The Beast Beauty

The Beast Beauty
BAB 17. Ruang Racik


__ADS_3

Arumeey memasuki ruang aula utama dan menuju ke ruang tunggu.


Arumeey membuka pintu ruang tunggu. Setelah pintu terbuka Arumeey segera menghamburkan dirinya memeluk sang Pangeran yang sedang menunggunya di dalam ruangan.


Pangeran ke dua memeluk erat tubuh Arumeey.


"Kau tidak apa apa?" ucap Pangeran masih memeluk Arumeey.


"Aku sangat merindukan mu yang Mulia" ucap Arumeey yang sangat merindukan sang kekasih.


Semalaman dia merasa sedih dan kesepian. Kehadiran pangeran kedua telah mengusir seluruh rasa itu.


"Arumeey, katakan pada ku. Apakah kepala tabib istana menyakiti mu?" tanya pangeran setelah melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Arumeey.


"Tidak yang Mulia. Aku baik baik saja. Karena nya... Aku benar benar merasa telah menjadi tabib. Aku bersyukur karena telah melewati ujian itu" jawab Arumeey tidak menatap mata pangeran ke dua.


"Kau adalah gadis yang luar biasa, Aku semakin kagum pada mu" ucap pangeran ke dua bersungguh sungguh.


"Kau datang kemari sendirian?"


"Iya. Aku sangat khawatir, Arumeey'' ucap yang mulia seraya memegang bahu Arumeey.


"Terimakasih yang mulia" ucap Arumeey merasa sangat bahagia.


....................


Saat pangeran ke dua keluar dari Aula utama, tanpa sengaja Nona Onnara melihatnya. Dia penasaran apa yang dilakukannya di sini.


Nona Onnara buru buru masuk ke gedung aula utama. Arumeey yang baru saja keluar dari ruang tunggu berpapasan dengannya.


Arumeey membungkukkan badannya dan berlalu begitu saja.


Nona Onnara menoleh ke arah Arumeey dengan wajah penuh kebencian.


Nona Onnara segera pergi menuju istana untuk menemui ibunya.


...............


Di kediaman Raja


"Anda tidak boleh kelelahan yang Mulia. Anda harus banyak istirahat dan tidak boleh melewatkan obat anda" ucap Kepala tabib istana setelah memeriksa kesehatan yang Mulia Raja.

__ADS_1


"Yang Mulia. Sebaiknya anda segera melakukan penobatan Putra mahkota sebagai pewaris tahta. Aku sangat khawatir dengan keadaan yang Mulia" ucap yang Mulia Ratu dengan raut wajah penuh kesedihan.


Kepala tabib istana yang sedang menyiapkan obat untuk yang mulia Raja terlihat tidak senang.


"Pikirkan lagi Yang Mulia, sebelum anda melakukan kesalahan. Jangan sampai kerajaan ini hancur di tangan putra anda sendiri" ucap Kepala tabib istana yang membuat murka Raja ke delapan Hwangguna.


"CUKUP!!!!. Aku yakin Putra mahkota akan memimpin kerajaan ini dengan benar. Kau tidak perlu ikut campur... Uhuk uhuk uhuk bhuahak" yang Mulia raja batuk dan mengeluarkan cairan merah.


"Yang Mulia, Yang Mulia. Lakukan sesuatu Kepala tabib" teriak yang Mulia Ratu penuh kepanikan.


"Anda harus tenang yang Mulia. Minum lah" kepala tabib istana memberikan secangkir obat.


Setelah meminum obat,


Yang Mulia Raja tertidur di tempat tidurnya.


....................


Kepala tabib istana dan dayang nya kembali ke kediaman nya setelah memeriksa kesehatan raja.


Nona Onnara telah menunggunya di sana.


"Putri ku. Kenapa kau datang ke sini. Pejabat istana sedang panas melihat ku karena ujian kemarin. Sekarang kau dengan seenaknya keluar masuk perguruan tinggi. Apakah kau ingin memperkeruh keadaan?" bentak Kepala tabib istana masih diselimuti emosi dengan sikap Raja.


"Apa maksudmu?" tanya Kepala tabib istana dengan mata yang menyala nyala.


"Arumeey dan pangeran ke dua kembali bertemu. Mereka bertemu terang terangan di perguruan tinggi Hwangguna"


PRIIIINNGG......


sebuah vas bunga keramik hancur berantakan di lempar oleh Kepala tabib istana. Dayang Chucha lari tergopoh gopoh memasuki kamar Kepala tabib istana.


