
Suara nyanyian burung, merdu menghiasi keheningan rumah di atas bukit. Angin berhembus lembut membelai dedaunan yang sunyi. Mentari pagi menerobos celah jendela kamar dan menyilaukan mata Arumeey yang sembab.
Arumeey membuka matanya dan mengumpulkan setiap ingatan yang terjadi kemarin hari. Dia meraba luka di perutnya, terasa nyeri sekali. Arumeey bangkit dan meraih pengait yang mengapit daun jendela. Sinar matahari pagi seketika itu menyilaukan pandangannya. Arumeey mencoba berbaur dengan suasana sunyi pagi itu.
Setelah duduk sejenak di tengah terpaan mentari pagi, Arumeey mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Dengan langkah gontai Arumeey berjalan menuju kamar mandi. Tangannya memegangi luka di perutnya dan dengan tangan lainnya yang memegangi dinding kayu Arumeey terus melangkah.
Hangatnya air pegunungan menyapu wajahnya yang putih pucat karena kehilangan banyak darah.
Setelah membersihkan diri, Arumeey membalut lukanya dan berganti pakaian. Ia mulai merasakan lapar yang menjerit jerit. Arumeey membuka lemari di dapur dan mendapati daging kering yang sudah mulai berjamur.
Arumeey mengambil pisau dan membersihkan daging itu dari gempuran jamur yang menyelimuti permukaan daging, lalu memasaknya dengan bahan seadanya.
Aroma kuah daging menyeruak dari dalam panci membuatnya tidak sabar untuk memasukkan sup itu ke dalam mulutnya.
Setelah perutnya terisi, Arumeey mulai mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya. Dia mulai mengkhawatirkan nasib Ishika. Bagaimana jika bajangan bajangan itu kembali ke tokonya.
"Tapi sebaiknya aku memikirkan lukaku dahulu. Aku harus segera sembuh" Arumeey meminum ramuan obat yang diseduhnya ke dalam mangkuk kecil.
Pahit yang menggelegar segera terasa mengaliri tenggorokan nya, membuat Arumeey hampir memuntahkan seluruh cairan itu.
Selama beberapa hari Arumeey tidak meninggalkan rumahnya, Ia hanya fokus dengan lukanya agar segera kering dan sembuh. Ia memanfaatkan daging kering dan beberapa tanaman disekitar rumahnya yang bisa ia gunakan sebagai bahan makanan.
..............
Sementara itu di istana Hwangguna.
"Ampun yang mulia. Gadis itu sangat sulit ditemukan. Kami sudah menelusuri seluruh penjuru Hwangguna namun tidak ada jejak gadis itu" seorang prajurit berlutut dihadapan raja Shaka.
Raja Shaka Hwangguna mengepalkan tangannya dengan raut wajah dingin yang kejam.
"Tidak berguna!. Kirimkan prajurit ke kota Karka dan Kidoka serta ke seluruh desa di sekitarnya!"
"Baik yang mulia" sahut kasim Shohun.
"Kemanapun kau pergi, Aku akan mendapatkan mu!" ucap raja Shaka dengan sebuah senyum yang mengerikan seperti singa yang kelaparan.
__ADS_1
.................
"Apa yang sedang direncanakan oleh anak bodoh itu?" ucap kepala tabib istana kepada beberapa pejabat istana lainnya.
"Yang mulia raja berperilaku seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya" sahut pejabat Lingmay. Pejabat istana yang memegang jabatan sebagai kepala keamanan.
"Hwangguna akan sangat lemah jika separuh prajurit dikirimkan ke seluruh kota hanya untuk mencari rumput tak berguna itu" kepala tabib istana dibuat sangat geram dengan tingkah raja Shaka.
"Anda benar nyonya. Akan sangat mudah bagi pemberontak untuk melancarkan rencana yang telah lama mereka pendam" pejabat pejabat yang lainpun setuju dengan apa yang diutarakan oleh pejabat Lingmay.
"Pangeran ke dua harus turun tangan. Dia berhak atas keamanan istana"
"Tapi nyonya. Aku dengar lencana utama Hwangguna sudah tidak berada ditangan pangeran Zhumma"
"Apa maksudmu?" tabib istana melotot terkejut.
"Benar nyonya. Beberapa hari yang lalu aku dengar raja Shaka dan pangeran Zhumma bertengkar hebat yang berujung dengan pengambilan lencana utama"
"Bocah itu!!'' wajah kepala tabib istana merah padam mendengar penuturan pejabat Lingmay.
