The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 41. Kau Tidak Mengenal Ku?


__ADS_3

"Kau kenal gadis itu?" tanya Arumeey pada Ishika.


"Tentu saja. Dia gadis yang baik. Aku juga tidak menyangka dia akan melakukan hal itu. Namun aku percaya itu bukan sepenuhnya salahnya!. Raja Shaka yang terlebih dahulu memulainya."


"Kau tahu di mana gadis itu?." tanya Arumeey menyelidiki Ishika.


"Aku tidak tahu. Kalaupun aku tahu, aku akan menyembunyikan nya. Dia gadis yang baik. Dia pernah menyelamatkan hidupku" ucap Ishika dengan wajah sendu.


"Baiklah nona. Kau harus pergi. Aku akan segera menutup toko ku" lanjutnya.


"Baiklah. Terimakasih"


Arumeey meninggalkan tokonya sendiri dan berjalan melewati papan pengumuman dengan wajahnya yang terpampang di sana. Siapapun yang menemukannya akan mendapatkan hadiah berupa jaminan kehidupan seumur hidup dari istana.


Dia bertanya tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kenapa malah dirinya yang difitnah membunuh raja Shaka.


Setelah keluar dari padatnya pertokoan, kini Arumeey tiba di jalanan utama. Orang orang mulai memadati sisi sisi jalan utama. Orang orang riuh membicarakan dan menebak nebak apa yang sesungguhnya terjadi.


"Aku dengar, hari itu raja Shaka turut ikut dalam pencarian gadis itu, namun ditengah perjalanan dia dibunuh oleh pembunuh bayaran yang dibayar oleh gadis tersebut" ucap seorang wanita pada rekannya.


"Hey. Itu tidak benar. Anakku bilang, gadis itu sendiri yang membunuhnya. Wajah raja Shaka hancur dengan racun yang dibuatnya"


"Iya, kau benar. Gadis itu adalah tabib muda yang baru lulus di perguruan tinggi Hwangguna. Dia satu satunya murid yang mampu lulus di ujian pengobatan luka secara instan. Dia bukan gadis biasa. Tentu saja sangat mudah untuknya membuat racun yang mematikan"


"Kasihan sekali. Wajah raja Shaka yang paling tampan di Hwangguna jadi hancur tak bisa dikenali"


Orang orang mulai terdiam ketika iring iringan jenazah dari istana tampak di ujung jalan.


"Jadi, itu yang terjadi!." gumam Arumeey setelah mendengar orang orang yang bergosip.


"Belum satu tahun sejak raja kedelapan wafat, sekarang kita sudah berduka kembali" ucap salah satu warga yang berkerumun.


Terlihat orang orang dari istana berada di barisan utama setelah barisan yang membawa peti jenazah.


Pangeran kedua tampak dengan wajah tenang dengan tatapan lurus ke depan. Di sebelahnya adalah sang ibu suri yang terlihat masih terus menyeka air matanya.


Setelah itu ada kepala tabib istana dan beberapa petinggi lainnya. Mereka semua terlihat sedih dengan kepergian raja Shaka yang tentu saja palsu. Karena raja Shaka yang asli masih terbaring lemah di rumah Arumeey.


Arumeey menyaksikan semuanya berjalan di hadapannya. Dia bertanya tanya siapa yang telah melakukan manipulasi kematian raja Shaka. Setelah iring iringan dari istana berlalu pergi, semua orang mulai meninggalkan jalanan. Arumeey masih terpaku di tempatnya.


Langit tampak kembali menghitam. Awan seakan tak membiarkan Arumeey terus terusan melamun. Setitik hujan turun menitik di pipinya.

__ADS_1


"Gawat. Hujan akan segera turun. Aku harus segera pergi sebelum hujan membasahi topeng dan rambutku" Arumeey segera berlari menghampiri kudanya.


Arumeey memacu kudanya sebelum hujan turun semakin deras. Baru memasuki hutan, Arumeey terpaksa harus menghentikan kudanya. Hujan yang terlalu deras memaksanya untuk berteduh.


Arumeey menyeka percikan air yang mulai membasahi wajahnya. Pinggiran topengnya mulai terkelupas. Arumeey mengambil selendang dan menutupi wajahnya.


Hutan mulai terasa semakin gelap di sore hari, ditambah lagi oleh mendung dan hujan deras. Arumeey harus segera bergegas meninggalkan hutan.


