
Arumeey mengambil sebuah buku tentang penyakit langka dan membaca buku tersebut dengan sangat yakin, dia tahu betapa berharganya sebuah ilmu, apalagi buku buku ini hanya bisa di baca oleh orang orang penting saja.
Pangeran Zhumma hanya terdiam memandangi Arumeey yang sangat konsentrasi dengan buku yang sedang di bacanya.
Setelah selesai membaca beberapa halaman, Arumeey membuka pembicaraan dengan sang pangeran.
"Kau tahu yang mulia, ada beberapa penyakit langka yang sangat sulit disembuhkan, bahkan ada penyakit yang belum diketahui obatnya sampai sekarang" ucap Arumeey
"Ya, kau benar, bahkan kepala tabib istana sudah berusaha selama bertahun tahun untuk mencari dan meneliti tentang pengobatan beberapa penyakit langka tersebut" jawab pangeran.
"Apakah ada yang berhasil?" tanya Arumeey penasaran.
"Aku tidak tahu Arumeey, namun beberapa tahun yang lalu, aku mendengar bahwa tabib istana yang dibunuh oleh pasukan elang merah, adalah satu satunya tabib yang telah menemukan obat untuk penyakit langka yang melanda desa Subunan pada saat itu, namun sayangnya mereka dihabisi sebelum mereka sempat merilis obat tersebut" jawab yang mulia.
Mata Arumeey terbelalak mendengar penjelasan sang pangeran, dia bertanya tanya apakah tabib yang dimaksud adalah ibu dan ayahnya.
Namun Arumeey tidak bisa menahan untuk tidak menanyakannya.
"Apakah tabib yang mulia maksud adalah tabib istana yang tinggal di ujung pasar?" tanya Arumeey dengan hati yang berdebar.
"Ya, benar Arumeey, mereka adalah tabib kepercayaan yang mulia raja, mereka dihabisi satu hari sebelum hari perilisan obat yang telah diteliti oleh mereka"
Dada Arumeey semakin terasa sesak mendengar penuturan pangeran zhumma, Dia hampir tidak bisa menahan air matanya.
Dia teringat kembali tentang kejadian hari itu. Siang hari sebelum pembantaian itu terjadi, orang tua Arumeey menyimpan sebuah kotak di langit langit rumah mereka, mereka juga berpesan bila terjadi sesuatu pada mereka, Arumeey harus mengamankan kotak tersebut.
Pada hari pertama Arumeey kembali ke kota, Ia sempat datang dan mencari kotak itu. Selama ini dia tidak pernah membuka kotak itu. Arumeey terdiam cukup lama.
"Kau baik baik saja Arumeey?" tanya pangeran membuyarkan lamunan Arumeey.
"Iya yang mulia, aku baik baik saja" jawab Arumeey lirih.
"Aku yakin kau akan menjadi seorang tabib yang hebat nantinya" puji pangeran pada gadis cantik yang dicintainya itu.
"Terimakasih yang mulia, semoga saja suatu hari nanti cita citaku tercapai" jawab Arumeey penuh makna yang dalam.
Mereka asyik berbincang bincang hingga tidak menyadari di sudut ruangan itu ada seorang gadis yang tengah memperhatikan keduanya.
..............
Malam hari di istana.
__ADS_1
Seluruh anggota kerajaan sedang menyantap makan malam lezat yang telah dihidangkan oleh para pelayan istana.
Ketika tengah asyik menyantap daging panggang yang lezat, tiba tiba saja yang mulia raja tersedak dan batuk batuk.
Pelayan pribadi yang mulia segera menyodorkan segelas air putih.
"Yang mulia, anda harus menjaga kesehatan anda, sebaiknya anda tidak lagi memakan hidangan yang berupa daging, karena serat daging tidak bagus untuk pencernaan yang mulia" ucap kepala tabib istana yang tak lain adalah adik nya dari ibu yang berbeda.
"Benar yang mulia, kesehatan anda terus memburuk" ucap yang mulia ratu sambil menggenggam tangan yang mulia raja.
"Sebenarnya penyakit apa yang sedang diidap oleh yang mulia?" tanya pangeran Zhumma pada kepala tabib istana.
