
Dua porsi nasi putih dan satu ekor ayam panggang utuh dihidangkan di hadapan ke dua gadis itu.
"Berikan kami dua gelas air perasan kunyit biru" ucap Arumeey.
"Baik nona." pelayan itu segera meninggalkan meja mereka.
"Makanlah Ishika."
"Terimakasih nona. Kau sangat cantik dan baik hati" puji Ishika seraya mengambil mangkuk nasinya.
Tidak berapa lama dua gelas air perasaan kunyit biru diletakkan di atas meja. Arumeey menatap Ishika yang asyik menyantap makanannya. Dia terlihat lebih lapar daripada Arumeey.
Arumeey merasa kasihan kepada gadis itu.
"Ishika. Kau boleh ikut denganku. Namun aku tidak bisa menjamin bayaran mu"
Ishika tampak berbinar kegirangan.
"Terimakasih nona. Aku tidak akan memikirkan itu. Kau jangan khawatir nona, aku akan bekerja keras"
"Baiklah."
Mereka pun kembali menyantap makanannya hingga hanya menyisakan tulang belulang saja.
Setelah itu Arumeey membayar semuanya dan keluar dari tempat makan itu.
"Nona, biar aku saja yang membawanya" Ishika merebut barang yang sedang dipegang oleh Arumeey.
"A--- baiklah"
"Di mana nona, di mana toko barumu?" tanyanya seraya memutarkan matanya ke sana kemari.
"Itu, ada di ujung sana. Di depan rumah minuman itu" tunjuk Arumeey.
Ishika melihat toko yang ditunjuk oleh Arumeey dan berjalan cepat membawa alat alat untuk membersihkan toko.
Arumeey membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Nona. Sebaiknya kau istirahat saja. Biar aku yang membersihkan tempat ini"
"Tidak apa Ishika. Mari kita kerjakan ini bersama sama"
"Baiklah nona"
Arumeey dan Ishika mulai membersihkan seluruh ruangan.
Lantai yang tadinya berdebu, kini kembali bersih mengkilap.
"Sepertinya kita perlu penyekat di sini, agar kita bisa tinggal di sini" ucap Arumeey.
"Aku kenal seorang tukang yang tinggal di dekat sini. Aku akan membawanya ke sini nona"
"Baiklah. Katakan padanya untuk membawa segala kebutuhan yang aku perlukan. Aku akan menulisnya sebagai catatan" Arumeey menulis beberapa catatan dan menyerahkannya pada Ishika.
__ADS_1
...............
"Nona, semua sudah selesai seperti yang anda inginkan. Silahkan anda lihat dulu" ucap seorang tukang bangunan yang dibawa oleh Ishika.
Arumeey masuk ke dalam tokonya. Toko yang semula kosong, kini sudah ada beberapa rak dan juga meja. Di sisi belakang sudah di sekat sehingga bisa digunakan sebagai kamar.
Arumeey berterima kasih dan memberikan beberapa lembar uang.
"Ishika. Mulai sekarang kita akan tinggal di sini. Ku harap kau tidak keberatan berbagi kamar denganku"
"Anda bicara apa nona. Aku sangat bersyukur nona menerima ku di sini. Aku kadang kadang harus tidur di kandang babi kalau tidak membawa pulang uang untuk ayah ku"
"Benarkah?" Arumeey sangat terkejut mendengar penuturan Ishika.
"Begitulah kehidupanku nona." Raut wajah Ishika seketika berubah menjadi sendu.
Arumeey tidak tahu bahwa selama ini ada orang lain yang lebih tidak beruntung. Dia bersyukur dengan segala yang ada di hidupnya.
"Baiklah, sebaiknya kita istirahat. Besok kita akan mengisi toko ini dengan obat obatan"
"Baik nona"
Malam mulai memikat kesenduannya. Sura riuh tawa dan cekikikan terdengar dari rumah minuman. Arumeey mencoba memejamkan matanya dan menutup telinganya, namun ia tetap tidak bisa tidur.
Dia membuka matanya dan melihat Ishika yang sudah terlelap tanpa merasa terganggu dengan keriuhan rumah minuman.
Arumeey bangkit dan mengenakan pakaian luarnya, dia membuka pintu dan duduk di sebuah kursi kayu yang ada di depan tokonya.
