The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 39. Tidak Berdaya


__ADS_3

Dengan nafas yang tidak beraturan Arumeey mencoba bangkit dan mendekati tubuh itu. Dia ingin memastikan lagi, apakah matanya benar benar tidak salah lihat.


Arumeey memeriksa denyut nadi, memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati. Denyut nadinya terasa begitu lemah. Arumeey melihat luka di sekujur tubuhnya. Darah telah membasahi pakaiannya yang bercampur dengan tanah yang menghitam.


"Apa sebenarnya yang terjadi padamu?" Arumeey bertanya meski Ia tahu dia tidak akan mendapat jawaban.


"Hah. Untuk apa aku peduli, kau yang menyebabkan aku seperti ini. Aku sebaiknya bersyukur melihat mu seperti ini" Arumeey bangkit dan pergi meninggalkan tubuh pria yang sekarat itu.


Baru beberapa langkah, Arumeey tiba tiba menghentikan langkahnya.


"Nenek. Apa kau akan marah melihat ku seperti ini?. Apakah menurut mu aku harus menolongnya?" Arumeey menatap langit. Ada keraguan di dalam hatinya.


Arumeey menghela nafas panjang dan berbalik mendekati tubuh lemah itu.


"Kau benar benar pembuat masalah" dengan wajah kesal Arumeey mencoba menarik tubuh raja Shaka yang dipenuhi luka dan darah.


Arumeey berusaha menarik tubuh tinggi itu menaiki jurang yang mulai gelap.


"Kau berat sekali!. Terlalu banyak dosa yang kau lakukan. Merepotkan sekali!" dengan wajah kesal Arumeey mencoba terus menarik tubuh itu agar segera sampai ke atas bukit.


Dengan nafas tersengal-sengal akhirnya Arumeey berhasil menarik tubuh raja Shaka. Arumeey duduk sejenak di samping tubuh raja untuk menghilangkan lelahnya. Dia melihat kembali wajah pria yang paling dibencinya. Rasa penasaran semakin menghantui nya.


Arumeey bangkit kembali dan memapah tubuh raja Shaka masuk ke dalam rumahnya. Dengan hati ragu Arumeey mondar mandir di samping tubuh yang sekarat itu.


"Apakah tindakan ku benar?. Haruskah aku menolongnya?. Bagaimana jika dia membunuhku?"

__ADS_1


Arumeey terlihat masih ragu untuk menolong raja Shaka.


"Ahh, sial!. Apa yang aku lakukan!. Aku seorang tabib. Tugasku adalah menolong orang. Seharusnya aku tidak berlaku kejam meski terhadapnya sekalipun" Arumeey mencoba menepis keraguan di hatinya.


Arumeey mulai membuka pakaian yang sudah sangat kotor karena noda darah yang bercampur dengan tanah. Ada sebuah luka besar di perut yang Mulia raja. Dan beberapa luka sayatan di sekujur tubuhnya. Arumeey mulai membersihkan tubuh raja Shaka dengan kain pembersih luka. Tidak ada reaksi apapun dari raja Shaka. Dia hanya terbaring seperti tubuh tanpa jiwa.


Arumeey mengambil obat obatan dan membalut luka yang ada di sekujur tubuh raja. Setelah seluruh luka selesai di balut, Arumeey menyelimuti tubuh itu dengan kain.


Arumeey duduk termenung menatap wajah raja yang pucat. Ia masih tidak menyangka bahwa orang yang ada dihadapannya adalah raja Shaka Hwangguna yang terkenal dengan sifatnya yang sombong dan angkuh.


Rasa lelah membuat Arumeey merasakan kantuk yang luar biasa. Arumeey terlelap di atas kursi yang berada di depan raja Shaka. Berjam jam Arumeey terlelap sampai tengah malam. Arumeey tiba tiba terjaga dan terkejut mendapati dirinya tertidur di atas kursi.


Arumeey kembali terkejut saat matanya menangkap sosok yang tengah tertidur dihadapannya. Beberapa detik kemudian kesadaran Arumeey telah kembali. Ia mulai mengingat apa yang terjadi. Ia mendekati tubuh raja Shaka dan menyentuh dahinya.


Suhu tubuhnya mulai panas karena reaksi obat dan juga luka besar yang ada di perutnya. Terlihat buliran keringat membasahi tubuhnya.