"Sebenarnya-"
"Cukup, jangan membahas penyakit ku di atas meja makan" potong yang mulia raja.
Kepala tabib istana segera menutup mulutnya.
"Aku akan kembali ke kamar ku, lanjutkan makan malam tanpaku'' ucap yang mulia raja segera meninggalkan ruang makan diikuti oleh pengawal dan pelayan pribadinya.
Setelah yang mulia berlalu semua orang kembali menikmati makanannya.
"Kepala tabib. Kenapa kau tidak membicarakan penyakit yang mulia kepada kami?" tanya pangeran Zhumma pada kepala tabib istana.
"Benar anakku, sebaiknya kalian fokus dengan tugas dan tanggung jawab kalian" ucap yang mulia ratu sambil melirik putra mahkota yang sedari tadi hanya diam menikmati makanannya.
"Baiklah ibu" jawab pangeran ke dua.
"Kepala tabib, tolong anda periksa kesehatan yang mulia setelah anda menyelesaikan makan malam" perintah ratu.
"Baik yang mulia" jawab kepala tabib istana.
..............
Di kediaman yang mulia Raja
Kepala tabib istana mengecek kondisi yang mulia Raja.
"Bagaimana keadaan yang mulia?" tanya yang mulia Ratu.
"Keadaan yang mulia semakin memburuk" jawab kepala tabib istana lirih
__ADS_1
"Apakah kau belum menemukan obat untuk yang mulia? Kau pernah menjadi asisten tabib istana Huwanzha, apakah kau benar benar tidak mengetahui obat penawar untuk penyakit langka yang diderita oleh yang mulia raja? Tanya yang mulia ratu penuh pengharapan.
"Maafkan saya yang mulia, penelitian yang dilakukan oleh tabib Huwanzha benar benar sangat rahasia, saat kematian tabib Huwanzha saya belum sempat mengetahuinya yang mulia" jawab kepala tabib istana.
Yang mulia ratu hanya terdiam mendengar jawaban dari kepala tabib istana, dia memandang wajah suaminya yang sudah tidak lagi gagah setelah sakit yang dideritanya selama beberapa tahun terakhir.
.............
Setelah selesai memeriksa yang mulia raja, Kepala tabib istana kembali ke kediamannya yang berada di sebelah timur istana.
Saat masuk ke kamar nya, di sana sudah ada anak perempuannya yang ternyata telah menunggunya sedari tadi.
"Kau ada di istana?" tanya kepala tabib istana.
"Ibu, ada yang perlu kau ketahui!" ucap Onnara tidak menunggu ibunya untuk duduk terlebih dahulu.
Kepala tabib istana mengambil duduk dihadapan putrinya.
"Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?" tanya kepala tabib istana
"Aku melihat pangeran ke dua dengan seorang gadis" ucap Onnara
"Apa yang kau katakan putri ku, ha ha ha... Jangan kau samakan pangeran Zhumma dengan putra mahkota" ucap kepala tabib istana tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh putrinya.
"Ibu, aku sudah beberapa kali memergoki mereka" ucap Onnara meyakinkan ibunya.
Kepala tabib istana mengernyitkan dahinya.
"Apa yang sedang kau bicarakan putriku???" tanya nya menatap tajam pada putrinya.
"Siapa gadis itu?" lanjutnya lagi
"Kau pernah membawanya ke istana ibu!" ucap Onnara menambah rasa penasaran kepala tabib istana.
"Dia adalah Arumeey, gadis yang mendapatkan nilai tertinggi pada saat ujian obat luka bakar, apa kah kau mengingatnya?" tanya onnara
"Gadis itu????" gumam kepala tabib istana sambil mengingat ingat kembali hari itu
"Gadis berambut pirang itu????" ingatannya langsung tertuju pada Arumeey.
"Benar ibu, gadis itu!" jawab Onnara.
__ADS_1
"Berani sekali gadis yatim piyatu itu mendekati pangeran ke dua Hwangguna! Tidak tahu diri" uca kepala tabib istana sambil mengepalkan tangannya.
tbc.....