Kepala tabib istana bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kediaman pangeran ke dua.
"Baiklah. Persilakan dia masuk"
"Baik yang mulia"
Beberapa saat kemudian kepala tabib istana sudah berada di ruang tengah kediaman pangeran kedua. Seorang pelayan datang dan menuangkan teh awet muda.
"Silahkan nyonya"
Kepala tabib istana mengambil teh dan meneguknya sedikit. Dia meletakkan kembali cangkirnya sambil menatap pangeran kedua.
"Yang mulia. Setelah raja Shaka memakai mahkota raja, kerajaan Hwangguna menjadi lemah dan terancam. Sekarang raja ingin mengirim sebagian prajurit hanya untuk mencari gadis itu. Kerajaan akan semakin terguncang"
"Yang mulia mengirim prajurit?" pangeran kedua terkejut mendengar kabar itu. Beberapa hari ini dia tidak keluar dari kediamannya hingga tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh kakaknya.
"Benar yang mulia. Raja shaka akan mengirim separuh prajurit untuk menangkap Arumeey. Dia bahkan mengirim prajurit ke seluruh kota Karka dan Kidoka."
__ADS_1
"Apa?. Karka dan Kidoka? Dia benar benar akan melakukan itu?"
"Tentu saja raja Shaka akan melakukan itu. Pikirannya yang ingin memiliki semua wanita telah mengalahkan akal sehatnya yang memang cuma sedikit"
Pangeran Zhumma mengepalkan tangannya. Ia sangat marah. Ia sangat mengkhawatirkan Arumeey.
Pangeran Zhumma bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan meninggalkan kepala tabib istana yang tersenyum licik dibelakangnya.
................
Arumeey memeriksa kembali lukanya yang sudah kering. Ia kemudian mengambil sebuah gunting dan menatapnya sejenak dengan tatapan ragu.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya" Arumeey mengurungkan niatnya. Ia terlalu menyayangi rambutnya.
Ia memikirkan cara lain. Ia teringat ramuan pengubah warna rambut kemudian ia segera pergi keluar mencari beberapa macam rumput yang akan Ia racik sebagai pewarna rambut.
Setelah mendapatkan rumput yang diperlukan, Arumeey segera kembali kedalam rumah dan meracik ramuan pewarna rambut.
"Warna ini akan hilang jika terkena air. Aku harus berhati hati" Arumeey mengoleskan ramuan yang telah disaring ke seluruh rambut nya yang pirang. Kini rambutnya terlihat berwarna coklat.
"Aku harus turun ke kota. Aku harus mencari tahu apa yang sedang terjadi"
Setelah pewarna rambutnya mengering, Arumeey memakai pakaian yang lusuh dan mengambil sebuah selendang. Ia memakai selendang hingga menutupi sebagian wajahnya.
Arumeey menunggang kudanya dan menuruni bukit hitam. Ia melewati hutan menuju kota taraka. Kota yang selama ini memberikan kenyamanan kini telah menjadi ancaman bagi dirinya.
Kota taraka menjadi kota yang dingin bagi Arumeey, Ia bahkan tidak bisa mengangkat wajahnya karena takut ada yang mengenalinya.
Setelah tiba di pusat kota, Arumeey disambut oleh selebaran selebaran tentang pencarian dirinya. Dia amat terkejut. Dia tidak menyangka raja Shaka akan bertindak sejauh itu. Kini Arumeey harus berhati hati, ia menutup wajahnya dengan selendangnya.
Ia pun kemudian berjalan kearah pasar dan membeli beberapa keperluannya. Ia juga membeli bahan bahan makanan. Setelah membeli kebutuhannya Arumeey berjalan kembali. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Ishika, namun dia tetap melihat ke arah toko itu. Dan terlihat Ishika sedang melayani beberapa pembeli.
Arumeey merasa lega karena melihat Ishika baik baik saja.
"Dia sudah sangat menderita, aku tidak boleh membuatnya terlibat ke dalam masalah ku" ucap Arumeey di dalam hatinya.
tbc....
__ADS_1
maaf ya teman teman. baru up lagi. Author sedang dalam kondisi yang kurang baik. Alhamdulillah sekarang sudah bisa up lagi. jangan lupa Baca Bab berikutnya ya. karena kisahnya baru akan dimulai. hehehheš„°