The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 12. Rumah di Atas Bukit


__ADS_3

Nenek Maepong yang sudah berusia 80 tahun masih memiliki tenaga yang cukup untuk pergi ke sana kemari, Tak heran kalau di siang hari rumahnya menjadi kosong.


Arumeey keluar ke ruang utama tatkala mendengar ada yang datang.


"Cucuku, kau ada di sini?" Tanya nenek Maepong saat melihat Arumeey keluar dari kamarnya.


"Nenek, kau darimana saja?" Tanya Arumeey sambil berjalan menghampiri neneknya.


Arumeey memeluk erat tubuh neneknya, sang nenek pun ternyata sangat merindukan cucunya.


Nenek Maepong seketika melepaskan pelukannya saat dia mencium aroma darah pada cucunya.


"Kau terluka??" Tanya nenek Maepong terlihat khawatir sambil meraba raba badan cucunya.


"Apa yang terjadi Arumeey, kenapa kau bisa terluka?" Nenek Maepong sangat khawatir ketika mendapati luka yang dibalut oleh Arumeey.


"Nenek, aku tidak apa apa, ini hanya luka kecil, aku terjatuh dari kudaku" Ucap Arumeey berbohong pada neneknya.


Dia tidak ingin Neneknya menjadi khawatir.


"Kau tidak bisa membodohi ku Arumeey, katakan apa yang terjadi?" Tanya Nenek Maepong yang mengetahui bahwa cucunya sedang berbohong.


Nenek Maepong menarik lengan arumeey dan menyuruhnya duduk di sebuah kursi kayu yang ada di ruang utama.


"Duduklah, aku akan memetik daun rumput sinaga!" Ucap nenek Maepong.


"Tidak perlu nenek, aku sudah memetiknya" Jawab Arumeey dan langsung masuk ke kamarnya.


Arumeey mengambil daun sinaga yang dipetiknya tadi, dia juga menatap kotak yang dibawanya. Namun dia tidak mengambilnya.


Arumeey kembali ke ruang utama. Nenek Maepong tidak ada di sana. Tidak berapa lama, nenek Maepong kembali dengan segelas air dan juga cawan untuk meracik obat luka.


Arumeey menyerahkan daun sinaga pada neneknya. Nenek Maepong mengambil daun tersebut dan mencampurnya dengan beberapa bahan lainnya.


"Minumlah dahulu, aku akan meracik obat ini untuk lukamu" Ucap nenek Maepong


Arumeey mengambil air tersebut dan meminumnya.

__ADS_1


"Nenek, kau jangan terlalu khawatir, Aku hanya kurang beruntung hari ini, Aku bertemu kawanan perampok di tengah hutan, namun aku sudah membereskan semuanya" Ucap Arumeey


Nenek Maepong menghentikan tangannya yang sedang meramu obat, dia menatap pada cucunya.


"Aku sangat mengkhawatirkan mu Arumeey. Aku tidak ingin hal yang terjadi pada kedua orang tuamu juga menimpamu " Ucap nenek Maepong lirih seraya kembali meramu obat itu.


Arumeey terdiam sebentar, lalu berkata sambil menatap lekat wajah neneknya yang sudah dipenuhi oleh kerutan.


"Nenek, sebenarnya apa yang terjadi kepada orang tuaku, Nenek tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya tahu peristiwa yang ku lihat saja, namun aku tidak tahu ada misteri apa dibalik kejadian itu" Ucap Arumeey


"Kau akan segera tahu Arumeey, aku tidak dapat memberitahumu karena aku juga tidak tahu siapa dalangnya" Ucap nenek Maepong.


"Nenek, sebenarnya ada yang ingin aku tunjukan padamu" Ucap Arumeey.


Nenek Maepong menatap kembali pada cucunya.


Arumeey bangun dari duduknya dan masuk ke kamarnya. Dia mengambil kotak yang ditinggalkan oleh orang tuanya, dan membawanya keluar.


Arumeey menyerahkan kotak tersebut pada neneknya.


Nenek Maepong mengernyitkan dahinya.


Nenek Maepong membuka kotak itu dengan sangat hati hati.


