
Hari kelulusan murid baru terpaksa harus di undur karena negeri itu sedang dilanda kesedihan oleh kematian sang Raja ke delapan. Setelah pemakaman Raja, terjadi pergolakan di dalam istana.
Kerajaan Hwangguna seakan sedang diguncang. Terjadi pro kontra di antara para petinggi dan pejabat istana. Pengikut Putra Mahkota mendesak para petinggi untuk segera melakukan upacara penobatan Raja ke sembilan.
Di sisi lain, penolakan terhadap Putra mahkota masih terus dibisikkan. Sedangkan Pangeran ke dua, acuh dengan suasana penobatan Putra mahkota. Dia sama sekali tidak perduli.
"Ini sudah berlalu lima hari sejak kematian raja ke delapan. Singgasana ini harus segera di isi" seru seorang petinggi istana dalam sebuah rapat umum yang diadakan oleh yang mulia Ratu.
"Aku sudah siap dengan tugas dan kewajiban yang telah ditinggalkan oleh yang Mulia Raja" ucap Putra mahkota dengan segala keangkuhannya.
"Hidup Raja ke sembilan!!!!!" teriak para petinggi yang setia dengan Raja.
"Titah Raja tidak dapat dibantah. Jika ada yang menyangkal Putra mahkota sebagai raja ke sembilan, maka siapapun itu akan di anggap sebagai pengkhianat" ucap Ratu.
Kepala tabib istana hanya duduk di tempatnya dengan wajah terikat. Sedangkan yang lainnya berbisik bisik berharap ada yang menentang keputusan yang Mulia Ratu. Namun tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suaranya hingga pertemuan umum itu di tutup.
...............
Di asrama Anggrek putih.
"Aku harus menemukan cara agar bisa bertemu dengan Pangeran. Aku harus memberitahukan dia tentang obat itu" batin Arumeey.
"Arumeey. Kau sudah dengar? Penobatan raja ke sembilan akan dilaksanakan minggu depan." tanya Kanayan seraya merapikan selimutnya.
"Iya Kanayan. Aku sudah dengar." jawab Arumeey singkat.
"Lalu apakah kau sudah bersiap siap?" tanyanya lagi.
"Siap siap, untuk apa Kanayan?" tanya Arumeey bingung.
"Kau tidak tahu??. Arumeey. Kau terlalu banyak melamun di kamar. Makanya kau terus ketinggalan informasi" ucap Kanayan menggelengkan kepalanya.
"Kepala tabib istana meminta murid yang akan lulus dari jurusan obat obatan untuk membuat minuman berenergi untuk seluruh tamu undangan" ucap Kanayan cemberut.
"Apaa??? Dia benar benar sudah gila. Apakah istana sedang kekurangan pelayan??" Arumeey mengerutkan alisnya tanda tidak suka.
__ADS_1
"Tapi setidaknya aku punya kesempatan untuk bertemu Pangeran" ucap Arumeey dalam hatinya.
.............,...
"Semua murid tingkat tujuh dari jurusan obat obatan harap berkumpul di Aula utama" Asisten Dhoe memberikan pengumuman untuk semua murid yang akan ikut ke istana.
Semua murid terlihat tergesa-gesa mengganti pakaian dan merias diri. Namun pemandangan itu tidak terlihat pada Arumeey. Arumeey hanya mengenakan pakaian biasa yang berwarna merah muda dengan campuran warna putih. Arumeey mengikat rambutnya agar tidak berantakan ketika menyiapkan minuman berenergi.
Murid murid mulai berkumpul di aula utama. Beberapa murid laki laki sudah tiba sedari tadi.
"Kalian ini. Berdandan lama sekali. Apa kalian pikir kalian datang ke sana untuk merayu Pangeran dan Putra mahkota?" ucap seorang murid laki laki yang terlihat kesal karena menunggu lama.
"Diamlah. Aku tahu kita akan jadi pelayan. Kau tak perlu mengingatkan itu" ucap Kanayan cemberut.
"Sudah sudah. Diam semuanya." ucap guru besar Hongdang membelah keributan.
"Guru Ang dan guru Sha akan pergi dengan kalian. Mohon ikuti semua arahan mereka. Jangan membuat kesalahan apapun". Lanjutnya.
