
Arumeey menghantam tongkat itu pada tubuh pria itu. Namun dengan cepat pria itu berjongkok menghindari serangan Arumeey.
Gadis yang terikat itu beringsut menghindari pertarungan itu. Dia bersembunyi di sudut lemari kayu.
Tabib tua kotor mencoba berlari mendekati gadis yang terikat itu. Arumeey dengan cepat memukulkan tongkat pada betis tabib kotor itu.
Tabib jatuh terjerembap di atas lantai kayu.
Hyaaaat
bughh
Sebuah tendangan dari belakang menghantam punggung Arumeey yang berusaha menjatuhkan tabib kotor.
Pria itu berusaha melompat ke atas tubuh Arumeey, secepat kilat Arumeey menggulingkan badannya menghindari serangan dari ayah gadis malang itu.
Arumeey meraih pedang yang tergeletak di atas lantai. Dengan cepat dia mengacungkan pedang tersebut pada leher ayah gadis itu.
"Kau sungguh ingin mati?" ucap Arumeey sinis.
Laki laki itu menyeringai dan mulai tertawa.
"Ha ha ha ha ha"
"Aku tidak akan mati jika kau tidak mengacaukan semuanya"
"Aku sudah berusaha mendapatkan penawar sakit ku. Berani beraninya kau mengacaukan perjuangan ku" ucap pria itu.
"Perjuangan mu. Dengan membawa gadis itu kau pikir kau bisa hidup lama?" ucap Arumeey.
"Kau tidak perlu ikut campur. Gadis sampah itu hanya menyebabkan kesialan bagi ku" lanjutnya.
Pria itu mencoba menepis pedang dari lehernya. Dia mengayunkan kakinya untuk menendang Arumeey. Arumeey dengan cepat mengelak dan menghunuskan pedang ke perut pria itu.
Zashhhhh.
Pria itu ter duduk dan mengeluarkan cairan merah dari perut dan mulutnya.
Arumeey mencoba mengejar si tabib kotor. Namun tabib itu sudah tidak terlihat lagi. Arumeey kembali masuk dan menghampiri gadis itu. Dia memotong tali yang mengikat gadis itu.
"Terimakasih nona. Aku sangat bersyukur kau telah menyelamatkan hidupku" ucap gadis itu berurai air mata.
"Tenang lah. Kau sudah aman sekarang" Arumeey mencoba menenangkan gadis itu.
Laki laki tua yang membawa Arumeey bangkit dan kabur dari tempat itu. Arumeey tidak memperdulikan nya.
Dia berjalan menuju rak yang berisi guci dan botol botol. Arumeey melihat ada beberapa obat obatan dan juga botol yang mengandung virus. Arumeey menggeledah seluruh isi rak. Terdapat banyak sekali botol yang berisi virus penyakit langka.
"Benar dugaan ku. Ada yang sengaja menyebarkan penyakit langka itu" gumam Arumeey.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya tabib kotor itu?" batinnya.
Arumeey masih terus menggeledah tempat itu.
"Nona. Apa yang sedang kau cari?"
Arumeey menghentikan pencarian nya dan menoleh pada gadis itu.
"Sudah berapa lama ayahmu menderita penyakit langka ini?" tanya Arumeey seraya mendekati gadis malang itu.
"Sekitar satu bulan. Ayahku mengalami gejala yang sangat parah. Nona, siapa namamu? Sepertinya kau bukan gadis biasa."
"Namaku Arumeey. Aku sedang belajar di perguruan tinggi Hwangguna. Bagaimana denganmu?"
"Nama ku Ishika. Yang membawaku kemari adalah ayah tiri ku"
"Apa kau tahu apa yang akan dilakukan tabib kotor itu kepada kita?" tanya Ishika pada Arumeey.
"Apa yang ingin ia lakukan?. Apa dia bermaksud lain?" jawab Arumeey.
"Benar nona, dia bukan sekedar mengincar tubuh kita. Namun dia juga mengincar darah kita" terangnya.
"Darah? Untuk apa? Darimana kau mengetahui nya?" tanya Arumeey diserbu oleh rasa ingin tahu.
"Ini bukan pertama kalinya aku dibawa kemari oleh ayahku. Sebelum nya aku sudah pernah dibawa kemari. Namun aku berhasil kabur sebelum dibunuh"
"Aku sempat mendengar pembicaraan tabib itu dengan beberapa orang yang memakai pakaian hitam dengan simbol elang merah"
"Mereka sedang merencanakan sesuatu. Namun tabib itu hanyalah perantara saja. Dia hanya seorang suruhan" lanjut Ishika.
