
Arumeey memacu kudanya meninggalkan kota taraka. Tujuannya adalah rumah di atas bukit. Sakit yang ia rasakan semakin merobek perutnya.
Matahari berada tepat di atas kepalanya, keringat mengalir membasahi seluruh tubuhnya. Arumeey sesekali memegangi lukanya dan menoleh kebelakang kalau kalau mereka terus mengejarnya.
Rasa sakit diperutnya kian menjadi jadi karena guncangan di atas kuda. Setelah melewati hamparan rumput sinaga, Arumeey merasa sedikit lega.
"Sedikit lagi. Aku harus tetap bertahan" batinnya sambil terus memacu kudanya.
Setelah melewati hamparan rumput sinaga dan menaiki bukit hitam, akhirnya Arumeey tiba di depan rumahnya. Arumeey turun dari kudanya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Dengan tangan gemetar Arumeey meraba luka di perutnya. Bajunya telah dibasahi oleh darah yang bercampur dengan keringat.
Dengan langkah gontai, Arumeey masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka sebuah lemari kecil dan mengambil obat obatan dasar yang ada di sana.
Arumeey melepaskan kain pembalut luka dan membersihkan lukanya, lalu dia mengoleskan obat dan menutup kembali luka itu.
Arumeey berbaring di tempat tidurnya dengan menahan sakit serta rasa lapar. Ia memandang langit langit hingga seluruh kesadarannya hilang.
..............
"Katakan. Kemana perginya gadis itu?"
"Aku sungguh tidak tahu tuan. Aku baru beberapa hari ini mengenalnya. Aku meminta padanya untuk menjadikan aku sebagai pelayannya. Aku sungguh tidak tahu apa apa tentang dirinya." Ishika menjawab dengan tubuh gemetaran.
"Apa kau sedang berusaha untuk melindunginya?. Kau akan dianggap sebagai pengkhianat jika ternyata kau berbohong!"
"Ampun tuan. Aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku benar benar tidak tahu."
"Sial" pengawal Yungsha melempar tubuh Ishika.
"Temukan gadis itu hidup ataupun mati" perintah raja Shaka.
"Baik yang mulia." ketiga pengikutnya serentak menjawab.
Mereka melangkah pergi meninggalkan Ishika yang masih dalam keadaan terkejut.
"Apa yang kau ketahui tentang gadis itu?" tanya raja Shaka pada kasim Shohun.
"Tidak banyak yang mulia"
"Apa kau ingin mati? Bukan kah aku sudah menyuruhmu untuk mencari informasi tentang gadis itu?" bentaknya pada kasim Shohun.
"Maafkan saya yang mulia. Tidak banyak informasi tentang gadis itu. Namun gadis itu baru saja lulus dari perguruan tinggi Hwangguna"
"Perguruan tinggi Hwangguna?. Aku tidak pernah melihatnya selama ini"
"Mungkin karena anda terlalu sibuk dengan gadis gadis yang ada di rumah minuman yang mulia"
"Bajingan. Lancang sekali mulutmu. Kau ingin mati?"
__ADS_1
"Am-ampun yang mulia"
Pengawal Yungsha dan pengawal Kuyuk menahan tawa di belakang yang mulia raja.
"Kalian berdua, pergilah ke toko percetakan buat pengumuman untuk memburu gadis itu. Dapatkan gambar gadis itu di perguruan tinggi Hwangguna!"
"Baik yang mulia" keduanya pun pergi meninggalkan kasim Shohun dan yang mulia raja.
...............
"Aku tidak dapat memberikan gambar Arumeey pada sembarangan orang" ucap guru besar Hongdang.
"Ini adalah perintah langsung dari yang mulia raja. Sebaiknya nyonya tidak melawan perintah raja."
Guru besar Hongdang terdiam. Dia berpikir, apa lagi yang terjadi pada gadis itu. Kenapa yang mulia raja meminta gambar wajahnya.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
Kedua pengawal yang mulia raja saling menatap seakan tak ingin bicara.
"Katakanlah"
"Gadis itu telah berani melawan kehendak yang mulia raja. Bahkan dia berani menyerang raja"
"Apa?" guru besar Hongdang terbelalak mendengar penuturan pengawal pribadi raja.
Kedua pengawal pribadi raja meninggalkan perguruan tinggi Hwangguna setelah mendapatkan gambar wajah Arumeey.
...............
"Yang mulia. Ini adalah selebaran yang sudah kami cetak" pengawal Yungsha menyerahkan sebuah selebaran kepada raja Shaka.
