The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 23. Pemakaman


__ADS_3

"Arumeey. Kau baik baik saja?, ada apa?" tanya Kanayan melihat raut wajah Arumeey yang berubah.


"Aku--- aku-- aku baik baik saja kanayan" ucap Arumeey dengan wajah datar.


"Kau yakin? Sebenarnya apa yang sedang kau teliti?" tanya Kanayan heran.


"Arumeey. Boleh aku bicara denganmu sebentar" Guru Ang tiba tiba Menghampiri mereka.


Kanayan melirik Arumeey yang hanya diam tak menjawab.


"Arumeey. Arumeey" panggil Kanayan.


"Ma---maaf aku harus segera pergi"


Arumeey bangkit dan berlari keluar dari ruang racik.


"Arumeey"


"Arumeey"


Guru Ang dan Kanayan serentak memanggil Arumeey yang pergi begitu saja.


.................


"Apa yang harus aku lakukan. Mengapa nenek bisa tertular penyakit langka?" Arumeey menangis di tengah taman tanaman herbal.


"Aku harus segera menemui nenek" ucap Arumeey.


"Nenek. Sekarang aku hanya memiliki mu. Ku mohon bertahanlah" ucap Arumeey lirih.


Keesokan harinya Arumeey sudah tidak fokus mengikuti ujian. Pikirannya mengambang entah kemana. Cobaan demi cobaan terus menghampirinya. Tubuhnya mulai terlihat kurus tak seperti biasanya.


"Arumeey. Apakah kau baik baik saja. Dari tadi aku perhatikan, kau tidak fokus dengan ujian. Waktu mu hanya tinggal sepuluh menit lagi.''


Guru pengawas tiba tiba mengejutkan Arumeey.


"Maaf guru. Aku akan menyelesaikan ujian ku" jawab Arumeey.


Arumeey segera fokus dan menjawab semua soal ujian.


....................

__ADS_1


Sore hari Arumeey memutuskan untuk kembali ke rumah nenek Maepong. Dia membawa botol obat yang ditinggalkan oleh ibunya.


Sesampainya di rumah atas bukit. Arumeey segera masuk. Sang nenek terlihat sedang tidur di kamarnya.


"Nenek. Aku pulang" ucap Arumeey.


Nenek maepong bangkit dan duduk bersandar pada dinding. Arumeey mendekat dan duduk di samping neneknya.


"Nenek. Kau duduk lah dahulu. Aku akan menyiapkan obat untukmu".


Arumeey melangkah ke dapur dan mengambil sebuah cangkir kecil berwarna putih. Dia menuangkan beberapa tetes cairan obat yang berwarna ungu ke dalam satu cangkir kecil air putih.


"Nenek. Minumlah ini" Arumeey memberikan cangkir itu kepada nenek Maepong.


"Sekarang nenek harus istirahat. Aku akan menyiapkan makan malam" ucap Arumeey seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Arumeey. Bagaimana ujian mu?" tanya nenek Maepong menghentikan langkah Arumeey.


"Nenek. Ujian ku berjalan dengan lancar. Aku mendapatkan nilai yg bagus. Hanya perlu menjalankan satu ujian lagi. Kau tidak perlu khawatir. Aku berjanji akan lulus sebagai tabib muda." ucap Arumeey sambil menggenggam tangan keriput yang lemah itu.


Nenek Maepong tertidur pulas setelah meminum obat yang diberikan oleh Arumeey. Arumeey memandang wajah tua sang nenek. Setitik embun jatuh dari matanya. Dia tidak ingin nenek Maepong tau bahwa penyakit yang menggerogoti tubuh nya adalah penyakit langka yang paling ditakuti.


Arumeey berjalan ke kandang kudanya dan mengambil busur serta beberapa anak panah. Ia menunggangi kudanya menuruni bukit menuju ke padang rumput sinaga yang mulai berbunga kembali. Arumeey memicingkan matanya dan mengarahkan anak panah ke arah binatang buruannya.


Anak panah melesat dan menembus leher seekor rusa kecil.


Arumeey berjalan mendekat dan mengambil hewan buruannya.


Malam harinya Arumeey menghidangkan daging panggang di atas meja kecil yang ada di dapur . Nenek Maepong memasuki dapur dengan langkah yang masih lemah.


"Nenek. Kau sudah bangun. Aku sudah menyiapkan makan malam. Mari kita makan" ucap Arumeey sambil tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu nenek?" tanya Arumeey.