Setelah dirasa aman, akhirnya Arumeey memutuskan untuk istirahat di kamarnya. Malam berlalu begitu cepat.


Arumeey terjaga dan segera berlari keluar. Ia melihat raja Shaka masih terbaring di sana. Arumeey berjalan mendekatinya dan menyentuh dahinya. Suhu tubuhnya sudah normal kembali. Arumeey sedikit merasa lega.


Arumeey berjalan ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Dia membuka topeng luka dan membersihkan wajahnya. Setelah berpakaian, Arumeey kembali menempelkan topeng luka ke wajahnya. Ia takut kalau kalau raja Shaka sadar dan melihat dirinya.


Arumeey berjalan keluar menghampiri kudanya dan mengambil panahnya. Arumeey menuruni bukit hitam dan mulai mengintai burung kanala. Setelah memanah beberapa kali Arumeey kembali dengan dua ekor burung kanala.


Burung kanala bakar sangat bagus untuk memulihkan luka. Arumeey membersihkan nya dan membakar burung kanala serta membuat satu panci sup bawang putih. Aroma sup bawang putih yang harum membuat perutnya merasa lapar. Arumeey memakan nasi dengan sup dan menyimpan satu mangkuk untuk raja Shaka.

__ADS_1


Sudah tengah hari, namun raja Shaka masih belum siuman. Arumeey kembali memeriksa lukanya dan mengoleskan obat serta membersihkan nya.


"Berapa lama lagi kau mau tidur. Cepat bangun!. Jangan membuatku repot terlalu lama, aku bukan seorang pelayan!" gerutu Arumeey.


Menit berganti menit. Jam berganti jam. Namun tidak ada tanda tanda raja Shaka akan siuman. Arumeey mulai bosan menunggu. Ditengah kejenuhannya Arumeey kembali teringat dengan pohon kwasoh yang ada di bawah jurang sana.


Arumeey melangkah ke belakang dan mulai menuruni jurang secara perlahan dan hati hati. Setelah tiba di bawah pohon kwasoh, Arumeey mengamati pohon itu dengan seksama.


"Pohon ini terlihat sudah sangat tua. Namun siapa yang menanamnya?. Selama ini aku tidak pernah turun ke sini" gumam Arumeey.


Pohon kwasoh itu terlihat sudah tumbuh lebih dari setengah abad. Pohon kwasoh tidak bisa tumbuh tinggi. Yang paling tua hanya bisa tumbuh sekitar lima meter saja. Namun pohon yang ada di depan Arumeey memiliki ketinggian hampir tiga meter.


"Apakah nenek?. Lalu, kenapa nenek menanam pohon ini?. Aku pernah beberapa kali melihatnya turun ke jurang. Apakah benar benar nenek yang menanamnya?"


"Kenapa begitu banyak teka teki dalam hidupku. Nenek, apakah ada yang kau rahasiakan dariku?" Arumeey menatap langit dengan wajah sendu. Arumeey melihat sekeliling pohon kwasoh, tidak ada apa apa di sana, hanya ada bekas dari tubuh raja Shaka yang terguling dari tepi jurang.


"Apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa pengawal pribadi raja melukai raja Shaka. Ini benar benar sulit dimengerti!" Arumeey memutuskan untuk segera naik karena hari sudah mulai gelap.


Arumeey kembali duduk di hadapan raja Shaka. Masih belum ada tanda ia akan siuman. Bibirnya yang pucat serta wajah yang dipenuhi luka masih belum bisa menghilangkan ketampanan dari wajah raja ke sembilan Hwangguna.


Arumeey kembali memeriksa lukanya dan mengoleskan obat penyembuh luka.


"Kau yang memburu ku, tapi malah kau yang diburu. Mungkin itu karma dari sikap buruk mu. Bersyukur lah kau ditemukan olehku. Jika bukan karena bunga kwasoh, mungkin kau sudah membusuk di bawah sana!" Arumeey berbicara sambil menatap wajah yang menyedihkan itu.


Malam ini Arumeey memutuskan untuk tidur lebih awal. Setelah memastikan keadaan raja Shaka Arumeey segera masuk ke kamarnya.

__ADS_1


bersambung lagi... doakan raja Shaka cepat sembuh ya. 😉


__ADS_2