The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 25. Penobatan Raja Ke Sembilan


__ADS_3

Setelah menyuguhkan tarian tradisional, acara utama akhirnya mulai dilaksanakan. Penobatan raja Shaka Hwangguna sebagai raja kesembilan dipimpin oleh yang mulia ratu. Para pendukungnya bersorak dengan gembira.


Mahkota kerajaan di sematkan di kepalanya. Arumeey dan murid lainnya menyaksikan dari kursi paling belakang. Semua tamu undangan mulai menikmati hidangan utama yang disiapkan oleh pelayan pelayan istana.


Kepala tabib istana tampak tengah duduk dengan pangeran ke dua dan dua orang yang tidak dikenal oleh Arumeey.


Arumeey ingin segera pergi dari situ. Namun ketika dia beranjak dari situ, nyonya Kepala tabib istana menghentikan langkah nya.


"Ow. Arumeey. Kemari lah" panggilnya dengan sebuah senyuman.


"Ada apa nyonya?"


Kepala tabib istana seketika tersenyum kepada gadis cantik dan seorang laki laki paruh baya yang duduk di meja bersamanya.


"Ini adalah Arumeey. Murid pemberani yang mampu melewati ujian pengobatan luka secara instan" ucap nya.


Pangeran hanya menunduk tak menoleh sedikitpun.


Arumeey tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Arumeey, ini adalah putri Azarrin, putri ke tiga dari kerajaan babasal. Tidak lama lagi dia akan bertunangan dengan pangeran ke dua hwangguna." lanjutnya.


Seketika dadanya terasa sesak dan panas. Namun ia mencoba untuk menahannya.


"Salam putri. Aku ucapkan selamat. Aku permisi dulu" ucap Arumeey sambil menatap wajah pangeran ke dua.


Arumeey mengangkat kakinya dan pergi dari tempat itu.


Acara penobatan itu berlangsung tanpa ada kendala. Setelah membereskan semuanya, murid murid diminta segera kembali ke asrama.


"Arumeey" panggil guru Ang.


Semua orang menoleh kepadanya.


"Maaf sebelum meninggalkan istana, aku ingin bicara dengan Arumeey sebentar saja" ucap guru Ang.


Semua orang kembali melanjutkan langkah kakinya, sementara Arumeey tetap berdiri menunggu apa yang ingin dikatakan oleh guru Ang.


"Arumeey. Aku mungkin tidak punya kesempatan untuk meminta maaf padamu. Aku tahu kau sangat marah dan kecewa. Namun sebagai permintaan maaf ku. Aku ingin menunjukan sesuatu pada mu" ucap guru Ang.

__ADS_1


"Sesuatu?. Aku tidak ingin melihat apa pun saat ini. Suasana hati ku sedang tidak baik. Maaf guru" Arumeey membalikkan badannya ingin segera berlalu.


"Arumeey. Kau yakin tidak ingin melihatnya. Aku sengaja meminta izin kepada kepala tabib istana agar bisa masuk ke dalam ruang obat obatan yang ada di istana" lanjut guru Ang.


Langkah Arumeey terhenti.


"Apa yang ingin kau tunjukan pada ku guru?" tanya Arumeey mulai penasaran.


"Aku ingin menunjukan Air hujan yang di tampung dalam guci suci bahuban. Bukankah kau ingin mengetahuinya?"


Mata Arumeey terbuka lebar, ketika ia mendengar guci suci itu di sebutkan. Dia memang sangat ingin melihatnya. Air hujan yang di tampung dalam guci itu merupakan salah satu bahan yg di gunakan untuk obat penyakit langka yang diteliti oleh ibunya.


"Baik lah guru. Aku rasa tidak ada salahnya memberimu satu kesempatan." ucap Arumeey dengan wajah dingin.


Mereka beranjak dari tempat itu menuju ruang obat obatan yang ada di istana Hwangguna. Ada banyak tanaman herbal yang di tanam di depan bangunan tua itu.


Arumeey dan guru Ang melangkah masuk ke dalam ruangan tua yang berwarna hitam pekat itu.


Suasana lembab begitu terasa di dalam ruangan itu. Di tengah tengah ruangan ada atap yang terbuka. Cahaya dari celah itu menembus tepat ke atas sebuah guci berwarna hitam pekat.


Arumeey segera berjalan mendekati guci itu.