Terlihat orang orang sedang bersorak gembira dari dalam rumah minuman, seakan mereka bisa menikmati hidup selama lamanya. Arumeey merasa kesepian yang teramat sangat, ia kembali mengingat wajah neneknya. Rasa rindu merapi tubuhnya hingga ke ubun ubunnya.
.............
Pagi harinya Ishika bangun terlebih dahulu. Dia membersihkan dirinya dan kemudian membersihkan ruangan.
Arumeey berjalan dan mendapati semuanya sudah bersih.
"Kau tidur dengan nyenyak?"
"Iya nona, sudah lama sekali aku tidak tidur se nyenyak itu. Ini semua berkat nona"
"Baiklah. Kita akan membeli sarapan dan setelah itu berbelanja isi toko"
"Baik nona. Aku akan bersiap siap"
Arumeey dan Ishika meninggalkan toko dan menuju sebuah warung makan. Mereka mengisi perutnya dengan makanan yang di jual di tengah tengah pasar. Setelah itu mereka mulai berburu obat obatan di beberapa toko besar.
"Tuan berikan saya beberapa obat dasar dan obat tingkat dua" ucap Arumeey.
"Baiklah nona, kau butuh berapa banyak?"
"Berikan masing masing dua kotak besar"
"Baiklah nona. Tunggu sebentar." pelayan toko itu masuk ke dalam ruangan lainnya dan tidak lama kemudian ia keluar dengan membawa beberapa kotak besar.
__ADS_1
"Coba anda periksa lagi, apakah sesuai dengan kebutuhan anda?" ucapnya.
Arumeey melihat lihat isi kotak dan menganggukkan kepalanya.
"Aku ambil semua, berapa harganya?"
Pelayan toko itu menghitung hitung dan menjawab "80 rop nona"
"Apa tidak bisa kurang lagi?. Aku mengambil banyak sekali" tawar Arumeey.
"Hmmmmm, baiklah, karna kau sangat cantik, aku akan memberimu potongan harga. Kau cukup membayar enam puluh lima rop saja"
"Baiklah. Aku sangat berterima kasih'' Arumeey mengeluarkan uang dan menyerahkan pada pelayan itu.
"Terimakasih. Kembalilah kemari nona. Semoga kita bisa terus berlangganan" ucapnya penuh senyuman.
Ishika membantu Arumeey membawa kotak kotak itu kembali ke toko.
"Kau bisa menyusunnya?"
"Serahkan ini padaku nona" jawab Ishika.
"Aku akan membeli beberapa alat pembersih luka. Kau tunggulah di sini"
"Baik nona"
Arumeey meninggalkan Ishika dengan kesibukannya. Dia berjalan melewati rumah minuman dan memasuki toko kesehatan.
Setelah membeli beberapa barang, Arumeey segera keluar dari toko itu. Saat hendak kembali, Arumeey melihat ada penjual bunga yang sedang menjejalkan dagangannya.
"Indah sekali" batin Arumeey, seraya berjalan mendekati pedagang bunga itu.
"Halo nona. Bunga bunga kami sangat indah dan segar. Silakan anda melihat lihat dahulu"
Arumeey mendekat dan menghirup aroma harum yang dipancarkan oleh bunga bunga itu. Tanpa ia sadari seorang laki laki tampan sedang terpana dengan kecantikannya yang membuat pria itu mabuk kepayang. Ia seakan sedang melihat sesuatu yang bersinar di tengah pasar.
Pria itu berjalan mendekatinya tanpa mengedipkan matanya.
"Aku belum pernah melihatmu?''
Suara itu sontak saja mengejutkan Arumeey. Arumeey menoleh dan terkejut mendapati suara itu berasal dari raja ke sembilan Hwangguna. Ya, suara itu adalah suara raja Shaka Hwangguna. Raja yang sangat dibenci oleh Arumeey.
"A--anda berbicara pada ku?" ucap Arumeey menunjuk dirinya.
Pedagang yang menjual bunga menunduk dan meninggalkan keduanya.
"Tentu saja kau, siapa lagi? Hanya kau yang tidak pernah ku lihat di sini" ucap raja Shaka.
Arumeey menunduk memberi hormat dan berniat pergi meninggalkan raja shaka.
"Hey. Aku belum selesai berbicara denganmu" raja Shaka menghentikan langkah Arumeey.
"Anda butuh sesuatu? Apa anda ingin membeli bunga?" tanya Arumeey kebingungan.
__ADS_1
"Ya benar, aku memang sedang membutuhkan sesuatu. Aku membutuhkan mu saat ini"
tbc........