The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 16. Ujian 3


__ADS_3

Arumeey mengambil dua buah botol itu kemudian menuangkan cairannya ke dalam sebuah mangkok kecil, Arumeey menuangkan dengan sangat hati hati, dia sangat memperhatikan takarannya. Kemudian dia mengambil bunga kwasoh dan membakarnya, lalu dimasukkan ke dalam mangkuk itu.


Arumeey mencampur ke tiga bahan itu dan mengaduknya.


Kemudian Arumeey mengambil pisau bedah kecil kemudian dengan sedikit ragu dia menatap pisau itu.


"Apakah kau ragu, belum terlambat untuk mundur" ucap kepala tabib istana menyeringai dengan bengis.


Arumeey tidak memperdulikannya. Dia meletakkan ujung pisau itu di dekat pergelangan tangannya dan menyayat tangannya.


Jessssh...


Asisten Dhoe menutup wajahnya karena merasa sangat ngilu dengan yang baru saja dilakukan oleh Arumeey, namun mereka semua juga tahu bahwa itu hanya permulaan saja.


Darah segar mengalir dari luka sayatan benda tajam itu. Arumeey segera mengambil kain kasa dan menahan darahnya. Setelah darah berhenti mengalir, Arumeey mengambil obat yang sudah diraciknya dengan kuas lembut yang terbuat dari bulu kambing.


Arumeey menghela nafas panjang. Dia bersiap dengan siksaan yang akan di rasakan nya. Kepala tabib istana menatapnya seakan tidak sabar ingin segera melihat penderitaan Arumeey. Sedangkan guru besar Hongdang terlihat sedikit gugup dan khawatir.


"Aakkh" jerit Arumeey ketika obat itu mendarat di lukanya.


"Akhhh" Arumeey tidak menyerah, dia kembali mengoles obat itu.


Sentuhan obat itu pada lukanya terasa lebih sakit daripada terkena lahar panas. Arumeey masih tidak menyerah, dia kembali mengoleskan obat itu, kali ini tangannya mulai gemetar dan air matanya mulai tak terbendung.


Arumeey kembali menjerit dan menyapu seluruh lukanya dengan obat itu. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Setelah seluruh luka tertutup dengan obat, Arumeey dengan tubuhnya yang gemetaran mendekatkan lukanya pada tungku api.


Kali ini sakit yang dirasakan nya benar benar terasa sangat menyiksanya. Guru besar Hongdang terlihat khawatir dan hampir menolong Arumeey, namun Kepala tabib istana menghentikannya.


Arumeey benar benar sudah tidak kuat lagi, matanya mulai berkunang kunang, namun iya masih tidak menyerah, dia masih bertahan dengan luka yang disalai di atas tungku api. Sejurus kemudian kesadaran Arumeey hilang sepenuhnya.


................


Langit begitu gelap, awan hitam menyelimuti seluruh kerajaan Hwangguna. Angin berhembus kencang meniup pepohonan yang berada di area perguruan tinggi Hwangguna.


Tes


Tes


Tes


Suara rintik hujan mulai terjun ke atas atap bangunan. Arumeey tersadar dari pingsannya. Matanya memutar memperhatikan segala arah. Kepalanya terasa agak pusing. Dia kembali mengingat kejadian sebelum kesadarannya hilang.


Arumeey melihat dan memeriksa lengannya, Arumeey sangat terkejut, tangannya bersih dan mulus, seakan akan kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi. Arumeey bangkit dan duduk perlahan. Dia masih berada di ruang ujian.


"Aku tidak bermimpi, apakah aku berhasil?" tanya Arumeey pada dirinya.

__ADS_1


Ia bangkit dan membuka pintu. Arumeey disambut oleh hujan yang sangat deras. Seluruh lorong ujian terlihat sepi. Arumeey berjalan pelan menyusuri lorong, sesekali dia melihat ke dalam ruang ruang yang terbuka, tidak ada siapa siapa.


Arumeey bertanya tanya, sudah berapa lama Ia tertidur, apakah ia berhasil lulus dan naik ke tingkat tujuh?.


Sesampainya di aula utama, Arumeey melihat seluruh murid yang mengikuti ujian ada di sana.


"Arumeey"


Terdengar ada yang memanggilnya dari kerumunan itu.


Arumeey mendekati kerumunan itu dan mendapatkan Kanayan yang memanggilnya.