"Ini perhiasan ibumu, sebagian perhiasan ini adalah pemberian dari Raja pada ibumu, kau berhak mendapatkan nya" ucap nenek Maepong.


"Nenek, lihat lah botol yang ada di bawah perhiasan perhiasan itu" ucap Arumeey.


Nenek Maepong nampak bingung dan membuka penyekat kotak. Dia melihat botol botol kecil itu dan mengambilnya.


"Ini????, apakah ini obat itu???" tanya nenek Maepong tidak ditujukan pada siapapun.


"Kau mengetahui nya nenek?" tanya Arumeey.


"Aku tidak yakin Arumeey. Ibumu dulu pernah menyelidiki tentang penyakit langka yang menyerang banyak orang di Hwangguna, dia dan ayahmu meneliti berbagai jenis tumbuhan untuk membuat obat penyakit itu, namun hal buruk kerap terjadi, seperti ada seseorang yang memang ingin menghalangi mereka".


Arumeey hanya terdiam mendengar penuturan nenek Maepong.

__ADS_1


"Berhati hati lah Arumeey, jangan sampai ada yang mengetahui identitas mu, kita belum tahu apa tujuan mereka melenyapkan kedua orang tua mu, bisa jadi kamu juga menjadi incaran mereka". lanjut nenek Maepong.


"Nenek, Aku mendapatkan informasi bahwa pasukan elang merah yang membunuh ibu dan ayah hanya menerima perintah dari orang orang besar saja, Apakah menurutmu orang orang dalam istana terlibat dengan kematian ibu dan ayah?" tanya Arumeey.


"Entah lah Arumeey, orang tuamu adalah tabib kepercayaan raja, orang tua mu juga sangat memercayai raja. Aku tidak yakin raja dan ratu terlibat dengan kejadian itu" ucap nenek Maepong.


"Aku belum bisa pastikan apa isi dari ke dua botol ini nenek, tapi aku akan berusaha agar segera bisa masuk ke ruang racik penelitian" ucap Arumeey menatap ke dua botol itu.


"Berhati hatilah Arumeey". Ucap nenek Maepong penuh kekhawatiran.


Nenek Maepong menarik lengan Arumeey dan membalut lukanya.


"Ganti pakaianmu, nenek akan menyiapkan sup bawang putih untukmu" ucap nenek Maepong.


"Baik nek" Arumeey segera bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.


...............


Setelah berganti pakaian, Arumeey melangkah ke dapur. Aroma sup bawang putih merebak ke segala penjuru arah, membuat siapa saja yang menghirup nya merasa ingin menikmati nya.


"Hmmmm harum sekali, aku sangat merindukan masakan nenek" ucap Arumeey mendekati nenek Maepong yang sedang mengaduk sup di dalam kuali yang berwarna hitam.


Nenek Maepong mematikan api, menandakan bahwa sup bawang putih siap di sajikan. Arumeey duduk di atas lantai kayu yang berhadapan langsung dengan jurang yang ada di belakang rumahnya.


Dapur belakang rumah nenek Maepong hanya memiliki dinding di sisi kanan dan kiri, satu sisi yang mengarah ke belakang tidak memiliki dinding sama sekali.


Nenek maepong menyajikan sup bawang putih ke dalam mangkok berwarna hitam, Dia juga menghidangkan dua ekor burung panggang dan juga air kelapa muda.


"Waaah lezat sekaliii" ucap Arumeey tidak sabar ingin segera melahapnya.


"Makan lah, sup bawang putih sangat bagus di santap dengan daging burung kanala, itu akan mempercepat penyembuhan luka mu" ucap nenek Maepong sambil menyodorkan daging burung panggang kepada Arumeey


Arumeey menyeruput kuah sup dan memasukkan daging ke mulutnya, Dia memakannya dengan sangat lahap. Angin sejuk berhembus membelai rambut Arumeey yang indah. Suasana hening, hanya ada suara daun yang bergesekan ditiup angin.


"Nenek, Aku memiliki hubungan dengan pangeran ke dua Hwangguna" ucap Arumeey tiba tiba.


"Uhuk uhuk bhuahak'' Nenek Maepong tersedak mendengar ucapan cucunya.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan Arumeey???" Nenek Maepong tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


tbc...


__ADS_2