Arumeey mengernyitkan dahinya.
"Pasukan elang merah terlibat dengan virus penyakit langka. Tidak heran mengapa mereka membunuh ayah dan ibu. Tapi kenapa mereka memerlukan darah para gadis?" tanya Arumeey dalam hatinya.
"Nona. Kau baik baik saja?" tanya Ishika melihat Arumeey terdiam.
"Aku baik baik saja. Apa ada lagi yang kau ketahui nona?" tanya Arumeey berharap masih ada informasi.
"Tidak nona. Hanya itu yang aku dengar sebelum akhirnya aku melarikan diri" jawabnya.
"Kau pulang lah. Tapi tolong jangan bicarakan ini dengan siapapun" ucap Arumeey.
"Aku mengerti nona. Kau telah menyelamatkan aku. Aku sangat berterima kasih. Jika kau butuh bantuan ku, kau bisa menemui ku di desa subunan"
"Baiklah. Jaga dirimu" ucap Arumeey.
Ishika mengambil kuda ayahnya dan menunggangi nya meninggalkan rumah tua itu.
Arumeey mengambil kuda dan berjalan pulang ke kota taraka. Matahari sudah hampir terbenam. Pohon pohon besar dan rimbun memberi kesan suram pada seluruh jalanan yang dilalui Arumeey. Dia kembali memikirkan pasukan elang merah.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu gerbang perguruan tinggi Hwangguna, langit sudah gelap sepenuhnya. Arumeey turun dari kuda itu dan membiarkan nya begitu saja.
Dengan wajah yang lelah Arumeey melangkah masuk ke dalam asrama anggrek putih.
"Arumeey. Kau dari mana?. Aku sangat khawatir. Bahkan guru Ang mencari mu ke seluruh kota taraka!" ucap Kanayan dengan wajah cemberut.
"Maaf Kanayan. Aku benar benar lelah dan butuh istirahat saat ini" ucap Arumeey.
"Kau masih bisa berkata begitu. Kau tahu. Guru Ang bahkan belum kembali. Dia masih mencari mu!" lanjut Kanayan dengan wajah marah dan khawatir.
"Sudahlah Kanayan Aku benar benar lelah. Bahkan aku tidak akan mandi. Aku hanya ingin tiduran" ucap Arumeey sambil merebahkan tubuhnya dan menutupi wajahnya dengan selimut.
Kanayan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh temannya. Kanayan pergi ke ruangan kepala asrama untuk memberitahu nya bahwa Arumeey sudah kembali.
Suara bising penghuni asrama membangunkan Arumeey. Arumeey membuka kedua matanya. Sinar mentari pagi menembus jendela dan mendarat di wajahnya.
Arumeey merasa malam berlalu begitu cepat.
"Rasanya aku baru saja tertidur. Tiba tiba sudah pagi" gumamnya.
"Arumeey cepat bersihkan dirimu. Kita harus segera menemui guru besar Hongdang" ucap Kanayan seraya memakai pakaiannya.
"Sepagi ini?. Ada apa?" tanya Arumeey.
"Kau ini. Kau terlalu banyak melamun Arumeey. Kau tidak ingat?. Hari ini kita harus melakukan persiapan diri untuk upacara kelulusan" lanjut Kanayan menghentikan jari jarinya yang sedang merias wajahnya.
"Baiklah. Aku akan segera bersiap"
Arumeey bangkit dari tempat tidurnya. Ia mandi dan berganti pakaian.
..................
Guru besar Hongdang memberikan beberapa patah kata tentang acara kelulusan yang akan dilaksanakan besok hari. Setelah itu para murid dipersilahkan mengambil atribut untuk mengikuti upacara kelulusan.
"Kanayan. Kau kembali lah dahulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan guru besar Hongdang" ucap Arumeey pada Kanayan.
"Baik. Sebaiknya kau menemui guru Ang juga" ucap Kanayan.
"Aku akan memikirkan nya nanti"
Kanayan berlalu kembali ke asrama anggrek putih. Arumeey berjalan menuju ruangan guru besar Hongdang.
Tok
Tok
Tok
"Masuk lah" terdengar suara guru besar Hongdang dari dalam ruangan.
__ADS_1
Arumeey membuka pintu dan melangkah masuk. Namun ia terkejut mendapati orang yang ada di dalam ruangan itu.