Setelah melihat Kepala tabib istana dengan wajah merah menyala Ia pun beringsut keluar perlahan.


Nona Onnara masih berdiri mematung di tempatnya karna sangat terkejut dengan reaksi sang ibu yang melemparkan vas ke dinding kamarnya.


"Kembali lah ke asrama, Aku akan mengurusnya" ucap Kepala tabib istana dengan menahan emosi.


Nona Onnara meninggalkan kediaman Kepala tabib istana dengan sebuah senyuman licik.


...................

__ADS_1


Beberapa hari kemudian ujian ulang diadakan untuk murid murid yang belum lewat ujian ke tiga. Arumeey sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam ruang racik. Dia duduk sambil memperhatikan ke dua botol yang di titipkan oleh orang tuanya.


"Aku akan segera mencari jawabannya" ucap Arumeey tidak mengalihkan pandangannya dari botol botol itu.


Sore harinya pengumuman telah keluar. Murid murid berkumpul di aula utama. Mereka bersorak gembira karena dinyatakan lulus dan naik ke tingkat tujuh.


Guru Hongdang mengucapkan selamat kepada seluruh murid dan menyatakan mereka semua telah naik ke tingkat tujuh.


"Selamat untuk semua murid tingkat enam. Kalian telah berhasil. Dengan itu, mulai hari ini kalian diberikan izin untuk belajar di Ruang Racik dan juga kalian telah diperbolehkan memasuki perpustakaan utama kota taraka" ucap guru besar Hongdang.


Semua murid sangat kegirangan, tak terkecuali Arumeey. Dia telah menantikan ini berbulan bulan lalu.


..................


Keesokan harinya murid tingkat tujuh mendapat giliran untuk masuk ke dalam ruang racik. Kelas Arumeey mendapat giliran pertama menggunakan ruang racik.


"Wow... Ternyata ruang ini memang benar benar luar biasa" ucap Kanayan saat pertama masuk ke ruang racik.


Arumeey hanya diam terkagum kagum dengan ruangan itu.


Ruangan yang berukuran sepuluh kali delapan meter dipenuhi oleh alat alat penelitian. Ada meja dan kursi yang berjejer berhadap hadapan. Di atas meja ada begitu banyak benda dan alat alat untuk pengujian dan peracikan.


Setelah memasuki ruangan para murid disambut oleh dua orang guru bidang peracikan yang bernama Ang dan Sha.


Setelah itu mereka mulai menjelaskan tentang hal yang bersangkutan dengan benda dan alat alat yang ada di ruangan itu.


Arumeey menyimak dengan serius setiap perkataan yang keluar dari mulut guru Ang dan guru Sha.


Para murid mulai duduk di kursi kursi yang telah di sediakan. Mereka akan mulai belajar mengenali Alat alat yang digunakan untuk penelitian.


Kali ini guru Ang membagi para murid ke dalam dua kelompok. Satu kelompok akan diajari oleh guru Ang dan satu kelompok lagi akan belajar dengan guru Sha.


Arumeey dan Kanayan masuk ke dalam kelompok guru Ang. Guru Ang adalah seorang pria berusia tiga puluh delapan tahun. Dia memiliki wajah tampan dan senyum yang ramah. Sedangkan guru Sha adalah seorang wanita yang berusia empat puluh tahun, perawakannya tegas dan tidak banyak bicara.


Guru Ang mulai memperkenalkan alat untuk mendeteksi sebuah penyakit. Alat itu berukuran sekitar tiga puluh centimeter. Alat itu digunakan dengan cara mengambil sampel darah.


Kemudian guru Ang lanjut mengenalkan beberapa alat lainnya. Yang terakhir adalah sebuah alat yang sangat di tunggu tunggu oleh Arumeey. Alat itu dapat meneliti kandungan yang terdapat dalam obat obatan, minuman maupun makanan. Arumeey sangat antusias.


Dia seakan tidak sabar ingin menguji botol itu dengan alat tersebut.


Setelah selesai belajar Arumeey dan yang lainnya meninggalkan ruang racik.

__ADS_1


...................


Keesokan harinya Arumeey sudah tidak dapat menahan keingintahuannya akan isi botol botol tersebut. Arumeey memasukkan kedua botol itu ke dalam sakunya dan berjalan menuju ruang racik.


__ADS_2