The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 7. Kasih Tak Sampai


__ADS_3

Arumeey duduk bersandar pada sebuah tembok yang menandakan perbatasan antara kota taraka dan desa subunan. Sudah lima menit berlalu, namun tidak ada tanda tanda kemunculan pangeran ke dua. Arumeey mulai berpikiran buruk.


"Apakah kau sedang mengerjaiku?" Batin Arumeey


Namun dia berpikir tidak mungkin pangeran mau mengerjainya. Selama ini dia merasakan ketulusa dari sang pangeran.


Menit berganti menit, Arumeey mulai jenuh dan bangkit dari duduknya. Dia merasa harus kembali sekarang, baru berjalan beberapa langkah, tiba tiba dia dikejutkan dengan suara kuda yang meringkik.


Terlihat seseorang memakai pakaian serba hitam dengan topi yang juga bewarna senada.


Lelaki itu mendekati Arumeey dengan satu kuda yang tidak ada penunggangnya.


"Maafkan aku Arumeey, aku membuatmu menunggu begitu lama" ucap sang pangeran yang menunggangi kuda berwarna putih.


"Aku pikir yang mulia tidak akan datang" jawab Arumeey memperlihatkan wajah yang sedikit kecewa.


"Aku minta maaf" jawab sang pangeran bersungguh-sungguh.


Saat membuka topinya, Arumeey terkejut melihat ada noda merah di pipi sang pangeran.


"Yang mulia, apakah kau baik baik saja?" tanya Arumeey


"Apa yang terjadi" tanya Arumeey lagi


"Aku tidak apa apa" jawab sang pangeran sambil memasang tali pada kuda.


" kemari lah, aku akan membersihkan wajah yang mulia" ucap Arumeey sambil menarik tangan sang pangeran.


Jantung pangeran berdegup kencang tatkala Arumeey menarik pergelangan tangannya.


Mereka pun duduk di atas tembok perbatasan kota taraka.


Arumeey mengambil sapu tangannya dan membersihkan wajah pangeran, terlihat ada sedikit luka gores pada wajah sang pangeran.


"Kenapa yang mulia bisa terluka seperti ini?" tanya Arumeey.


"Saat hendak kemari, secara tidak sengaja aku bertemu penjahat yang paling ku cari, Aku mengikuti mereka dan menyerang mereka yang mencoba kabur?" jawab pangeran.


"Penjahat?, yang paling anda cari?" tanya Arumeey heran.


"Benar, mereka adalah pasukan elang merah" jawab pangeran


"Pasukan elang merah????" tanya Arumeey antusias.

__ADS_1


"Kau mengetahui nya? Tanya pangeran


"Aku pernah mendengar tentang kejahatan mereka, itu saja" ucap Arumeey.


"Benar, mereka juga terkenal sebagai pembunuh bayaran, Aku heran mengapa mereka seolah tidak mau menyerang ku, mereka hanya mencoba menghindar dari serangan ku" lanjut pangeran.


Arumeey terdiam dan kembali membersihkan wajah pangeran, wajah mereka sangat dekat, pangeran tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari kecantikan Arumeey. Arumeey tidak memperhatikan nya karena fikiran nya masih diliputi oleh pasukan helang merah.


Setelah membersihkan luka, pangeran mengajak Arumeey untuk segera melanjutkan perjalanan meraka.


"Kau bisa berkuda?" tanya pangeran sambil mendekati kuda berwarna coklat keemasan.


"Aku bisa yang mulia, aku pernah belajar berkuda ketika berada di keluarga Anhyo" jawab Arumeey menutupi kebenaran.


Yang sebenarnya Arumeey sangat ahli berkuda. Bahkan dia bisa memanah sambil berkuda.


Pangeran membantu Arumeey menaiki kudanya. Mereka pun meneruskan perjalananya menuju kaki gunung bareesan.


Untuk menuju gunung bareesan, mereka harus melewati dua desa, yaitu desa subunan dan desa subanin. Ke dua desa itu memiliki penduduk yang tergolong ramai, karena terletak tidak begitu jauh dari kota pertama kerajaan Hwangguna.


Setelah berkuda selama kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di penghujung desa subanin, setelah itu mereka berbelok dari jalan utama menuju jalan memasuki hutan, pangeran dan Arumeey mengurangi kecepatannya, mereka berjalan sambil berbincang bincang.