"Aku merasa jauh lebih baik setelah meminum obat yang kau berikan." ucap nenek Maepong.


"Nenek. Mulai besok kau harus rutin mengkonsumsi obat itu. Aku telah menaruhnya di dalam guci kecil di dekat tempat tidur mu"


"Baiklah Arumeey. Aku akan meminumnya"


"Aku akan membuat lebih banyak obat nenek. Kau harus sembuh" ucap Arumeey dalam hatinya.

__ADS_1


...................


Keesokan harinya Arumeey kembali ke perguruan tinggi Hwangguna. Sesampainya di kota taraka, pemandangan aneh menyambut kedatangan nya.


Kota taraka terlihat sangat sepi. Tidak ada seorangpun yang berada di luar. Arumeey berjalan melewati pasar utama taraka. Di sana juga terlihat begitu sepi. Semua toko tidak ada yang buka. Hanya ada beberapa kucing liar yang berlarian di tengah jalan.


Arumeey segera mendekati tempat penyewaan kuda. Dia juga tidak menemukan siapapun di sana. Arumeey segera meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju perguruan tinggi Hwangguna.


Dua penjaga terlihat ada di depan pintu gerbang. Arumeey meninggalkan kudanya di pos penjagaan. Dia segera masuk ke perguruan tinggi Hwangguna dan berlari ke arah asrama anggrek putih. Sesampainya di asrama anggrek putih, Arumeey melihat seisi kamar sedang bersiap siap menggunakan gaun hitam.


"Gaun hitam" gumam Arumeey.


Arumeey melangkah masuk menuju lemarinya.


"Arumeey. Segeralah bersiap siap. Kenakan gaun hitam mu" ucap Kanayan seraya merapikan rambutnya.


"Ada apa ini. Kenapa aku harus memakai gaun hitam?" tanya Arumeey tak mengerti.


"Kau sungguh tidak tahu. Raja ke delapan telah wafat Arumeey. Upacara penghormatan terakhir akan dilaksanakan satu jam lagi" ucap Kanayan.


"Apa?? Yang mulia Raja--" Arumeey terdiam mematung di tempatnya berdiri.


"Penyakit langka itu benar benar mengerikan Arumeey. Bahkan kepala tabib istana tidak bisa menanganinya."


Arumeey membuka lemarinya dan mengambil gaun berwarna hitam


"Pangeran. Kau pasti sangat terluka sekarang. Aku tidak punya kesempatan memberitahu mu. Bahkan aku tidak tahu apakah obat itu benar benar akan menyembuhkan penyakit langka itu" batin Arumeey. Setitik embun menetes dari matanya.


Setelah siap dengan gaun hitamnya, semua orang turun ke jalan utama. Peti jenazah raja akan di arak dari istana menunju bukit pemakaman kerajaan. Semua orang terlihat meraung raung dengan tangisannya. Entah mereka menangis karena benar benar sedih atau itu hanya pura pura sahaja.


Arumeey dan Kanayan berdiri di tepi jalan menunggu rombongan dari istana melintasi jalanan itu.


Tidak berapa lama iring iringan istana terlihat di ujung jalan. Puluhan prajurit berjalan di depan. Diikuti oleh prajurit yang menarik peti jenazah yang mulia Raja. Selanjutnya ada keluarga kerajaan yang duduk di atas kereta kuda. Barisan terakhir diisi oleh puluhan prajurit istana.


Saat keluarga kerajaan sampai di hadapan Arumeey. Secara tidak sengaja matanya dan pangeran saling bertatap tatapan beberapa saat. Ada rasa sedih dan rindu yang tergambar di mata keduanya.


Setelah iring iringan itu berlalu, satu persatu orang mulai meninggalkan jalanan. Kematian Raja ke delapan menggemparkan seluruh kerajaan. Orang orang semakin percaya dengan rumor terkait penyakit langka.


Arumeey tidak tahu harus bagaimana untuk memberi tahu pangeran bahwa dia telah mengetahui obat penyakit itu. Selain itu, dua bahan untuk pembuatan obat tersebut hanya bisa di dapatkan di istana.


Arumeey juga tidak ingin salah mengambil langkah. Karena di luar sana masih ada musuh yang belum ia ketahui keberadaannya. Apabila jika ia muncul dan memberi tahu publik tentang obat itu, bahaya akan mengancam nyawanya.

__ADS_1


tbc....


__ADS_2