Dengan penuh semangat raja Shaka mengambil dan melihat seluruh isi selebaran itu.
"Kerja bagus. Jika dia tidak ingin ku miliki, maka dia harus musnah dari dunia ini" ucapnya dengan tatapan dingin yang kosong.
"Sebar luaskan selebaran ini hingga ke pelosok negeri Hwangguna!"
"Baik yang mulia"
Pengawal Kuyuk dan pengawal Yungsha memerintahkan puluhan prajurit untuk ikut serta menyebarluaskan selebaran tentang gadis yang diburu.
Setelah disebarluaskan, selebaran itu langsung sampai ke tangan dayang Chucha. Dayang setia nyonya kepala tabib istana.
"Nyonya. Nyonya" dayang Chucha tergopoh gopoh menghampiri kepala tabib istana.
"Kau kenapa? Apa ada yang ingin kau sampaikan?"
"Nyonya, lihat lah yang ku bawa ini" dayang Chucha menyerahkan selebaran itu pada kepala tabib istana.
__ADS_1
Dengan penuh rasa penasaran, kepala tabib istana mengambil dan membaca isi selebaran itu. Seketika matanya terbelalak ketika gambar wajah Arumeey terpampang di selebaran itu dengan tulisan yang berbunyi "hidup atau mati, hadiah dua ribu rop bagi yang menemukan Arumeey"
Kepala tabib istana tersenyum lebar penuh kejutan.
"Ini sangat menarik. Sampaikan berita ini pada pangeran ke dua. Ini akan semakin menarik untuk ditonton"
"Baik nyonya"
..............
Di kediaman pangeran Zhumma.
Pangeran ke dua meremas selebaran itu dengan tangan gemetar dan wajah menahan amarah.
"Kurang ajar!"
Pangeran ke dua bangkit dari tempat duduknya.
"Pangeran, anda sebaiknya tidak ikut campur. Raja Shaka sangat susah ditebak"
"Diam lah. Aku akan menyelesaikan ini malam ini juga" pangeran ke dua meninggalkan kediamannya dan menuju kediaman utama istana Hwangguna.
Setelah tiba di sana, kasim Shohun menyambut pangeran kedua dengan ramah.
"Suruh dia keluar. Aku ingin bicara dengannya" dengan lantang pangeran ke dua memerintahkan kasim Shohun.
Suaranya yang keras terdengar hingga ke dalam kamar raja Shaka. Raja Shaka merasa penasaran dengan kehadiran pangeran ke dua yang terlihat penuh amarah.
Pintu utama terbuka. Raja Shaka keluar dengan wajah penuh senyuman.
"Selamat datang wahai adikku. Kau menemui ku selarut ini, apakah ada hal yang ingin kau sampaikan?" dengan wajah yang tidak bersalah raja Shaka menuruni anak tangga untuk menemui pangeran ke dua.
"Perintahkan prajurit mu untuk mencabut seluruh selebaran itu!"
Raja Shaka terlihat sedikit bingung dengan sikap pangeran.
"Itu urusanku. Tidak ada hubungannya denganmu. Kenapa aku harus mencabutnya?"
Pangeran ke dua terlihat semakin penuh amarah.
"Apakah kau sudah kekurangan wanita, hingga semua perempuan di Hwangguna ingin kau kuasai. Kau sebaiknya menjauhkan dirimu dari Arumeey"
"Kau mengenalnya?. Apa hubungan mu dengan gadis itu?. Oh tunggu, jangan menjawab, karena aku tidak ingin tahu. Kau sebaiknya kembali ke kediaman mu dan tidurlah dengan nyenyak" ucap raja Shaka setengah mengejek.
Amarah pangeran Zhumma telah sampai ke ubun ubunnya. Dengan cepat sebuah tendangan mendarat di wajah raja Shaka.
"Hentikan pangeran. Tenangkan diri anda" pengawal pribadi pangeran kedua segera menarik lengan pangeran Zhumma.
Raja Shaka bangkit dan berkata, "kasim Shohun, perintahkan pengawal Yungsha untuk mengambil lencana keanggotaan utama Hwangguna dari pangeran ke dua" raja Shaka meninggalkan pangeran ke dua.
__ADS_1
"Pangeran kau harus bisa menahan emosi anda. Sekarang anda kehilangan lencana utama, bagaimana anda bisa menyelesaikan tugas tugas anda?".
tbc..