Setelah menutup wajahnya Arumeey kembali memacu kuda dan pulang ke rumahnya. Hamparan rumput sinaga tak lagi tampak karena langit benar benar telah menghitam. Dengan berhati hati, Arumeey mendaki bukit yang terasa licin karena basah.


Tiba di depan rumahnya, Arumeey membuka pintu. Suasana di dalam rumah benar benar gelap.


"Siapa di sana?" terdengar suara penuh was was dari ruang utama.


"Ini aku tuan" Arumeey segera berjalan masuk sambil meraba raba dinding.


Ia masuk ke kamarnya dan menghidupkan lampu.


"Kau dari mana saja?"


"Kau ingin tahu?. Aku akan menjawab nanti. Aku harus ke kamar mandi sekarang" jawab Arumeey sambil tergesa gesa ke kamar mandi dan membawa gel pembuat bekas luka.


"Kenapa kau menutup wajahmu?"


"PRINK"


Arumeey yang tergesa gesa tidak sengaja menendang sebuah guci yang berada di lantai.


"Kenapa guci ini ada di sini?. Apakah ada seseorang yang datang?" tanya Arumeey heran.


"Tidak ada siapapun. Itu, aku tidak sengaja menjatuhkan nya"


"Kau??. Kau bangun dan berjalan ke sana kemari?"


"Aku mencari lampu. Kupikir kau telah pergi untuk selamanya!"


"Dasar, kau ini!. Apakah kau sudah cukup kuat?" Arumeey segera berlalu ke kamar mandi.


Arumeey membersihkan dirinya dan mengoleskan krim di sebelah wajahnya. Kemudian ia mulai mewarnai rambutnya kembali.


Hampir satu jam Arumeey berada di kamar mandi sambil menunggu krim dan pewarna rambut mengering.

__ADS_1


"Tok tok tok"


"Nona, kau baik baik saja?. Mengapa lama sekali?"


"A-aku baik baik saja. Kenapa kau kemari?. Kau benar benar tidak memikirkan luka mu?" Arumeey merasa geram dengan kecerobohan raja Shaka.


Setelah krim itu kering, Arumeey segera keluar dan menyiapkan makan malam. Ia membawa Semangkuk bubur yang dicampur dengan daging burung kanala.


Raja Shaka duduk sambil memegangi luka di perutnya.


Arumeey menaruh mangkuk yang berisi bubur di hadapan raja Shaka, kemudian Ia mulai makan bubur dari mangkuknya. Arumeey berhenti ketika Ia melihat raja Shaka tidak menyentuh buburnya.


"Sekarang apa?. Kau tidak mau makan bubur?. Aku masak dengan susah payah agar kau cepat sembuh. Makanlah!. Jangan bertingkah seperti anak kecil" Arumeey mengomel seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.


"Aku tidak bisa makan. Kau harus menyuapiku"


"A-apa?. Kauu!!!" Arumeey dibuat sangat kesal.


"Kau tidak lihat, aku sedang kesakitan. Tanganku juga terluka"


"Sial!" Arumeey dengan terpaksa menaruh kembali mangkuknya dan mulai menyuapi raja Shaka.


"Berapa lama kau sudah tinggal di sini?" raja Shaka mulai membuka pembicaraan di sela sela makan malam.


"Sudah seumur hidupku" Arumeey hanya asal menjawab.


"Kau tahu, aku adalah raja di negeri ini?"


Arumeey menghentikan kegiatannya. Dia menatap lekat wajah pria yang ada di hadapannya. Pria sombong itu bahkan tidak tahu bahwa dirinya sudah dianggap mati oleh seluruh negeri.


"Makanlah tuan. Aku harus membersihkan lukamu"


"Kau tidak percaya padaku. Apa kau tidak pernah melihat wajahku. Meski aku terluka, aku masih terlihat tampan. Kau tidak mengenaliku?" tanya raja Shaka heran.



"Hentikan tuan. Makanlah dan minum obatmu. Ada banyak hal yang akan menunggumu dan mungkin mengejutkan mu. Kau sebaiknya pulih dengan cepat!"


"Apa maksudmu?. Kau sungguh gadis yang aneh!. Kau tidak terpana dengan ketampanan ku?. Ow. Aku tahu. Kau pasti tidak percaya diri karena wajah mu!"


Arumeey benar benar dibuat tidak percaya oleh tingkah laku pria yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2