mencoba masuk ke kamar neneknya yang juga tidak terkunci, terlihat ranjang tua yang terlihat rapi, tidak ada siapa siapa.


Arumeey melangkah ke ke arah kamarnya.


"krieeet" kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan juga terlihat bersih dan rapi


Arumeey melangkah masuk, dia mendekati sebuah meja kecil yang berada di samping ranjangnya dan meletakkan barang bawaannya.


Tap tap tap

__ADS_1


terdengar suara tapak kaki dari arah pintu masuk....


tbc.....


__ADS_2