"Arumeey kau dari mana saja?" tanya nya sambil terlihat cemas.


"Semua orang sedang menunggu hasil ujian, Aku rasa Aku tidak akan lulus Arumeey" ucapnya lagi.


"Kau tahu, Aku bahkan tidak berani menyayat tanganku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa melakukan pengobatan secara instan itu" ucap Kanayan dengan wajah yang terlihat sangat kesal.


Arumeey hanya diam mendengar celoteh Kanayan.


Kanayan kembali menatap Arumeey dengan wajah penasaran.


"Jangan bilang Kau berhasil melakukannya Arumeey" ucap kanayan penasaran dengan Arumeey.


Tidak berapa lama keriuhan para murid mulai mereda ketika ada seorang penjaga yang datang dan menempelkan pengumuman.


Arumeey hanya berdiri mematung di tempatnya. Tenaganya belum sepenuhnya pulih. Dia memilih mengalah dan akan melihatnya setelah kerumunan itu berkurang.


Tidak berapa lama, semua murid yang berkerumun memandang ke arah nya.


Kanayan dan beberapa orang lainnya mulai mengerumuni Arumeey.


"Arumeey, kau benar benar luar biasa" ucap Kanayan.


Arumeey tampak bingung dengan sikap teman temannya.


"Kau benar benar melakukannya?" tanya salah seorang murid dengan wajah yang sangat penasaran.


Kanayan menarik lengan Arumeey dan memeriksa nya.


"Jadi, benar, pengobatan itu berhasil mengobati luka hanya dalam waktu sekejap?" tanya Kanayan dengan mata terbelalak seakan tak percaya.


"Arumeey, katakan sesuatu. Kenapa kau hanya diam saja?" ucap teman yang lainnya.


Arumeey menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya, benar. Aku melakukannya" jawab Arumeey dengan wajah yang masih pucat.


Teman teman Arumeey benar benar tercengang dengan keberanian Arumeey.


Arumeey dan teman temannya pun kembali ke asrama anggrek putih. Rasa lelah menyelimuti Arumeey, tenaganya seakan terkuras habis habisan.


Setelah membersihkan diri, Arumeey terlelap di atas tempat tidurnya.


Dari puluhan murid yang mengikuti ujian, hanya Arumeey yang mampu melewati ujian terakhir.


.....................


Keesokan harinya.


Kabar tentang ujian yang mewajibkan para murid menggunakan teknik pengobatan luka instan tersebar sampai ke seluruh penjuru kota Taraka.


Beberapa wali murid yang menjabat di istana murka dengan aturan yang dibuat oleh kepala tabib istana.


Para petinggi perguruan tinggi Hwangguna akhirnya mengadakan pertemuan umum dan mencabut peraturan tersebut. Murid murid yang tidak lulus dapat mengikuti ujian ulang. Namun bagi kepala tabib istana, itu tidak lah penting. Yang penting bagi dirinya ialah sudah membuat gadis itu jera dan hampir mati.


Keberanian Arumeey juga terdengar sampai ke telinga Pangeran ke dua Hwangguna.


Pangeran yang mendengar kejadian itu segera meninggalkan istana dan mengunjungi Arumeey di perguruan tinggi Hwangguna.


...................


Sore hari di asrama anggrek putih.


Arumeey duduk termenung di depan jendela besar yang ada di ujung asrama. Dia masih teringat dengan rasa sakit yang dialaminya kemarin. Dia merasa sangat bersyukur karena bisa melaluinya.


Para penghuni anggrek putih berteriak kegirangan tatkala mendapat kabar bahwa akan diadakan ujian ulang bagi yang belum lulus.


Arumeey tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya melamun menatap kosong pada pepohonan yang ada di hadapannya.


"Arumeey, Arumeey, ARUMEEY" teriak Kanayan membuyarkan lamunannya.


"Ada apa denganmu Arumeey, kau tidak mendengar, aku berkali kali memanggil mu" lanjut Kanayan.


"Ma-maafkan Aku Kanayan, Aku hanya sedang melamun" ucap Arumeey menatap wajah sahabatnya.


"Kepala asrama mencari mu, dia menyuruhmu untuk segera ke aula utama, seseorang sedang menunggumu di sana" ucap Kanayan


"Seseorang?, baiklah Kanayan. Terimakasih sudah memberitahu ku"


Arumeey bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan asrama anggrek putih.

__ADS_1


tbc.....


__ADS_2