Semua terdiam mendengar guru besar Hongdang. Setelah itu mereka semua segera berangkat ke istana.
Mata Arumeey menangkap sosok yang tidak asing baginya. Sosok yang telah membuatnya merasakan kesepian dan kesedihan. Namun di samping sosok itu, ada seorang gadis cantik yang tengah berbincang gembira dengannya. Penampilan nya sangat anggun. Kelihatan sekali gadis itu bukan dari kalangan biasa.
Arumeey mengalihkan pandangannya dan terus berjalan mengikuti yang lainnya.
Upacara penobatan Putra mahkota sebagai raja Hwangguna yang ke sembilan dihadiri oleh beberapa Raja dan Ratu, Pangeran dan Puteri serta bangsawan bangsawan dari seluruh negeri. Kerajaan Hwangguna adalah kerajaan terbesar ke dua setelah kerajaan Babasal.
Kerajaan Babasal mengirim putrinya untuk menghadiri acara penting itu. Para tamu undangan sudah duduk di tempat duduk yang telah di sediakan. Acara itu dibuka dengan tarian tradisional khas kerajaan Hwangguna. Semua tamu undangan dimanjakan matanya oleh penari penari cantik dari negeri itu.
Sementara itu, di istana belakang para pelayan sedang sangat sibuk mempersiapkan segalanya. Murid murid dari perguruan tinggi Hwangguna juga sedang mempersiapkan minuman energi yang terbuat dari buah saloka yang mengandung banyak vitamin dan dicampur dengan buah rubira yang kaya dengan air yang manis.
"Satu tong buah saloka harus dikupas semuanya. Pelayan istana akan ikut membantu" ucap guru Ang dengan tatapan tepat di wajah Arumeey.
Semua murid mengangguk dengan sedikit dipaksakan. Setelah selesai membuat minuman berenergi, para pelayan segera menyalurkan minuman itu pada tamu undangan.
Arumeey merasa sedikit lelah dan belepotan.
__ADS_1
"Aku akan ke kamar mandi sebentar" ucap Arumeey.
"Baiklah. " jawab kanayan.
Arumeey melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Namun kamar mandi pelayan telah penuh dengan piring piring kotor. Arumeey terpaksa pergi ke kamar mandi yang ada di tempat lain.
Saat melewati taman bunga kwasoh, langkah Arumeey seketika terhenti.
"Ini adalah tempat dimana kita bertemu pertama kali" ucap Arumeey lirih.
"Kau menikmati nya?" suara itu telah mengejutkan Arumeey.
"Pangeran!!!"
"Kau menikmati hari hari indah mu?" ucap Pangeran sinis.
"Apa maksudmu yang mulia?" tanya Arumeey benar benar dibuat tidak mengerti.
"Jika ada hal yang membuatmu tidak nyaman, kau bisa terus terang mengatakannya padaku" ucap Arumeey menahan air matanya.
"Itu adalah hal yang seharusnya ku katakan padamu Arumeey. Kau orang pertama yang ada di hatiku. Namun kau juga orang pertama yang menghancurkan hati ini" pangeran membalas dengan menahan amarahnya.
"Kakak, kau ada di sini?" suara nona Onnara telah membelah ketegangan di antara mereka berdua.
"Kakak, yang mulia Ratu mencari mu, calon tunangan mu juga sedang menunggu kakak di sana" ucap nona Onnara terdengar lebih keras dari tempatnya berdiri.
"Pergilah. Aku akan segera menyusul" jawab Pangeran tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Arumeey.
Nona Onnara meninggalkan tempat itu dengan sebuah senyuman licik.
"Karena itu?. Alasan kau terus menghindari ku. Aku benar benar tidak terkejut." ucap Arumeey disusuli buliran air mata yang sudah tidak dapat ditahannya.
"Kau tidak perlu tahu apa alasanku Arumeey. Sebaiknya kau tanyakan pada dirimu sendiri, apa yang telah kau lakukan di belakang ku" ucap pangeran seraya beranjak meninggalkan tempat yang dipenuhi oleh kenangan indah itu.
Kini hanya ada kesedihan yang merambat ke seluruh taman bunga kwasoh itu. Tempat dimana mereka bertemu pertama kalinya juga menjadi tempat mereka mengakhiri kisah cinta itu.
__ADS_1
tbc....