The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 30. Kehilangan


__ADS_3

"Nyonya. Gadis itu masih bersikeras ingin masuk ke istana" ucap seorang prajurit.


"Kau sudah mengatakan apa yang aku perintahkan?"


"Sudah nyonya. Aku mengatakan pangeran ke dua yang mengusirnya"


"Perintahkan dayang mei untuk membuat pangeran sibuk di ruang arsip. Jangan sampai ia melihat gadis itu di istana." perintah Kepala tabib istana


"Baik nyonya." prajurit itu pergi meninggalkan Kepala tabib istana yang tengah duduk menikmati minumannya.


"Rasa benci mu harus menyeimbangi rasa cintanya" gumam Kepala tabib istana seraya menyeruput tehnya.


..................


"Aku harus masuk ke dalam" teriak Arumeey dengan wajah penuh amarah.


Prajurit prajurit istana akhirnya menyeret Arumeey menjauhi gerbang istana.


"Nona. Kau benar benar menghilangkan kesabaran kami"


"Pergi lah dari sini sebelum kami melakukan kekerasan. Dan bahkan kau akan menjadi seorang wanita pemberontak" prajurit istana menghempaskan tubuh Arumeey ke atas tanah.


Arumeey terjatuh dengan air mata yang membasahi pipinya. Hatinya sangat sakit. Ia membayangkan wajah pangeran ke dua dengan penuh kebencian.


Arumeey bangkit dan mendekati kudanya. Dia menunggangi kudanya dan kembali ke rumahnya.


"Nenek. Nenekkkkkk" teriak Arumeey melihat neneknya sudah tidak berdaya.


"Nenek. Ku mohon buka matamu" Arumeey mengguncang tubuh neneknya.


"Arumeey" suara lirih keluar dari mulut nenek Maepong. Suaranya hampir tidak terdengar.


Arumeey bercucuran air mata memeluk tubuh neneknya.


"Arumeey... Jaga dirimu..jangan bertindak gegabah.."


"Nenekkkk" Arumeey hanya bisa menangis.


"Nenek. Aku akan membalas semua ini. Orang yang telah menciptakan penyakit ini harus mati di tanganku" ucapnya dengan mata yang berapi api


"Arumeey.. Jangan penuhi hati mu dengan kebencian. Aku pergi dari dunia ini untuk menemuinya. Dia yang sangat ku cintai. Kami tidak ditakdirkan bahagia di dunia ini... Namun kami akan bahagia di alam lain" nenek Maepong tersenyum bahagia, seakan kerinduannya selama ini akan segera terobati.

__ADS_1


Arumeey hanya menangis menyaksikan kepergian nenek Maepong untuk selama lamanya.


"Tidaaaaakkkkkk" Arumeey meraung raung kehilangan satu satunya orang yang ia sayangi.


..................


Usai memakamkan nenek Maepong, Arumeey duduk terdiam di sudut ruangan. Dia tak dapat menangis lagi. Arumeey hanya terdiam memeluk lututnya. Satu satunya orang yang paling ia sayangi kini telah pergi meninggalkan nya seorang diri.


Semua kenangan dan nasehat neneknya berputar dalam kepalanya. Arumeey mengepalkan tangannya, dia merasa tidak berguna karena tidak dapat menolong neneknya.


"Bagaimana aku bisa membalas kematian ibu dan ayah, jika nenek saja gagal aku tolong.'' Arumeey kembali terisak.


Malam itu Arumeey tidak bisa memejamkan matanya. Rasa lelah menyerbu tubuhnya, namun ia tak mampu memejamkan matanya.


Hingga akhirnya Arumeey sudah tidak dapat menahan rasa lelahnya. Ia tertidur tak sadarkan diri.


Ketika Arumeey membuka mata, matahari sudah hampir berada di tengah tengah. Arumeey tersentak dan segera bangkit. Tubuhnya masih sedikit lelah. Arumeey berjalan menuju dapur dan membersihkan dirinya.


Kini hanya dia seorang yang tinggal di sana. Arumeey pergi ke dapur dan mencari apa saja yang bisa di makan. Rasa lapar begitu menyerang perutnya yang sudah kosong sejak kemarin hari.


Tanpa sengaja Arumeey menjatuhkan sebuah botol kecil. Botol itu menggelinding hingga menyentuh kaki meja. Arumeey melihat dan mengambil botol itu, Arumeey tersentak sangat terkejut. Botol yang ia pegang adalah botol yang berisi virus penyakit langka.