"Ini.... Ini kah guci suci itu???" tanya Arumeey.


Arumeey terlihat sangat kagum dengan guci itu. Dia menyentuh permukaan guci itu. Terasa begitu dingin. Air di dalamnya penuh hingga hampir tumpah ke salah satu sisi yang miring.


"Ruangan ini ada dalam pengawasan Kepala tabib istana. Sejak ia menjabat sebagai kepala tabib istana, obat obatan di sini tidak didistribusikan secara luas ke luar istana"


Arumeey terdiam mendengarkan penuturan guru Ang.


"Sebelumnya ruangan ini diawasi oleh tabib Huwanzha. Ku dengar mereka telah menemukan ramuan untuk penyakit langka. Namun sayangnya mereka tidak punya kesempatan untuk merilis obat tersebut." lanjutnya.


"Kepala tabib istana dahulu bekerja di bawah tabib Huwanzha. Meski pun dia adalah putri raja, namun raja tidak memperlakukan nya dengan spesial. Tabib Huwanzha adalah tabib kepercayaan raja" lanjut guru Ang semakin membuat hati Arumeey berdegup kencang.


"Apakah air dari guci ini boleh di gunakan oleh orang luar?" tanya Arumeey.


"Itu tidak mungkin Arumeey. Air hujan ini sangat sulit didapatkan. Hanya air hujan yang turun di saat bulan purnama yang memiliki khasiat untuk pengobatan. Air hujan ini sangat di jaga oleh kepala tabib istana"


Arumeey tidak menjawab apapun.

__ADS_1


"Apa ada lagi yang ingin kau lihat?" tanya guru Ang mencoba mengambil hati Arumeey.


"Saat ini pikiranku sedang keruh. Aku rasa sudah cukup untuk hari ini guru" ucap Arumeey.


Mereka keluar dari tempat itu. Penjaga ruangan itu kembali mengunci rapat tempat itu.


Saat berjalan keluar, Arumeey sudah tidak fokus lagi. Pikirannya mengambang ke langit ke tujuh. Tanpa ia sadari di depannya kini ada Pangeran dan Kepala tabib istana.


Guru Ang memberi hormat kepada mereka. Arumeey yang terkejut pun seketika menunduk memberi hormat.


"Kalian sepertinya sangat menikmati tempat ini. Syukurlah. Guru Ang, Kau memang sangat pintar memilih" ucap Kepala tabib istana seraya tersenyum lebar.


Arumeey bergetar mendengar ucapan Kepala tabib istana.


"Apa maksud ucapan mu nyonya, Apakah kau berada dibalik kemarahan pangeran?" batin Arumeey.


Kepala tabib istana melirik Arumeey dengan wajah licik. Sekarang Arumeey mengerti apa yang sedang terjadi.


"Ayo Bibi. Kita tidak punya banyak waktu di sini. Yang mulia ratu sedang menunggu" ucap Pangeran dengan wajah dingin menyimpan sakit hati.


Kepala tabib istana dan Pangeran berjalan melewati Arumeey dan guru Ang.


"Ayo Arumeey. Sebaiknya kita segera kembali ke perguruan tinggi Hwangguna"


"Kita harus pergi secara terpisah. Ada sesuatu yang harus ku beli di pasar" ucap Arumeey segera bergegas menjauhi guru Ang.


Arumeey segera meluncur menuju ke pasar utama kota taraka. Dia masuk ke salah satu rumah makan.


Arumeey duduk di sebuah meja dan memesan sup ayam bawang hitam. Dia ingin mendinginkan susana hatinya.


"Jadi kau yang bermain di balik semua ini" ucap Arumeey dengan tatapan dingin.


"Seharusnya aku menyadarinya sejak pertama. Namun aku tidak berpikir kau akan melakukan sejauh itu" lanjutnya.


Arumeey melihat sekeliling rumah makan ada beberapa orang yang terlihat tengah membicarakan tentang penyakit langka.


Telinga Arumeey seketika mencuri dengar.


"Kau tahu, Aku dengar ada seorang tabib yang bisa menyembuhkan penyakit langka. Namun bayarannya sangat tidak masuk akal" ucap seorang pria yang berpenampilan acak acakan kepada lawan bicaranya.

__ADS_1


"Benarkah?? Apa bayaran yang diminta??" tanya pria itu penasaran.


tbc.....


__ADS_2