"Kau pernah ke gunung bareesan?" tanya pangeran pada Arumeey.


"Kau tahu cerita itu?" tanya pangeran kagum dengan dirinya yang juga tahu tentang kisah danau tersebut


Arumeey hanya menganggukkan kepalanya.


Mereka menerus kan perjalananya, suhu udara semakin dingin saat berada di dalam hutan, angin sepoi sepoi pagi hari menambah keindahan suasana pagi itu.


"Yang mulia, bolehkah aku bertanya?"


"Tentu saja Arumeey, kau boleh bertanya apapun padaku" jawab yang mulia sambil memandang wajah Arumeey yang terus menatap jalan Di depan nya.


"Apa yang kau ketahui tentang pasukan helang merah yang mulia?" tanya Arumeey yang sedari tadi menyimpan rasa penasarannya.


"Pasukan itu telah ada sejak Raja ke 6 memimpin kerajaan, Namun sampai saat ini aku juga masih tidak tahu siapa pemimpin pasukan itu. Beberapa orang di istana mungkin punya hubungan dengan pasukan itu" jawab pangeran istana.


Namun jawaban dari pangeran malah membuat Arumeey semakin penasaran.


"Beberapa tahun yang lalu pasukan itu menghabisi satu keluarga tabib kepercayaan yang mulia raja" lanjutnya.


Arumeey menghentikan kudanya seketika dia mendengar pangeran menyebutkan tragedi yang menimpa orangtuanya.

__ADS_1


"Kau pernah Mendengarnya?" tanya yang mulia seraya berbalik kearah Arumeey yg menghentikan kudanya.


"Aku pernah mendengarnya yg mulia" jawab Arumeey lirih


Mereka pun kembali memacu kudanya.



(gambar hanya ilustrasi dari jalan yang mereka lewati)


Setelah hampir dua jam mereka berkuda, tibalah mereka di lereng gunung bareesan


Hamparan daun berwarna keemasan menyambut mata mereka.


Ada sebuah danau kecil dengan air yang sangat jernih berwarna kebiruan.


Arumeey terpaku melihat keindahan danau ini, di sisi kanan dan kirinya dipenuhi dengan indahnya pohon maliwa yang daunnya sudah hampir habis luruh ke atas tanah dan sebagian berjatuhan ke dalam danau.


Pangeran turun dari kudanya dan setelah itu dia membantu Arumeey turun.


Suasana sejuk dan damai merayap ke wajah Arumeey yang seakan menyuruh nya melupakan sejenak tentang permasalahan dalam hidupnya.


Pangeran menghampiri arume dan menarik lembut tangannya.


"Mari kita berkeliling sebentar" ajak pangeran yang disambut anggukan oleh Arumeey.


Setelah berkeliling sebentar, pangeran dan Arumeey duduk di atas sebuah batu besar yang ada di tepi danau.


"Kau tahu, kisah putri Kikiyo yang mengakhiri hidupnya di danau ini adalah kisah cinta yang paling aku sukai, meskipun mereka tidak dapat bersama dan disebut sebagai kasih tak sampai, namun ikatan cinta antara putri Kikiyo dan Pangkasuwa sangatlah kuat" ucap pangeran Zhumma sambil melempar sebuah kerikil ke dalam danau tersebut.


"Aku yakin mereka akan bahagia di kehidupan yang lainnya" sambung Arumeey yang juga mengetahui kisah yang sangat terkenal itu.


Keduanya kembali terdiam di tengah gemericik suara gesekan dedaunan yang di tiup lembut oleh angin yang membawa suasana damai.


Pangeran kembali menatap ke arah danau sambil sesekali menatap Wanita yang ada disampingnya itu. Ada rasa yang ingin diungkapkan padanya, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya, sedangkan Arumeey terlihat sangat menikmati keindahan danau biru tersebut.


"Anda terus menatap saya yang mulia! ada apa?" tanya Arumeey yang diam diam mengetahui ada yang sangat ingin disampaikan oleh pangeran Zhumma.


"Arumeey, sebenarnya ada yang ingin aku katakan!" ucap pangeran.


Arumeey mengalihkan perhatiannya pada pangeran Zhumma. ada perasaan hangat ketika tatapannya bertemu dengan tatapan pangeran Zhumma.


tbc....

__ADS_1


__ADS_2