Arumeey mengepalkan tangannya dan berkata "ternyata benar. Ada yang sengaja menginginkan kematian nenek."


Arumeey menunggangi kudanya menuju perguruan tinggi Hwangguna. Arumeey berlari terburu buru menemui guru besar Hongdang.


"Nyonya sedang ada tamu. Tunggulah sebentar" ucap asisten Dhoe kepada Arumeey.


Arumeey duduk dengan hati yang tidak tenang. Tidak berapa lama, pintu ruangan itu terbuka. Kepala tabib istana keluar dari ruangan itu dan melihat Arumeey. Arumeey berdiri dan memberi salam kepada orang yang dibencinya.


"Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Kau terlihat berantakan sekali. Apa kau baik baik saja?" ucap Kepala tabib istana sambil tersenyum.


"Anda tidak perlu khawatir nyonya. Aku sangat baik" Arumeey berlalu meninggalkan Kepala tabib istana dengan masuk ke ruangan guru besar Hongdang.


Guru besar Hongdang berdiri menghadap jendela. Wajahnya terlihat cemas. Seakan ada yang dikhawatirkan.


"Guru, maaf mengganggu mu" ucap Arumeey.


"Duduklah Arumeey. Bagaimana kabar Maepong?" guru besar Hongdang duduk di tempat duduknya.


"Nenek sudah tidak ada." Arumeey mencoba tegar dan menahan air matanya.

__ADS_1


Guru besar Hongdang terdiam beberapa saat. Bibirnya terlihat bergetar. Seakan ada yang ingin dikatakannya, namun tak mampu ia ungkapkan.


"Guru, ada yang sengaja menularkan penyakit itu pada nenek. Aku menemukan botol itu di dapur"


"Aku dan Maepong sudah menduga nya. Kau harus berhati hati Arumeey. Kau belum cukup mampu untuk melawan. Kau membutuhkan senjata dan juga perisai." ucap guru besar Hongdang.


"Aku tidak mengerti guru?"


"Lawan mu bukan lah orang sembarangan. Kau butuh dukungan dari istana untuk melawan istana" lanjutnya yang semakin membuat Arumeey tidak mengerti.


"Arumeey. Ingatlah pesan nenek Maepong. Kau tidak boleh gegabah. Kau harus benar benar siap sebelum terjun ke medan perang"


Arumeey terdiam mendengar penuturan guru besar Hongdang. Selama ini guru besar Hongdang telah banyak membantu dirinya dan juga neneknya. Sebenarnya Arumeey sangat segan meminta bantuan lagi kepada guru besar Hongdang.


"Guru, sebenarnya aku ingin meminta tolong lagi pada mu" ucapnya dengan sedikit berat.


"Katakanlah Arumeey. Aku akan membantu sebisa ku"


"Aku ingin membangun sebuah rumah pengobatan. Namun aku perlu bantuan mu untuk menjual perhiasan perhiasan ini. Sebagian perhiasan ini berasal dari istana. Aku takut ada yang mencurigai ku"


Arumeey menyodorkan kotak yang berisi perhiasan perhiasan itu.


Guru besar Hongdang melihat dan mengambil perhiasan itu.


"Aku akan menjualnya untukmu. Temui aku lagi besok hari"


"Baiklah guru. Terimakasih. Kau sudah banyak membantu ku." Arumeey bangkit dan meninggalkan ruangan guru besar Hongdang.


Arumeey meninggalkan perguruan tinggi Hwangguna dan menuju ke pasar taraka. Dia melihat lihat beberapa toko yang di sewakan.


"Nona. Letak toko ini sangat strategis. Usahamu akan sangat laris jika kau menyewa toko ku." ucap salah seorang empu toko.


"Aku ingin membuka tempat pengobatan. Apa menurutmu ini tidak terlalu luas"


"Baiklah. Saya akan menunjukkan satu toko lagi yang tidak terlalu luas. Namun tempatnya juga bagus. Ikuti aku nona"


Arumeey mengikuti pria tua itu.


Tidak berapa lama, mereka sampai di sebuah toko yang kosong. Arumeey melihat ke sisi lainnya. Toko itu terletak tepat di depan rumah hiburan.


"Anda tidak perlu cemas nona. Suasana di sini aman terkendali. Belum pernah ada keributan meskipun tempat ini terletak di depan rumah hiburan" pemilik toko membaca kekhawatiran Arumeey.

__ADS_1


tbc......


__ADS_2